Most searched:

Sejarah Pembuatan Peti Makam Khatam Amirul Mukminin, Imam Ali As, dari Masa ke Masa

Peti makam khatam yang berada di atas makam suci Amirul Mukminin, Imam Ali As, merupakan salah satu karya seni paling berharga di Makam Suci Alawi. Sejarah peti makam ini berkaitan erat dengan berbagai peristiwa yang dialami makam suci selama berabad-abad. Berikut uraian mengenai sejarah pembuatannya, berbagai tahap renovasi, serta upaya pemugaran dan pelestarian karya seni bersejarah tersebut.

Sejak keberadaan peti makam pertama hingga peti khatam yang digunakan saat ini, karya tersebut telah melewati berbagai periode pembangunan, penghancuran, pembuatan kembali, dan pemugaran.

Sepanjang sejarahnya, peti makam ini mendapatkan perhatian dan perlindungan dari berbagai raja, penguasa, seniman, serta para dermawan.

Peti makam yang digunakan saat ini dibuat menggunakan jenis kayu berkualitas tinggi, dihiasi seni khatam, ukiran ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis, serta berbagai ornamen artistik yang indah.

Karya tersebut merupakan salah satu contoh istimewa perpaduan seni Persia dan Islam yang terdapat di Makam Suci Alawi.

Sejarah Peti Makam Khatam Amirul Mukminin As

Tulisan ini mengulas sejarah pembuatan, penghancuran, pembangunan kembali, serta perkembangan peti makam khatam Amirul Mukminin As dari masa ke masa.

Pembahasan mencakup berbagai upaya yang dilakukan para raja, khalifah, penguasa, dan dermawan dalam menjaga dan memugar peti makam tersebut.

Selain itu, disajikan pula berbagai catatan sejarah dari para pengembara, penyair, dan sejarawan yang menggambarkan keberadaan serta keindahan peti makam khatam.

Pembangunan Pertama Makam Suci dan Keberadaan Peti Makam

Sepuluh tahun setelah peristiwa yang disebutkan dalam catatan sejarah sebelumnya, penguasa Tabaristan, Sayyid Muhammad bin Zaid ad-Da’i al-Hasani, membangun bangunan pertama makam Amirul Mukminin As pada 283 H/896–897.

Peti makam tetap berada pada tempat aslinya, yakni di bagian tengah makam suci, dan menjadi bagian dari bangunan baru tersebut.

Perhatian Para Penguasa pada Abad-Abad Awal Islam

Pada abad-abad berikutnya, peti makam tersebut terus mendapatkan perhatian dari sejumlah tokoh dan penguasa.

Salah satunya terjadi pada 371 H/981–982, ketika Adhud ad-Daulah ad-Dailami datang berziarah ke Najaf.

Sebagai bentuk penghormatan, ia meletakkan beberapa dirham di atas peti makam dan mempersembahkannya sebagai hadiah kepada para pelayan makam suci.

Kunjungan Para Khalifah Abbasiyah dan Peran Mereka dalam Pengembangan Makam

Sayyid Abdul Karim bin Thawus, ketika membahas para khalifah Dinasti Abbasiyah yang pernah berziarah ke makam Amirul Mukminin As, menuliskan:

“Khalifah al-Mustanshir Billah membangun zarih suci Alawi, memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pembangunannya, serta menambah kemegahan dan keagungannya.”

Sejarawan Ibnu al-Fuwathi juga meriwayatkan:

“Sayyid Jalaluddin Abdullah bin Mukhtar al-Alawi al-Kufi, pemimpin yang bertanggung jawab atas Makam Suci Alawi dan wafat pada 649 H/1251–1252, menyarankan kepada Khalifah al-Mustanshir Billah agar mengenakan celana futuwwah ketika berziarah ke makam Amirul Mukminin As.”

Celana futuwwah merupakan pakaian sederhana yang melambangkan nilai-nilai kesatriaan, kemurahan hati, dan keluhuran budi.

Menurut riwayat tersebut, Khalifah al-Mustanshir kemudian mendatangi makam suci dan mengenakan celana tersebut di sisi zarih Imam Ali As.

Catatan Ibnu Battutah tentang Kemegahan Peti Makam

Peti makam megah yang disaksikan pengembara terkenal Ibnu Battutah ketika mengunjungi Najaf pada 727 H/1326–1327  diperkirakan merupakan peti yang sebelumnya ditempatkan di zarih atas perintah Khalifah al-Mustanshir Billah.

Ibnu Battutah menggambarkannya sebagai berikut:

“Di bagian tengah bangunan berkubah terdapat sebuah struktur berbentuk persegi yang dilapisi kayu. Di atasnya terpasang lembaran-lembaran emas berukir yang dibuat dengan sangat indah dan dipasang menggunakan paku-paku perak, sehingga bagian kayunya hampir tidak terlihat.

Ketinggiannya lebih rendah daripada tinggi badan manusia pada umumnya.

Pada bagian atasnya terdapat tiga makam yang disebut sebagai makam Nabi Adam As, makam Nabi Nuh As, dan makam Amirul Mukminin As.”

Pembakaran Peti Makam pada Abad Kesembilan Hijriah

Pada 857 H/1453–1454, penguasa Ahwaz, Ali bin Muhammad al-Musya’sya’i, membakar peti makam suci.

Ghiyatsuddin al-Baghdadi meriwayatkan:

“Ia memasuki bagian zarih dengan menunggang kuda dan memerintahkan agar peti makam dihancurkan dan dibakar. Maka peti tersebut pun dihancurkan dan dibakar.”

Dalam kaitan ini, ahli silsilah keturunan Nabi, Sayyid Dhamin bin Syadqam al-Husaini, juga menuliskan:

“Seorang penganut keyakinan ekstrem datang ke Irak dan membakar peti makam yang berada di bawah kubah Amirul Mukminin As. Ia kemudian mengubah bangunan berkubah itu menjadi dapur.

Keadaan tersebut berlangsung selama enam bulan penuh karena ia mengatakan, ‘Dia adalah Tuhan, dan Tuhan tidak akan mati.’”

Perintah Shah Ismail I Safawi untuk Membuat Peti Makam Baru

Ketika Shah Ismail I dari Dinasti Safawi memasuki Irak pada bulan Jumadilakhir 914 H/1508 M, ia memerintahkan pembuatan peti-peti makam khatam baru untuk sejumlah makam para Imam Maksum As.

Peti-peti tersebut dibuat untuk menggantikan peti makam lama, dengan pengecualian terhadap makam-makam di Najaf, Karbala, Kazhimain, dan Samarra.

Dalam kitab berbahasa Persia Jahangushay-e Khaqan, yang ditulis oleh pengarang anonim, disebutkan:

“Raja yang memperoleh kemenangan itu senantiasa kembali ke Baghdad dan memberikan perhatian besar terhadap hak-hak, kemegahan, serta kemakmuran makam-makam mulia para Imam Maksum As, sekaligus terhadap pelaknatan musuh-musuh mereka hingga Hari Kiamat.

Ia memerintahkan agar para tukang kayu terampil dan pembuat peti makam dari berbagai penjuru wilayah kekuasaannya dikumpulkan.

Mereka diperintahkan membuat enam peti makam berukir dengan hiasan tumbuhan yang sangat indah dan halus untuk enam Imam Maksum.

Untuk setiap peti makam juga disiapkan kain penutup yang indah dan bernilai tinggi. Peti-peti makam lama kemudian diperintahkan untuk diangkat dan diganti dengan yang baru.

Di setiap makam suci tersebut dibangun pula tempat khusus yang tinggi untuk menabuh genderang upacara, yang dikenal dengan naqqareh-khaneh, serta ditunjuk petugas untuk menjalankannya.

Perhatian yang sangat besar juga diberikan terhadap pembangunan dan keindahan Kota Najaf.”

Kunjungan dan Berbagai Kebijakan Shah Ismail di Najaf

Syekh Ja’far Mahbubah menuliskan:

“Penguasa pertama dari Dinasti Safawi yang datang berziarah adalah Sultan Shah Ismail I pada 914 H (1508–1509 M).

Pada tahun yang sama, sebuah saluran air digali dan Sayyid Muhammad Kamunah diangkat sebagai penguasa Najaf.”

Dalam kitab Alam Aray, jilid pertama, halaman 26, disebutkan:

“Shah Ismail memberikan penghormatan serta berbagai hadiah kerajaan kepada orang-orang yang menetap untuk beribadah di makam-makam suci tersebut.

Ia juga mengangkat para penghafal Al-Qur’an, muazin, dan pelayan makam.

Selain itu, untuk makam suci dipersembahkan lampu-lampu gantung dari emas dan perak, karpet-karpet yang sesuai, serta peti-peti makam yang bernilai tinggi.

Sebagian pendapatan wilayah Irak juga diwakafkan untuk Makam Suci Alawi, sementara sejumlah besar dana dialokasikan bagi bangunan-bangunan yang berada di sekitarnya.”

Pemugaran Peti Makam pada Masa Kesultanan Utsmaniyah

Pada 1126 H/1714–1715, Gubernur Baghdad, Hasan Pasha, melakukan pemugaran terhadap peti makam suci pada masa pemerintahan Sultan Ahmad III dari Kesultanan Utsmaniyah.

Peristiwa tersebut diabadikan oleh penyair dan sastrawan Syekh Muhammad Jawad Awwad al-Baghdadi melalui sebuah kasidah yang sekaligus mencatat tahun pemugarannya.

Pembuatan dan Persembahan Peti Makam Khatam yang Digunakan Saat Ini

Peti makam khatam yang digunakan hingga sekarang merupakan persembahan penguasa Muhammad Ja’far bin Muhammad Shadiq Zand pada 1202 H/1787–1788.

Tulisan mengenai persembahan tersebut terukir dalam bahasa Arab pada bagian tengah pita dekoratif di sisi bawah peti makam, tepatnya di bagian yang menghadap arah kepala suci Imam Ali As.

Isi prasastinya adalah:

“Peti makam yang agung dan berharga ini telah diselesaikan dengan niat yang tulus demi memperoleh keridaan Allah Yang Mahatinggi dan sebagai bentuk pengabdian yang ikhlas kepada-Nya serta para wali-Nya.

Pembuatnya adalah anjing di ambang pintu Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, Muhammad Ja’far bin Muhammad Shadiq Zand.

Semoga Allah senantiasa melanggengkan perlindungan dan pertolongan-Nya kepadanya.

Tahun 1202 H/1787–1788.”

Ungkapan “anjing di ambang pintu” dalam prasasti tersebut merupakan bentuk perendahan diri dan penghambaan simbolis yang digunakan dalam tradisi sastra pengabdian kepada tokoh suci.

Pada bagian sudut kiri peti makam terdapat tulisan berbahasa Persia:

«عمل بندۀ خاکسار محمدحسین نجار شیرازی»

“Dibuat oleh hamba yang rendah hati, Muhammad Husain, tukang kayu dari Syiraz.”

Sementara itu, pada sudut kanan di sisi selatan peti makam tertulis:

«کتبه محمد بن علاءالدین بن محمد الحسینی، سال ۱۱۹۸هـ.ق»

“Ditulis oleh Muhammad bin Alauddin bin Muhammad al-Husaini, tahun 1198 H/1783–1784.”

Syair dan Catatan Sejarah Pembuatan Peti Makam

Penyair Persia, Shabbahi Kashani, menggubah syair untuk menggambarkan selesainya pembuatan peti makam tersebut.

Syair yang dikutip dalam sumber berbunyi:

«این باصره‌افروز ضریح فَلَک‌آسا کز خجلت آن مهر فرو شد به سیاهی چون گشت تمام از پی آن کرد»

Terjemahan:

“Zarih yang menerangi pandangan ini, menjulang megah laksana cakrawala.

Karena malu di hadapan keindahannya, matahari pun seakan tenggelam dalam kegelapan.

Ketika pembuatannya telah selesai, kemudian untuknya dilakukan …”

Bait terakhir dalam naskah sumber terputus, sehingga terjemahannya dipertahankan sebagai kalimat yang belum lengkap.

Pada bagian yang disebut sebagai lembaran Khazanah Rahasia Ilahi juga tertulis:

«مخزن الاسرار الالهیه»

“Khazanah Rahasia-Rahasia Ilahi.”

Pemindahan Peti Makam ke Najaf

Pada bulan Rabiulakhir 1203 H/1788–1789, Muhammad Ja’far Zand wafat.

Peti makam tersebut kemudian dibawa dari Iran menuju Najaf oleh putranya, penguasa Luthf Ali Khan.

Dalam kitab Ad-Durar al-Mantsurah, Syekh Muhammad Kubba menyebutkan:

“Pada tahun 1203 H/1788–1789, peti makam yang berada di atas makam suci diperbarui.”

Tanggal pemasangan peti makam tersebut juga diabadikan oleh penyair Najaf, Sayyid Shadiq al-Fahham an-Najafi.

Keindahan Seni dan Karakteristik Peti Makam Khatam

Penyair terkenal Abdul Baqi al-Umari memberikan gambaran mengenai keistimewaan peti makam ini.

Menurutnya:

“Peti makam ini merupakan karya seni yang unik karena memiliki ketelitian dalam pembuatannya, kehalusan ukiran, dan keindahan kaligrafi.”

Peti makam tersebut dibuat menggunakan kayu jati India dan dihiasi dengan berbagai bahan dekoratif berwarna, termasuk kulit kerang mutiara, gading, serta kayu eboni.

Permukaannya dihiasi dengan pola-pola geometris yang sangat indah dan rumit.

Pada seluruh sisi peti makam terukir ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis mulia, serta sejumlah bagian dari Doa Jausyan Kabir.

Sementara itu, pada bagian atas peti makam terdapat dua bait syair berbentuk seruan yang diulang dan dibingkai secara artistik menggunakan kaligrafi Kufi kuno.

Perpaduan bahan-bahan berharga, pola geometris, seni ukir, dan kaligrafi tersebut menjadikan peti makam khatam sebagai salah satu karya seni Islam yang memiliki nilai sejarah dan keindahan luar biasa.

Ukuran dan Pemugaran Peti Makam pada Abad ke-20

Syekh Ali Khaqani mencatat ukuran peti makam sebagai berikut:

Bagian Ukuran
Panjang 4,83 meter
Lebar 3,03 meter
Tinggi 1,83 meter

Upaya pemugaran dan pelestarian peti makam dilakukan pada dekade 1940-an.

Pada penghujung 1361 H/1942–1943 M, ketika kisi-kisi perak zarih yang lama dibongkar dan diganti dengan zarih baru, peti makam khatam juga dibersihkan dan dipoles.

Pekerjaan tersebut dilakukan untuk mengembalikan kilau dan kemegahan peti makam.

Peristiwa ini diabadikan oleh penyair Sayyid Muhammad Husain al-Hilli dalam sebuah syair yang mencatat tahun pelaksanaannya.

Bersamaan dengan pemasangan zarih baru, para penanggung jawab proyek memutuskan untuk memberikan pelindung kaca pada peti makam khatam.

Tujuannya adalah melindungi peti makam dari debu dan berbagai kotoran yang dapat merusak permukaan serta ornamen seninya. Pekerjaan tersebut dilaksanakan atas biaya pribadi Muhsin Haji Muhammad Shalih Jawharji.

Sementara itu, kotak pelindung kacanya dibuat oleh Haji Muhammad Said ash-Sha’igh. Penyair Syekh Hasan as-Sabti juga mengabadikan pekerjaan tersebut dalam sebuah kasidah.

Kerusakan Peti Makam akibat Operasi Militer Rezim Ba’ath

Peti makam suci mengalami kerusakan akibat operasi militer yang dilakukan rezim Ba’ath sebelumnya setelah peristiwa Intifadhah Syakbaniyah pada 1411 H/1991 M.

Dalam peristiwa tersebut, tindakan militer dan penyerangan terhadap zarih suci menyebabkan kerusakan pada peti makam.

Hingga saat ini, bekas kerusakan masih dapat dilihat pada sudut kanan peti makam dari arah timur.

Bagian tersebut sebelumnya telah diperbaiki dan dipugar, tetapi jejak kerusakannya masih tampak.

Pembaruan Pelindung Kaca Peti Makam pada Masa Modern

Ketika zarih perak dipugar dan kembali dilapisi emas oleh komunitas Bohra pada 1438 H/2016–2017 M, yang dalam sumber juga dikaitkan dengan tahun 1396 Hijriah Syamsiah (2017–2018 M), Sultan Mufaddal Saifuddin memberikan bantuan dana untuk memperbarui pelindung kaca peti makam khatam.

Kaca pelindung baru tersebut dibuat dengan sejumlah karakteristik khusus, termasuk ketahanan terhadap peluru dan nyala api.

Ketebalan seluruh lapisan kacanya mencapai 34 sentimeter.

Bagian-bagian sisi peti makam kemudian dihiasi dengan pita-pita emas yang indah.

Hiasan tersebut dibuat menyerupai untaian tali dengan motif nama “Ali” serta tatahan batu rubi merah.

Bentuk hiasan tersebut mengandung simbol Hablullah al-Matin, yaitu tali Allah yang kokoh.

Adapun ukuran kotak kaca pelindung adalah sebagai berikut:

Bagian Ukuran
Panjang 5,16 meter
Lebar 3,35 meter
Tinggi 2,25 meter

Warisan Seni dan Sejarah yang Terus Dilestarikan

Peti makam khatam yang digunakan saat ini telah berusia lebih dari dua abad dan masih terpelihara di makam suci Amirul Mukminin, Imam Ali As.

Keberadaannya menjadi bagian penting dari warisan seni dan sejarah Makam Suci Alawi.

Berbagai kegiatan pemugaran, perawatan, serta pemasangan pelindung kaca dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap pelestarian karya seni berharga tersebut.

Melalui upaya-upaya ini, peti makam khatam diharapkan tetap terjaga sehingga keindahan, nilai sejarah, serta warisan seninya dapat terus dinikmati dan dipelajari oleh generasi mendatang.

Sumber:

Dikutip dari kitab Tarikh al-Marqad al-Alawi al-Muthahhar (تاريخ المرقد العلوي المطهر), atau Sejarah Makam Suci Alawi.

Untuk memahami lebih lanjut tahapan renovasi zarih pada masa modern, dapat dibaca artikel sebelumnya: Sejarah Pemugaran dan Renovasi Zarih Suci Imam Ali As pada Masa Modern.

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *