Pada 5 Jumadilawal tahun 5 Hijriah sekitar 626–627, Kota Madinah menyaksikan kelahiran seorang putri di rumah Amirul Mukminin, Imam Ali As, yang namanya kelak dikenal sebagai simbol kesabaran dan keteguhan. Putri tersebut mewarisi berbagai kesempurnaan akhlak ibundanya serta kefasihan berbicara ayahandanya. Dalam salah satu masa tersulit sepanjang sejarah Islam, ia menjadi penyampai kebenaran dan pembela hak-hak Ahlulbait Rasulullah Saw.
Sayyidah Zainab Sa tumbuh dan dibesarkan dalam didikan Amirul Mukminin, Imam Ali As, dan Sayyidah Fatimah Sa. Sejak kecil, beliau telah akrab dengan ajaran-ajaran luhur keluarga kenabian.
Keimanan yang kokoh dan kesabaran beliau yang luar biasa mengantarkannya pada perjalanan hidup yang menjadi lembaran cemerlang tentang penghambaan kepada Allah serta pembelaan terhadap wilayah dan kepemimpinan Ahlulbait.
Penamaan dari Langit
Kelahiran Sayyidah Zainab Sa dikaitkan dengan sebuah riwayat mengenai pemberian nama beliau melalui petunjuk Ilahi.
Setelah Sayyidah Zainab Sa lahir, Sayyidah Fatimah Sa dan Amirul Mukminin As menyerahkan pemilihan nama putri mereka kepada Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw, yang sedang menantikan perintah Allah, menunda pemberian nama hingga Malaikat Jibril turun membawa wahyu.
Akhirnya, Jibril datang membawa salam dari Allah dan menyampaikan nama “Zainab” untuk putri tersebut. Menurut riwayat ini, nama yang terpilih itu sebelumnya telah tercatat dalam Lauhul Mahfuz. [1]
Ketika kabar kelahiran Sayyidah Zainab Sa sampai kepada Rasulullah Saw, beliau mendatangi rumah Sayyidah Fatimah Sa dan bersabda:
“Putriku, bawalah bayi perempuanmu kepadaku.”
Ketika Rasulullah Saw menggendong bayi tersebut, beliau mendekapnya erat ke dada dan menempelkan pipinya pada pipi sang bayi.
Tiba-tiba Rasulullah Saw menangis dengan sangat keras hingga air mata mengalir di wajah mulia beliau.
Melihat keadaan tersebut, Sayyidah Fatimah Sa bertanya dengan penuh kekhawatiran:
“Ayahanda, mengapa engkau menangis? Semoga Allah tidak menjadikan kedua matamu menangis.”
Rasulullah Saw menjawab:
“Wahai putriku, Fatimah! Kelak anak perempuan ini akan menghadapi berbagai penderitaan dan musibah yang sangat berat. Siapa pun yang menangisi dirinya dan musibah-musibah yang menimpanya akan memperoleh pahala seperti orang yang menangisi saudara-saudaranya.”
Setelah itu, Rasulullah Saw memberikan nama Zainab kepada bayi tersebut. [2]
Shiddiqah Sughra: Perempuan dengan Keutamaan Akhlak yang Luar Biasa
Sayyidah Zainab Sa merupakan sosok perempuan istimewa yang, setelah ibunda beliau, dikenal memiliki kedudukan sangat tinggi dalam berbagai keutamaan akhlak di lingkungan keluarga Bani Hasyim.
Sayyidah Zainab al-Kubra Sa juga termasuk perawi hadis. Beliau lahir dan hidup pada masa Rasulullah Saw sehingga sempat mengalami masa kehidupan Nabi.
Perempuan agung ini dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka keluarga Bani Hasyim.
Beliau memiliki begitu banyak sifat terpuji dan keutamaan akhlak sehingga, menurut sumber yang dikutip, setelah Sayyidah Fatimah Sa, tidak ada seorang pun yang mencapai kedudukan beliau dalam berbagai keutamaan tersebut.
Karena itulah, beliau dipandang layak menyandang gelar Shiddiqah Sughra, yang berarti perempuan yang sangat benar dan tulus dalam keimanan.
Sayyidah Zainab Sa merupakan sosok yang luar biasa dalam kesabaran, keteguhan, kekuatan iman, dan ketakwaan.
Dalam hal kefasihan dan keindahan bahasa, kemampuan beliau begitu tinggi sehingga seolah-olah kata-kata yang disampaikannya mengalir dari lisan Amirul Mukminin, Imam Ali As.
Keutamaan dan kemuliaan Sayyidah Zainab Sa sedemikian luas sehingga kata-kata tidak mampu menggambarkan seluruh kebesaran pribadinya.
Namun, sebagian dari keagungan tersebut dapat disaksikan melalui pendampingan beliau terhadap saudaranya, Imam Husain As, serta melalui khotbah yang disampaikannya di Kufah setelah kesyahidan Imam Husain As. [3]
Perawi Khotbah Fadak
Kedudukan intelektual dan keilmuan Sayyidah Zainab Sa begitu tinggi sehingga sejumlah tokoh besar di kalangan sahabat juga meriwayatkan hadis-hadis penting melalui beliau.
Sayyidah Zainab Sa merupakan perempuan yang menjadi sumber periwayatan Ibnu Abbas mengenai perkataan Sayyidah Fatimah Sa terkait peristiwa Fadak.
Ketika menyampaikan riwayat tersebut, Ibnu Abbas menyebut nama Sayyidah Zainab Sa dengan penuh penghormatan:
“Aqilah kami, Zainab putri Amirul Mukminin As, telah meriwayatkan kepadaku kisah ini.” [4]
Penyebutan tersebut memperlihatkan kedudukan terhormat Sayyidah Zainab Sa sebagai perempuan yang memiliki pengetahuan dan dipercaya dalam menyampaikan riwayat.
Rahasia Huruf-Huruf Muqatha’ah
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Amirul Mukminin, Imam Ali As, menjelaskan makna tersembunyi huruf-huruf muqatha’ah kepada putrinya, Sayyidah Zainab Sa.
Suatu ketika, Sayyidah Zainab Sa sedang memberikan penafsiran dan penjelasan mengenai huruf-huruf Kaf, Ha, Ya, Ain, Shad (كهيعص).
Ketika itu, Amirul Mukminin As datang menghampiri beliau dan bersabda:
“Wahai cahaya mataku, aku mendengar bahwa engkau sedang menjelaskan makna huruf-huruf Kaf, Ha, Ya, Ain, Shad kepada para perempuan. Benarkah demikian?”
Sayyidah Zainab Sa menjawab:
“Benar.”
Kemudian Amirul Mukminin As bersabda:
“Huruf-huruf ini merupakan simbol dari berbagai musibah yang kelak akan menimpa keluarga Rasulullah Saw.” [5]
Menjaga Kehormatan Fatimiyah
Amirul Mukminin, Imam Ali As, memberikan kedudukan istimewa kepada Sayyidah Zainab Sa dan menunjukkan penghormatan yang sangat besar kepada beliau.
Yahya al-Mazini meriwayatkan:
“Dalam waktu yang cukup lama, aku tinggal di Madinah sebagai tetangga Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib As, berdekatan dengan rumah tempat putrinya, Zainab Sa, tinggal.
Demi Allah, aku tidak pernah melihatnya dan tidak pernah mendengar suaranya.
Ketika beliau hendak berziarah ke makam kakeknya, Rasulullah Saw, beliau keluar dari rumah pada malam hari.
Imam Hasan As berjalan di sebelah kanannya, Imam Husain As berjalan di sebelah kirinya, sedangkan Amirul Mukminin As berjalan di depan beliau.
Ketika mereka mendekati makam, Amirul Mukminin As terlebih dahulu menuju tempat tersebut dan memadamkan cahaya lampu-lampu yang ada di sana.
Pada suatu kesempatan, Imam Hasan Mujtaba As bertanya kepada ayahandanya mengenai alasan tindakan tersebut.
Amirul Mukminin As menjawab:
‘Aku khawatir ada seseorang yang melihat saudara perempuanmu, Zainab.’” [6][7][8]
Sumber Referensi
-
Al-Qazwini, Sayyid Muhammad Kazim. Zainab al-Kubra (Alaiha as-Salam) min al-Mahd ila al-Lahd, hlm. 35.
-
Zainab al-Kubra min al-Mahd ila al-Lahd, jilid 1, hlm. 35.
-
Mustadrak Safinat al-Bihar, jilid 4, hlm. 313.
-
Maqatil al-Talibiyyin, hlm. 95.
-
Awalim al-Ulum wa al-Ma’arif, jilid 11, hlm. 957.
-
Wafayat al-A’immah, jilid 1, hlm. 435.
-
Zainab al-Kubra, jilid 1, hlm. 22.
-
Al-Akhlaq al-Husainiyyah, jilid 1, hlm. 223.