Ja’far bin Abi Thalib, yang dikenal sebagai Ja’far ath-Thayyar, mempersembahkan jiwanya dalam Perang Mu’tah agar Islam tidak kehilangan pembelanya dalam menghadapi badai kebodohan. Kesyahidan beliau, sebagai pendukung kuat kenabian dan rekan seperjuangan dalam membela wilayah, meninggalkan kekosongan besar dalam pasukan Islam serta luka mendalam di hati Nabi terakhir dan Amirul Mukminin As.
Pada bulan Jumadilawal tahun kedelapan Hijriah (629 M), Rasulullah Saw mengirimkan pasukan berjumlah tiga ribu orang ke medan pertempuran di bawah komando Ja’far bin Abi Thalib As.
Dalam pertempuran besar tersebut, Ja’far bin Abi Thalib As, saudara sekaligus pendukung Amirul Mukminin As yang pemberani, mengukir kepahlawanan abadi melalui pengorbanan jiwanya.
Sosok yang Menyerupai Rasulullah
Ja’far bin Abi Thalib As merupakan orang yang paling menyerupai Rasulullah Saw, baik dari segi penampilan fisik maupun akhlak.
Ja’far berusia sepuluh tahun lebih tua daripada Amirul Mukminin As. Aqil juga sepuluh tahun lebih tua daripada Ja’far, sedangkan Thalib sepuluh tahun lebih tua daripada Aqil. [1]
Kedudukan Ja’far ath-Thayyar
Ja’far bin Abi Thalib As, berdasarkan kesaksian Rasulullah Saw, merupakan orang yang paling menyerupai beliau dan termasuk penghulu penghuni surga. Dalam perkataan Amirul Mukminin As, Ja’far juga memiliki kedudukan istimewa dalam keluarga kenabian.
Amirul Mukminin As bersabda:
“Allah telah menciptakan tujuh orang dari kami, Ahlulbait, yang tidak memiliki tandingan di seluruh muka bumi: Rasulullah Saw, penghulu manusia terdahulu dan kemudian serta penutup para nabi; penerus wasiatnya, yang merupakan penerus wasiat terbaik; kedua cucunya, Hasan dan Husain As, yang merupakan cucu-cucu terbaik; Hamzah As, penghulu para syahid, yang merupakan pamannya; Ja’far As, yang terbang bersama para malaikat; dan Al-Qa’im (semoga Allah mempercepat kemunculannya).” [2]
Keutamaan akhlak dan kepribadian Ja’far bin Abi Thalib As merupakan cerminan dari keluhuran akhlak Rasulullah Saw.
Amirul Mukminin As meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda kepada Ja’far bin Abi Thalib As:
“Wahai Ja’far, engkau adalah orang yang paling menyerupaiku dari segi penampilan fisik dan akhlak.” [3]
Keluarga Abdul Muthalib, dalam sabda Rasulullah Saw, memiliki kedudukan istimewa di surga yang menunjukkan tingginya derajat mereka.
Dalam hal ini, Rasulullah Saw bersabda:
“Kami, keluarga Abdul Muthalib, adalah para penghulu penghuni surga: Rasulullah Saw, Hamzah As penghulu para syahid, Ja’far As pemilik dua sayap, Amirul Mukminin As, Fatimah Sa, Hasan As, Husain As, dan Mahdi (semoga Allah mempercepat kemunculannya).” [4]
Hadiah dari Nabi Terakhir
Rasulullah Saw menunjukkan kasih sayang beliau yang begitu besar kepada Ja’far bin Abi Thalib As, seorang pejuang di jalan kebenaran, ketika menyambut kepulangannya.
Ja’far termasuk kelompok Muslim pertama yang berhijrah ke Habasyah.
Ja’far dan para sahabatnya kembali dari Habasyah pada tahun ketujuh Hijriah (628–629 M).
Rasulullah Saw menyediakan sebuah rumah untuknya di dekat masjid. [5]
Imam Shadiq As bersabda:
“Ketika Ja’far bin Abi Thalib As kembali dari Habasyah, Rasulullah Saw pada saat itu telah menaklukkan Khaibar.
Ketika Ja’far As datang menemui beliau, Rasulullah Saw berdiri untuk menghormatinya, menyambut kedatangannya, dan mencium bagian di antara kedua matanya.
Kemudian beliau bersabda:
‘Aku tidak tahu manakah yang lebih membuatku gembira, kemenangan di Khaibar atau kedatangan Ja’far As.’
Kemudian Rasulullah Saw bersabda:
‘Wahai Ja’far, maukah aku memberikan hadiah kepadamu dan membuatmu memperoleh manfaat darinya?’
Ja’far As menjawab:
‘Tentu, wahai Rasulullah Saw.’
Rasulullah Saw bersabda:
‘Kerjakanlah salat empat rakaat setiap hari. Jika engkau tidak mampu, lakukanlah sekali setiap minggu. Jika tidak mampu, sekali setiap bulan. Jika tidak mampu juga, sekali setiap tahun. Dan jika itu pun tidak memungkinkan bagimu, kerjakanlah sekali sepanjang hidupmu.
Sebab, apabila engkau mengerjakan salat ini, Allah akan mengampuni dosa-dosamu, sekalipun jumlahnya sebanyak pasir di padang pasir atau buih di lautan.’
Kemudian seseorang bertanya:
‘Wahai Rasulullah Saw! Apakah orang yang mengerjakan salat ini akan memperoleh pahala yang sama seperti yang diberikan kepada Ja’far?’
Rasulullah Saw menjawab:
‘Ya.’” [6]
Panglima dalam Kepahlawanan Perang Mu’tah
Ja’far bin Abi Thalib As, yang berdasarkan kesaksian Rasulullah Saw termasuk penghulu penghuni surga, melalui pengorbanannya dalam ekspedisi militer Mu’tah pada Jumadilawal tahun kedelapan Hijriah, menjadikan peristiwa tersebut sebagai lambang abadi keteguhan di jalan kebenaran dan perwujudan kedudukannya yang tinggi di sisi Amirul Mukminin As.
Ekspedisi militer Mu’tah terjadi pada bulan Jumadilawal tahun kedelapan Hijriah (629 M).
Peristiwa ini bermula ketika Rasulullah Saw mengirimkan sepucuk surat kepada penguasa Bushra melalui Harits bin Umair al-Azdi dari keluarga Bani Lahab.
Ketika Harits tiba di Mu’tah, Syurahbil bin Amr al-Ghassani menghadangnya dan membunuhnya.
Harits merupakan satu-satunya utusan yang dibunuh dengan cara demikian sepanjang sejarah kerasulan Rasulullah Saw.
Peristiwa tersebut sangat menyedihkan hati Rasulullah Saw. Karena itu, beliau mengeluarkan perintah untuk melakukan pengerahan umum.
Kaum Muslim segera mempersiapkan diri, dan pasukan yang berjumlah tiga ribu orang berkumpul di Jurf. [7]
Aban bin Utsman, salah seorang sahabat Imam Shadiq As dan Imam Kazhim As, meriwayatkan dari Imam Shadiq As:
“Rasulullah Saw mengirimkan sebuah pasukan besar dan menyerahkan kepemimpinannya kepada Ja’far bin Abi Thalib As, saudara Amirul Mukminin As.” [8]
Pejuang Pemilik Dua Sayap
Di medan pertempuran, Ja’far bin Abi Thalib As memegang panji dengan keberanian yang tidak dapat dilukiskan.Mula-mula tangan kanannya terputus, tetapi ia segera memegang panji dengan tangan kirinya.
Ketika tangan kirinya juga terputus, panglima pemberani ini tidak menyerah. Ia mendekap panji tersebut dengan kedua lengannya dan terus mempertahankannya agar tetap berkibar hingga detik-detik kesyahidannya.
Dalam pertempuran tersebut, ia berusia 33 tahun.
Sebagai balasan atas pengorbanannya yang agung, Allah menganugerahkan kepadanya dua sayap di surga agar ia dapat terbang ke mana pun yang dikehendakinya di dalam surga. [9]
Rasulullah Saw bersabda:
“Allah mengganti kedua tangannya dengan dua sayap yang digunakannya untuk terbang di surga.”
Karena itulah ia dikenal dengan sebutan Ja’far Dzul Janahain, atau “Ja’far Pemilik Dua Sayap”. [10]
Riwayat tentang Pengetahuan Gaib Nabi Terakhir
Rasulullah Saw, ketika berada di Madinah, menyaksikan jalannya Perang Mu’tah dari saat ke saat melalui karunia Ilahi.
Dalam riwayat ini, Jabir bin Abdullah al-Anshari menyampaikan laporan terperinci Rasulullah Saw mengenai peristiwa tersebut.
Jabir bin Abdullah al-Anshari, sahabat Rasulullah Saw dan salah seorang perawi hadis, mengatakan:
“Pada hari terjadinya Perang Mu’tah, Rasulullah Saw mengimami salat Subuh bersama kami di Madinah.
Kemudian beliau naik ke mimbar dan bersabda:
‘Saudara-saudara kalian telah berhadapan dengan kaum musyrik untuk berperang.’
Setelah itu, Rasulullah Saw menceritakan kepada kami jalannya pertempuran dari saat ke saat hingga beliau bersabda:
‘Zaid telah terbunuh dan panji jatuh ke tanah. Kemudian Ja’far bin Abi Thalib mengambil panji tersebut dan maju menyerang.’
Lalu beliau bersabda:
‘Sekarang tangannya telah terputus dan ia mengambil panji dengan tangan yang lain. Kemudian tangan yang satunya juga terputus dan ia mendekap panji itu di dadanya. Kini Ja’far telah gugur sebagai syahid dan panji jatuh ke tanah. Setelahnya, Abdullah bin Rawahah mengambil panji tersebut.’
Rasulullah Saw bahkan menyebutkan jumlah orang musyrik yang terbunuh dan nama setiap Muslim yang gugur sebagai syahid.
Setelah selesai menyampaikan laporan tersebut, Rasulullah Saw turun dari mimbar, pergi ke rumah Ja’far, lalu memeluk putranya, Abdullah bin Ja’far.” [11]
Kehilangan Para Sahabat yang Setia
Kesyahidan para panglima besar Islam, Hamzah As dan Ja’far bin Abi Thalib As, merupakan kehilangan besar bagi umat Islam, terutama bagi Amirul Mukminin As.
Kepergian dua sahabat setia tersebut membuka jalan bagi tersisihnya Imam Ali As dan perubahan arah kekhalifahan. Sebab, sebagaimana ditegaskan Ahlulbait, keberadaan keduanya merupakan penghalang yang tidak dapat dikalahkan dalam menghadapi perampasan hak wilayah.
Amirul Mukminin As, pada masa pemerintahannya, pernah bersabda dari atas mimbar:
“Ketahuilah! Demi Allah, seandainya Hamzah dan Ja’far As masih hidup dan hadir, kedua orang itu (yang pertama dan kedua) tidak akan mencapai kekhalifahan.
Dan seandainya Hamzah dan Ja’far As menyaksikan dan mengawasi keadaan tersebut, kedua orang itu tidak akan selamat.” [12]
Sudir, salah seorang perawi Syiah dan sahabat Imam Baqir As serta Imam Shadiq As, meriwayatkan:
“Kami sedang berada di hadapan Imam Baqir As ketika pembicaraan mengenai peristiwa-peristiwa setelah wafatnya Rasulullah Saw dan bagaimana Amirul Mukminin As tersisih mulai dibahas.
Pada saat itu, seseorang bertanya:
‘Di manakah kekuatan Bani Hasyim? Ke manakah perginya kelompok besar yang berada di tengah-tengah mereka?’
Imam Baqir As menjawab:
‘Siapakah yang masih tersisa dari Bani Hasyim?
Sesungguhnya hanya ada Ja’far As dan Hamzah As, dan keduanya telah meninggal dunia.
Dalam keadaan tersebut, yang tersisa di sisi Amirul Mukminin As hanyalah dua orang laki-laki yang lemah dan tidak berdaya serta belum lama memeluk Islam, yaitu Abbas dan Aqil. Keduanya juga termasuk orang-orang yang dibebaskan [setelah penaklukan Makkah].’” [13]
Sumber
[1] Bihar al-Anwar, jilid 22, hlm. 275.
[2] Bihar al-Anwar, jilid 22, hlm. 275.
[3] Bihar al-Anwar, jilid 22, hlm. 276.
[4] Amali ash-Shaduq, jilid 1, hlm. 475.
[5] Bihar al-Anwar, jilid 22, hlm. 275.
[6] Mustadrak al-Wasa’il, jilid 6, hlm. 227.
[7] Ath-Thabaqat al-Kubra, jilid 2, hlm. 97; Al-Maghazi karya al-Waqidi, jilid 2, hlm. 755.
[8] I’lam al-Wara bi A’lam al-Huda, jilid 1, hlm. 212.
[9] As-Sirah an-Nabawiyyah, jilid 2, hlm. 378.
[10] Bihar al-Anwar, jilid 22, hlm. 275.
[11] Al-Khara’ij wa al-Jara’ih, jilid 1, hlm. 166.
[12] Kitab Sulaim bin Qais, jilid 1, hlm. 16.
[13] Bihar al-Anwar, jilid 28, hlm. 251.