Most searched:

Imam Husain Amirul Mukminin

Imam Husain Pada Peristiwa Asyura As Membanggakan Dirinya Sebagai Putra Amirul Mukminin As

Rajaz adalah jenis puisi yang dibacakan oleh para pejuang dan pahlawan di awal pertempuran. Pada hari Asyura, para sahabat dan Imam Husain As sendiri juga berperang dengan menggunakan Rajaz yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Maqtal.

Selain memperkuat semangat para sahabat, Rajaz Imam Husain As ini mengungkapkan adanya ketidakadilan dan kedudukan Imam serta menunjukkan ikatan kesetiaan kepada prinsip dan nilai-nilai ilahi Amirul Mukminin As secara epik.

 

Mengapa Rajaz?

Penggunaan pertama dan paling umum Rajaz di medan perang adalah untuk memperkenalkan diri kepada lawan dan juga kepada pasukan musuh.

Penggunaan kedua dari Rajaz adalah untuk mengungkapkan garis keturunan dan silsilah pejuang, yang dengannya ia bangga dengan dirinya sendiri dan memamerkannya kepada musuh.

Pada sore hari Asyura, Imam Husain As mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya dan pergi ke medan perang. Beliau membaca Rajaz yang panjang dan tegas, lalu berperang.

 

Penjelasan tentang Front Kafir

Dalam Rajaz, Imam Husain As menunjukkan keberanian Ahlulbait dan permusuhan mereka yang tidak beralasan terhadap Amirul Mukminin As dan keturunannya, serta menunjukkan kesinambungan jalan Asyura dengan pencarian kebenaran dan keadilan Amirul Mukminin As

Pada hari Asyura, Imam Husain As, sebelum memasuki medan perang, berkata: “Kelompok ini telah berpaling kepada kekafiran dan berpaling dari pahala Tuhan semesta alam. Sebelumnya, ayahku Ali As dan saudaraku Hasan As, teladan keagungan dan martabat, menjadi sasaran kebencian mereka. Sekarang, dengan kebencian dan permusuhan, mereka memutuskan untuk menyerangku.

Celakalah orang-orang jahat ini yang mengumpulkan pasukan mereka untuk menghadapi Ahlulbait Suci Rasul Saw. Mereka bersekongkol untuk menumpahkan darahku demi menyenangkan dua orang jahat. Dengan cara ini mereka menyenangkan Ubaydillah, putra seorang wanita jahat, mereka tidak takut akan murka Allah. Umar bin Sa’d juga secara tidak adil menjadikanku target pasukannya; pasukan yang menyerbu dari segala penjuru layaknya banjir.”

 

Kebanggaan Garis Keturunan

Imam Husain As dalam Rajaz menyebutkan peran mulia Amirul Mukminin As dan memperkenalkannya sebagai pewaris para nabi, pahlawan perang dan selalu bersama Nabi Muhammad Saw di saat-saat sulit. Beliau juga menekankan kebanggaan garis keturunannya dengan mengingatkan akan ikatan keluarga dan hubungan dekat mereka dengan Rasulullah dan Sayyidah Fathimah As.

Imam Husain As berkata: “Tanpa aku melakukan dosa apa pun kecuali bahwa aku bangga akan kecemerlangan dua bintang Farqad: Ali As, orang mulia yang wafat setelah Nabi Saw, Nabi dengan kedua orang tua asli Quraisy. Orang-orang pilihan Allah di antara manusia adalah ayahku dan kemudian ibuku dan aku sendiri adalah putra pilihan dari keduanya. Perak dari emas. Aku adalah perak dan putra dari dua emas. Fatimah az-Zahra As adalah ibuku dan ayahku adalah pewaris para nabi dan penguasa jin dan manusia.

Ketika para pendekar berkumpul dalam perang Badar, Uhud dan Hunain, beliau menghancurkan mereka semua. Penampilan hebatnya dalam perang Uhud adalah salah satu yang menyejukkan hati dan menghancurkan pasukan musuh.

Kemudian dalam perang Ahzab dan dalam penaklukan Mekah dan dalam pertempuran-pertempuran ini, dia adalah pendukung para pengikut kedua kiblat. Dia adalah pria Khaibar. Ketika ia bergegas ke medan perang dengan pedangnya yang tajam dan bermata dua. Dan dengan pedangnya ia memisahkan dua barisan pertempuran. Ya, perilakunya di kedua kiblat seperti ini. Dialah yang menghancurkan tentara musuh di jalan Allah yang datang untuk membalas dendam dalam pertempuran Hunain.

Apa yang dilakukan orang-orang jahat ini terhadap kedua keluarga itu? Keluarga Nabi yang suci dan saleh dan keluarga Ali pahlawan medan perang.

Siapa yang memiliki paman seperti Ja’far pamanku? Semoga Allah merahmati dia yang memiliki dua sayap. Siapa yang memiliki kakek seperti Nabi penutup dan ayah seperti Amirul Mukminin As? Aku adalah putra dari kedua orang yang mulia itu.

Ayahku adalah matahari dan ibuku adalah bulan dan aku adalah bintang, putra bulan dan matahari. Kakekku adalah utusan Allah dan lentera petunjuk dan ayahku adalah orang yang teguh dalam dua baiat

 

Memuji Pemimpin Kaum Beriman

Dalam bagian lain dari Rajaz, Imam Husain As menggambarkan Amirul Mukminin As sebagai singa pemberani di medan perang dan warisan berharga Ahlulbait. Beliau menekankan peran Ahlulbait dalam membimbing manusia dan kedudukan tinggi Syiah di hadapan Allah.

Imam Husain As berseru di medan perang: “Amirul Mukminin, Ali As adalah seorang pahlawan pemberani dan seorang pejuang tanpa rasa takut, seorang yang mulia, dermawan dan kuat. Dia adalah tali agama, Ali As adalah pemilik telaga kautsar dan orang yang shalat di dua kiblat.

Dia shalat bersama Nabi Saw sejak usia tujuh tahun, disaat tidak ada orang lain di bumi selain mereka berdua yang melakukan shalat. Sejak lahir, ia meninggalkan berhala dan tidak sujud kepada berhala sedetik pun bersama kaum Quraisy. Di masa kanak-kanaknya dan masa mudanya, ketika kaum Quraisy menyembah berhala, dia hanya menyembah Allah yang Esa.

Ayahku adalah singa pemberani yang mengambil tombak dan menusukkannya ke segala arah. Ia berjalan layaknya singa kuat, ia membuat semua musuh meminum cawan kematian. Aku adalah putra Ali As, seorang baik dari keluarga Hasyimi dan ketika aku berbicara tentang kehormatan, cukup bagiku bahaw kakekku adalah Nabi Allah, ciptaannya yang paling mulia dan kami adalah cahaya Allah yang bersinar di bumi.

Ibuku, Fatimah As, berasal dari keturunan suci Ahmad Saw dan pamanku Ja’far dijuluki sebagai pemilik dua sayap. Kitab Allah yang benar telah diturunkan tentang kami dan petunjuk ada di antara kami dan tentang kamilah wahyu berbicara kebaikan. Kami adalah amanah Allah bagi semua manusia dan kami mengatakan ini kepada manusia. Kami yang bertanggungjawab menjaga telaga dan kami memberi kekasih kami air dari cawan Rasulullah dan ini tidak dapat disangkal.

Syiah kami adalah pendukung yang paling mulia di antara manusia dan musuh-musuh kami pada Hari Kiamat tidak akan mendapatkan apapun kecuali kerugian.

 

Sumber

Al-Manaqib, Jilid 4, Hal. 79.

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *