Most searched:

Ammar bin Yasir Cerminan Kesetiaan Dalam Berwilayah Kepada Amirul Mukminin As

Abul Yaqzhan Ammar bin Yasir al-Ansi, yang dikenal sebagai Ammar Yasir, adalah putra Yasir dan Sumayyah, syuhada pertama Islam. Ammar bin Yasir gugur sebagai syuhada pada tanggal 9 Safar 37 H dalam Perang Shiffin saat berperang bersama Amirul Mukminin As.

Awalnya Ammar menolak untuk berbaiat kepada Abu Bakar setelah kesyahidan Rasul Saw untuk mendukung Amirul Mukminin As. Ia ikut serta dalam perang Jamal dan Shiffin selama pemerintahan Amirul Mukminin As. Kesyahidannya merupakan penegasan kebenaran jalan Amirul Mukminin As dalam Perang Shiffin, karena Rasul Saw telah bersabda tentang Ammar: “Kebenaran ada pada Ammar, di mana pun ia berada.”

Makam Ammar terletak di kota Raqqa, Suriah, di sebelah makam Uwais al-Qarni.

 

Kerinduan Surga kepada Ammar

Ammar bin Yasir, yang sepenuhnya sejalan dengan Amirul Mukminin As, menentang para khalifah dalam masalah kepemimpinan. Ia dianggap sebagai salah satu pilar utama dan pelopor Syiah, bersama dengan tokoh-tokoh seperti Salman, Abu Dzar dan Miqdad.

Nabi Muhammad Saw bersabda tentang Ammar dan para sahabat khusus: “Wahai Ali! Surga merindukanmu, Ammar, Salman, Abu Dzar dan Miqdad.” [1]

Amirul Mukminin As bersabda tentang hal ini: “Bumi diciptakan untuk tujuh orang yang melalui mereka manusia diberi rezeki, hujan turun dan kemenangan diberikan: Abu Dzar, Salman, Miqdad, Ammar, Hudzaifah dan Abdullah bin Mas’ud dan aku sebagai pemimpin mereka.” [2]

 

Membela Wilayah di Detik-Detik Kesyahidan

Pembelaan berani Ammar Yasir terhadap perwalian Amirul Mukminin As dalam Perang Shiffin adalah salah satu perwujudan kesetiaan dan keberanian yang paling luar biasa dalam sejarah Islam. Ammar berdiri dengan segenap jiwanya di sisi Amirul Mukminin As dan berjuang untuk tujuannya, hingga mengorbankan nyawanya demi tujuan mulia ini.

Pada hari kesembilan pertempuran, Ammar bin Yasir terluka di tengah pertempuran dan gugur sebagai syahid. Ketika ia melihat bendera Amr bin Ash di medan perang, ia berkata: “Demi Allah, aku telah berperang melawan bendera ini dalam tiga pertempuran, tetapi pertempuran ini tidak lebih baik daripada tiga pertempuran itu.” Kemudian Ammar membacakan puisi ini: “Kami memerangi kalian di masa lalu karena turunnya Al-Quran dan hari ini kami memerangi kalian karena penafsiran dan interpretasinya yang benar; perang yang memisahkan kepala dari tubuh dan memisahkan sahabat dari satu sama lain atau perang yang mengembalikan kebenaran ke jalan asalnya.”

Ammar, yang diliputi rasa haus, meminta air. Seorang wanita dengan lengan panjang datang kepadanya, saya tidak tahu apakah dia membawa bejana besar atau kantung kecil berisi sedikit susu. Setelah minum, Ammar berkata: “Hari ini Surga berada di bawah naungan tombak. Hari ini aku akan bertemu dengan kekasihku, Muhammad Saw dan para sahabatnya. Demi Allah, jika mereka memukul mundur kami ke kebun kurma Hajar, kami tetap yakin bahwa kami benar dan mereka salah.” [3]

 

Kesyahidan Ammar dan Konspirasi Muawiyah

Salah satu konspirasi Muawiyah di tengah Perang Shiffin adalah mencoba menuduh Amirul Mukminin As sebagai penyebab kesyahidan Ammar Yasir. Muawiyah berusaha membuat pemimpin kaum mukmin bersalah atas peristiwa ini dengan memalsukan bukti dan dokumen untuk menodai citranya di kalangan umat Islam.

Ketika Ammar syahid, Abdullah, putra Amr bin Ash, berkata kepada ayahnya dengan penuh belas kasihan: “Apakah engkau membunuh Ammar, padahal Rasul Saw telah bersabda bahwa Ammar akan dibunuh oleh kelompok pemberontak dan pembunuhnya akan berada di Neraka?” Amr berkata kepada Muawiyah: “Apakah engkau mendengar apa yang dikatakan Abdullah?” Muawiyah menjawab: “Dia dibunuh oleh orang yang membawanya ke medan perang!”

Rumor ini menyebar di antara penduduk Suriah dan akhirnya sampai ke telinga Amirul Mukminin As. Dia menjawab dengan argumen yang tegas: “Jika logika ini benar, maka Rasul Saw adalah pembunuh Hamzah karena dia membawanya ke medan perang Badar!” [4]

 

Kedudukan Ammar dalam Ucapan Amirul Mukminin As

Amirul Mukminin As berbicara baik tentang Ammar dalam kaitannya dengan syarat-syarat perjanjian damai Muawiyah dan berkata: “Dalam beberapa syarat perjanjian damai, Muawiyah meminta saya untuk menyerahkan kepadanya sekelompok sahabat Nabi Muhammad Saw yang terpilih dan saleh, termasuk Ammar bin Yasir. Semoga Allah merahmati Ammar, tetapi dapatkah ditemukan orang seperti dia? Kami biasa melihatnya senantiasa di samping Rasulullah Saw; sedemikian rupa sehingga jika ada lima orang di barisan depan, Ammar akan menjadi yang keenam dan jika ada empat orang, dia akan menjadi yang kelima. Muawiyah telah menetapkan dalam perjanjian damai bahwa dia akan membunuh para sahabat itu dan menggantung mereka.” [5]

 

Hubungan Iman dan Keberadaan Ammar

Amirul Mukminin Ali As selalu menekankan keteguhan iman Ammar. Abu Amr al-Kindi, salah seorang sahabat Imam Husain As, meriwayatkan bahwa suatu hari kami berada di hadapan Amirul Mukminin As dan orang-orang melihatnya dalam keadaan gembira dan bahagia. Pada saat itu, orang-orang memintanya untuk menceritakan tentang Ammar bin Yasir. Imam berkata: “Dia adalah seorang laki-laki yang daging, kulit dan rambutnya telah Allah campur dengan iman; ke mana pun dia pergi, iman juga menyertainya dan tak mungkin bagi api neraka untuk menariknya ke arahnya dan menelannya.” [6]

 

Pemakaman Ammar oleh Amirul Mukminin As

Ketika Ammar gugur sebagai syahid dalam Pertempuran Shiffin, Amirul Mukminin As mendoakannya. Setelah Ammar gugur sebagai syahid , beliau membacakan puisi di samping jenazahnya, yang antara lain: “Wahai kematian, engkau pasti akan datang kepadaku, bebaskan aku, karena engkau telah mengambil semua sahabatku dariku. Aku melihatmu sangat menyadari keberadaan sahabat-sahabatku ini, seolah-olah engkau sedang mencari mereka dengan lampu di tanganmu.” [7] [8]

 

Sumber:

  1. Raudhah al-Wa’izhin, Jilid 2, Hal. 280
  2. Al-Khishal, Jilid 2, Hal. 360
  3. Waq’atu Shiffin, Hal. 340
  4. Kasyf al-Ghummah, Jilid 1, Hal. 260
  5. Syarh al-Akhbar, Jilid 1, Hal. 345
  6. Al-Gharat, Jilid 1, Hal. 177
  7. At-Thabaqat al-Kubro, Jilid 3, Hal. 262
  8. Bihar al-Anwar, Jilid 33, Hal. 19

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *