Pintu masuk dan keluar Makam Suci Alawi tidak hanya memiliki nilai keindahan arsitektur, tetapi juga berperan penting dalam mengatur pergerakan peziarah dan menjaga ketertiban di Pelataran Suci Alawi. Jumlah dan nama pintu-pintu tersebut berkembang seiring perubahan tata ruang dan desain arsitektur kompleks makam dari masa ke masa.
Saat ini, Makam Suci Alawi memiliki lima pintu masuk utama. Namun ketika bangunan era Safawi didirikan pada 1614 M, jumlah pintu utamanya hanya tiga.
Ketiga pintu utama tersebut kini dikenal sebagai:
- Bab al-Sa’ah atau Pintu Jam di sisi timur
- Bab al-Tusi di sisi utara
- Bab al-Qiblah di sisi selatan
Pada periode berikutnya, dua pintu tambahan dibangun sehingga jumlah pintu utama menjadi lima. Kedua pintu tersebut diberi nama Bab Muslim bin Aqil AS dan Bab al-Faraj.
Pembangunan Pintu Keenam
Untuk mempermudah arus masuk dan keluar peziarah, khususnya pada musim ziarah besar yang dihadiri jutaan orang, pengelola Makam Suci Alawi memutuskan membangun pintu keenam.
Pintu berukuran besar ini dibangun di bagian utara sisi barat dinding Pelataran Suci Alawi dan menghadap langsung ke Pelataran Sayyidah Fatimah Zahra Sa.
Dari segi lokasi, ukuran, dan bentuk, pintu baru ini dirancang serupa dengan Bab al-Faraj yang berada di sisi berlawanan.
Setelah rancangan teknik selesai, pada Ramadan 1445 H/2024 M, tim pelaksana dari Lembaga Kautsar Iran mulai membongkar bangunan Dar al-Dhiyafah dan memulai pekerjaan konstruksi.
Seluruh proses dilakukan dengan memperhatikan kelestarian arsitektur asli iwan-iwan di Pelataran Suci Alawi agar tidak mengalami kerusakan.
Bab al-Sa’ah, Pintu Terbesar Pelataran Suci Alawi
Bab al-Sa’ah merupakan pintu besar di sisi timur sekaligus pintu masuk utama Pelataran Suci Alawi.
Pintu ini berada tepat berhadapan dengan Iwan Emas Makam Suci Alawi.
Nama Bab al-Sa’ah, yang berarti “Pintu Jam”, berasal dari keberadaan menara jam di bagian atasnya. Pintu ini juga dikenal dengan nama Bab Imam Ridha AS.
Pada 1743 M, ketika makam Imam Ali AS dihiasi dengan lapisan emas atas perintah Nader Shah Afshar, sejumlah ornamen emas megah dipasang di bagian atas Bab al-Sa’ah.
Ornamen Emas di Atas Bab al-Sa’ah
Dekorasi tersebut berupa pita lebar dari lempengan emas yang dipasang di atas pintu masuk.
Di atasnya terukir bagian awal Surah Al-Fath: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas apa yang telah lalu dan yang akan datang.”
Ayat tersebut ditulis menggunakan kaligrafi Tsuluts bertumpuk. Pada bagian akhir prasasti tercantum nama kaligrafer Mohammad Muqim serta tahun pembuatannya, 1156 H/1743 M.
Di sekeliling jendela kayu yang berada di atas pintu terdapat pula pita emas berbentuk lengkung. Pada bagian tepinya dituliskan sebuah kasidah berbahasa Persia yang memuji Amirul Mukminin Ali AS dengan kaligrafi Nastaliq.
Nama penyair kasidah tersebut tidak diketahui.
Di sekitar lengkungan terdapat motif menyerupai lentera yang memuat tulisan:
“Ya Ali, adrikni”
“Wahai Ali, tolonglah aku.”
Pada bagian tengah atas lengkungan dipasang sebuah panel emas bertuliskan:
“Ya Ali, ya Mufattih al-Abwab”
“Wahai Ali, wahai pembuka segala pintu.”
Mahkota lengkungan juga dihiasi ornamen lingkaran emas dengan lafaz “Allah” di bagian tengah.
Dari lingkaran tersebut terpancar 14 sinar emas, yang melambangkan Empat Belas Maksum AS.
Dekorasi dan Pemugaran Iwan Bab al-Sa’ah
Pada bagian dalam Iwan Bab al-Sa’ah terdapat pita kaligrafi berbentuk persegi panjang yang memuat ayat 36 hingga 38 Surah An-Nur.
Pada akhir prasasti tercantum tahun pembuatannya, 1198 H, serta nama kaligrafer Mohammad Ridha.
Sepanjang sejarah, bagian luar dan lorong dalam Bab al-Sa’ah mengalami beberapa kali pemugaran dan renovasi.
Akibatnya, sejumlah catatan sejarah dan prasasti lama ikut hilang.
Sebagai contoh, dahulu terdapat deretan ubin di kedua sisi iwan, tepat di bawah pita prasasti, yang memuat hadis Nabi SAW dan kata-kata hikmah Amirul Mukminin As.
Pada bagian akhirnya tercantum nama pembuatnya, Haji Abdul Husain Bahadur Khan, beserta tahun 1234 H.
Namun prasasti tersebut kini sudah tidak ada.
Dalam pemugaran berikutnya, tulisan baru dipasang. Pada bidang persegi di bawah pita sisi kanan tertulis:
“Qala al-Rasul al-Akram Saw”
“Rasulullah Saw bersabda.”
Sementara pada sisi kiri tercantum:
“Ali adalah saudaraku, berasal dariku dan aku berasal dari Ali. Ia adalah pintu ilmuku dan wasiatku.”
Di sisi tersebut juga dicantumkan tahun 1430 H/2009 M.
Pada 1909 M, Sultan Ottoman Abdul Hamid II juga melakukan renovasi terhadap hiasan keramik Iwan Bab al-Sa’ah.
Tanggal renovasi tersebut diabadikan dalam sebuah ungkapan yang bermakna penghormatan kepada pintu Imam Ali AS.
Bab al-Sa’ah pada Masa Kontemporer
Pada saat Intifada Sha’baniyah 1991, Bab al-Sa’ah mengalami kerusakan parah akibat serangan pasukan rezim Baath ke kompleks Makam Suci Alawi.
Pintu tersebut terkena berbagai jenis senjata dan mengalami kerusakan berat.
Beberapa bulan setelah situasi mereda, pemugaran dilakukan secara tergesa-gesa terhadap bagian keramik dan struktur yang rusak.
Namun dalam proses tersebut, seluruh ornamen emas lama dilepas dan kemudian disimpan di gudang kompleks makam.
Prasasti Al-Qur’an yang asli juga dibongkar dan diganti dengan pita ubin Karbala yang memuat ayat 23 Surah Al-Ahzab: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada pula yang menunggu, dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.”
Rangkaian sinar emas asli juga diganti dengan ornamen berbentuk segi delapan yang memuat tulisan:
“Huwa al-Ali al-A’la”
“Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahamulia.”
Dalam beberapa tahun berikutnya, seiring meningkatnya perhatian terhadap warisan arsitektur Makam Suci Alawi, dilakukan proyek restorasi besar atas arahan pengelola makam, khususnya di bawah pengawasan Sayyid Isa Mohammad Saleh al-Kharsan.
Prasasti-prasasti Bab al-Sa’ah dipugar dan bagian-bagian yang hilang, terutama ornamen pancaran sinar emas, dibuat kembali oleh para ahli di bengkel penyepuhan Makam Suci Alawi.
Jendela kayu di atas pintu, yang menjadi salah satu bagian mahkota Bab al-Sa’ah, juga diperbaiki dan dicat ulang.
Pada bagian atasnya kemudian dipasang papan penunjuk yang mencantumkan berbagai nama pintu tersebut.
Restorasi dan Pelapisan Emas Bab al-Sa’ah
Proyek restorasi dimulai pada awal bulan Rajab 1444 H/2023 M dan berhasil diselesaikan hanya dalam waktu sekitar tiga bulan.
Sejumlah insinyur teknis dari Lembaga Kautsar Iran turut terlibat dalam proyek tersebut.
Mereka melapisi lembaran tembaga dengan emas murni 24 karat, kemudian seluruh bagian dikembalikan ke posisi aslinya.
Sejumlah kilogram emas yang digunakan dalam proyek tersebut disumbangkan oleh Haider Falah al-Shamma’ sebagai bentuk kecintaan dan pengabdiannya kepada Amirul Mukminin Ali AS.
Salah satu momen penting dalam sejarah pemugaran Bab al-Sa’ah adalah upacara peresmian yang digelar di pelataran depan pintu tersebut dengan dihadiri para ulama, tokoh budaya, serta masyarakat umum.
Pada Sabtu, 29 April 2023, bertepatan dengan 8 Syawal 1444 H, selubung penutup pintu berlapis emas itu secara resmi dibuka.
Momentum tersebut juga bertepatan dengan peringatan seratus tahun salah satu peristiwa yang sangat menyedihkan bagi pengikut Ahlulbait, yakni penghancuran makam para Imam Maksum di Pemakaman Baqi, Madinah.
Pada hari itu, Bab al-Sa’ah kembali tampil dengan wajah baru dan kemegahan arsitekturnya.
Salah seorang yang mengabadikan tahun pemugaran Bab al-Sa’ah dalam bentuk syair adalah Ali Saffar, penyair Makam Suci Abbasiyah.
Dalam puisinya, ia menyebut pintu tersebut dengan nama kehormatan “Bab al-Imam al-Ridha.”
Bab al-Tusi, Pintu Dekat Makam Sheikh Tusi
Bab al-Tusi terletak di sisi utara dinding Pelataran Suci Alawi.
Nama tersebut diberikan karena pintu ini berada dekat dengan makam Sheikh Tusi.
Iwan besar utara yang dikenal sebagai Iwan Yazdi, yang di sisi kirinya terhubung dengan Masjid Imran bin Shahin, pada dasarnya merupakan Bab al-Tusi dalam rancangan arsitektur asli era Safawi.
Pada masa berikutnya, pintu asli tersebut ditutup dan pintu baru dibangun di sampingnya. Pintu inilah yang kini dikenal sebagai Bab al-Tusi.
Perubahan tersebut dilakukan dengan tujuan menempatkan pintu baru tepat di tengah deretan iwan pada sisi utara pelataran.
Perubahan serupa juga terjadi di sisi selatan pada Bab al-Qiblah.
Namun perubahan tersebut dinilai mengurangi sebagian karakter arsitektur asli dan kemegahan rancangan Safawi pada Makam Suci Alawi.
Tidak terdapat catatan pasti mengenai waktu pemindahan pintu tersebut.
Namun berdasarkan penelitian sejarah, perubahan diperkirakan terjadi setelah berakhirnya pemerintahan Afshariyah.
Sementara pembangunan pintu-pintu baru Pelataran Suci Alawi mulai berkembang pada paruh kedua abad ke-13 Hijriah.
Nama Lama Bab al-Tusi
Pada masa lalu, pintu ini dikenal sebagai Bab al-Ula. Nama tersebut berasal dari sebuah kawasan kecil bernama Al-Ula, bagian dari kawasan besar Mashraq, yang membentang antara Makam Suci Alawi dan Masjid Sheikh Tusi.
Pembukaan pintu ini pada 1318 H tercatat dilakukan oleh ulama Sheikh Abdul Husain Huwaizi Ibrahimi.
Proyek perluasan pintu masuk dan renovasi pintu kecil lama dimulai pada 1949, setelah dibukanya jalan yang mengelilingi Pelataran Suci Alawi.
Pekerjaan tersebut dibiayai oleh pengelola wakaf pada masa Kerajaan Irak dan berada di bawah pengawasan arsitek Haji Said Ma’mar. Pembangunan selesai pada 1953.
Pintu tersebut kemudian secara resmi dibuka pada 2 Mei 1953, bertepatan dengan perayaan penobatan Faisal II sebagai Raja Irak.
Dua bait puisi karya penyair dan khatib Mohammad Ali Ya’qubi ditulis pada ubin Karbala di bagian atas pintu kayu sebagai penanda tahun renovasi.
Pada kesempatan yang sama, sebuah syair sejarah lain karya Sayyid Mohammad Husain Hilli, bertanggal 1373 H, dituliskan pada bagian bawah dinding sisi kiri pintu.
Setahun setelah peresmian, pekerjaan pelapisan permukaan bangunan dengan keramik kashani selesai.
Peristiwa ini diabadikan melalui sebuah prasasti di dinding luar sisi kanan pintu.
Tulisan tersebut mencatat bahwa renovasi dilakukan pada masa pengelolaan Sayyid Abbas, pada 1374 H.
Pada bagian kiri dinding juga tertulis nama Sayyid Mohammad Hasan dan Sayyid Jawad Rifa’i, selaku pengelola, disertai tahun 1954.
Bab al-Qiblah, Pintu yang Menghadap Ka’bah
Bab al-Qiblah terletak di sisi selatan Pelataran Suci Alawi. Pintu tersebut dinamakan demikian karena menghadap ke arah Ka’bah.
Bangunan yang saat ini dikenal sebagai Iwan Habubi, yakni iwan besar di sisi selatan, pada rancangan asli era Safawi sebenarnya merupakan Bab al-Qiblah.
Namun pada periode berikutnya, pintu tersebut ditutup dan digantikan dengan pintu baru yang dibangun di bagian tengah dinding selatan.
Bab al-Qiblah telah beberapa kali mengalami renovasi dan pemugaran sepanjang sejarah.
Salah satu renovasi besar terakhir dilakukan oleh Shibli Pasha, Gubernur Ottoman, pada 1874, dengan dukungan Sayyid Jawad Rifa’i, pengelola kompleks makam.
Sheikh Mohammad Husain Hirzuddin dalam karyanya mengutip manuskrip Al-Nawadir karya kakeknya, Sheikh Mohammad Hirzuddin, yang menjelaskan:
“Pada masa lalu, pintu ini berukuran kecil dan dibuat dari batang pohon kurma. Pada tahun 1291 H, Menteri Shibli Pasha membangun pintu baru dan sejak saat itu hingga 1340 H bangunan tersebut tetap kokoh.”
Penyair dan sastrawan terkenal Sheikh Ahmad Qattan juga mencatat tahun renovasi pintu tersebut oleh pejabat Ottoman dalam kumpulan puisinya.
Tanggal tersebut kemudian ditulis dengan kaligrafi keramik pada bagian luar pintu yang menghadap ke Pelataran Suci Alawi.
Sejarah Pemugaran Bab al-Qiblah
Sejumlah prasasti sejarah pada ubin Karbala di dinding Iwan Bab al-Qiblah menunjukkan bahwa bagian-bagian tertentu dari pita kaligrafi Al-Qur’an dan hadis telah beberapa kali dipugar.
Pemugaran tersebut tercatat dilakukan pada 1333 H, 1380 H, dan 1382 H.
Jejak renovasi yang berlangsung selama berabad-abad tersebut menunjukkan bahwa pintu-pintu Makam Suci Alawi bukan sekadar jalur keluar-masuk peziarah, tetapi juga menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah, seni, dan arsitektur salah satu situs suci terpenting di Kota Najaf.
Sumber
Diadaptasi dari buku Tarikh al-Marqad al-Alawi al-Muthahhar.