Most searched:

Fatimah Maksumah as.; Muhadditsah Keluarga Ali

Di antara putra-putri Imam Musa bin Ja’far as., setelah Imam kedelapan, nama Fatimah Maksumah as. bersinar laksana permata di tengah keluarga mulia ini. Dengan langkah yang berani dan hijrahnya, Sayidah Maksumah as. berdiri menghadapi tekanan pemerintahan Abbasiyah. Melalui periwayatan Hadis Ghadir, beliau membela dengan sepenuh jiwa kedudukan imamah dan wilayah Amirul Mukminin as.

Pada masa Imam Musa bin Ja’far as., meriwayatkan hadis merupakan perkara yang sangat sulit. Namun, sejumlah hadis telah diriwayatkan dari Sayidah Maksumah as., dan seluruhnya berkisar pada tema imamah dan wilayah. Tampaknya, melalui penyampaian hadis-hadis tersebut, beliau berusaha mengarahkan perhatian masyarakat kepada persoalan imamah dan wilayah yang pada saat itu berada dalam keterasingan.

Riwayat-Riwayat Fatimiyah

Salah satu keutamaan Sayidah Maksumah as. adalah kedudukan beliau sebagai muhadditsah, yakni perempuan perawi hadis.

Di antara riwayat yang berkaitan dengan pembelaan terhadap wilayah Amirul Mukminin as. adalah Hadis Ghadir, yang diriwayatkan Sayidah Maksumah as. melalui sanad yang disebut dalam sumber tersebut sampai kepada Sayidah Fatimah Zahra as.

Sayidah Fatimah Maksumah, putri Imam Kazhim as., meriwayatkan dari Fatimah putri Imam Shadiq as., dari Fatimah putri Imam Baqir as., dari Fatimah putri Imam Sajjad as., dari Fatimah putri Imam Husain as., dari Ummu Kultsum putri Amirul Mukminin as., dari Fatimah putri Rasulullah as., bahwa beliau berkata:

“Apakah kalian telah melupakan sabda Rasulullah saw. pada hari Ghadir Khum: ‘Barang siapa aku adalah maulanya, maka Ali as. adalah maulanya’?

Apakah kalian telah melupakan sabda Rasulullah saw. kepada Amirul Mukminin Ali as.: ‘Kedudukanmu terhadapku seperti kedudukan Harun terhadap Musa’?” (1)

Hadis Mikraj dan Para Pecinta Amirul Mukminin

Sayidah Maksumah as. dengan penuh kecermatan meriwayatkan bagian dari Hadis Mikraj yang berbicara tentang wilayah Amirul Mukminin dan kedudukan tinggi para pengikut beliau.

Penyampaian hadis ini oleh Sayidah Maksumah as. menunjukkan wawasan dan pemahaman mendalam beliau terhadap ajaran Islam.

Diriwayatkan dari Fatimah putri Imam Sajjad as., dari Fatimah putri Imam Husain as., dari Ummu Kultsum putri Amirul Mukminin as., dari Fatimah putri Rasulullah as., bahwa beliau berkata:

“Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Ketika aku dibawa naik ke langit dan memasuki surga, tiba-tiba aku melihat sebuah istana yang terbuat dari satu butir mutiara putih berongga. Istana itu mempunyai sebuah pintu yang dihiasi mutiara dan yaqut, dan pada pintu tersebut tergantung sebuah tirai.

Aku mengangkat kepalaku dan melihat tulisan pada pintu itu: ‘Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah, dan Ali adalah wali serta pemimpin manusia.’

Pada tirai itu tertulis: ‘Alangkah beruntungnya! Siapakah yang seperti Syiah Ali?’

Aku masuk ke dalam istana. Kemudian aku melihat istana lain yang terbuat dari akik merah berongga. Istana itu memiliki pintu dari perak yang dihiasi zamrud hijau dan juga memiliki sebuah tirai.

Aku mengangkat kepala dan melihat tulisan pada pintu tersebut: ‘Muhammad adalah utusan Allah, dan Ali adalah washi al-Musthafa.’

Pada tirainya tertulis: ‘Kabar gembira bagi Syiah Ali as. karena kelahiran mereka yang suci.’

Aku masuk, lalu melihat istana lain yang terbuat dari zamrud hijau berongga. Aku belum pernah melihat sesuatu yang lebih indah darinya. Istana itu mempunyai pintu dari yaqut merah yang dihiasi mutiara, dan pada pintunya terdapat sebuah tirai.

Aku mengangkat kepala dan melihat pada tirai tersebut tertulis: ‘Syiah Ali adalah orang-orang yang beruntung.’

Aku berkata: ‘Wahai sahabatku Jibril, milik siapakah istana ini?’

Jibril menjawab: ‘Wahai Muhammad, istana ini adalah milik sepupu dan washi-mu, Ali bin Abi Thalib as. Semua manusia pada Hari Kiamat akan datang ke padang Mahsyar dengan kaki telanjang dan tubuh tanpa pakaian, kecuali Syiah Ali as.

Pada hari itu manusia akan dipanggil dengan nama ibu mereka, kecuali Syiah Ali as., yang akan dipanggil dengan nama ayah mereka.’

Aku bertanya: ‘Wahai Jibril, bagaimana hal itu bisa terjadi?’

Jibril menjawab: ‘Karena mereka mencintai Ali as., kelahiran mereka adalah suci dan halal.’” (2)

Hijrah yang Membangun Peradaban 

Pembelaan Sayidah Maksumah as. terhadap imamah tidak hanya terbatas pada periwayatan hadis.

Setelah saudaranya, Imam Ridha as., dipaksa berhijrah menuju Marv, beliau bergerak menuju Khurasan. Namun dalam perjalanan selanjutnya, beliau menuju kota Qom.

Sejumlah riwayat dari Nabi terakhir saw. dan Amirul Mukminin as. juga menunjukkan hubungan mendalam serta kedudukan khusus kota Qom dalam kerangka pemikiran dan keyakinan Ahlulbait as.

Rasulullah saw. bersabda:

“Penduduk Qom adalah Syiahku dan Syiah washi-ku, Ali bin Abi Thalib as.” (3)

Amirul Mukminin as. bersabda:

“Salawat Allah atas penduduk Qom dan rahmat Allah atas penduduk Qom. Semoga Allah mengairi negeri mereka dengan hujan.” (4)

Anas bin Malik, salah seorang sahabat Nabi saw., meriwayatkan:

“Suatu hari aku sedang duduk bersama Rasulullah saw., lalu Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. datang menemui beliau.

Rasulullah saw. berkata kepadanya: ‘Wahai Abul Hasan, mendekatlah kepadaku.’

Kemudian beliau memeluk Ali dan mencium bagian di antara kedua matanya, lalu bersabda:

‘Wahai Ali, Allah Yang Mahatinggi menawarkan wilayahmu kepada langit-langit. Langit ketujuh menjadi yang pertama menerimanya, lalu Allah menghiasinya dengan Baitul Makmur.

Kemudian langit dunia menerimanya dan Allah menghiasinya dengan bintang-bintang.

Setelah itu, wilayahmu ditawarkan kepada bumi. Makkah menjadi yang pertama menerimanya dan Allah menghiasinya dengan Ka’bah.

Kemudian Madinah menerimanya dan Allah menghiasinya denganku.

Kemudian Kufah menerimanya dan Allah menghiasinya denganmu.

Setelah itu Qom menerima wilayahmu, lalu Allah menghiasinya dengan bangsa Arab dan membuka sebuah pintu dari surga di sana.’” (5)

Sumber

  1. Asna al-Mathalib fi Manaqib Ali bin Abi Thalib as., Ibn al-Jazari, hlm. 49; Al-Ghadir, jilid 1, hlm. 196; Awalim al-Ulum, jilid 21, hlm. 354.
  2. Bihar al-Anwar, jilid 65, hlm. 79; Al-Musalsalat, hlm. 241.
  3. Bihar al-Anwar, jilid 57, hlm. 218.
  4. Bihar al-Anwar, jilid 57, hlm. 228.
  5. Bihar al-Anwar, jilid 57, hlm. 212.

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *