Most searched:

دشمنی با امیرالمؤمنین (علیه‌السلام)؛ رویارویی با حق

Permusuhan terhadap Amirul Mukminin As; Menentang Kebenaran

Riwayat-riwayat Nabi menunjukkan bahwa kedudukan Amirul Mukminin (salam atasnya) bukan sekadar kedudukan seorang sahabat atau pemimpin masyarakat Islam; hubungan beliau juga terjalin erat dengan Rasulullah dan keridaan Allah. Karena itu, mencintai beliau disebut sebagai tanda keimanan, sedangkan memusuhi beliau disamakan dengan memusuhi Nabi terakhir dan menentang Allah.

Riwayat-riwayat Nabi Muhammad Saw menunjukkan bahwa kedudukan Amirul Mukminin As bukan sekadar sebagai seorang sahabat atau pemimpin masyarakat Islam. Kedudukannya terkait erat dengan Rasulullah Saw dan keridaan Allah. Karena itu, mencintai Ali As diperkenalkan sebagai tanda keimanan, sedangkan memusuhinya dipandang setara dengan memusuhi Nabi terakhir dan menentang Allah.

Pada masa Rasulullah Saw, meskipun terdapat berbagai permusuhan yang tersembunyi, kasih sayang dan perhatian Rasulullah yang begitu besar kepada Amirul Mukminin As, disertai dukungan yang menyeluruh dan tulus, menciptakan keadaan yang membuat segala bentuk permusuhan terbuka terhadap Ali As sama sekali tidak mungkin dilakukan.

Motif-Motif Permusuhan terhadap Amirul Mukminin As

Dendam dan kebencian yang tersembunyi terhadap Amirul Mukminin As tetap hidup dalam hati sebagian orang. Perlahan-lahan, kebencian itu menunggu kesempatan untuk keluar dari balik layar dan menampakkan diri. Berbagai faktor turut berperan dalam munculnya permusuhan tersebut.

  1. Banyak kerabat dan orang dekat para penentang terbunuh di tangan Amirul Mukminin As dalam peperangan pada masa awal Islam sebelum penaklukan Makkah, yang terjadi pada tahun-tahun terakhir kehidupan Rasulullah Saw. Banyak orang yang kemudian memeluk Islam sebelumnya berada dalam pasukan kaum kafir dan berperang melawan kaum Muslim. Dalam peperangan-peperangan tersebut, cukup banyak orang dari pihak kaum kafir terbunuh di tangan Amirul Mukminin As.
  2. Para khalifah sebelum Amirul Mukminin As, demi memperkokoh fondasi pemerintahan mereka sekaligus mengurangi peran dan kedudukan Ali As di tengah masyarakat, berusaha merendahkan posisinya di mata masyarakat dan mengisolasinya.
  3. Keadilan Amirul Mukminin As dalam pembagian baitulmal. Ketika memegang tampuk kekhalifahan, Ali As berusaha menghidupkan kembali metode Rasulullah Saw. Salah satu langkahnya adalah menghapus berbagai bentuk diskriminasi yang keliru, yang terutama pada masa Utsman telah meresap ke dalam struktur pemerintahan dan masyarakat.

 

Penekanan Nabi Terakhir untuk Berlepas Diri dari Para Penentang Pemimpin Orang-Orang Bertakwa

Rasulullah Saw dalam berbagai riwayat dan pada kesempatan yang berbeda-beda menjelaskan sifat dan ciri para musuh Amirul Mukminin As. Penjelasan tersebut dengan jelas menunjukkan keunggulan Ali As dibandingkan yang lain.

Rasulullah Saw bersabda tentang Amirul Mukminin As:

“Allah Azza wa Jalla berfirman: Barang siapa memusuhi Ali, berarti ia telah memusuhi-Ku. Barang siapa mengikuti Ali, berarti ia telah mengikuti-Ku. Barang siapa berdiri menentangnya, berarti ia telah berdiri menentang-Ku. Barang siapa menentangnya, berarti ia telah menentang-Ku. Barang siapa mendurhakainya, berarti ia telah mendurhakai-Ku. Barang siapa menyakitinya, berarti ia telah menyakiti-Ku. Barang siapa menyimpan kebencian terhadapnya, berarti ia telah menyimpan kebencian terhadap-Ku. Barang siapa mencintainya, berarti ia telah mencintai-Ku. Barang siapa menyerangnya, berarti ia telah menyerang-Ku. Barang siapa melakukan tipu daya terhadapnya, berarti ia telah melakukan tipu daya terhadap-Ku. Dan barang siapa menolongnya, berarti ia telah menolong-Ku.” [1]

Kedekatan dan kebersamaan Amirul Mukminin As dengan Rasulullah Saw berlangsung sejak awal kehidupan hingga akhir hayat Nabi. Hubungan yang begitu berharga ini, dalam pandangan para pemuja dunia yang tersesat, dianggap sebagai sebuah “kejahatan” yang tak terampuni dan menjadi salah satu sebab munculnya permusuhan terhadap Ali As.

Rasulullah Saw bersabda kepada Amirul Mukminin As:

“Berbahagialah orang-orang yang mencintaimu dan membenarkanmu, dan celakalah orang-orang yang memusuhimu serta mengada-adakan kebohongan tentangmu! Wahai Ali! Engkau adalah pembimbing dan panji petunjuk bagi umat ini. Barang siapa mencintaimu akan memperoleh keselamatan, dan barang siapa memusuhimu akan binasa.” [2]

Murka Allah terhadap Mereka yang Mengingkari Wilayat Amirul Mukminin As

Akar permusuhan terhadap Amirul Mukminin As dapat diringkas pada satu persoalan utama, yaitu penolakan terhadap kedudukan imamah Ali As; sebuah kedudukan yang berdasarkan kehendak Allah dan penegasan Nabi terakhir telah diserahkan kepadanya.

Rasulullah Saw bersabda mengenai hal ini:

“Ketahuilah bahwa Jibril telah menyampaikan kepadaku dari Allah Azza wa Jalla bahwa Dia berfirman: ‘Barang siapa memusuhi Ali dan tidak mengikutinya, maka laknat dan murka-Ku atas dirinya.’” [3]

Rasulullah Saw Berlepas Diri dari Para Penentang Amirul Mukminin As

Rasulullah Saw secara tegas menyatakan berlepas diri dari para penentang Amirul Mukminin As sekaligus menegaskan kedudukan Ali As sebagai washi dan penerusnya. Hal ini disampaikan Rasulullah dalam berbagai kesempatan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda:

“Wahai manusia! Barang siapa mencintai Ali, aku mencintainya; dan barang siapa memusuhinya, aku memusuhinya. Aku menyambung hubungan dengan siapa yang menyambung hubungan dengan Ali, dan memutus hubungan dengan siapa yang memutus hubungan dengannya. Aku berpaling dari orang yang berpaling darinya. Barang siapa membela Ali, aku akan membelanya, dan barang siapa memusuhi Ali, aku akan memusuhinya.” [4]

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw bersabda kepada Amirul Mukminin As:

“Semoga Allah membinasakan orang yang memerangimu dan memusuhimu!” [5]

Rasulullah Saw juga berkata kepada Amirul Mukminin As:

“Barang siapa menyakitimu, berarti telah menyakitiku, dan barang siapa menyakitiku, berarti telah menyakiti Allah.” [6]

Sumber

[1] Amali Thusi, hlm. 118, hadis 185; Basyarat al-Musthafa, hlm. 65 dan 111
[2] Amali Shaduq, hlm. 655, hadis 891; Basyarat al-Musthafa, hlm. 180
[3] Al-Ihtijaj, jil. 1, hlm. 146, hadis 32
[4] Amali Shaduq, hlm. 188, hadis 197; Basyarat al-Musthafa, hlm. 24
[5] Al-Jamal, hlm. 81; Al-Fushul al-Mukhtarah, hlm. 245; Basyarat al-Musthafa, hlm. 166; Mi’ah Manqabah, hlm. 99, hadis 43
[6] Tarikh Dimasyq, jil. 42, hlm. 204, hadis 8676, dari Jabir; Dzakhair al-Uqba, hlm. 122; Al-Ifshah, hlm. 128; Al-Jamal, hlm. 81; Tuhaf al-Uqul, hlm. 459, dari Imam al-Hadi (a.s.), dari beliau (saw.)

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *