Perang ini terjadi akibat perselisihan politik dan sosial di tengah masyarakat Muslim serta dikenal sebagai perang saudara pertama dalam sejarah Islam.
Penyampaian Hujah Terakhir di Dzi Qar
Setelah menjabat sebagai khalifah, Amirul Mukminin As menghadapi pemberontakan kelompok Jamal yang dipimpin oleh Thalhah, Zubair, dan Aisyah.
Untuk menghadapi fitnah tersebut, ia bergerak menuju Kufah guna mengerahkan pasukan yang setia. Di Dzi Qar, dekat Kufah, pasukan Imam dan masyarakat berkumpul, lalu beliau menyampaikan sebuah khutbah.
Salamah bin Suhail, salah seorang sahabat Amirul Mukminin As, meriwayatkan: “Ketika rombongan Amirul Mukminin As tiba di Dzi Qar, ia mengutus putranya, Imam Hasan As, bersama Ammar bin Yasir kepada masyarakat Kufah untuk mempersiapkan mereka.
Setelah masyarakat Kufah datang menghadap dan menyatakan baiat, Amirul Mukminin As memulai khutbah yang penuh makna dengan memuji Allah dan menyampaikan salawat kepada Rasulullah Saw.
Beliau bersabda: ‘Wahai manusia! Kami telah mengalami berbagai kesulitan yang kami hadapi dengan kesabaran karena tunduk kepada perintah Allah Yang Mahatinggi dan mengharapkan pahala akhirat, meskipun penderitaan itu bagaikan duri di mata dan tulang di dalam hati.
Namun, bersabar menghadapi penderitaan tersebut jauh lebih baik daripada membiarkan kaum Muslimin tercerai-berai dan darah mereka tertumpah.
Kami adalah Ahlulbait kenabian dan keluarga Rasulullah Saw, orang-orang yang paling berhak atas kekhalifahan dan sumber kemuliaan. Sebagaimana Allah telah menjadikan penciptaan kami demikian: “Dan itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah memiliki karunia yang sangat besar.”
Wahai penduduk Kufah! Kalian termasuk kaum Muslimin yang paling mulia, paling bertakwa, dan paling berpegang teguh pada sunah. Kalian juga memiliki bagian yang sangat besar dalam Islam serta kedekatan dengan Nabi Saw dan Ahlulbait beliau.
Aku datang kepada kalian semata-mata karena kepercayaanku kepada kalian dan pengorbanan yang telah kalian lakukan dalam menghadapi pelanggaran baiat Thalhah dan Zubair serta fitnah yang ditimbulkan Aisyah.
Kedua orang itu, melalui tipu daya, telah membuka jalan bagi kehancuran hamba-hamba Allah dan kerusakan kota-kota.
Mereka telah berbaiat atas kemauan, kerelaan, dan pilihan mereka sendiri. Kemudian keduanya meminta izin kepadaku untuk berangkat menunaikan umrah, dan aku pun mengizinkan mereka.
Namun, mereka terus membujuk Aisyah hingga berhasil mengeluarkannya dari rumahnya. Mereka kemudian membawanya mengikuti perjalanan mereka, sebagaimana budak-budak perempuan dibawa untuk dijual, hingga akhirnya tiba di Basrah.
Mereka menempatkan istri-istri mereka sendiri di rumah, tetapi membawa perempuan yang berada dalam perlindungan Rasulullah Saw ke tengah pasukan, sehingga terlihat oleh mereka sendiri dan orang-orang lain.
Kemudian mereka memukul dan menawan pejabat yang kutunjuk di Basrah.
Mereka juga menyerang para penjaga Baitulmal kaum Muslimin yang berada di bawah kekuasaanku serta penduduk kota yang seluruhnya berada dalam ketaatan dan baiat kepadaku.
Mereka menghancurkan persatuan, menebarkan perpecahan di antara penduduk, dan merusak kebersamaan mereka.
Mereka menyerang para pengikutku. Sebagian dibunuh, sedangkan sebagian lainnya menggenggam pedang dengan kuat dan bertempur hingga menemui Allah dengan keimanan yang tulus.
Seandainya tindakan zalim seperti itu hanya menimpa seorang Muslim yang tidak bersalah dan mereka dengan sengaja membunuhnya, maka membunuh seluruh pasukan tersebut diperbolehkan, sebab mereka hadir dalam peristiwa itu, tetapi tidak mencegahnya, baik dengan ucapan maupun tindakan.
Apalagi kenyataannya mereka telah membunuh sejumlah Muslim yang datang ke kota tersebut untuk menemui mereka.
Mereka bahkan membunuh sekelompok orang dari Sababijah, suatu kelompok masyarakat yang tinggal di Basrah, yang berjumlah empat ratus orang, dan memukuli para pejabat kota dengan sangat keras.
Ya Allah! Mereka telah memutuskan hubungan denganku, menzalimiku, melanggar baiat kepadaku, dan menghasut masyarakat untuk melawanku.
Maka cerai-beraikanlah apa yang telah mereka satukan, lemahkanlah apa yang telah mereka kukuhkan, dan timpakanlah kepada mereka akibat buruk dari perbuatan mereka.’”
Setelah mendengar khutbah tersebut, masyarakat Kufah menjawab: “Wahai Amirul Mukminin As! Kami memuji Allah Yang Mahamulia karena telah menganugerahkan kesempatan kepada kami untuk bertemu denganmu, memuliakan kami dengan berada di dekatmu, dan menjadikan kami bagian dari para pengikut, sahabat, serta penolongmu dalam menghadapi musuh-musuhmu.
Seandainya engkau mengajak kami berperang menghadapi musuh yang jumlahnya berkali-kali lipat lebih besar, kami akan menganggapnya sebagai kebaikan dan kemaslahatan bagi diri kami. Kami mendambakan kesyahidan dalam pengabdian kepadamu. Karena itu, tenangkanlah hatimu, dan semoga matamu disejukkan dengan kemenangan atas musuh-musuhmu, insya Allah.”
Ketika Amirul Mukminin As menetap di Dzi Qar, masyarakat Kufah dan kelompok-kelompok lainnya terus berdatangan menghadap beliau secara berombongan. [1]
Susunan dan Formasi Pasukan
Memahami susunan pasukan dan para komandan kedua pihak dalam Perang Jamal membantu memberikan gambaran yang lebih tepat mengenai berbagai aspek konfrontasi bersejarah tersebut.
Abu Ubaidah, yang merupakan salah seorang sahabat Nabi Saw, mengatakan: “Pada hari Perang Jamal, komando pasukan berkuda Amirul Mukminin As berada di tangan Ammar bin Yasir, sedangkan Muhammad bin Abu Bakar memimpin pasukan infanteri.
Hasan bin Ali As memimpin sayap kanan pasukan, sementara Husain bin Ali As memimpin sayap kiri. Abdullah bin Abbas bertanggung jawab memimpin pasukan pelopor dan barisan depan, sedangkan Amirul Mukminin As menyerahkan panji pasukan kepada putranya, Muhammad bin Hanafiyah. Di pihak lain, panji Thalhah dan Zubair berada di tangan Abdullah bin Hakim bin Hizam. Komandan pasukan berkuda mereka adalah Thalhah, sedangkan komandan pasukan infanterinya adalah Abdullah bin Zubair. Sayap kanan pasukan mereka dipimpin Abdullah bin Amir bin Kuraiz, sementara sayap kiri dipimpin Marwan bin Hakam. Pertempuran ini terjadi pada hari Jumat, di luar Kota Basrah, dekat istana Ubaidullah bin Ziyad.” [2]
Pusat Kekuatan Pasukan Basrah
Dalam pasukan Basrah, simbol-simbol memainkan peran penting dalam membangkitkan emosi dan memperkuat persatuan pasukan. Unta Aisyah berada di pusat fitnah tersebut. Unta Aisyah menjadi panji dan simbol utama pasukan Basrah.
Para prajurit di pihak tersebut bertempur dengan sepenuh jiwa untuk mempertahankan unta itu, sebagaimana para pejuang yang berperang dan gugur di bawah panji mereka. [3]
Dimulainya Pertempuran
Di medan Perang Jamal, Amirul Mukminin As tidak mengeluarkan perintah menyerang sampai hujah terhadap pasukan lawan telah disampaikan secara sempurna.
Riwayat berikut menggambarkan saat-saat menakjubkan turunnya pertolongan Ilahi. Abu Abdullah al-Anazi, salah seorang perawi Imam Shadiq As dan ahli hadis Syiah yang dipercaya, mengatakan: “Pada hari Perang Jamal, aku sedang duduk di dekat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As. Sekelompok orang datang kepada beliau dan berkata: ‘Wahai Amirul Mukminin As! Pihak musuh sedang melontarkan anak panah dan tombak ke arah kami.’ Amirul Mukminin As tetap diam mendengar laporan tersebut.
Kemudian datang kelompok lain yang menyampaikan hal serupa. Mereka berkata: ‘Sebagian sahabat kita telah terluka.’
Saat itu Amirul Mukminin Ali As bersabda: ‘Siapakah yang akan memberiku alasan untuk berperang melawan kaum ini, sementara para malaikat belum turun?!’”
Al-Anazi melanjutkan: “Aku masih duduk di dekat Amirul Mukminin As. Ketika itu sama sekali tidak ada angin yang berembus.
Tiba-tiba, angin sejuk berembus dari belakang kami. Demi Allah, aku merasakan kesejukan angin itu di seluruh tubuhku, bahkan dari balik pakaian dan baju zirahku.
Ketika angin tersebut berembus, Amirul Mukminin As melepaskan baju zirahnya dan bergerak menuju musuh. Demi Allah, aku belum pernah menyaksikan kemenangan dan pertolongan yang datang dengan begitu cepat dan penuh keteguhan seperti saat itu.” [4]
Keberanian Pemimpin Orang-Orang Bertakwa
Di tengah pergolakan Perang Jamal, keteguhan dan kekuatan luar biasa Amirul Mukminin As mengungguli seluruh musuh. Muadz bin Abdullah at-Tamimi, salah seorang peserta Perang Jamal, meriwayatkan: “Aku melihat Amirul Mukminin As dengan tangannya sendiri menjatuhkan dan membunuh sepuluh orang yang memegang tali kendali unta.
Setiap kali ia membunuh seseorang dengan pedangnya, ia mengusapkan mata pedang tersebut pada pakaiannya. Kemudian kami bergerak maju hingga akhirnya terjebak di tangan mereka. Pada saat itu, kami seakan-akan menjadi sekumpulan domba yang sedang digiring. Kemudian kami melarikan diri dari medan pertempuran, saling mencela, dan menyesali apa yang telah terjadi.” [5]
Penyerahan Panji kepada Hasan bin Ali As
Di antara berbagai peristiwa dalam Perang Jamal, penyerahan panji dari Muhammad bin Hanafiyah kepada Imam Hasan As serta datangnya pertolongan Ilahi melalui beliau mengungkap suatu hakikat yang lebih tinggi, yang menunjukkan kedudukan istimewa cucu Rasulullah Saw.
Perkataan Amirul Mukminin As dalam peristiwa tersebut menggambarkan perbedaan yang halus sekaligus mendalam antara garis keturunan dan kedudukan Ahlulbait. Amirul Mukminin As menempatkan panji-panji pada posisi masing-masing.
Ia menyerahkan panji besar dan utama, yaitu panji berwarna putih yang lebarnya seukuran sebuah tombak, kepada putranya, Muhammad bin Hanafiyah.Kemudian memanggil Muhammad bin Hanafiyah dan menyerahkan tombaknya kepadanya seraya bersabda: “Dengan tombak ini, habisilah unta itu.”
Muhammad bergerak menuju sasaran, tetapi kabilah Bani Dhabah tidak membiarkannya mendekati unta tersebut. Ketika Muhammad kembali menghadap Amirul Mukminin As, Imam Hasan As mengambil tombak dari tangannya dan bergerak menuju unta. Beliau kemudian menusukkan tombaknya kepada unta tersebut dan kembali menghadap ayahnya.
Ketika bekas darah unta terlihat pada tombak, wajah Muhammad bin Hanafiyah memerah karena tindakan saudaranya tersebut.
Amirul Mukminin As kemudian bersabda kepada Muhammad: “Jangan heran. Dia adalah putra Nabi Saw, sedangkan engkau adalah putra Ali.” [6]
Kesetiaan di Medan Pertempuran
Zaid bin Shauhan merupakan salah seorang sahabat setia Pemimpin Orang-Orang Bertakwa yang memainkan peran penting dalam memperkuat semangat pasukan. Ia bertempur di sisi beliau dalam Perang Jamal hingga akhirnya gugur sebagai syahid.
Imam Shadiq As bersabda: “Ketika Zaid bin Shauhan terjatuh dalam Perang Jamal, Amirul Mukminin As datang mendekatinya dan bersabda: ‘Wahai Zaid, semoga Allah merahmatimu. Engkau adalah orang yang tidak banyak membebani agama, tetapi telah memberikan pertolongan yang sangat besar.’”
Zaid mengangkat kepalanya dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin As, semoga Allah memberimu balasan yang baik.
Aku mengenalmu sebagai orang yang memiliki pengetahuan tentang Allah, berkedudukan tinggi, dan bijaksana dalam memahami Al-Qur’an. Allah telah menempatkan keagungan di dalam dadamu. Demi Allah, aku tidak berperang di sisimu karena ketidaktahuan. Aku pernah mendengar Ummu Salamah, istri Nabi Saw, berkata:
‘Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Barang siapa menjadikan aku sebagai maulanya, maka Ali adalah maulanya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Tolonglah siapa pun yang menolongnya dan hinakanlah siapa pun yang menelantarkannya.’ Aku sama sekali tidak ingin menelantarkanmu, sehingga Allah pun menghinakanku.” [7]
Catatan Kaki:
-
Waq’at al-Jamal, jilid 1, hlm 113.
-
Tarikh al-Islam, karya adz-Dzahabi, jilid 2, hlm 270.
-
Syarh Nahj al-Balaghah, jilid 1, hlm 252.
-
Al-Amali, karya Syekh Thusi, halaman 213; Bihar al-Anwar, jilid 32, hlm 205.
-
Al-Jamal, karya Syekh Mufid, hlm 198.
-
Bihar al-Anwar, jilid 32, hlm 187.
-
Bihar al-Anwar, jilid 32, hlm 188.