Most searched:

Shadiq

Syahadah Imam Shadiq (as)

Sadir berkata: Aku berada di sisi Imam Shadiq (as). Beliau bersabda:

“Wahai Sadir! Janganlah engkau bertanya tentang makanan lezat, pakaian yang lembut, dan wewangian yang harum; semua itu diciptakan untuk kami, dan kami diciptakan untuknya (yakni, kenikmatan-kenikmatan itu untuk melayani kami, bukan tujuan hidup kami), dan hendaknya kenikmatan tersebut digunakan dalam ketaatan kepada Allah.”

Aku berkata: Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai putra Rasulullah, lalu apakah nikmat yang sebenarnya?

Beliau bersabda:

“Nikmat yang sebenarnya adalah kecintaan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as) dan keluarganya (عليهم السلام). Allah Ta‘ala pada hari kiamat akan bertanya kepada para hamba: ketika Aku memberikan nikmat kepada kalian berupa kecintaan kepada Ali dan keluarganya, bagaimana kalian mensyukuri nikmat tersebut?”

(Bihar al-Anwar, jil. 100, hlm. 330)

Imam Shadiq (as) bersabda:

“…Maka [Rasulullah (saw)] bersabda: Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Barang siapa menghendaki kota dan hikmah, maka hendaklah ia memasukinya melalui pintunya.

Kemudian beliau bersabda: Engkau adalah saudaraku, washi-ku, dan pewarisku; dagingmu dari dagingku dan darahmu dari darahku; damai-mu adalah damaiku dan perangmu adalah perangkuku; iman telah menyatu dengan daging dan darahmu sebagaimana ia menyatu dengan daging dan darahku.

Dan engkau esok adalah penggantiku di telaga (Kautsar), engkau akan melunasi utangku dan menunaikan janji-janjiku.”

(عَنِ الإمامِ جَعفَرٍ الصّادِقِ عليه‌السّلام: …فَقَالَ صلی الله‌علیه‌وآله أنا مَدِينَةُ  العِلمِ وَ عَليٌّ بابُها  فَمَن  أرادَ المَدينَةَ و الحِكمَةَ فَليَأتِها مِن بابِها، ثُمَّ قالَ أنتَ أخي و وَصيّي و وارِثي، لَحمُكَ مِن لَحمي، و دَمُكَ مِن دَمي، و سِلمُكَ سِلمي، و حَربُكَ حَربي، و الإيمانُ مُخالِطٌ لَحمَكَ و دَمَكَ كَما خالَطَ لَحمي و دَمي، و أنتَ غَداً عَلَی‌ الحَوضِ خَليفَتي، و أنتَ تَقضي دَيني و تُنجِزُ عِداتي)

(Iqbal al-A‘māl, jil. 1, hlm. 295)

Amirul Mukminin (as) bersabda: Rasulullah (saw) bersabda:

“Aku adalah kota surga dan wahai ‘Ali, engkau adalah pintunya. Barang siapa mengira bahwa ia dapat masuk melalui selain pintunya, maka ia berdusta.”

(عَنِ الأصبَغِ بنِ نُباتَةَ عَن عَليٍّ عَلَيهِ‌السّلامُ قالَ: قالَ رَسولُ اللهِ صَلّی‌اللهُ‌عَليهِ‌وآلِهِ: أنا مَدينَةُ الجَنَّةِ و أنتَ بابُها يا عَليُّ كَذَبَ مَن زَعَمَ أنَّهُ يَدخُلُها مِن غَيرِ بابِها)
(al-Amali, Syaikh Tusi, jil. 1, hlm. 309)

Imam Ṣādiq (as) bersabda:

“Ujilah para pengikut kami dalam tiga hal: pada waktu-waktu salat dan bagaimana mereka menjaganya; dalam menjaga rahasia; dan dalam bagaimana mereka membantu saudara-saudara seiman mereka dengan harta mereka.”

Kemudian beliau bersabda:

“Dengan kecintaan kepada kami, Ahlulbait, bayi-bayi dikenali dalam iman.”

(al-Kafi, jil. 2, hlm. 74)

Amirul Mukminin (as) bersabda:

“Saudaraku dan kekasihku, Rasulullah (saw), meriwayatkan kepadaku: barang siapa yang ingin berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla dan menerima catatan amalnya di tangan kanannya, maka hendaklah ia menerima wilayah (kepemimpinan) Ja‘far bin Muhammad as-Shadiq (as).”

(Bihar al-Anwar, jil. 27, hlm. 107)

Imam Shadiq (as) bersabda:

“Kecintaan kepada kami, Ahlulbait, tidak seperti kecintaan manusia kepada selainnya; kecintaan kepada kami bermanfaat di dunia dan akhirat. Demi Allah, ia menyelamatkan di akhirat.”

(Bihar al-Anwar, jil. 27, hlm. 140)

Imam Shadiq (as) bersabda:

“Manusia pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama ibu-ibu mereka, kecuali para pengikut kami; mereka dipanggil dengan nama ayah-ayah mereka karena kemurnian nasab mereka melalui kecintaan kepada kami.”

(Bihar al-Anwar, jil. 7, hlm. 389)

Imam Shadiq (as) bersabda:

“Nabi diangkat ke mi‘raj dua kali. Dalam salah satu perjalanan tersebut, Allah bertanya kepada Nabi: setelahmu, siapakah yang akan membimbing umatmu?

Nabi menjawab: Allah lebih mengetahui.

Maka Allah berfirman: Ali bin Abi Thalib (as), Amirul Mukminin, pemimpin kaum Muslimin, dan pemimpin orang-orang yang bercahaya wajahnya, adalah penggantimu.’”

(عَن أبي عَبدِاللهِ عليه‌السلام عُرِجَ بِرَسولِ اللهِ صَلّی‌اللهُ‌عَليهِ‌وآلِهِ مَرَّتَينِ فَقالَ اللهُ: يا مُحَمَّدُ! مَن لِاُمَّتِكَ مِن بَعدِكَ؟ قالَ: اللّهُ أعلَمُ! قالَ: عَلِيُّ بن أبي‌طالِبٍ، أميرُ المُؤمِنينَ، و سَيِّدُ المُسلِمينَ و قائِدُ الغُرِّ المُحَجَّلينَ)
(Usul al-Kafi, jil. 1, hlm. 442)

Imam Shadiq (as) bersabda:

“Barang siapa mencintai Amirul Mukminin (as) dan menerima wilayahnya, maka pada hari kiamat wajahnya akan bercahaya dan dosa-dosanya akan diampuni.”

(Mustadrak al-Wasa’il, jil. 16, hlm. 258)

Telah diriwayatkan kepada kami Yunus bin ‘Abd ar-Rahman dari Abu Ya‘qub, yang mengangkat sanadnya kepada Abu ‘Abdillah (as), mengenai firman-Nya:

«فَلَمّٰا رَأَوْهُ زُلْفَةً سِيئَتْ وُجُوهُ اَلَّذِينَ كَفَرُوا وَ قِيلَ هٰذَا اَلَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تَدَّعُونَ»
(QS Al-Muluk ayat 27)

Beliau bersabda:

“Ketika si fulan dan si fulan melihat kedudukan Amirul Mukminin (as) pada hari kiamat—yakni ketika Allah Tabaraka wa Ta‘ala menyerahkan panji pujian kepada Muhammad (saw), sementara seluruh malaikat yang didekatkan dan seluruh nabi yang diutus berada di bawahnya—kemudian panji itu diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib (as), maka wajah orang-orang kafir menjadi suram dan dikatakan:

‘Inilah yang dahulu kalian minta dengan tergesa-gesa,’ yakni kalian ingin disebut dengan namanya sebagai Amirul Mukminin.”

(al-Yaqin bi Ikhtisas Mawlana Ali bi Imrat al-Mu’minin, jil. 1, hlm. 182)

Perdebatan Imam Shadiq dengan Abu Hanifah

Terjadi sebuah perdebatan antara Imam Shadiq (as) dan Abu Hanifah—pemimpin mazhab Hanafi—yang bagian akhirnya berkaitan dengan keberatan Imam terhadap penafsiran yang keliru terhadap ayat 8 Surah at-Takathur oleh Abu Hanifah:

Imam (as) bersabda:

“Aku mendengar bahwa engkau menafsirkan ayat ini:
«ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ یَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِیمِ»
yakni bahwa Allah akan menghisab manusia atas makanan lezat dan air dingin yang mereka konsumsi di musim panas?”

Abu Hanifah menjawab: Benar, aku menafsirkan ayat ini demikian.

Imam (as) bersabda:

“Jika seseorang mengundangmu ke rumahnya, lalu menjamumu dengan makanan lezat dan air yang sejuk, kemudian ia mengungkit-ungkit pemberian itu kepadamu, bagaimana engkau menilainya?”

Abu Hanifah menjawab: Aku akan mengatakan bahwa ia adalah orang yang kikir.

Imam (as) bersabda:

“Apakah Allah itu kikir?”

Abu Hanifah berkata: Lalu apakah yang dimaksud dengan nikmat yang manusia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya dalam Al-Qur’an?

Imam (as) bersabda:

“Yang dimaksud adalah nikmat kecintaan kepada kami, Ahlulbait.”
(Bihar al-Anwar, jil. 9, hlm. 209)

Imam Shadiq (as) bersabda:

“Jadilah penolong dan pendukung dalam dakwah Amirul Mukminin (as), berdamailah dengan para pecintanya, dan bermusuhanlah dengan para musuhnya.

Sesungguhnya Ali menyeru kepada petunjuk, berjalan di jalan Allah, Rasul mencintainya dan Allah pun mencintainya; dan siapa yang dicintai oleh Allah, tidak akan Dia azab.”

(Bihar al-Anwar, jil. 39, hlm. 201)

Imam Shadiq (as):

«تمسکوا بحبّ علی علیه‌السلام، ولا تقدموا علیه أحداً من الناس، فإنّ ولایته مقبوله عند الله، لا یردّها»

“Berpegang teguhlah pada kecintaan kepada Ali (as), dan janganlah mendahulukan seorang pun atasnya; karena wilayahnya diterima di sisi Allah dan tidak akan ditolak.”

(al-Ikhtisas, Syaikh al-Mufid, hlm. 231)

Imam Shadiq (as) bersabda:

«إنّ علیاً باب فتحه الله، فمن دخل منه کان مؤمناً، و من خرج منه کان کافراً، و من لم یدخل فیه لم یُقبل منه عمل»

“Sesungguhnya Ali adalah pintu yang Allah bukakan; siapa yang masuk melaluinya adalah mukmin, siapa yang keluar darinya adalah kafir, dan siapa yang tidak masuk melaluinya, maka amalnya tidak diterima.”

(Bihar al-Anwar, jil. 38, hlm. 31)

Imam Shadiq (as) bersabda:

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan kami dan menyempurnakan penciptaan kami, serta menjadikan kami sebagai mata-Nya di antara hamba-hamba-Nya, sebagai lisan-Nya yang berbicara, dan sebagai tangan-Nya yang terbentang.

Kami adalah para penjaga amanah-Nya di antara makhluk-Nya, dan kami adalah penjaga ilmu-Nya. Melalui kami Allah disembah, melalui kami Allah dikenal, dan jika bukan karena kami, Allah tidak akan disembah.”

(Basa’ir ad-Darajat, jil. 1, hlm. 8)

Imam Shadiq (as) dalam ziarah Amirul Mukminin Ali (as):

«السَّلامُ عَلى ميزانِ الأَعمالِ، و مُقَلِّبِ الأَحوالِ، و سَيفِ ذِي الجَلالِ»

“Salam atas penimbang amal, pengubah keadaan, dan pedang Dzat Yang Maha Agung.”

(Bihar al-Anwar, jil. 100, hlm. 330)

Mufaddhal bin ‘Umar berkata:

Suatu hari aku datang kepada Imam Shadiq (as). Beliau bersabda:

“Wahai Mufaddhal, apakah engkau telah mengenal Muhammad, ‘Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain (عليهم السلام) dengan pengenalan yang hakiki?”

Aku menjawab: Engkau yang jelaskan kepadaku.

Beliau bersabda:

“Yaitu engkau mengetahui bahwa mereka mengetahui segala sesuatu yang Allah ciptakan; mereka adalah tanda ketakwaan dan penjaga khazanah langit, bumi, gunung, pasir, dan lautan. Mereka mengetahui jumlah malaikat dan bintang di langit, serta mengetahui berat gunung dan ukuran air di laut, sungai, dan mata air.

Barang siapa mengenal mereka dengan pengenalan yang hakiki, maka ia berada pada derajat tinggi keimanan.”

Mufaddhal berkata: Aku memahami hal itu dan beriman kepadanya.

Imam bersabda:

“Ya, wahai Mufaddhal, ya wahai yang dimuliakan, ya wahai yang diberi nikmat, engkau telah menjadi baik dan suci; surga adalah untukmu dan untuk setiap mukmin yang beriman kepada hal ini.”

(Bihar al-Anwar, jil. 26, hlm. 116)

Imam Shadiq (as) meriwayatkan dari ayahnya yang mulia bahwa suatu hari Amirul Mukminin (as) duduk di masjid dan orang-orang berkumpul di sekelilingnya.

Seorang lelaki berdiri dan berkata:

“Wahai Amirul Mukminin, bagaimana mungkin engkau berada pada kedudukan yang telah Allah berikan kepadamu, sementara ayahmu berada dalam azab neraka?”

Beliau bersabda:

“Semoga Allah memotong lidahmu! Demi Zat yang mengutus Muhammad sebagai Nabi, jika ayahku memberi syafaat kepada seluruh pendosa di bumi, niscaya Allah akan menerimanya.

Apakah mungkin ayahku berada dalam neraka, sementara putranya adalah pembagi surga dan neraka?”

Demi Zat yang mengutus Muhammad sebagai Nabi, sungguh cahaya ayahku pada hari kiamat akan memadamkan seluruh cahaya makhluk, kecuali lima cahaya: cahaya Muhammad, cahaya Fatimah, cahayaku, cahaya Hasan, cahaya Husain, dan sembilan dari keturunan Husain; karena cahayanya berasal dari cahaya kami, dan Allah menciptakannya dua ribu tahun sebelum penciptaan Adam.”

(Bihar al-Anwar, jil. 35, hlm. 112)

Salim bin Abi Salamah berkata:

Seseorang membacakan Al-Qur’an di hadapan Imam Shadiq (as), dan aku mendengar beberapa huruf dari Al-Qur’an yang berbeda dari apa yang dibaca oleh kebanyakan orang.

Imam Shadiq (as) berkata kepadanya:

“Bersabarlah, bersabarlah. Tinggalkan bacaan tersebut dan bacalah sebagaimana orang-orang membaca hingga al-Qa’im datang. Apabila al-Qa’im telah bangkit, ia akan membaca Kitab sebagaimana hakikatnya dan akan mengeluarkan mushaf yang ditulis oleh Ali (as).”

(Mustadrak al-Wasā’il, jil. 4, hlm. 226)

Imam Shadiq (as) bersabda:

“Barang siapa ingin memiliki iman yang sempurna, hendaklah ia berkata: ‘Pendapatku dalam segala sesuatu adalah pendapat keluarga Muhammad (صلوات‌الله‌عليهم)، baik mereka telah menjelaskannya maupun belum menjelaskannya, baik yang telah aku ketahui maupun yang belum aku ketahui.’”

(Usul al-Kafi,  jil. 1, hlm. 391)

Imam Shadiq (as) bersabda:

«إِذَا أَرَدتَ زِيَارَةَ أَمِيرِ المُؤمِنِينَ عَلیه‌ِالسَّلامُ فَاعلَم أَنَّكَ زَائِرُ عِظَامِ آدَمَ وَ بَدَنِ نُوحٍ وَ جِسمِ عَلِيِّ بنِ أَبِي‌طَالِبٍ عَلیه‌ِالسَّلامُ»

“Apabila engkau hendak menziarahi Amirul Mukminin Ali (as), maka ketahuilah bahwa engkau menziarahi tulang-belulang Adam, jasad Nuh, dan tubuh Ali bin Abi Thalib (as).”

(Kamil az-Ziyarat, hlm. 90)

Diriwayatkan dari Imam Shadiq (as) bahwa Amirul Mukminin (as) bersabda:

“Mengingat kami, Ahlulbait, adalah penyembuh penyakit ruhani dan jasmani, serta menghilangkan bisikan setan, dan kecintaan kepada kami merupakan sebab keridaan Allah Tabaraka wa Ta‘ala.”

(Kitab al-Qatrah, jil. 1, hlm. 214)

Imam Shadiq (as) bersabda:

“Ketika hari kiamat tiba, sebuah mimbar akan ditegakkan yang dapat dilihat oleh seluruh makhluk. Lalu seorang laki-laki naik ke atasnya. Di sebelah kanannya berdiri seorang malaikat dan di sebelah kirinya berdiri seorang malaikat.

Malaikat di sebelah kanan berseru: Wahai seluruh makhluk! Ini adalah Ali bin Abi Thalib (as), pemilik surga; ia memasukkan siapa yang ia kehendaki ke dalam surga.

Dan malaikat di sebelah kiri berseru: Wahai seluruh makhluk! Ini adalah Ali bin Abi Thalib (as), pemilik neraka; ia memasukkan siapa yang ia kehendaki ke dalam neraka.”

(Basa’ir ad-Darajat, jil. 8, bab 18 / ‘Ilal asy-Syara’i‘, jil. 1, hlm. 164)

Mansur bin Hazim berkata:

Aku bertanya kepada Imam Ṣādiq (as): “Siapakah orang-orang yang tidak keluar dari api neraka?”

Beliau menjawab:

“Mereka adalah para musuh Ali (as) yang kekal di dalam neraka selamanya.”

(Tafsir al-‘Ayyasyi, jil. 1, hlm. 317)

Imam Shadiq (as) bersabda:

“Amirul Mukminin (as) pada perang Siffin, ketika sampai di Sungai Efrat, beliau berhenti dan bersabda: ‘Wahai air Efrat, siapakah aku?’

Maka air Efrat bergolak dan bergerak, dan orang-orang melihat serta mendengar bahwa air itu berkata:

‘أشهد أن لا إله إلا الله و أشهد أن محمداً رسول الله و أن علياً أميرالمؤمنين حجة الله علی خلقه’.”

(al-Khara’ij wa al-Jara’iḥ, jil. 1, hlm. 231)

Imam Shadiq (سلام‌الله‌عليه) berkata kepada Dawud ar-Raqqi:

“Wahai Dawud, kami dalam Al-Qur’an adalah salat, zakat, puasa, haji, bulan haram, kota haram, Ka‘bah, kiblat, dan wajah Allah yang dengannya Allah berfirman: ‘Ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah.’

Kami adalah ayat-ayat dan bukti-bukti yang nyata, dan musuh kami dalam Al-Qur’an adalah perbuatan keji dan mungkar, yaitu khamr, judi, berhala, anak panah undian, patung-patung, berhala-berhala, jibt, thaghut, bangkai, darah, dan daging babi.

Allah telah menciptakan kami, memuliakan kami, dan menjadikan kami sebagai para pemegang amanah, penjaga, dan bendahara langit dan bumi.”

(Bihar al-Anwar, jil. 24, hlm. 303)

Imam Shadiq (as) meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya (عليهم السلام), bahwa Rasulullah (saw) bersabda:

“Ketika aku dibawa ke mi‘raj, aku sampai di Sidratul Muntaha; satu daun darinya menaungi seluruh dunia, dan pada setiap daunnya terdapat malaikat yang bertasbih kepada Allah, dan dari mulut mereka keluar mutiara dan permata.

Setiap mutiara menerangi perjalanan lima ratus tahun, dan setiap yang jatuh ke bumi dari mutiara dan permata itu dijaga oleh malaikat yang mengumpulkannya dan melemparkannya ke dalam lautan cahaya.

Para malaikat ini setiap malam Jumat pergi ke Sidratul Muntaha, dan ketika mereka melihatku, mereka menyambutku dan berkata: ‘Wahai Muhammad, selamat datang!’

Aku mendengar suara angin yang berhembus di Sidrah, dan pintu-pintu taman surga bergetar karena kegembiraan atas para pecintamu.

Aku mendengar taman-taman surga berseru: ‘Betapa kami merindukan ‘Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain (عليهم‌السلام).’”

(Bihar al-Anwar, jil. 37, hlm. 37)

Salah seorang pengikut bertanya kepada Imam Ja‘far as-Shadiq (as) tentang ilmu Jafr.

Beliau bersabda:

“Jafr adalah kulit sapi yang penuh dengan ilmu.”

Mereka bertanya: Apa yang dimaksud dengan al-Jami‘ah?

Beliau bersabda:

“Al-Jami‘ah adalah lembaran (kitab) sepanjang tujuh puluh hasta, selebar satu kulit, dan setebal tali yang sangat besar. Di dalamnya tertulis segala sesuatu yang dibutuhkan manusia; tidak ada satu pun persoalan atau perkara kecuali telah tertulis di dalamnya.”

Tidak ada satu pun persoalan atau perkara yang tidak terdapat di dalamnya, bahkan diyat dan denda atas luka gores pun tertulis di dalamnya.

Perawi bertanya: Apakah yang dimaksud dengan Mushaf Fatimah az-Zahra?

Imam Shadiq (as), setelah terdiam cukup lama, bersabda:

“Mengapa kalian mencari hal-hal yang kalian butuhkan dan juga hal-hal yang tidak kalian butuhkan?

Sesungguhnya Fatimah az-Zahra (عليها السلام) hidup selama tujuh puluh lima hari setelah wafat ayahnya yang mulia, dan karena kehilangan ayahnya, beliau mengalami kesedihan yang sangat mendalam.

Jibril datang kepada beliau, menghiburnya, menenangkan hatinya, memberitahukan kedudukan dan tempat ayahnya yang mulia, serta mengabarkan kepadanya tentang musibah-musibah yang kelak akan menimpa anak-anaknya.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as) pun menuliskan semua hal tersebut.

Inilah makna Mushaf Fatimah.”

(Bihar al-Anwar, jil. 43, hlm. 195)

Yunus bin Ribat berkata:

Aku dan Kamil datang kepada Imam Shadiq (سلام‌الله‌عليه). Kamil berkata kepada beliau:

“Semoga aku menjadi tebusanmu, seseorang meriwayatkan sebuah hadis.”

Beliau bersabda: “Sampaikanlah.”

Ia berkata: Ia mengatakan bahwa Rasulullah (saw) pada hari wafatnya menyampaikan kepada Ali (as) seribu bab hadis, dan setiap bab merupakan kunci bagi seribu bab lainnya, sehingga keseluruhannya menjadi satu juta bab.

Beliau bersabda: “Ya, memang demikian.”

Aku berkata: “Semoga aku menjadi tebusanmu, apakah bab-bab tersebut juga tampak bagi para pengikut dan pecinta kalian (apakah mereka mengetahui ilmu tersebut)?”

Beliau bersabda: “Hanya satu atau dua bab saja yang tampak.”

Aku berkata: “Semoga aku menjadi tebusanmu, berarti dari satu juta bab keutamaan kalian, tidak diriwayatkan kecuali satu atau dua bab saja?”

Beliau bersabda:

“Menurut kalian, berapa banyak dari keutamaan kami yang kalian riwayatkan? Kalian tidak meriwayatkan dari keutamaan kami kecuali satu alif yang tidak bersambung.”

(al-Kafi, jil. 1, hlm. 297)

Imam Shadiq (صلوات الله عليه) bersabda:

“Jika seorang musuh Ali (as) melewati Sungai Efrat, sementara nikmat Allah itu mengalir dengan melimpah tanpa batas, lalu ia meminumnya dan pada awalnya mengucapkan ‘بسم الله’ dan setelah minum mengucapkan ‘الحمد لله’, maka itu sama saja seperti ia memakan bangkai, atau darah yang keluar dari tubuh hewan, atau daging babi.”

(al-Kafi, jil. 8, hlm. 161)

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *