Most searched:

Akhir Zaman

Keadaan manusia akhir zaman dalam ucapan Amirul Mukminin

Sebagian besar khutbah Amirul Mukminin (as) dalam Nahj al-Balaghah yang menyinggung Imam Zaman (ajjalallahu ta‘ala farajahu asy-syarif), berkaitan dengan tanda-tanda akhir zaman.

Para Imam maksum dalam berbagai riwayat telah menjelaskan tanda-tanda dan ciri-ciri manusia akhir zaman, yang sebagian berisi celaan dan sebagian lagi pujian.

Akhir zaman
Istilah akhir zaman digunakan dalam dua makna umum; pertama, masa yang dimulai dengan kelahiran Rasulullah (as) dan berakhir dengan dimulainya hari kiamat, karena itu beliau disebut Nabi akhir zaman.

Kedua, masa yang dimulai dengan kelahiran Imam Zaman (ajjalallahu ta‘ala farajahu asy-syarif), di mana peristiwa masa kegaiban dan masa kemunculan terjadi, dan berakhir dengan dimulainya hari kiamat.

Celaan terhadap manusia akhir zaman
Banyak riwayat yang mencela sebagian manusia akhir zaman, yang tentu mereka adalah orang-orang yang tidak mengikuti dan tidak mengamalkan riwayat Ahlulbait (alaihimus salam).

Amirul Mukminin (as) dalam mencela perilaku manusia akhir zaman bersabda:
“Akan datang suatu hari di mana para pengadu domba menjadi orang yang dekat (dengan penguasa), orang-orang jahat disebut cerdas, orang-orang yang adil dianggap lemah, sedekah dan infak di jalan Allah dianggap sebagai kerugian, dan silaturahmi dilakukan dengan penuh beban. Ibadah dan ketaatan kepada Allah dijadikan sarana untuk berbangga di hadapan manusia. Pada masa itu pemerintahan dijalankan dengan musyawarah wanita, kepemimpinan anak-anak, dan pengaturan oleh para pelayan.” (1)

Gambaran wanita akhir zaman
Amirul Mukminin (as) memperingatkan tentang keadaan wanita di akhir zaman dan bahaya yang ditimbulkannya.

Ashbagh bin Nubatah berkata bahwa ia mendengar Amirul Mukminin (as) bersabda:
“Di akhir zaman yang merupakan masa terburuk, ketika hari kiamat telah dekat, akan muncul wanita-wanita tanpa hijab, dengan perhiasan mereka tampak, berjalan di hadapan umum. Mereka keluar dari agama (tidak berpegang pada hukum agama), masuk ke dalam perkara-perkara fitnah, condong kepada syahwat dan kesenangan, menghalalkan apa yang Allah haramkan. Wanita-wanita seperti ini akan kekal di neraka.” (2)

Penyimpangan para ulama
Di akhir zaman keadaan akan berubah dan sebagian ulama pada masa itu akan bertindak berbeda.

Amirul Mukminin (as) dalam menggambarkan para ulama dan fuqaha masa itu bersabda:
“Para fuqaha akhir zaman berfatwa sesuai dengan keinginan mereka, para hakim mereka memutuskan perkara tanpa ilmu, dan kebanyakan mereka memberikan kesaksian palsu. Orang yang memiliki harta dihormati dan dimuliakan di sisi mereka, sedangkan orang miskin dianggap hina dan rendah.” (3)

Munculnya Dajjal
Keluarnya Dajjal merupakan salah satu tanda dekatnya kiamat besar pada masa kemunculan. Dalam sumber-sumber riwayat Syiah, hal ini disebut sebagai peristiwa penting yang terjadi bersamaan dengan kemunculan Imam Mahdi (ajjalallahu ta‘ala farajahu asy-syarif).

Nazzal bin Samrah berkata:
“Ali bin Abi Thalib (as) menyampaikan khutbah kepada kami, memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda: ‘Tanyalah aku sebelum aku pergi dari tengah kalian’ (beliau mengulanginya tiga kali).

Saat itu Sha‘sha‘ah bin Suhan berdiri dan berkata: ‘Wahai Amirul Mukminin, kapan Dajjal akan keluar?’

Beliau bersabda: ‘Ingatlah apa yang aku katakan! Dajjal akan muncul ketika manusia meninggalkan salat, menyia-nyiakan amanah, menghalalkan dusta, memakan riba, menerima suap, membangun bangunan yang kokoh, menjual agama demi dunia, mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin, bermusyawarah dengan wanita (dalam perkara yang bukan bidang mereka), memutus silaturahmi, mengikuti hawa nafsu, dan menganggap ringan penumpahan darah. Mereka menganggap kesabaran sebagai kelemahan dan kezaliman sebagai kebanggaan.’” (4)

Menyebarnya kerusakan
Sebelum kemunculan sang penyelamat, suasana yang menguasai dunia adalah suasana kezaliman, dosa, dan kerusakan. Manusia akhir zaman hidup dalam kelalaian terhadap hukum-hukum Allah.

Amirul Mukminin (as) bersabda:
“Akan datang suatu masa bagi manusia di mana tujuan mereka hanyalah perut mereka. Kehormatan mereka bergantung pada harta dan kekayaan. Kiblat mereka adalah wanita mereka, dan agama mereka adalah dirham dan dinar (uang mereka). Mereka adalah seburuk-buruk manusia yang tidak memiliki bagian di sisi Allah.” (5)

Dalam riwayat lain, Ali bin Abi Thalib (as) bersabda:
“Akan datang suatu masa bagi manusia di mana mereka tidak mengikuti orang alim, tidak merasa malu terhadap orang yang sabar dan berilmu (meskipun ia bersabar terhadap keburukan mereka), pada masa itu mereka tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda.”

Sebagian manusia akan membunuh sebagian yang lain… (manusia saling membunuh tanpa alasan).” (6)

Meluasnya kezaliman
Dalam sebagian riwayat disebutkan tentang meluasnya kezaliman dan kerusakan, dan dalam sebagian lainnya diingatkan bahwa sebelum kemunculan Imam Zaman (ajjalallahu ta‘ala farajahu asy-syarif), bahkan di masyarakat Islam pun berbagai dosa dan keburukan akan tersebar luas.

Ashim bin Dhamrah meriwayatkan dari Amirul Mukminin (as):
“[Di akhir zaman] bumi akan dipenuhi dengan kezaliman dan penindasan, hingga tidak seorang pun akan mengucapkan lafaz ‘اللّه’ kecuali secara sembunyi-sembunyi. Setelah masa itu, Allah akan mendatangkan suatu kaum yang saleh yang akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penindasan.” (7)

Munculnya para pendusta
Dalam menggambarkan sebagian kondisi masyarakat akhir zaman, di mana nilai menjadi anti-nilai dan anti-nilai menjadi nilai, serta tentang meluasnya kebohongan pada masa kegaiban, Amirul Mukminin (as) bersabda:
“Sebelum kebangkitan al-Qa’im akan datang tahun-tahun penuh tipu daya dan makar. Pada masa itu orang jujur dianggap pendusta, dan pendusta dianggap jujur. Pada tahun itu ‘maahil’ menjadi dekat (mendapat kedudukan), dan ‘ruwaibidhah’ tampil berbicara.”

Perawi berkata:
“Aku bertanya: siapakah yang dimaksud dengan ‘maahil’ dan ‘ruwaibidhah’?”

Beliau bersabda:
“Tidakkah engkau membaca dalam Al-Qur’an bahwa Allah berfirman:

وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ

Dan Dia Maha Keras dalam makar-Nya

Yang dimaksud dengan ‘maahil’ adalah orang licik yang dengan banyak tipu daya menarik perhatian manusia kepada dirinya.”

Catatan: dalam riwayat ini makna ‘ruwaibidhah’ tidak dijelaskan, namun di tempat lain Rasulullah (as) bersabda:
“الرُّوَيْبِضَةُ الرَّجُلُ التَّافِهُ يَنْطِقُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ”
Artinya: “Seorang yang hina dan tidak berharga, yang meskipun tidak layak, berbicara dalam urusan umum masyarakat dan memberikan pendapat atas nama mereka.” (8)

Pujian terhadap manusia akhir zaman
Kesulitan-kesulitan yang akan menimpa orang-orang beriman sejati di akhir zaman merupakan ujian agar yang murni terpisah dari yang tidak murni, dan agar kadar iman kaum Muslimin serta para pengaku iman menjadi jelas.

Keagamaan yang luar biasa dan agung
Dalam sebagian riwayat disebutkan adanya kelompok dari manusia akhir zaman yang sangat dipuji; mereka adalah orang-orang yang, meskipun menghadapi segala kesulitan masa kegaiban, tetap menjaga agama dan iman mereka serta teguh pada janji ilahi.

Amirul Mukminin Ali (as) bersabda tentang mereka:
“Pada masa kegaiban, tidak ada yang tetap teguh dalam agamanya kecuali orang-orang yang ikhlas, yang telah mencapai ruh keyakinan, yaitu mereka yang Allah عزوجل telah mengambil perjanjian wilayah kami dari mereka, menuliskan iman dalam hati mereka, dan menguatkan mereka dengan wahyu dari sisi-Nya.” (9)

Dalam riwayat lain dari beliau disebutkan:
“Ketahuilah, siapa saja yang pada masa itu tetap teguh dalam agamanya dan hatinya tidak menjadi keras karena panjangnya kegaiban Imamnya, maka pada hari kiamat ia sederajat denganku.” (10)

Sumber

  1. Nahj al-Balaghah, hikmah 102
  2. Man La Yahdhuruhu al-Faqih, jilid 3, halaman 390
  3. al-Ilzam an-Nashib fi Itsbat al-Hujjah al-Gha’ib (ajjalallahu ta‘ala farajahu asy-syarif), jilid 2, halaman 154
  4. Bihar al-Anwar, jilid 52, halaman 192 dan 193
  5. Kanz al-‘Ummal, jilid 11, halaman 192, hadis 31186 / Muntakhab al-Atsar fi al-Imam ats-Tsani ‘Asyar (as), jilid 3, halaman 46
  6. Kanz al-‘Ummal, jilid 11, halaman 192, hadis 31187 / Nahj al-Khalash, halaman 427
  7. Bihar al-Anwar, jilid 51, halaman 117
  8. Itsbat al-Hudat bin-Nushush wa al-Mu‘jizat, jilid 5, halaman 368
  9. Kamal ad-Din wa Tamam an-Ni‘mah, jilid 1, halaman 304
  10. Kamal ad-Din wa Tamam an-Ni‘mah, jilid 1, halaman 303

 

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *