Saudah al-Hamdaniyyah adalah salah seorang sahabat Ali bin Abi Thalib (as), seorang wanita pemberani sekaligus penyair Arab dari Yaman, berasal dari kabilah Hamdan.
Ia turut mendampingi Imam (as) dalam Perang Shiffin dan menggubah syair-syair untuk mendukung beliau serta membangkitkan semangat pasukannya. Setelah kesyahidan Amirul Mukminin (as), ia juga menemui Muawiyah ibn Abi Sufyan untuk mengadukan kezaliman Busr ibn Artat, salah satu pejabat Bani Umayyah. Dalam pertemuan tersebut, ia kembali melantunkan syair dalam memuji Amirul Mukminin (as).
Pengaduan terhadap Kezaliman Mu‘awiyah
“Aku adalah Saudah, putri ‘Ammarah al-Hamdaniyyah. Itu saja sudah cukup bagiku untuk mengumpulkan seluruh keberanianku dan melangkah menuju istana. Itu saja cukup untuk mengalirkan seluruh keberanianku dalam kata-kata. Itu saja cukup untuk berdiri di hadapan Mu‘awiyah dan mengungkapkan kezaliman yang nyata darinya.
Seribu kali sebelum aku sampai ke istana, dalam bayanganku aku telah datang dan kembali. Seribu kali aku mengulang-ulang kata-kataku.
Seribu kali aku teringat kepada Ali bin Abi Thalib (as), dan mataku pun basah. Aku harus pergi. Pergi ke jalan ini adalah atas kehendakku sendiri, tetapi kembali…?
Aku bahkan tidak tahu apakah akan ada jalan kembali atau tidak. Aku telah sampai di istana. Setelah beberapa kalimat yang kuucapkan untuk mencela Mu‘awiyah, suaranya pun meninggi. Ini bukan saatnya untuk takut. Ini bukan saatnya untuk mundur.
Mu‘awiyah meletakkan tangannya di dagu dan berkata:
‘Apa yang engkau inginkan, wahai Saudah?’
Aku berkata:
‘Engkau telah mengutus seseorang untuk terus datang kepada kaum kami atas namamu. Dengan dukunganmu, ia menzalimi kami dan menyerang kami. Ia mengangkat namamu dengan lisannya, namun dalam praktiknya ia menghancurkan kami, merendahkan dan menghinakan kami.’”
Mu‘awiyah berkata:
“Siapa yang engkau maksud?”
Dengan penuh pertimbangan aku menjawab:
“Busr ibn Artat. Dia adalah utusanmu yang datang kepada kami. Ia merampas harta kami dan membunuh laki-laki kami. Hari ini aku datang untuk menyampaikan suatu usulan kepadamu.”
Perlahan, seakan rasa takut mulai merayap di bawah kulitku, sementara tatapan Muawiyah ibn Abi Sufyan semakin dipenuhi kemarahan.
Aku melanjutkan:
“Jika engkau memecatnya, kami akan berterima kasih kepadamu. Namun aku datang untuk mengatakan bahwa jika engkau tidak memecatnya, maka aku dan kabilahku akan mengingkarimu.”
Mu‘awiyah berteriak:
“Apakah engkau mengancamku dengan kaummu? Aku akan menaikkanmu ke atas seekor kuda liar dan mengembalikanmu kepadanya agar ia sendiri yang memutuskan perkara tentangmu!”
Sejenak, tangis menyesakkan tenggorokanku. Aku menundukkan kepala dan berkata:
“Semoga salam Allah tercurah kepada ruh yang ketika jasadnya dikuburkan, keadilan pun turut terkubur bersamanya. Semoga salam Allah tercurah kepadanya yang selalu bersama kebenaran dan tidak pernah menukarnya dengan apa pun, dan iman serta kebenaran senantiasa menyertainya.”
Mu‘awiyah berkata:
“Siapakah itu, wahai Saudah? Tentang siapa engkau berbicara?”
Aku menjawab:
“Demi Allah, dia adalah Ali bin Abi Thalib (as). Dengarkan baik-baik. Suatu hari aku datang kepada Amirul Mukminin (as) untuk mengadukan seseorang yang beliau tugaskan mengurus zakat kami, namun ia menzalimi kami. Aku menemuinya saat beliau sedang salat. Ketika melihatku, beliau segera mengakhiri salatnya dan dengan penuh kelembutan, kasih sayang, serta perhatian, beliau berkata: ‘Apakah engkau memiliki keperluan?’ Aku menjawab: ‘Ya,’ lalu aku menceritakan kejadian tersebut kepadanya. Maka Amirul Mukminin (as) menangis, kemudian berkata: ‘Ya Allah, Engkau menjadi saksi atasku dan atas mereka; aku tidak pernah memerintahkan mereka untuk menzalimi makhluk-Mu.
Kemudian beliau mengeluarkan sepotong kulit dan menulis di atasnya:
“Bismillāh al-Raḥmān al-Raḥīm; telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Tuhan kalian.
فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
(QS: Al-A‘raf ayat 85)
Artinya: “Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil, janganlah kamu mengurangi hak-hak manusia, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah diperbaiki. Itu lebih baik bagimu jika kamu orang-orang beriman.”
“Apabila engkau telah membaca tulisanku ini, maka peliharalah apa yang ada di tanganmu dari urusan kami hingga datang orang yang akan mengambilnya darimu. Wassalām.”
Kemudian Ali bin Abi Thalib (as) menyerahkan surat itu kepadaku. Demi Allah, beliau tidak menutupnya dengan segel tanah liat dan tidak pula menyembunyikannya. Aku membawa surat itu kepada orang yang bersangkutan, dan ia pun diberhentikan serta pergi meninggalkan kami.
Dengan mengingat Ali bin Abi Thalib (as), hatiku menjadi tenang.
Muawiyah ibn Abi Sufyan kemudian terdiam sejenak, lalu berkata:
“Tuliskan untuknya apa yang ia inginkan, dan kembalikan ia ke rumahnya dengan kerelaan.”
Tulisan ini diambil dari majalah triwulanan Khum Nameh, yang diproduksi secara khusus oleh media berbahasa Persia milik Haramain Suci ‘Alawi.