Peristiwa Sadd al-Abwab (penutupan pintu-pintu) merupakan salah satu keutamaan Ali bin Abi Thalib (as), ketika Nabi Muhammad (saw) atas perintah Allah memerintahkan agar seluruh pintu rumah yang menghadap ke Masjid Nabawi ditutup, kecuali pintu rumah Amirul Mukminin (as).
Peristiwa ini diriwayatkan secara mutawatir dalam sumber-sumber Syiah maupun Ahlusunnah. Ali bin Abi Thalib (as) sendiri menjadikannya sebagai salah satu dalil keutamaannya dalam syura enam orang yang dibentuk untuk menentukan khalifah.
Mereka berenam duduk bersama. Secara lahiriah, tampak bahwa mereka berkumpul untuk memilih khalifah berikutnya.
Namun kemudian, Amirul Mukminin (as) sendiri menggambarkan keadaan tersebut dengan ungkapan tajam:
“Syura macam apa ini! Apa kekuranganku sehingga aku disandingkan dengan mereka dan disejajarkan dengan mereka? Salah seorang karena dendam memilih jalannya sendiri, dan yang lain memilih menantunya. Yang satu menjahit, yang lain merobek!”
Ali (as) benar dalam ucapannya.
Beliau juga pernah bersabda:
“Dunia ini seperti bayangan yang sedang kembali—terus menyusut dan memendek.”
Dan pada suatu ketika di Dzi Qar, saat beliau sedang memperbaiki sandalnya, beliau bertanya kepada seseorang: “Berapa nilai sandal ini?”
Orang itu menjawab: “Sandal yang telah ditambal ini tidak ada nilainya, wahai Ali.”
Beliau pun bersabda:
“Demi Allah, sandal yang tidak bernilai ini lebih aku cintai daripada memerintah kalian, kecuali jika dengan itu aku dapat menegakkan kebenaran atau menolak kebatilan.”
Setelah berbagai pembicaraan yang tidak bermakna dari kelima orang tersebut, Ali bin Abi Thalib (as) mengingatkan mereka tentang peristiwa Sadd al-Abwab. Beliau bertanya apakah mereka masih ingat bahwa pada hari-hari awal kedatangan Nabi Muhammad (saw) di Madinah, Masjid Nabawi dibangun.
Di sekitar masjid, setiap orang membangun rumah dan kamar, sehingga setiap rumah memiliki dua pintu: satu menuju luar dan satu lagi menuju masjid. Keadaan ini terus berlangsung hingga Rasulullah (saw), atas perintah Allah, memerintahkan agar seluruh pintu menuju masjid ditutup, kecuali pintu rumah Ali (as).
Semua yang hadir mengakui hal tersebut. Kemudian beliau bersabda:
“Apakah di antara kalian ada seseorang yang disucikan oleh Kitab Allah, hingga Rasulullah (saw) menutup pintu rumah seluruh kaum Muhajirin ke masjid dan hanya membiarkan pintu rumahku tetap terbuka?”
Mereka tidak memiliki jawaban. Apa yang mereka miliki selain rasa malu? Mereka tidak memahami bahwa Ali (as) dan keluarganya adalah suci dan disucikan.
Kebodohan dan kedengkian menguasai mereka, dan bahkan dalam majelis itu pun mereka tidak mampu menyelesaikan persoalan tersebut dengan benar.
Mereka tidak memahami bahwa Ali bin Abi Thalib (as) mengingatkan peristiwa Sadd al-Abwab untuk menjelaskan bahwa “satu-satunya jalan menuju rumah Allah adalah melalui hujjah Allah, yaitu Ali (as), bukan melalui pemahaman mereka yang terbatas.”