Sejauh mana Anda mengetahui kisah “Sahab”, yaitu sorban hitam milik Nabi Muhammad (saw) yang pada hari Ghadir dikenakan di kepala mulia Amirul Mukminin, Imam Ali (as)?
Pada masa lampau, masyarakat Arab memiliki tradisi bahwa ketika seorang pemimpin kabilah hendak menunjuk pengganti, ia akan meletakkan sorbannya di atas kepala orang yang ditunjuk. Sorban tersebut menjadi simbol suksesi dan kepemimpinan. Ketika Nabi Islam (saw) dalam perjalanan Haji Wada‘ meninggalkan Mekah, beliau berhenti di suatu tempat bernama Ghadir Khum untuk memperkenalkan Amirul Mukminin, Imam Ali (as). Tempat tersebut, berdasarkan perintah Allah, merupakan lokasi paling tepat untuk pelaksanaan penyerahan dan peneguhan imamah.
Berikut ini disajikan sejumlah riwayat mengenai “Sahab”, sorban Nabi (saw), yang dalam peristiwa agung Ghadir Khum diletakkan di atas kepala penggantinya—jiwa Rasul (nafs al-rasul)—yaitu Amirul Mukminin, Imam Ali (as).
Nabi Muhammad (saw) setelah menyelesaikan khutbah Ghadir, meletakkan sorban beliau yang bernama “Sahab” sebagai mahkota kehormatan di atas kepala Amirul Mukminin (as), dan menjuntaikan kedua ujungnya di atas bahu beliau. Kemudian beliau bersabda:
“Sesungguhnya sorban adalah mahkota bangsa Arab.”
Allamah Amini meriwayatkan sejumlah hadis dari kalangan Syiah dan Ahlusunah mengenai hal ini, bahwa Nabi (saw) meletakkan sorbannya di atas kepala Amirul Mukminin (as) dan menjatuhkan kedua ujungnya ke depan dan ke belakang beliau. Kemudian Nabi bersabda:
“Menghadaplah kepadaku.”
Maka beliau pun menghadap.
Lalu Nabi bersabda:
“Berpalinglah dariku.”
Maka beliau pun berpaling.
Kemudian Nabi (saw) bersabda:
“Para malaikat datang kepadaku dengan cara seperti ini.”
Amirul Mukminin (as) sendiri juga bersabda terkait hal tersebut:
“Nabi (saw) pada hari Ghadir Khum mengenakan sorban di kepalaku dan menjuntaikan salah satu ujungnya di atas bahuku, lalu beliau bersabda:
‘Sesungguhnya Allah menolongku pada hari Badar dan Hunain melalui para malaikat yang mengenakan sorban seperti ini.’”
Disebutkan bahwa “Sahab” merupakan simbol imamah dan kepemimpinan, dan hingga wafatnya Rasulullah (saw), sorban tersebut tetap berada pada Amirul Mukminin (as).
Catatan Kaki:
- Al-Ghadir, jilid 1, halaman 539.
- Al-Ghadir, jilid 1, halaman 291.
- ‘Awalim al-‘Ulum, jilid 2, halaman 199.