Baiat sebagai salah satu urusan paling sensitif dalam politik Islam pada masa awal Islam, dan dalam peristiwa Ghadir, baiat juga diambil dari perempuan.
Apa arti kata “baiat”?
Baiat dalam bahasa berarti komitmen dan perjanjian yang diikat oleh pihak yang berbaiat dengan pihak yang dibaiat (imam, penguasa atau pemimpin) untuk menaati dan mematuhi dirinya serta menyerahkan urusan-urusan mereka kepadanya.[1]
Orang Arab sebelum Islam untuk menerima kekuasaan seseorang dan berkomitmen untuk menaati dirinya melakukan baiat.[4] Dengan datangnya Islam, cara ini tetap umum digunakan. Namun, perempuan pada masa jahiliah tidak memiliki peran dalam baiat dan urusan-urusan penting.
Sebagian besar baiat pada masa Nabi (saw) dilakukan melalui berjabat tangan dengan pemimpin. Tentu saja baiat secara langsung tanpa berjabat tangan [2] dan baiat tidak langsung dengan perwakilan pemimpin, atau dengan mengirimkan surat [3] juga telah dikenal.
Baiat di Ghadir Khum
Peristiwa Ghadir merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Islam, di mana Nabi Islam (saw) ketika kembali dari Haji Wada‘ pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun kesepuluh Hijriah di Ghadir Khum, memperkenalkan Amirul Mukminin Ali (as) sebagai penggantinya.
Orang-orang yang hadir dalam peristiwa tersebut, yang di antaranya terdapat para tokoh besar sahabat, melakukan baiat kepada Imam Ali (as).
Bagaimana tata cara baiat perempuan?
Nabi (saw) memerintahkan agar para perempuan juga melakukan baiat kepada beliau, dan memberi salam kepada beliau dengan sebutan “Amirul Mukminin”, serta menyampaikan ucapan selamat dan tahniah; dan perintah ini beliau tekankan secara khusus kepada istri-istri beliau.
Nabi (saw) memerintahkan agar sebuah bejana air dibawa, lalu dipasang sebuah tirai di atasnya, sehingga para perempuan dari balik tirai dengan meletakkan tangan mereka ke dalam bejana air, dan Amirul Mukminin (as) dengan meletakkan tangan beliau di sisi lain bejana tersebut, melakukan baiat kepada beliau; dan dengan cara ini baiat perempuan pun terlaksana.
Sayidah Fatimah Zahra juga termasuk di antara yang hadir pada hari Ghadir.
Demikian pula seluruh istri Nabi (saw), serta “Umm Hani” saudari Amirul Mukminin (as), dan Fatimah putri Hamzah, serta Asma binti Umais, istri Ja‘far bin Abi Thalib, hadir dalam acara tersebut.[5]
Catatan Kaki:
- Dehkhoda, Ali Akbar, Lughatnameh.
- Ibn Sa‘d, Muhammad, al-Tabaqat al-Kubra, jilid 8, Beirut, Dar Shadir.
- Ibn ‘Abd al-Barr, Yusuf, al-Tamhid, jilid 16, hal. 347, disunting oleh Mustafa bin Ahmad Alawi dan Muhammad Abdul Kabir Bakri, Rabat, 1387 H.
- al-Tabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh, jilid 1, hal. 506, Beirut, 1407 H.
- Bihar al-Anwar, jilid 21, hal. 388.