Most searched:

Ikmal

Persoalan Asbabun Nuzul Ayat Ikmal

Salah satu poin penyimpangan yang terdapat dalam riwayat Ahlusunah mengenai waktu dan tempat turunnya “Ayat Ikmal” adalah bahwa dalam sebagian riwayat disebutkan turunnya ayat ini pada hari Arafah dan di Arafat.

Di antara ayat-ayat Ghadir yang paling penting dan paling terkenal, yang turun di tengah khutbah Ghadir kepada Nabi (saw) adalah ayat berikut:

«الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَ اخْشَوْنِ، الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَ رَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلامَ دِيناً»

“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa terhadap agama kalian, maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini Aku telah menyempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah mencukupkan nikmat-Ku atas kalian, serta Aku meridhai Islam sebagai agama bagi kalian.”[2]

Menariknya, sebagian besar riwayat ini mengakui turunnya perkara wilayah pada saat itu, hanya saja waktu dan tempatnya yang diubah. Dalam menjawab titik syubhat ini, terdapat dua jawaban:

Jawaban pertama: Kesalahan dalam pembacaan “عَرَّفَهُ”

Dalam riwayat disebutkan ungkapan «يوم عرفه», yang ungkapan ini, baik karena kesalahan maupun secara sengaja, telah memperoleh makna yang keliru yang kembali pada pembacaan yang salah.

Ungkapan ini dapat dibaca dalam dua bentuk: «يَوْمُ عَرَفة» dan «يَوْمٌ عَرَّفَهُ»; yang pertama berarti “hari Arafah”, dan yang kedua berarti “hari ketika ia memperkenalkannya”.

Dalam riwayat asli, yang dimaksud adalah makna kedua, yaitu bahwa pada hari diperkenalkannya Amirul Mukminin (as) untuk wilayah, Ayat Ikmal diturunkan. Namun, karena i‘rab, harakat, bahkan tanda titik dalam kitab-kitab lama tidak lazim digunakan, sebagian orang secara keliru dan sebagian lainnya karena kecenderungan penyimpangan, telah condong kepada kemungkinan pertama, yaitu “hari Arafah”.

Kemungkinan lain juga ada, bahwa sumber kekeliruan berasal dari riwayat-riwayat yang menyebutkan adanya pemberitahuan sebelumnya tentang turunnya ayat ini kepada Nabi (saw) pada hari Arafah, yang kemudian oleh sebagian orang disalahpahami sebagai hari turunnya ayat tersebut.

Riwayatnya adalah sebagai berikut:

«فَلَمّا وَقَفَ رَسُولُ اللَّه‏ صلى الله عليه و آله بِالْمَوْقِفِ، اتاهُ جَبْرَئيلُ عَنِ اللَّه عَزَّ وَ جَلَّ فَقالَ: انَّهُ قَدْ دَنا اجَلُكَ… .
فَاقِمْهُ لِلنّاسِ عَلَماً … ، فَانّى لَمْ اقْبِضْ نَبِيّاً مِنَ الانْبِياءِ الّا بَعْدَ كَمالِ دينى وَ اتْمامِ نِعْمَتى بِوِلايَةِ اوْلِيائى وَ مُعاداةِ اعْدائى. وَ ذلِكَ كَمالُ تَوْحيدى وَ اتْمامُ نِعْمَتى عَلى خَلْقى … .
فَ «الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ …»»

“Ketika Rasulullah (saw) berada dalam Maukif (Arafah), Jibril datang kepada beliau dari sisi Allah swt dan berkata: ‘Sesungguhnya ajalmu telah dekat…’

Maka tegakkanlah Ali sebagai tanda dan panji bagi manusia… karena Aku tidak mencabut ruh seorang nabi dari para nabi-Ku kecuali setelah kesempurnaan agama-Ku dan penyempurnaan nikmat-Ku dengan wilayah para wali-Ku serta permusuhan terhadap musuh-musuh-Ku. Dan itulah kesempurnaan tauhid-Ku dan penyempurnaan nikmat-Ku atas makhluk-Ku…

Maka:

«الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ …»
‘Pada hari ini Aku telah menyempurnakan bagi kalian agama kalian…’”[3]

Alasan terjadinya kekeliruan ini adalah bahwa setelah bagian ini, dalam riwayat yang sama, dijelaskan awal tahapan turunnya ayat:

«يا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ …»

bahwa Nabi (saw) karena khawatir terhadap kaumnya meminta uzur untuk menyampaikan pesan tersebut, dan setelah penegasan perintah Ilahi, beliau memohon perlindungan dan penjagaan, dan hal itu pun dikabulkan;

Dan kemudian menyebutkan khutbah Ghadir yang panjang, yang di dalam teksnya secara jelas disebutkan turunnya ayat setelah penyampaian:

«مَنْ كُنْتُ مَوْلاهُ …»

Dengan demikian, menjadi jelas bahwa apa yang disebutkan pada awal riwayat ini bermakna sebagai pemberitahuan sebelumnya tentang turunnya ayat, bukan turunnya ayat itu sendiri.

Jawaban kedua: tujuan distorsi dalam sejarah ayat

Penggagas syubhat ini, di hadapan banyaknya riwayat yang menetapkan turunnya ayat pada hari Ghadir, adalah Umar bin al-Khattab.

Menarik untuk diketahui bahwa tindakan Umar ini terkait dengan Ayat Ikmal memiliki latar belakang sebelumnya, dan terdapat pula aspek penyimpangan lain dalam peristiwa ini. Tampak bahwa pendiri Saqifah lebih memahami pentingnya ayat ini, sehingga ia melakukan distorsi secara lafaz dan makna.

Teks peristiwa tersebut adalah sebagai berikut:

“Orang-orang Yahudi berkata kepada Umar: ‘Seandainya ayat ini:

«الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ…»

diturunkan kepada kami orang-orang Yahudi, dan kami mengetahui hari turunnya, niscaya kami akan menjadikan hari itu sebagai hari raya.’

Umar berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menjadikannya sebagai hari raya bagi kami. Aku mengetahui pada hari apa ayat itu diturunkan; ia diturunkan pada hari Arafah, dan Allah telah menyempurnakan perkara ini, dan dari ayat ini kami mengetahui bahwa setelah ini perkara akan menuju kepada kekurangan.’”[4]

Dalam potongan sejarah ini, terlihat bahwa Umar di satu sisi menyebut turunnya ayat pada hari Arafah, dan hal ini sebagai jawaban kepada orang-orang Yahudi yang sebenarnya telah mengetahui dengan baik pada hari apa ayat tersebut diturunkan, dan pada hakikatnya mereka mengemukakan hal itu untuk menunjukkan bahwa ia telah merampas (kedudukan) serta sebagai bentuk sindiran kepadanya.

Ia pada hakikatnya dengan menetapkan hari Arafah menghindari pertanyaan-pertanyaan lanjutan, bahwa jika turunnya pada hari Ghadir, bagaimana Allah pada hari itu telah menyempurnakan agama?

Riwayat Umar terkait ayat ini sudah ada sebelum pertanyaan orang-orang Yahudi, dan kembali kepada hari Ghadir, ketika ayat ini diturunkan, Umar menangis.

Nabi (saw) bertanya:
“Mengapa engkau menangis?”

Ia berkata:

«ابْكانى انّا كُنّا فى زِيادَةٍ مِنْ دينِنا، فَامّا اذْ كَمُلَ فَانَّهُ لَمْ يَكْمِلْ شَىْ‏ءٌ قَطُّ الا نَقَصَ»

“Yang membuatku menangis adalah bahwa kita senantiasa berada dalam peningkatan dan kemajuan dalam agama kita. Namun sekarang ketika ia telah sempurna, tidak ada sesuatu yang mencapai kesempurnaan kecuali setelah itu akan menuju kepada kekurangan.”[5]

Sumber:

  • Ghadir dar Qur’an, jilid 1, halaman 151, 157–160.
  • Surah Al-Ma’idah ayat 3.
  • Bihar al-Anwar, jilid 37, halaman 202, hadis 86.
  • Bihar al-Anwar, jilid 37, halaman 156; Shahih Ibn Hibban, jilid 1, halaman 413; Kanz al-‘Ummal, jilid 2, halaman 399.
  • Al-Durr al-Manthur, jilid 2, halaman 258.

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *