Most searched:

Sanad

Permasalahan Sanad Hadis Ghadir

Syubhat tidak sahnya sanad hadis “من کنت مولاه فعلی مولاه”

Hadis «من کنت مولاه فعلی مولاه» merupakan salah satu dalil utama Syiah untuk menetapkan kepemimpinan Amirul Mukminin (as). Hadis mulia ini diriwayatkan melalui berbagai jalur sanad dalam kitab-kitab Ahlusunah.

Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Ja‘far Tabasi dalam tulisannya berjudul “Tahrifat Waqi‘ah Besar Ghadir Khum dalam Lintasan Sejarah” menyebutkan:

Adapun syubhat mengenai tidak sahnya sanad hadis «من کنت مولاه فعلی مولاه», dikemukakan oleh Ibn Hazm al-Zhahiri al-Qurthubi al-Yazidi (w. 456 H) dalam kitab al-Fashl fi al-Ahwa’ wa al-Nihal sebagai berikut:

«أما من كنت مولاه فعلي مولاه فلا يصحّ من طريق الثقات أصلاً.»[1]

Dan ia juga mengulangi hal tersebut dalam kitab al-Mufadhalah.[2]

Hakikat dan realitas

Jawaban pertama

Dalam menjawab syubhat ini, cukup kiranya bahwa al-Hafizh al-Dzahabi (w. 748 H) memberikan tingkat Itibar yang sangat tinggi terhadap hadis ini dan menulis:

«إنّه حديثٌ حسنٌ عالٍ جدّاً و متنُه فمتواتر»[3]
“Sesungguhnya ia adalah hadis hasan yang sangat tinggi, dan matannya mutawatir.”

Demikian pula al-Dzahabi di tempat lain mengatakan:

«الحديث ثابت بلا ترديد»[4]
“Hadis ini kokoh tanpa keraguan.”

Selain dua pernyataan di atas, al-Dzahabi juga mengungkapkan keyakinan pribadinya dan berkata:

«من یقین دارم که رسول‌الله صلی‌الله‌علیه‌و‌آله این حدیث را بیان نموده است»
“Aku yakin bahwa Rasulullah (saw) telah menyampaikan hadis ini.”[5]

Jawaban kedua

Al-Tirmidzi (w. 279 H) juga termasuk di antara para ahli hadis yang menilai hadis ini sebagai sahih, ia berkata:

«حديث الغدير حسن صحيح»[6]

Jawaban ketiga

Al-Ghazali (w. 505 H) menilai teks hadis ini sebagai sesuatu yang disepakati oleh seluruh kaum Muslimin dan menulis:

«أجمع الجماهير علي متن الحديث في خطبته يوم غدير بإتفاق الجميع و هو يقول: من كنت مولاه فعلي مولاه»[7]

Dengan adanya penegasan para pakar ilmu hadis yang telah disebutkan, tidak tersisa keraguan mengenai lemahnya klaim Ibn Hazm.

Namun demikian, layak juga disebutkan penegasan Abu Hurairah tentang kebenaran hadis Ghadir, sekaligus tidak diamalkannya kandungan hadis tersebut olehnya.

Abu Hurairah termasuk perawi hadis sahih Ghadir. Ibn Abi Syaibah (w. 235 H), yang merupakan guru dari al-Bukhari, meriwayatkan dari Abi Yazid al-Awdi dan ia dari ayahnya bahwa Abu Hurairah masuk ke masjid, lalu sejumlah orang berkumpul di sekelilingnya.

Kemudian seorang pemuda berkata kepadanya:
“Aku bersumpah kepadamu demi Allah, apakah engkau mendengar Nabi Agung (saw) bersabda:

«من کنت مولاه فعلی مولاه؛ اللهم والِ من والاه و عادِ من عاداه»

‘Barang siapa yang aku adalah maulanya, maka Ali adalah maulanya; ya Allah, cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya’?”

Abu Hurairah menjawab:
“Ya, aku telah mendengarnya.”

Pemuda itu berkata:
“Maka aku berlepas diri darimu, dan aku bersaksi bahwa engkau memusuhi para pecinta Ali dan mencintai musuh-musuh Ali.”

Kemudian orang-orang melemparinya dengan batu.[8]

Sumber:

  1. Al-Fashl fi al-Ahwa’ wa al-Nihal, jilid 3, halaman 6.
  2. Al-Mufadhalah, halaman 264.
  3. Siyar A‘lam al-Nubala’, jilid 5, halaman 415.
  4. Siyar A‘lam al-Nubala’, jilid 8, halaman 335.
  5. “Aku yakin bahwa Rasulullah telah mengatakannya.” Siyar A‘lam al-Nubala’, jilid 5, halaman 415 dan jilid 8, halaman 335.
  6. Sahih al-Tirmidzi, jilid 5, halaman 633.
  7. Sirr al-‘Alamin, halaman 453.
  8. Al-Musannaf, jilid 7, halaman 499, hadis 22092.

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *