Most searched:

Kehadiran

Syubhat tidak hadirnya Amirul Mukminin dalam Ghadir Khum

Pentingnya Ghadir dan pengaruh penunjukan Amirul Mukminin Ali (as) sebagai penerus sedemikian besar sehingga menyebabkan sebagian orang sepanjang sejarah berusaha melakukan distorsi terhadap peristiwa Ghadir. Bahkan sampai pada tingkat berani menolak kehadiran beliau pada hari itu!

Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Ja‘far Tabasi dalam tulisannya berjudul “Tahrifat Waqi‘ah Besar Ghadir Khum dalam Lintasan Sejarah” menyebutkan:

Barangkali satu-satunya orang yang mengemukakan ketidakhadiran beliau di Ghadir adalah Qadhi ‘Abd al-Rahman bin Ahmad al-Iji (w. 756 H). Ia yang bermazhab Syafi‘i atau Hanbali berkata:
“Ali (as) pada hari Ghadir tidak bersama Nabi (saw) karena saat itu beliau berada di Yaman.”[1]

Hakikat dan realitas

Qadhi ‘Abd al-Rahman bin Ahmad al-Iji tidak mengemukakan satu pun dalil atas klaimnya. Memang, secara pasti keberangkatan Amirul Mukminin Ali (as) ke Yaman dilakukan atas perintah Nabi (saw); namun, al-Iji hanya menyebut keberangkatan beliau dan sama sekali tidak menyinggung kepulangannya.

Penyebutan tiga dalil untuk membantah klaim tersebut adalah tepat:

Jawaban pertama

Ibn Sa‘d (w. 231 H), setelah menjelaskan secara ringkas keberangkatan beliau ke Yaman dan perjuangannya di sana, menulis:
“Ali (as) setelah mengambil harta rampasan perang berangkat menuju Mekah dan memasuki Mekah untuk menghadiri ibadah haji tahun kesepuluh.”[2]

Hal yang sama juga diriwayatkan oleh al-Waqidi (w. 270 H).[3]

Jawaban kedua

Banyak sekali riwayat dalam sumber-sumber Ahlusunah yang menyebut bahwa Nabi (saw) pada hari Ghadir memegang tangan Amirul Mukminin Ali (as), mengangkatnya, dan bersabda:

«مَنْ‏ كُنْتُ‏ مَوْلَاهُ‏ فَهَذَا عَلِيٌ‏ مَوْلَاهُ‏ اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالاهُ وَ عَادِ مَنْ عَادَاهُ»

Sebagai contoh, imam ahli hadis Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) meriwayatkan:

“Rasulullah (saw) pada hari Ghadir memegang tangan Ali (as) dan bersabda: ‘Bukankah aku lebih berhak atas orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri?’
Mereka menjawab: ‘Ya, wahai Rasulullah.’
Beliau bersabda: ‘Ini (Ali) adalah maula bagi siapa yang aku adalah maulanya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya.’
Kemudian Umar bertemu dengan Ali (as) dan berkata: ‘Wahai putra Abu Thalib, selamat, engkau telah menjadi maula bagi setiap laki-laki dan perempuan mukmin.’”[4]

Demikian pula Ibn ‘Asakir al-Dimasyqi al-Syafi‘i (w. 571 H) meriwayatkan dengan sanad dari Jarir bin ‘Abdullah al-Bajali:

“Rasulullah (saw) dengan tangannya memegang lengan Ali dan mengangkatnya sehingga lengannya terlihat, kemudian beliau memegang kedua tangannya.”[5]

Jawaban ketiga

Al-Tabarani (w. 360 H) meriwayatkan dengan sanad dari Anas bin Malik:

“Ketika Ali (as) kembali dari Yaman, Nabi (saw) bertanya kepadanya: ‘Dengan apa engkau berihram (berniat kurban)?’
Ia menjawab: ‘Dengan niat seperti engkau, wahai Rasulullah.’
Beliau bersabda: ‘Seandainya aku tidak membawa hewan kurban, tentu aku akan bertahallul.’”[6]

Tidak diragukan lagi, tiga dalil di atas cukup untuk menegaskan bahwa kaum Muslimin tetap meyakini kehadiran Amirul Mukminin Ali (as) di Ghadir.

Selain dalil-dalil tersebut, Ibn Hajar al-Makki al-Syafi‘i (wafat abad ke-10 H) mengatakan:
“Sanad hadis Ghadir sangat banyak, dan sejumlah ulama seperti al-Tirmidzi, al-Nasa’i, dan Ahmad telah meriwayatkannya, sehingga enam belas sahabat telah menukilkannya… Tidak perlu diperhatikan pendapat orang-orang yang meragukan keabsahan hadis Ghadir; demikian pula tidak perlu diperhatikan klaim orang-orang yang mengatakan bahwa Amirul Mukminin Ali (as) berada di Yaman pada hari Ghadir, karena telah jelas bahwa beliau telah kembali dari sana dan menunaikan haji bersama Rasulullah (saw).”[7]

Sumber:

  1. Al-Mawaqif fi ‘Ilm al-Kalam, halaman 405.
  2. Al-Tabaqat al-Kubra, jilid 3, halaman 169.
  3. Al-Maghazi, jilid 2, halaman 1081.
  4. Fada’il al-Sahabah, halaman 233, hadis 1044.
  5. Tarikh Dimasyq, jilid 45, halaman 179; lihat juga Ansab al-Ashraf karya al-Baladzuri, jilid 2, halaman 356.
  6. Al-Mu‘jam al-Awsat, jilid 4, halaman 332.
  7. Al-Sawa‘iq al-Muhriqah, halaman 66; Mirqat al-Mafatih, jilid 1, halaman 476.

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *