Kelahiran Imam al-Hadi As pada masa Dinasti Abbasiyah merupakan cahaya yang petunjuk dan perlindungan bagi umat islam. Warisan keilmuan dan spiritualnya, khususnya surat beliau kepada penduduk Ahwaz dan Ziarah Ghadiriyah, merupakan sumber untuk memahami Imamah dan wilayah Amirul Mukminin As.
Surat Imam Hadi As untuk penduduk Ahwaz merupakan kesempatan demi meraih pemahaman mendalam tentang kedudukan Al-Quran dan Ahlulbaut dalam membimbing umat manusia. Surat ini, bersama dengan Ziarah Ghadiriyah, memberikan bukti jelas tentang legitimasi kepemimpinan Amirul Mukminin As yang berasal dari teks Al-Quran, sabda Nabi Muhammad Saw dan penjelasan para Imam maksum.
Ali bin Muhammad, yang dikenal sebagai Imam Hadi atau Imam Ali al-Naqi As lahir pada pertengahan bulan Dzulhijjah tahun 212 H. Beliau adalah Imam kesepuluh Syiah dan putra Imam Jawad As.
Imam Hadi As memegang tampuk kepemimpinan selama 34 tahun. Masa keimamahannya bertepatan dengan masa beberapa khalifah Abbasiyah, termasuk Mutawakkil.
Beliau menghabiskan sebagian besar masa Imamahnya di Samarra di bawah pengawasan penguasa Abbasiyah. Imam Hadi As dikenal dengan Ziarah Jamiah Kabirah dan Ziarah Ghadiriyah.
Bukti-bukti sejarah dan hadits menunjukkan hubungan yang kuat antara Imam Hadi As dan penduduk Khuzestan. Terlepas dari semua tekanan pemerintahan Abbasiyah, Imam Hadi As tetap berkomunikasi dengan penduduk Khuzestan; Imam Hadi As menulis surat terperinci sebagai tanggapan kepada penduduk Ahwaz yang bertanya kepadanya tentang masalah Jabr dan Tafwid.
Imam Hadi As menulis dalam suratnya kepada penduduk Ahwaz tentang bagaimana mengukur keakuratan berita dengan ayat-ayat Al-Quran: “Keakuratan setiap berita harus diukur dengan Al-Quran; karena berita yang paling jelas dan paling dapat diandalkan adalah laporan yang bisa ditemukan konfirmasinya dalam Kitab Allah. Dalam hadits yang disepakati banyak ahli diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Aku meninggalkan dua pengganti di antara kalian: Kitab Allah dan keturunanku.” Selama kalian berpegang teguh pada kedua hal ini, kalian tidak akan tersesat dan keduanya tidak akan terpisah satu sama lain sampai bertemu denganku di Telaga Kautsar.”
Imam Hadi As melanjutkan: “Ketika kami temukan bukti hadits ini dalam bentuk dalam Al-Quran, seperti ayat:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
“Sesungguhnya pelindung dan sahabatmu hanyalah Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan salat dan memberikan zakat sambil rukuk.”
Hadits-hadits yang diriwayatkan para ulama juga menegaskan makna bahwa ayat ini diturunkan untuk Amirul Mukminin As ketika beliau memberikan cincinnya sebagai sedekah sambil rukuk dan Allah berterima kasih kepadanya dan menurunkan ayat ini untuk menghormatinya.
Imam Hadi As dalam suratnya melanjutkan dengan merujuk pada peristiwa Ghadir dan menulis: “Kami melihat bahwa Rasul Saw berkata bersabda kepada para sahabatnya dengan jelas dan tegas: Barangsiapa yang menganggap aku pemimpinnya, mulai sekarang Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah siapa pun yang mencintainya dan bencilah siapa pun yang membencinya, dan Ali akan memenuhi agamaku, memenuhi janjiku, dan akan menjadi khalifahmu setelahku.”
Pada masa kekhalifahan Mu’tasim Abbasiyah, Imam Hadi As dipanggil dari Madinah ke Samarra. Pada hari Ghadir, Imam Hadi As tiba di Najaf dan menziarahi makam Amirul Mukminin As. Ziarah ini kemudian dikenal sebagai Ziarah Ghadiriyah.
Imam Hadi As dalam Ziarah untuk Amirul Mukminin As pada hari Ghadir bersabda:
“Kesulitan dan penderitaanmu dalam menghadapi kedua orang itu (Abu Bakar dan Umar) sama seperti kesulitan dan penderitaan semua nabi di masa mereka sendirian tidak memiliki penolong.”
Referensi Al-Quran bisa banyak ditemukan dalam Ziarah Ghadiriyah. Terdapat 78 ayat Al-Qur’an dalam Ziarah Ghadiriyah yang berfokus pada keutamaan Amirul Mukminin As.
Dalam musyawarah enam orang yang dibentuk usai wafatnya Khalifah kedua untuk menentukan khalifah berikutnya, Amirul Mukminin As merujuk pada ayat Al-Qur’an yang turun tentang beliau untuk membuktikan kelayakan dan keunggulannya menduduki jabatan khilafah. Dalam hal ini, Jabir bin Abdullah al-Ansari meriwayatkan dari Imam Baqir As:
“Ketika saat wafatnya Umar ibn al-Khattab telah dekat dan ia memutuskan untuk mengadakan musyawarah menentukan khalifah, Amirul Mukminin As berkata kepada mereka: Dalam ayat ini:
أجَعَلتُم سِقايَةَ الحاجِّ و عِمارَةَ المَسجِدِ الحَرامِ كَمَن آمَنَ بِاللّهِ و اليَومِ الآخِرِ و جاهَدَ في سَبيلِ اللهِ لا يَستَوونَ عِندَ اللهِا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Apakah kamu telah menjadikan memberi minum orang haji dan membangun Masjidil Haram sebagai perbuatan orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat serta berjuang di jalan Allah, maka perbuatan itu tidak akan sama dengan perbuatan Allah?” Apakah kamu menyamakan orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta berjuang di jalan Allah? (Mereka) tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang berbuat zalim
Apakah Allah Swt tidak menurunkan wahyu itu kepada selain Aku?
Mereka berkata, “Tidak.”
Dalam Ziarah Ghadiriyah, ayat 9 Surah Az-Zumar disebutkan untuk mengungkapkan keunggulan ilmu pengetahuan dan ibadah Ahlulbait.
Ibadah dan pengabdian Amirul Mukminin As bukanlah ibadah biasa, tetapi merupakan puncak ketulusan. Isi utama ayat tersebut adalah sebagai berikut
هَل يَستَوی الَّذينَ يَعلَمونَ و الَّذينَ لا يَعلَمونَ إنَّما يَتَذَكَّرُ أولوا الألبابِ
“Apakah orang yang berilmu sama dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal budi yang mengingat.”
Kami Ahlulbait dan Syiah kami, adalah pemiliki ilmu dan kebijaksanaan, dan orang-orang yang tidak berilmu adalah musuh kita. Syiah kita adalah orang-orang yang mendapat hidayah.”
Ayat 54 Surah Al-Ma’idah, yang dikenal sebagai “Ayat Cinta,” adalah salah satu pilar utama argumen dengan kandungan yang dalam dalam Ziarah Ghadiriyah.
Dalam Ziarah ini, Imam Hadi As menggunakan ayat ini dengan bijaksana dan tepat untuk menggambarkan kedudukan istimewa Amirul Mukminin As dan para pengikutnya yang setia.
Kita lanjutkan dengan ayat ini:
يا أيُّها الَّذينَ آمَنوا مَن يَرتَدَّ مِنكُم عَن دينِهِ فَسَوفَ يَأتي اللهُ بِقَومٍ يُحِبُّهُم و يُحِبّونَهُ أذِلَّةٍ عَلَى المُؤمِنينَ أعِزَّةٍ عَلَى الكافِرينَ يُجاهِدونَ في سَبيلِ اللهِ و لا يَخافونَ لَومَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضلُ اللهِ يُؤتيهِ مَن يَشاءُ و اللهُ واسِعٌ عَليمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang berpaling dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan mereka mencintainya, oarng-orang yang rendah hati terhadap kaum mukmin dan tegas terhadap orang-orang yang kafir, mereka selalu berjuang di jalan Allah dan tidak takut akan celaan. Itulah karunia Allah. Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Meliputi lagi Maha Mengetahui.
Imam Sadiq As bersabda: “Kelompok ini adalah Amirul Mukminin As dan para sahabatnya ketika mereka memerangi kelompok Nakitsin, Qasithin dan Mariqin.”
Ayat 9 Surah al-Hashr memiliki kedudukan sangat penting dalam Ziarah Ghadiriyah, karena ayat ini berbicara tentang kaum Anshar dan menyebutkan pengorbanan, cinta dan kesucian hati mereka terhadap kaum Muhajirin. Ayat ini digunakan dalam Ziarah Ghadiriyah untuk menunjukkan keteguhan dan semangat mencari kebenaran dari para pembela Wilayah.
Amirul Mukminin As berceramah kepada hadirin dan bersabda: “Demi Allah! Adakah di antara kalian yang merasa bahwa ayat ini:
و يُؤثِرونَ عَلَى أنفُسِهِم و لَو كانَ بِهِم خَصاصَةٌ و مَن يوقَ شُحَّ نَفسِهِ فَأولئِكَ هُمُ المُفلِحونَ
“Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.”
Turun untuk orang lain selain diriku?
Mereka berkata: “Tidak!”.
Ziarah Ghadiriyah, selain mengungkapkan keutamaan Amirul Mukminin As, juga menarik garis yang jelas antara benar dan salah dengan mengutuk musuh-musuhnya dan menegaskan bahwa kebebasan dari penindasan adalah bagian yang tak terpisahkan dari wilayah.
Sebuah hadits dari Nabi Muhammad Saw mengajarkan kita bahwa kunci dari cepatnya hisab tuhan di hari akhir terletak pada “berwilayah kepada Imam pemberi hidayah.”
Nabi Muhammad Saw bersabda: “Jika seseorang ingin Allah memudahkan perhitungannya, maka hendaklah ia menaruh wilayah dalam hatinya.