Most searched:

berbaiat kepada Amirul Mukminin

Orang-Orang Yang Pertama Kali Berbaiat Kepada Amirul Mukminin As Pada Hari Ghadir

Peristiwa Ghadir Khum adalah salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Islam; sebuah peristiwa di mana Nabi Muhammad Saw atas dasar perintah ilahi memperkenalkan Amirul Mukminin As sebagai penerus. Usai pengumuman bersejarah ini, orang-orang yang hadir di Ghadir berbaiat kepada Amirul Mukminin As dan banyak yang datang kepadanya untuk mengucapkan selamat atas kedudukan ilahi ini.

Baiat Abu Bakar Dan Umar

Orang-orang yang pertama kali berbaiat kepada Amirul Mukminin As sebagai penerus Rasul Saw adalah tiga Khalifah pertama, yaitu Umar, Abu Bakar dan Utsman. Kemudian para sahabat datang kepada Amirul Mukminin As dan mengucapkan selamat.

Adapun orang pertama yang mengucapkan selamat kepada Amirul Mukminin As adalah Umar bin Khattab. Ia berkata: “Selamat kepadamu, wahai Ali, engkau kini telah menjadi pemimpinku dan pemimpin bagi setiap laki-laki dan perempuan yang beriman.” [1]

Orang-orang datang kepada Amirul Mukminin As untuk mengucapkan selamat dan di antara mereka yang mengucapkan selamat kepadanya sebelum para sahabat lainnya adalah Abu Bakar dan Umar. Mereka berkata: “Selamat kepadamu, wahai putra Abu Thalib! Mulai sekarang, engkau telah menjadi pemimpin setiap laki-laki dan perempuan yang beriman.” [2]

Riwayat Imam Baqir As tentang sumpah setia para khalifah

Sebuah riwayat dari Imam Baqir As menyajikan gambaran jelas tentang penerimaan masyarakat umum terhadap perintah Rasul Saw di Ghadir dan sumpah setia umat Islam kepada Amirul Mukminin As.

Imam Baqir As berkata: “Orang-orang berseru menanggapi sabda Rasul Saw: Kami mendengar dan kami menaati perintah Allah dan Rasulnya dengan hati, lisan dan tangan kami. Kemudian mereka mendatangi Amirul Mukminin As dan bersumpah setia kepadanya. Yang pertama bersumpah setia kepadanya adalah khalifah pertama, kedua dan ketiga, setelah itu kaum Muhajirin dan Ansar dan kemudian orang-orang lainnya.” [3]

Ucapan Selamat atas Kekhalifahan

Abu Bakar, Umar ibn Khattab, Thalhah dan Zubair termasuk di antara para sahabat yang mengucapkan selamat kepada Amirul Mukminin As di Ghadir Khum.[4]

Beberapa penulis melaporkan bahwa Abu Bakar dan Umar awalnya menolak mengucapkan selamat kepadanya; tetapi Rasul Saw meyakinkan mereka bahwa kekhalifahan Amirul Mukminin As adalah perintah Allah dan jika mereka menentang hal ini akan menyebabkan kekufuran, setelah itu barulah mereka mengucapkan selamat kepada Amirul Mukminin As.[5] [6]

Indikasi Imamah

Ucapan selamat khalifah kedua kepada Amirul Mukminin As menunjkkan bahwa Rasul Saw berniat memperkenalkan Amirul Mukminin As sebagai penerusnya dalam peristiwa Ghadir dan  ucapan itu juga dianggap sebagai bukti keunggulan beliau di atas orang lain. [7] [8] [9]

Beberapa riwayat menyatakan bahwa Amirul Mukminin As kemudian dalam pertemuan dengan khalifah pertama, menganggapnya pernyataan tersebut sebagai bukti haknya atas kekhalifahan. Menurut Faidh Kasyani, khalifah kedua memberi salam kepada Ali bin Abi Thalib As sebagaimana salam kepada pemimpin.[10] [11]

Ghadir adalah fakta yang tak terbantahkan dalam sejarah Islam dan tidak akan pernah dilupakan. Oleh karena itu, sejak awal kekhalifahan Abu Bakar, Amirul Mukminin As berargumen dan bersaksi tentang masalah Ghadir akan haknya terhadap khilafah.

Tindakan Amirul Mukminin As dalam menggambarkan peristiwa penting Ghadir dan menceritakan kembali proses ini merupakan sebuah tantangan terhadap pemerintahan para perampas kekhalifahan. Amirul Mukminin As melakukan ini baik dalam konfrontasinya dengan Abu Bakar maupun setelahnya di era khalifah-khalifah lainnya dan bahkan setelah menjabat sebagai khalifah, beliau terus berargumen tentang terjadinya Ghadir dan terpilihnya beliau oleh Rasul Saw.

Sumber:

[1] Jami’ al-Akhbar, Hal. 10; Bihar al-Anwar, Jilid 37, Hal. 166 dan 108; Tafsir Mafatih al-Ghaib, Jilid 3, Hal. 433;  Al-Ghadir, Jilid 1, Hal. 272

[2] Al-Ghadir, Jilid 1, Hal. 35, 435, 451 dan 510

[3] Ihtijaj Tabarsi, Jilid 1, Hal. 82; Raudhah al-Waizin, Hal. 109

[4] Allamah Hilli, al-Adad al-Qawiyah, 1408 H, Hal. 183.

[5] Tafsir Imam al-Askari, 1409 H, hal. 112; Faidh Kasyani, Nawadir al-Akhbar, hal. 166.

[6] Kitab Salim bin Qais al-Hilali, 1405 H, Jilid. 2, hal. 829

[7] Karajiki, Kanz al-Fawaid, 1410 H, Jilid. 2, hal. 96.

[8] Syami, Al-Dur al-Nazhim, 1420 H, hal.268-269.

[9] Daylami, Ghurar al-Akhbar, 1427 H, hal. 349.

[10] Daylami, Irsyad al-Qulub, 1412 H, Jilid. 2, hal. 264; Khashibi, Al-Hidayah al-Kubra, 1419 H, hal.103-104.

[11] Faydh Kasyani, Nawadir al-Akhbar, 1371 H, hal. 1

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *