Harits al-A’war berkata: Amirul Mukminin As bersabda: “Ayah dan ibuku menjadi tebusan untuk Husain, yang akan syahid di dekat Kufah! Demi Allah, aku dapat melihat berbagai macam binatang buas meletakkan kepala mereka di atas kuburan Husain, menangis dan melantunkan ratapan untuk Husain dari malam hingga pagi. Ketika saat itu tiba, waspadalah terhadap penindasan dan tirani.” (Bihar al-Anwar, Jilid 45, Hal. 205)
* * * * * * * * * *
Amirul Mukminin Ali As berkata: “Husain As akan dibunuh dengan cara yang tak biasa. Aku tahu tempat di mana Husain akan syahid, yaitu di dekat dua sungai.” (Bihar al-Anwar, Jilid 44, Hal. 262)
* * * * * * * * * *
Diriwayatkan dari Juwayriyah bin Mushir al-Abdi berkata: Ketika kami berangkat ke Shiffin bersama Amirul Mukminin As dan sampai di Karbala, Amirul Mukminin As berdiri kemudian melihat ke kiri dan ke kanan dan meneteskan air mata serta berkata: Demi Allah, inilah tempat peristirahatan dan tempat kematian mereka. Kemudian ditanyakan: Wahai Amirul Mukminin, di manakah tempat ini? Beliau menjawab: Inilah Karbala; di sini dibunuh orang-orang yang akan masuk surga tanpa diberi pertanyaan. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan dan orang-orang tidak memahami tafsir kata-katanya sampai terjadi peristiwa syahidnya Husain bin Ali As dan para sahabatnya di Karbala. (Bihar al-Anwar, Jilid 41, 286)
* * * * * * * * * *
Hartsamah bin Sulaym berkata: Kami ikut serta dalam salah satu pertempuran bersama Ali bin Abi Thalib As. Ketika kami sampai di Karbala, beliau memimpin salat bersama kami. Setelah salat, beliau mengambil sedikit tanah dari tempat itu, menciumnya dan berkata: “Diberkahilah engkau wahai tanah! Sekelompok orang akan dibangkitkan darimu yang akan masuk Surga tanpa dimintai pertanggungjawaban.”
Ketika Hartsamah kembali dari pertempuran, ia pergi menemui istrinya, Jarda, yang merupakan salah satu sahabat dan pengikut Syiah Amirul Mukminin As. Hartsamah berkata kepadanya, “Tidakkah engkau heran dengan sahabatmu Abul Hasan Ali ibn Abi Thalib? Ketika kami sampai di Karbala, dia mengambil sedikit tanah di sana, menciumnya, dan berkata, “Diberkahilah engkau wahai tanah! Sekelompok orang akan dibangkitkan darimu yang akan masuk Surga tanpa perhitungan.”
Bagaimana dia mengetahui hal-hal gaib ini?” Istrinya berkata: “Tinggalkan kata-kata ini, wahai manusia! Karena Amirul Mukminin tidak mengucapkan apa pun selain kebenaran.” Hartsamah berkata: Ketika Ubaydillah bin Ziyad mengirim pasukan untuk menghadapi Husain bin Ali As dan para sahabatnya, aku juga termasuk di antara pasukan itu. Ketika aku sampai di kelompok Husain dan para sahabatnya, aku mengenali tempat itu; itu adalah tempat yang sama di mana Ali memberhentikan kami dan itu adalah tempat yang sama di mana dia mengambil tanah dan menciumnya lalu mengucapkan kata itu.
Aku menyesali kedatanganku. Maka aku menunggang kudaku menuju Husain, memberi salam kepadanya dan menceritakan apa yang telah kudengar dari ayahnya tentang tempat ini. Husain As berkata, “Apakah engkau bersama kami atau melawan kami?” Aku berkata, “Wahai putra Rasulullah! Aku tidak bersama kalian dan tidak pula melawan kalian. Aku telah meninggalkan keluarga dan anak-anakku dan aku takut akan Ibnu Ziyad.” Husain As berkata, “Kalau begitu larilah dan pergilah agar engkau tidak melihat kami dibunuh. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangannya, hari ini tidak seorang pun yang melihat pembunuhan kami lalu tidak membantu kami kecuali Allah akan melemparkannya ke dalam api neraka.” Hartsamah berkata, “Kemudian aku lari dari tempat itu dan pergi agar kesyahidannya tersembunyi dari pandanganku.”
(Waq’atu Shiffin, Jilid 1, Hal. 140)
* * * * * * * * * *
Imam Ja’far Shadiq As bersabda: Suatu hari, Imam Ali As memandang Imam Husain As dan berkata kepadanya: “Wahai penyebab air mata semua orang beriman.” Imam Husain As berkata: “Ayah, apakah yang engkau maksud adalah aku?” Imam Ali As menjawab: “Ya putraku.” (Bihar al-Anwar, Jilid 44, Hal. 280)
* * * * * * * * * *
Imam Ali As berkata kepada Bara bin Azib: “Anakku Husain akan terbunuh dan kau akan tetap hidup dan tidak akan membantunya.” Ketika Imam Husain As gugur sebagai syahid, Bara berkata: “Demi Allah, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As telah mengatakan yang sebenarnya. Karena Imam Husain terbunuh dan aku tidak membantunya!” Maka ia merasa menyesal dan berduka atas musibah ini. (Bihar al-Anwar, Jilid 44, Hal. 262)