Nabi Adam (as) adalah Nabi Ilahi pertama dan bapak umat manusia, yang menurut Al-Quran, Allah menciptakannya dari tanah dan mengajarkan kepadanya nama-nama, kemudian memerintahkan para Malaikat untuk bersujud di hadapan Adam.
Sebagai Imam pertama dan pewaris pengetahuan para Nabi, Amirul Mukminin (as) memiliki peran untuk melanjutkan jalan para Nabi, termasuk Nabi Adam (as). Hubungan spiritual Amirul Mukminin (as) dengan para Nabi sebelumnya menunjukkan kedudukan istimewanya di sepanjang rantai petunjuk Ilahi.
Hukuman Kecemburuan dan Kunci Taubat
Nabi Muhammad (saw)telah berulang kali merujuk pada peran dan kedudukan Nabi Adam (as) sebagai manusia pertama dan wakil Allah di bumi.
Dalam khutbah Ghadir, Nabi Muhammad (saw)memperingatkan agar tidak iri kepada Ahlul Bayt. Al-Qur’an menjelaskan penyebab kejatuhan Nabi Adam (as), serta mengingatkan beliau akan peran pentingnya dalam membimbing dan menjaga umat Islam: “Wahai manusia, setan telah mengusir Adam dari surga karena iri. Jangan iri kepada Ali (as), maka amal perbuatan kalian akan hancur dan langkah kalian akan tergelincir. Adam diturunkan ke bumi karena melanggar perintah Allah, padahal ia adalah orang pilihan Allah, maka bagaimana nasib kalian jika kalian adalah musuh Allah dan di antara kalian terdapat musuh-musuh Allah?” (1)
Selain itu, Nabi Muhammad (saw), merujuk pada kisah Nabi Adam dan taubatnya, menceritakan pentingnya mencintai Ahlul Bayt (as), agar taubat diterima dan mendapatkan ridha Allah.
Nabi Muhammad (saw) ditanya tentang firman yang dipelajari Adam dari Tuhannya yang membuat Allah menerima taubatnya setelah itu; Nabi Muhammad (saw) bersabda: “Adam (as) bersumpah kepada Allah demi kemuliaan Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan, dan Hussein (as) hingga Allah akan menerima taubatnya.”(2)
Riwayat Imam Ali tentang Nabi pertama Allah
Di antara khutbah, surat, dan hikmah yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin (as), disebutkan nama sepuluh Nabi Ilahi, salah satunya adalah Nabi Adam (as).
Dalam pidatonya, Amirul Mukminin Ali (as) merujuk pada kedudukan penting dan peran kunci Nabi Adam (as) sebagai manusia pertama dan wakil Allah di bumi.
Sambil menekankan perluasan bumi dan kehendak Allah yang mahakuasa, mereka menganggap Adam sebagai ciptaan Allah yang terbaik, yang dipilih untuk mengelola dan mengembangkan bumi.
Amirul Mukminin (as) bersabda: “Ketika Allah menciptakan bumi-Nya dan menjadikan tempat yang layak untuk dihuni, Dia memilih Adam (as) sebagai ciptaan terbaik dan menjadikannya ciptaan pertama-Nya.”(3)
Dalam sebuah riwayat, mengutip ayat 30 Surah Al-Baqarah, Amirul Mukminin menjelaskan misi Adam dan menunjukkan bahwa seluruh bumi adalah untuk manfaat dan perkembangan umat manusia.
Amirul Mukminin (as) bersabda tentang firman Allah dalam ayat 30 Surah Al-Baqarah, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan di bumi seorang wakil Allah; manusia adalah pengganti Allah yang tetap di bumi.” Beliau bersabda: “Seluruh bumi adalah untuk Adam (as).”(4)
Juga, mengenai firman Ilahi yang digunakan Nabi Adam (as)untuk bertaubat kepada Allah, hal itu menunjukkan kedudukan tinggi Ahlul Bayt (as). Ini berarti bahwa Ahlul Bayt adalah kata-kata suci yang sama yang diajarkan Allah kepada Nabi Adam untuk menemukan jalan kembali dan bertaubat.
Amirul Mukminin (as) berkata: “Kami adalah kata-kata yang sama yang diterima Adam (as) dari Tuhannya dan dengannya ia bertaubat kepada Allah.”(5)
Hari Taubat Adam
Imam al-Sadiq (as) merujuk pada diterimanya taubat Nabi Adam (as) dan menyatakan bahwa peristiwa ini terjadi pada Hari Ghadir.
Imam Sadiq (as) berkata: “Ghadir adalah hari di mana Allah menerima taubat Adam (as), maka Adam berpuasa pada hari itu sebagai ungkapan syukur atas nikmat ini.”(6)
Imam Reza (as) membuat analogi yang indah antara penerimaan orang-orang beriman atas perwalian Amirul Mukminin Ali (as) pada Hari Ghadir dan ketaatan para malaikat terhadap perintah Ilahi untuk bersujud kepada Adam (as).
Imam Reza (as) berkata: “Perumpamaan orang-orang beriman yang menerima perwalian Amirul Mukminin (as) pada Hari Ghadir adalah seperti para malaikat yang bersujud kepada Adam (as); dan perumpamaan orang-orang yang menolak perwalian Amirul Mukminin (as) pada hari Ghadir adalah perumpamaan Iblis yang menolak perintah.”(7)
Najaf, Makam Para Nabi dari Adam hingga Nuh
Mufaddal bertanya kepada Imam Sadiq (as) tentang keinginannya untuk mengunjungi makam Amirul Mukminin (as). Imam, sambil menceritakan kisah pemindahan peti mati Nabi Adam ke Ghari (Najaf) oleh Nabi Nuh, berbicara tentang karakteristik dan status khusus Najaf sebagai tempat suci.
Mufaddal meriwayatkan: “Aku datang menghadap Imam Sadiq (as) dan berkata: Aku ingin pergi ke Najaf. Imam bertanya: Mengapa kamu begitu ingin pergi ke sana?
Aku menjawab: Karena kecintaanku kepada Amirul Mukminin Ali (as), aku ingin mengunjunginya.
Imam bertanya: Apakah kamu tahu apa fadilah dari menziari Imam (as) di Najaf? Aku menjawab: Tidak, wahai putra Rasulullah. Tolong jelaskan kepadaku.
Imam berkata: Ketika kamu pergi mengunjungi Amirul Mukminin (as), ketahuilah bahwa kamu mengunjungi Nabi Adam, Nuh, dan jasad Amirul Mukminin (as).
Aku bertanya: Bagaimana tulang-tulang Adam, yang konon berada di Ka’bah, bisa sampai di Najaf?
Imam menjawab: Ketika Nuh berada di dalam bahtera, Allah (swt) mewahyukan kepadanya untuk mengelilingi Ka’bah tujuh kali. Nuh melaksanakan perintah Allah dan mengambil peti yang berisi tulang-tulang Adam dari bawah air dan meletakkannya di dalam bahtera. Kemudian ia sampai di tempat masjid Kufah. Allah memerintahkan bumi untuk meredahkan banjir bandang. Maka Nuh menguburkan Nabi Adam (as) di daerah Ghari (Najaf).
Al-Ghari (Najaf) adalah bagian dari gunung tempat Allah berbicara kepada Musa (as), tempat Isa (as) disucikan, tempat Ibrahim (as) mencapai status Khalilullah, dan tempat Nabi Muhammad (saw) diberi gelar Habibullah. Tempat Ini adalah tempat tinggal para Nabi, dan tidak ada seorang pun yang lebih mulia daripada Ali bin Abi Talib (as) yang bersemayam di samping mereka.
Jadi ketika Anda melakukan ziarah ke Najaf, seolah-olah Anda telah mengunjungi Adam, Nuh, Nabi Muhammad, dan Amirul Mukminin Ali (as) sang Washi Nabi.
Ketahuilah bahwa pintu-pintu surga terbuka bagi penziarah Amirul Mukminin (as) ketika ia berdoa. Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan besar ini dan jangan lupa untuk berdoa dan berbuat baik.”(8)
Referensi
- Awalim al-Uloom, Volume 15, Halaman 178
- Wasa’il al-Shi’ah, Volume 7, Halaman 98
- Bihar al-Anwar, Volume 54, Halaman 106
- Wasa’il al-Shi’ah, Volume 9, Halaman 530
- Bihar al-Anwar, Volume 27, Halaman 33
- Iqbal al-A’mal, Volume 1, Halaman 466
- Awalim al-Uloom, Volume 15, Halaman 222
- Kamil al-Ziyarat, Volume 1, Halaman 38