Setelah kekhalifahan Amirul Mukminin As terbentuk, ia menghadapi berbagai tantangan dari pihak-pihak yang berusaha mempertahankan kepentingan duniawi dan kedudukan politik mereka.
Thalhah dan Zubair, yang setelah berbaiat kepada Amirul Mukminin As tidak berhasil memperoleh jabatan pemerintahan sebagaimana yang mereka inginkan, berangkat menuju Makkah dengan berbagai alasan yang tidak berdasar. Di sana, mereka bermaksud bergabung dengan Aisyah untuk membentuk kelompok oposisi terhadap pemerintahan Pemimpin Orang-Orang Bertakwa.
Pada tahun 35 H, Utsman bin Affan, khalifah ketiga kaum Muslimin, terbunuh di Madinah. Peristiwa yang terjadi setelah meluasnya protes masyarakat terhadap kebijakan-kebijakannya ini menjadi salah satu titik balik dalam sejarah Islam.
Ketika itu, Aisyah, istri Nabi Islam Saw, sedang berada di Makkah dan bermaksud kembali ke Madinah.
Kabar Terbunuhnya Utsman
Setelah menyelesaikan ibadah haji, Aisyah dalam perjalanan pulang menuju Madinah menerima sebuah kabar yang sepenuhnya mengubah arah peristiwa sejarah. Berikut adalah percakapannya dengan salah seorang musafir dalam perjalanan tersebut, ketika Aisyah menyampaikan sikapnya terhadap pembunuhan Utsman dan kekhalifahan Amirul Mukminin As.
Ketika Aisyah telah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji dan berangkat menuju Madinah, di tengah perjalanan ia bertemu seorang laki-laki bernama Ubaid bin Salamah al-Laitsi.
Aisyah yang belum mengetahui perkembangan terbaru di kota tersebut bertanya kepadanya mengenai keadaan Madinah dan penduduknya.
Ubaid menjawab, “Utsman telah terbunuh.”
Mendengar kabar itu, Aisyah bertanya, “Apa yang dilakukan masyarakat setelah kematiannya?”
Ubaid menjawab, “Mereka telah berbaiat kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As.”
Aisyah berkata: “Seandainya langit runtuh ke bumi dan aku tidak pernah mendengar perkataan seperti ini darimu. Demi Allah, Utsman telah dibunuh secara zalim, dan aku pasti akan menuntut balas atas darahnya. Demi Allah, satu hari dari kehidupan Utsman lebih baik bagiku daripada seluruh kehidupan Amirul Mukminin As.”
Ubaid bin Salamah berkata kepadanya: “Bukankah engkau sendiri yang dahulu selalu memuji Amirul Mukminin As dan mengatakan bahwa di muka bumi tidak ada seorang pun yang lebih mulia di sisi Allah daripada dirinya?
Apa yang terjadi sehingga sekarang engkau tidak menerima kekhalifahannya?
Apakah engkau lupa bahwa engkau sendiri pernah mendorong masyarakat untuk membunuh Utsman dan mengatakan, ‘Bunuhlah Na’tsal (Utsman) ini karena ia telah menjadi kafir’?”
Aisyah menjawab: “Apa yang kukatakan memang benar. Namun, setelah itu aku melihatnya sebagai seorang laki-laki yang baik, sehingga aku menarik kembali perkataanku sebelumnya. Umat telah memaksanya untuk bertobat, dan ia pun bertobat serta mendapatkan ampunan!” [1]
Protes terhadap Aisyah
Ubaid bin Abi Salamah dengan berani mengkritik pertentangan dalam sikap Aisyah. Perubahan sikap tersebut tidak hanya sulit diterima, tetapi juga menyebabkan kebingungan dan keraguan di tengah masyarakat.
Ubaid bin Salamah, yang dikenal sebagai Ibnu Ummu Kilab, menjawab Aisyah dengan membacakan syair berikut: “Awal dari persoalan ini berasal darimu, dan perubahan sikap pun datang darimu. Hembusan angin dan hujan juga berasal darimu. Engkaulah yang memerintahkan kami untuk membunuh pemimpin itu dan mengatakan bahwa ia telah menjadi kafir. Jika kami telah menaatimu dalam pembunuhannya, maka bagi kami, pembunuhnya adalah orang yang mengeluarkan perintah tersebut. Lalu mengapa ketika itu atap rumah tidak runtuh menimpa kami? Mengapa matahari dan bulan tidak berhenti bergerak? Hari ini, umat telah berbaiat kepada seseorang yang menyelesaikan perselisihan, memperbaiki penyimpangan, dan menata berbagai urusan. Ia telah mengenakan pakaian perang demi menegakkan keadilan. Dan kesetiaan seseorang yang mengkhianati janjinya tidaklah sama dengan kesetiaan orang yang benar-benar setia.”
Setelah percakapan tersebut, Aisyah kembali ke Makkah. Ia berhenti di dekat Masjidilharam dan menuju Hajar Aswad. Ketika masyarakat berkumpul mengelilinginya, ia berseru dengan suara lantang: “Wahai manusia! Utsman telah dibunuh secara zalim. Demi Allah, aku akan menuntut balas atas darahnya.” [2]
Pergerakan Kelompok Penentang
Para penentang kekhalifahan Amirul Mukminin As berkumpul di sekitar Aisyah dan mempertimbangkan berbagai pilihan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk berangkat menuju Basrah guna menghadapi beliau.
Para penentang Amirul Mukminin As berkumpul di tempat Aisyah dan bermusyawarah mengenai persoalan tersebut.
Sebagian mengusulkan: “Mari kita pergi ke Madinah dan berperang melawan Amirul Mukminin As.”
Sebagian lainnya mengatakan: “Kalian tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi penduduk Madinah.”
Usulan berikutnya adalah bergerak menuju Syam. Alasannya, di sana tersedia pasukan dan sumber keuangan yang memadai. Selain itu, masyarakat Syam merupakan pendukung Utsman.
Mereka mengatakan: “Kita akan menuntut pembalasan atas darah Utsman. Untuk itu, kita akan menemukan para sahabat, pendukung, dan orang-orang yang bersedia bergabung dengan kita.”
Namun, seseorang di antara mereka berkata: “Muawiyah berada di sana. Ia adalah penguasa Syam dan masyarakat menaatinya.
Kalian tidak akan mencapai tujuan kalian, karena ia lebih berhak menuntut pembalasan darah Utsman daripada kalian, sebab ia adalah sepupu Utsman.”
Akhirnya, sekelompok orang mengusulkan agar mereka pergi ke Irak. Alasan mereka adalah bahwa Thalhah memiliki pengikut dan pendukung di Kufah, sedangkan Zubair memiliki popularitas di Basrah dan terdapat orang-orang yang berpihak kepadanya. Pada akhirnya, mereka semua sepakat bergerak menuju Basrah. [3]
Tuntutan Pembagian Kekuasaan
Setelah kekhalifahan Amirul Mukminin As terbentuk, Thalhah dan Zubair, yang mengharapkan memperoleh kedudukan penting berdasarkan riwayat kedudukan mereka pada masa pemerintahan Utsman, mendatangi Pemimpin Orang-Orang Bertakwa untuk menuntut bagian mereka dalam kekuasaan.
Beberapa hari setelah berbaiat, Thalhah dan Zubair menghadap Amirul Mukminin As dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin! Engkau sendiri telah melihat bagaimana kami mengalami perlakuan tidak menyenangkan dan berbagai tekanan pada masa pemerintahan Utsman. Engkau juga mengetahui bahwa dalam pemerintahannya, ia hanya memikirkan Bani Umayyah. Sekarang, ketika Allah telah menyerahkan kekhalifahan kepadamu, berikanlah kepada kami sebagian tanggung jawab dan wilayah pemerintahanmu.”
Amirul Mukminin As bersabda kepada mereka: “Terimalah dengan lapang dada apa yang telah Allah tetapkan dan bagikan kepada kalian, sampai aku mempertimbangkan persoalan ini. Ketahuilah bahwa aku hanya akan melibatkan orang-orang yang dapat kupercaya dalam urusan agama dan amanah, serta yang riwayat kehidupannya kukenal dengan baik, dalam tanggung jawab pemerintahanku.”
Keduanya merasa kecewa dengan jawaban Amirul Mukminin As. Mereka kemudian meninggalkan beliau dan memutuskan berangkat dari Madinah menuju Makkah dengan alasan hendak menunaikan umrah. [4]
Peringatan Pemimpin Orang-Orang Bertakwa
Desakan Thalhah dan Zubair untuk meninggalkan Madinah dihadapi Amirul Mukminin As dengan kejernihan pandangan dan pengetahuan beliau mengenai niat tersembunyi keduanya.
Thalhah dan Zubair mendatangi Amirul Mukminin As dan meminta izin untuk pergi ke Makkah guna menunaikan umrah.
Amirul Mukminin As bersabda: “Umrah seperti apa yang hendak kalian lakukan?”
Untuk meyakinkan Amirul Mukminin As, keduanya bersumpah bahwa mereka tidak memiliki tujuan apa pun selain menunaikan umrah.
Ia bersabda: “Sesungguhnya kalian berniat melakukan pengkhianatan dan pelanggaran janji. Kalian hendak membatalkan baiat kalian.”
Keduanya kembali bersumpah atas nama Allah bahwa mereka tidak berniat menentang beliau ataupun melanggar baiat. Mereka menegaskan bahwa tidak ada tujuan lain selain menunaikan umrah.
Amirul Mukminin As bersabda: “Jika demikian, berbaiatlah kembali kepadaku.”
Keduanya kembali berbaiat kepadanya dengan sumpah-sumpah yang paling kuat dan janji-janji yang paling teguh.
Setelah itu, Pemimpin Orang-Orang Bertakwa mengizinkan mereka berangkat. Ketika keduanya telah meninggalkan tempat Amirul Mukminin As, beliau bersabda kepada orang-orang yang hadir:
“Demi Allah, kalian tidak akan melihat mereka lagi kecuali dalam fitnah yang menyebabkan mereka bangkit untuk berperang dan menumpahkan darah.”
Orang-orang yang hadir bertanya: “Wahai Amirul Mukminin As! Jika demikian, perintahkanlah agar mereka dibawa kembali ke hadapanmu.”
Ia menjawab: “Allah akan menyelesaikan suatu urusan yang memang harus terjadi.” [5]
Persiapan Fitnah
Setelah tujuan perjalanan mereka, yaitu Basrah, dipastikan, para pemimpin gerakan tersebut, yakni Bani Umayyah, Ya’la bin Munyah, Thalhah, dan Zubair, menyelesaikan rencana mereka untuk menuntut pembalasan atas darah Utsman dan melakukan konfrontasi militer.
Para tokoh dan pemimpin yang berkumpul di Makkah sepakat untuk menuntut pembalasan atas darah Utsman.
Meskipun pada awalnya Aisyah mengajak mereka bergerak menuju Madinah, mereka menolak dan bersikeras pergi ke Basrah.
Thalhah dan Zubair berkata kepada Aisyah: “Kita akan pergi ke suatu wilayah yang urusannya telah terlepas dan jatuh ke tangan Amirul Mukminin As. Ali telah memaksa kami untuk berbaiat, dan sekarang ia menggunakan baiat itu sebagai hujah untuk menentang kami. Selama engkau tidak keluar dan mengambil sikap tegas sebagaimana yang telah engkau umumkan di Makkah, mereka tidak akan menghentikan tindakan mereka terhadap kami.”
Setelah percakapan tersebut, seorang penyeru mengumumkan bahwa Aisyah bermaksud berangkat menuju Basrah.
Sebuah rombongan yang terdiri atas sekitar enam ratus ekor unta pun dibentuk. Pasukan yang mencakup orang-orang Arab Badui dan para budak yang telah bersiap memberikan bantuan kemudian bergerak.
Aisyah juga mengirimkan pesan kepada Hafshah. Hafshah memutuskan untuk ikut bersama mereka, tetapi Abdullah bin Umar mencegahnya sehingga ia tetap tinggal di Makkah.
Dengan demikian, Aisyah berangkat bersama Thalhah dan Zubair. Aisyah telah menunjuk Abdurrahman bin Attab sebagai orang yang bertanggung jawab memimpin salat.
Marwan dan anggota Bani Umayyah lainnya juga bergerak bersama pasukan yang terdiri atas enam ratus penunggang kuda. [6]
Keraguan Aisyah
Rombongan Thalhah, Zubair, dan Aisyah bergerak bersama para pengikut mereka. Di tengah perjalanan, ketika mereka tiba di suatu tempat tertentu, Aisyah teringat sebuah peringatan lama dari Nabi Saw yang membuatnya memutuskan untuk kembali. Namun, orang-orang di sekitarnya menghalangi keputusan tersebut.
Thalhah, Zubair, dan Aisyah berangkat bersama orang-orang yang telah berkumpul di sekitar mereka. Jumlah keseluruhan pasukan mereka mencapai tiga ribu orang, dengan sembilan ratus orang di antaranya berasal dari Madinah dan Makkah.
Dalam perjalanan, Aisyah mendengar suara gonggongan anjing.
Ia bertanya kepada orang-orang yang menyertainya: “Apa nama sumber air yang berada di dekat kita ini?”
Mereka menjawab: “Tempat ini adalah Hau’ab.”
Mendengar nama tersebut, Aisyah menjadi gelisah dan berkata:
“إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ”
“Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.”
“Kembalikan aku! Kembalikan aku! Sebab aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda di hadapan istri-istri beliau: Salah seorang di antara kalian akan digonggongi oleh anjing-anjing Hau’ab.”
Aisyah teringat peringatan Nabi Saw dan memutuskan untuk kembali dari tempat tersebut.
Namun, ketika itu Abdullah bin Zubair mendatanginya dan berkata: “Orang yang mengatakan bahwa sumber air ini adalah Hau’ab telah berdusta.”
Untuk meyakinkan Aisyah, ia menghadirkan lima puluh orang dari keluarga Bani Amir. Mereka bersumpah dan memberikan kesaksian bahwa perkataan Abdullah bin Zubair benar dan tempat tersebut bukanlah Hau’ab. [7]
Nubuat Nabi Terakhir
Nubuat Nabi Muhammad Saw mengenai gonggongan anjing-anjing Hau’ab terhadap salah seorang istri beliau ketika berangkat untuk berperang melawan Amirul Mukminin As merupakan salah satu fakta sejarah penting yang berkaitan dengan munculnya kesaksian palsu pertama dalam Islam.
Imam Shadiq As bersabda: “Kesaksian palsu pertama dalam Islam adalah kesaksian tujuh puluh orang laki-laki.
Ketika pasukan Aisyah tiba di suatu wilayah yang disebut sumber air Hau’ab, anjing-anjing di tempat itu menggonggong kepada mereka.
Aisyah yang mendengar suara gonggongan tersebut ingin kembali dan berkata: ‘Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda kepada istri-istri beliau: Salah seorang di antara kalian akan digonggongi oleh anjing-anjing Hau’ab ketika ia bergerak untuk berperang melawan penerusku, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As.’
Kemudian tujuh puluh orang laki-laki memberikan kesaksian kepada perempuan tersebut bahwa tempat itu bukanlah sumber air Hau’ab. Itulah kesaksian pertama dalam Islam yang diberikan berdasarkan kebohongan.” [8]
Catatan Kaki:
[1] Al-Futuh, karya Ibnu A’tsam, jilid 2, halaman 437; Bihar al-Anwar, jilid 32, halaman 142.
[2] Tarikh ath-Thabari, jilid 4, halaman 458.
[3] Ansab al-Asyraf, jilid 2, halaman 221.
[4] Syarh Nahj al-Balaghah, jilid 1, halaman 231.
[5] Syarh Nahj al-Balaghah, jilid 1, halaman 232.
[6] Tarikh ath-Thabari, jilid 4, halaman 454.
[7] Ansab al-Asyraf, jilid 2, halaman 224.
[8] Itsbat al-Hudah, jilid 1, halaman 278.