Most searched:

Adab Ziarah kepada Amirul Mukminin Ali (as)

Adab Ziarah kepada Amirul Mukminin Ali (as)

Ziarah kepada pemimpin orang-orang bertakwa di Najaf Al-Ashraf merupakan salah satu anugerah spiritual yang paling berharga bagi kaum Muslim dan pda umumnya dan Syiah khususnya. Terdapat banyak riwayat yang menjelaskan tentang keutamaan ziarah serta adab-adabnya, termasuk membaca doa di dalam makam suci Alawi.

«Ibnu Mashhadi» meriwayatkan dari Imam Ja‘far Shadiq (as) bahwa ketika beliau bersama «Safwan al-Jammal» tiba di Najaf dan di makam suci Amirul Mukminin (as), beliau membimbingnya tentang adab ziarah dan bersabda:

“Langkahkan kakimu dengan pendek dan tundukkan kepalamu ke arah tanah; karena pada setiap langkah yang engkau ambil, akan dituliskan bagimu seratus ribu kebaikan, dihapus darimu seribu dosa, diangkat bagimu seratus ribu derajat, dipenuhi seratus ribu hajatmu, dan dituliskan bagimu pahala seluruh orang-orang yang jujur (shiddiqin) dan para syuhada yang telah wafat atau gugur syahid.”

Kemudian Imam Shadiq (as) berdiri di sisi makam dan mengucapkan salam:

“Salam atasmu, wahai washi yang saleh dan bertakwa. Salam atasmu, wahai kabar agung dari Allah…”

Kemudian, di sisi kepala suci Amirul Mukminin (as), beliau menunaikan beberapa rakaat salat dan bersabda:

“Wahai Safwan! Barang siapa menziarahi Amirul Mukminin (as) dengan ziarah ini dan salat ini, ia akan kembali kepada keluarganya dalam keadaan dosa-dosanya telah diampuni, amal-amalnya diterima, dan dituliskan baginya pahala seluruh malaikat yang datang menziarahi beliau.”

Safwan kemudian bertanya tentang jumlah malaikat yang berziarah. Imam menjawab: “Setiap malam, tujuh puluh kabilah malaikat datang menziarahinya, dan setiap kabilah terdiri dari seratus ribu malaikat.”

Kemudian Imam Shadiq (as) menjauh dari makam, sementara wajahnya tetap menghadap ke arah pusara tersebut.

 

Ziarah “Aminullah”; sebuah pancaran yang terang dari kecintaan dan kesetiaan kepada Amirul Mukminin (as).

Berdasarkan riwayat, ziarah mutlak yang paling masyhur untuk Amirul Mukminin Ali (as) adalah ziarah mulia “Aminullah”.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa «Ibnu Mashhadi» dengan sanadnya meriwayatkan dari «Saif bin ‘Umayrah» bahwa setelah perjalanan Imam Shadiq (as), kami bersama «Safwan bin Mihran al-Jammal» dan sekelompok sahabat kami pergi ke Najaf. Kami terlebih dahulu menziarahi Amirul Mukminin (as). Ketika ziarah telah selesai, Safwan menghadap ke arah makam Imam Shadiq (as) dan berkata:

“Dari tempat ini, di sisi kepala suci Amirul Mukminin (as), kita juga menziarahi Husain bin Ali (as).”

Kemudian ia berkata: “Aku datang bersama tuanku, Imam Ja‘far Shadiq (as), dan beliau melakukan hal yang sama, membaca doa ini, lalu setelah salat dan berpamitan, beliau bersabda kepadaku:

‘Wahai Safwan! Berpegang teguhlah pada ziarah ini dan bacalah doa ini, serta ingatlah aku dan ayahku dengan ziarah ini. Aku menjamin dari sisi Allah bahwa siapa pun yang membaca ziarah dan doa ini, baik dari dekat maupun dari jauh, maka ziarahnya akan diterima, usahanya akan disyukuri, salamnya akan disampaikan, dan hajatnya akan dipenuhi; apa pun itu, Allah akan mengabulkannya.’”

 

Ziarah ini termasuk di antara ziarah mutlak yang Imam Shadiq (as) anjurkan kepada Safwan untuk senantiasa diamalkan. Awal ziarah tersebut adalah sebagai berikut:

“Salam atasmu wahai Rasul Allah, salam atasmu wahai pilihan Allah, salam atasmu wahai orang kepercayaan Allah, salam atas orang yang telah dipilih, dikhususkan, dan diutamakan oleh Allah dari seluruh makhluk-Nya.” «السلام علیک یا رسول‌الله، السلام علیک یا صفوة‌ الله، السلام علیک یا أمین الله، السلام علی من اصطفاه الله و اختصه و اختاره من بریته.»

Mengenai ziarah Aminullah, «Ibnu Qulawayh al-Qummi» meriwayatkan dengan sanad yang Mutabar bahwa Imam Sajjad (as), ketika menziarahi makam suci Amirul Mukminin (as), berdiri di sisi kubur, menangis, dan bersabda:

“Salam atasmu, wahai Amirul Mukminin, semoga rahmat dan keberkahan Allah tercurah atasmu. Salam atasmu, wahai kepercayaan Allah di bumi dan hujjah-Nya atas para hamba-Nya. Aku bersaksi bahwa engkau telah berjihad di jalan Allah, menegakkan Kitab-Nya, dan mengikuti sunnah Nabi-Nya, hingga Allah memanggilmu kembali kepada-Nya dan mencabut ruhmu dengan kehendak-Nya. Dengan kesyahidanmu, Allah telah menegakkan hujjah atas musuh-musuhmu, sementara engkau memiliki hujjah-hujjah yang nyata atas seluruh makhluk Allah.”

 

Imam Muhammad al-Baqir (as) dalam menjelaskan pahala ziarah ini bersabda:

“Tidak seorang pun dari kalangan Syiah kami yang membaca ziarah ini di sisi makam Amirul Mukminin (as) atau di makam salah satu dari para Imam (alaihimus salam), melainkan doanya akan dituliskan dalam sebuah lembaran dari cahaya, dimeteraikan dengan stempel Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa alihi), dan diserahkan ke tangan al-Qa’im (ajjalallahu ta‘ala farajahu asy-syarif). Pada saat kemunculannya, dengan izin Allah Yang Mahatinggi, beliau akan mengembalikan lembaran itu kepada pemiliknya, lalu menyambutnya dengan kabar gembira, salam, dan kemuliaan dari Allah.”

Demikian pula doa yang dikenal sebagai “Doa ‘Alqamah”, yang diriwayatkan oleh ‘Alqamah bin Muhammad al-Hadrami dari Imam Muhammad al-Baqir (as), dianjurkan untuk dibaca pada hari ‘Asyura. Permulaannya adalah sebagai berikut:

یا الله، یا الله، یا الله، یا مجیب دعوة المضطرین، یا کاشف کرب المکروبین، یا غیاث المستغیثین، یا صریخ المستصرخین

 

Ziarah Amirul Mukminin (as) pada Hari Ghadir

Selain itu, pada kesempatan-kesempatan tertentu, terdapat ziarah khusus untuk Amirul Mukminin (as), termasuk ziarah pada hari Ghadir. Syaikh Thusi meriwayatkan dengan sanadnya dari «Ahmad bin Muhammad bin Abi Nasr» bahwa kami berada di sisi Imam Ridha (as) dan membicarakan mengenai hari Ghadir. Beberapa orang ada yang menolaknya.

Imam Ridha (as) bersabda:

“Ayahku meriwayatkan kepadaku bahwa hari Ghadir lebih terkenal di langit daripada di bumi… Wahai putra Abi Nasr! Dimanapun engkau berada pada hari Ghadir, hadirilah di sisi Amirul Mukminin (as); karena Allah pada hari ini mengampuni dosa-dosa enam puluh tahun bagi setiap laki-laki dan perempuan mukmin, serta setiap laki-laki dan perempuan Muslim, dan membebaskan mereka dari neraka sebanyak dua kali lipat dari apa yang dibebaskan pada bulan Ramadhan, malam Qadr, dan malam Idul Fitri. Setiap dirham yang engkau infakkan pada hari ini untuk saudara seimanmu, nilainya setara dengan seribu dirham. Maka pada hari ini, berbuat baiklah kepada saudara-saudaramu dan gembirakan setiap laki-laki dan perempuan mukmin.”

Sumber:
Diambil dari buku “Tarikh al-Maqrad al-‘Alawi al-Mutahhar”.

Adab Ziarah kepada Amirul Mukminin Ali (as)
Adab Ziarah kepada Amirul Mukminin Ali (as)

Pentingnya dan Keutamaan Ziarah ke Makam Suci Amirul Mukminin (as)

Kota Najaf memiliki kedudukan istimewa karena menjadi tempat persemayaman jasad suci Amirul Mukminin (as), dan senantiasa menjadi tujuan para pecinta dan peziarah. Haram suci ini dikenal bagi kaum mukmin sebagai tempat yang menenangkan hati yang gelisah, menyembuhkan orang sakit, dan menjadi sarana terkabulnya hajat-hajat.

Dalam banyak riwayat dari Ahlul Bait, keutamaan ziarah kepada Amirul Mukminin (as) dibandingkan dengan ibadah besar seperti haji dan umrah. Ziarah ke makam suci ini tidak hanya mendatangkan pertumbuhan spiritual di dunia, tetapi juga membawa banyak faedah di hari kiamat.

Syaikh Abbas Qummi, berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih, menjelaskan bahwa makam Amirul Mukminin (as) beserta makam putra-putra sucinya merupakan tempat perlindungan bagi orang-orang yang takut dan putus asa, serta sumber keamanan bagi penduduk bumi. Dalam riwayat-riwayat tersebut disebutkan bahwa tidak seorang pun yang datang ke makam-makam mulia ini dengan hati yang sedih atau tubuh yang sakit, melainkan akan mendapatkan hajatnya. Selain itu, Ahlul Bait (alaihimus salam) menekankan pentingnya berziarah, merawat, dan hadir di makam-makam ini, dan meninggalkan ziarah dianggap sebagai bentuk pengingkaran terhadap mereka.

 

Keutamaan Ziarah Makam Ahlul Bait (alaihimus salam) dalam Sabda Nabi Muhhammad ﷺ

Syaikh Thusi meriwayatkan dari sanad Abu ‘Amir al-Saji bahwa Imam Shadiq (as) bersabda:

“Nabi Muhammad ﷺ memberitahukan kepada Amirul Mukminin (as) bahwa beliau akan syahid di tanah Irak dan akan dikuburkan di sana.”

 

Kemudian beliau bersabda:

“Allah menjadikan makammu dan makam putra-putra sucimu sebagai sepotong surga, dan hati-hati hamba-hamba pilihan-Nya tertarik kepadanya. Mereka, meski menghadapi kesulitan, tetap menziarahi dan merawat makam-makam kalian, dan di hari kiamat akan mendapatkan syafaatku. Ziarah dan kesetiaan kepada makam-makam ini pahalanya setara dengan tujuh puluh haji dan menjadi sebab pengampunan dosa-dosa.”

 

Selanjutnya, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Hanya orang-orang yang jujur dari umatku yang akan menziarahi Husain (as), ayahnya, dan saudaranya.”

 

Selain itu, Imam Ridha (as) menekankan:

“Bagi setiap Syiah dan pecinta Ahlul Bait, terdapat sebuah ikatan yang wajib dijaga; dan tanda kesetiaan terhadap ikatan ini adalah menziarahi makam para Imam. Barang siapa pergi menziarahi mereka dengan iman dan kerinduan, di hari kiamat ia akan mendapatkan syafaat dari mereka.”

 

Nabi Muhammad ﷺ bersabda dalam kesempatan lain:

“Barang siapa menziarahi aku atau Ali, baik semasa hidup maupun setelah wafat, atau menziarahi putra-putraku, Hasan dan Husain, aku menjamin di hari kiamat bahwa aku akan menyelamatkannya dari kesulitan dan menempatkannya di sisiku di surga.”

 

Selain itu, Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa menziarahi Amirul Mukminin (as) setelah wafatnya, surga adalah untuknya.”

 

Kebanggaan bumi dan langit, Muhammad al-Mustafa ﷺ, juga bersabda mengenai peziarah pemimpin orang-orang bertakwa:

“Barang siapa menziarahi Ali dengan mengenal martabat dan haknya, serta tanpa kesombongan dan takabur, Allah akan menuliskan baginya pahala seratus ribu syuhada, mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang, menempatkannya di antara orang-orang yang aman pada hari kiamat, mempermudah perhitungan amalannya, dan malaikat menyambutnya. Ketika ia kembali ke rumahnya, jika sakit, para Syiahnya akan menjenguknya; dan jika wafat, mereka akan mengiringinya ke kubur dengan doa dan permohonan ampun.”

 

Kedudukan Ziarah kepada Amirul Mukminin (as) dalam Pandangan Imam Shadiq (as)

Dalam hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Al-Kulaini, Imam Shadiq (as) menekankan pentingnya menziarahi makam suci Amirul Mukminin (as). Beliau bersabda kepada Yunus bin Wahb:

“Engkau telah melakukan perbuatan tercela karena tidak menziarahi Amirul Mukminin (as); karena beliau diziarahi oleh Allah, para malaikat, para nabi, dan orang-orang mukmin. Amirul Mukminin (as) di sisi Allah lebih utama daripada seluruh Imam lainnya dan memiliki pahala seluruh amal mereka.”

Dalam hadis lain, Imam Shadiq (as) memberikan peringatan:

“Barang siapa meninggalkan ziarah Amirul Mukminin (as), ia tidak akan mendapatkan perhatian dari Allah. Sesungguhnya, ziarah ke Najaf adalah ziarah Imam yang paling utama, yang melebihi semua Imam lainnya, dan pahalanya setara dengan seluruh amal mereka.”

Dalam riwayat lain, Imam Shadiq (as) bersabda kepada Mufazal bin Umar:

 

“Ziarah ke Najaf sesungguhnya adalah ziarah terhadap jasad suci Amirul Mukminin (as), tulang-belulang Nabi Adam (as), dan jasad Nabi Nuh (as); karena Allah memerintahkan Nuh (as) untuk menguburkan peti yang berisi tulang-belulang Nabi Adam (as) di tanah Najaf setelah banjir. Najaf adalah tanah yang suci; tempat di mana Allah berbicara dengan Musa (as), mengagungkan Isa (as), memilih Ibrahim (as) untuk persahabatan-Nya, dan menjadikan Nabi Muhammad ﷺ tercinta di dalamnya.”

Oleh karena itu, peziarah Najaf sesungguhnya menziarahi para nabi besar Allah, Nabi Penutup, dan Sayyid al-Washiyyin, dan doanya akan sampai ke langit.

Allamah Majlisi menjelaskan hadis-hadis ini dengan mengatakan:

“Maksud dari bahwa Amirul Mukminin (as) adalah yang paling utama setelah Nabi Adam dan Nabi Nuh yang dikuburkan di tanah itu, adalah menunjukkan kedudukannya yang unggul. Dan menurut riwayat, para Imam (alaihimus salam) — selain Nabi Muhammad ﷺ — lebih utama daripada seluruh nabi-nabi.”

 

Keutamaan Kota Kufah dan Najaf

 

Dalam riwayat-riwayat dari Imam al-Baqir dan Imam Shadiq (alaihimus salam) disebutkan bahwa wilayah Ahlul Bait (alaihimus salam) ditawarkan kepada seluruh kota, namun tidak ada kota yang menerimanya sebagaimana Kufah; keunggulan kota ini terletak pada keberadaan makam suci Amirul Mukminin (as) di dalamnya. Kedua Imam besar ini juga menekankan bahwa di sisi makam mulia ini, setiap orang yang bersedih atau tertimpa kesulitan, jika menunaikan dua atau empat rakaat salat dan memohon hajat kepada Allah, pasti akan terkabul dan kesedihannya akan terangkat, karena setiap hari ribuan malaikat hadir di sekitar makam suci ini.

Imam Shadiq (as) dalam riwayat lain bersabda:

“Wilayah kami adalah wilayah Ilahi yang dengannya seluruh para nabi diutus. Wilayah ini ditawarkan kepada langit, bumi, gunung, dan kota-kota, namun penerimaan terbanyak terdapat di Kufah. Di dekat kota ini terdapat sebuah makam; makam Amirul Mukminin (as), di mana setiap orang yang bersedih dan memohon perlindungan, Allah akan menghapus kesedihannya dan mengabulkan hajatnya.”

Imam Shadiq (as) bersabda:

“Di belakang kota Kufah (Najaf) terdapat sebuah makam; siapa pun yang sakit atau tertimpa kesulitan dan memohon perlindungan di sana, Allah akan menyembuhkannya.”

Pahala Ziarah Nabi Penutup dan Para Imam Suci (alaihimus salam)

«Muhammad bin Ja‘far Mashhadi», yang dikenal sebagai Ibnu Mashhadi, meriwayatkan dengan sanadnya dari «Ishaq bin ‘Ammar» bahwa dalam sebuah hadis dari Imam Ja‘far Shadiq (as) disebutkan:

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa menziarahi Amirul Mukminin (as), ia seakan menziarahi aku; dan barang siapa mencintainya, ia mencintaiku; dan barang siapa memusuhinya, ia memusuhiku. Sampaikan pesan ini kepada umatmu. Barang siapa datang untuk menziarahi Amirul Mukminin (as), sesungguhnya ia datang kepadaku, dan aku akan memberikan pahala baginya di hari kiamat, disertai Jibril dan orang-orang mukmin yang saleh.”

 

«Ibnu Qulawayh al-Qummi» meriwayatkan dengan sanadnya dari «Mu‘alli bin Abi Shahab» dari Imam Ja‘far Shadiq (as):

“Imam Hasan (as) bertanya kepada Rasulullah ﷺ: ‘Wahai Ayah, apakah pahala bagi orang yang menziarahi engkau?’ Beliau menjawab: ‘Anakku, barang siapa menziarahiku, baik semasa hidup maupun setelah wafatku, atau menziarahi ayahmu, maka Allah Yang Maha Agung menjamin bahwa di hari kiamat ia akan menziarahiku dan dosanya akan diampuni.’”

 

Syaikh Thusi meriwayatkan dengan sanadnya dari «Ali bin Syaib», dari Imam Ja‘far Shadiq (as):

“Suatu hari Imam Husain (as) duduk di pangkuan Nabi Muhammad ﷺ. Tiba-tiba ia mengangkat kepalanya dan berkata: ‘Wahai Ayahku!’ Nabi Penutup ﷺ menjawab: ‘Nyawaku untukmu, wahai anakku, apa yang engkau inginkan?’ Imam Husain (as) bertanya: ‘Apa pahala bagi orang yang datang menziarahi Engkau setelah wafat, dengan niat semata-mata untuk menziarahi Engkau?’ Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Wahai anakku, barang siapa datang menziarahiku setelah wafatku dengan niat itu semata-mata, surga adalah untuknya. Barang siapa datang menziarahi ayahmu, Amirul Mukminin (as) setelah wafatnya, surga adalah untuknya. Barang siapa menziarahi saudaramu, Hasan (as), setelah wafatnya, surga adalah untuknya. Dan barang siapa menziarahi engkau setelah wafat, surga juga untuknya.’”

 

Imam Ridha (as) dalam sebuah hadis mengenai keutamaan ziarah kepada Amirul Mukminin (as) bersabda: “Imam Husain (as) syahid karena banyak kezhaliman dan musibah, dan menziarahi Imam Husain (as) dapat menghilangkan kesedihan dan duka bagi peziarah. Namun, keutamaan ziarah kepada Amirul Mukminin (as) dibandingkan dengan ziarah Imam Husain (as) sama seperti keutamaan Amirul Mukminin (as) atas Imam Husain (as).”

 

Pahala Ziarah Pemimpin Orang-orang Bertakwa dalam Sabda Imam Shadiq (as)

 

Dalam sebuah hadis lain, Imam Shadiq (as) menjawab Ibnu Mard: “Barang siapa menziarahi kakekku, Amirul Mukminin (as), dengan mengenal haknya, Allah menuliskan baginya pahala setiap langkah sebagai satu haji yang diterima dan satu umrah yang baik. Demi Allah, tidak ada satu pun kaki yang terkena debu di jalan ziarah Amirul Mukminin (as), baik berjalan kaki maupun menunggang, yang akan masuk neraka. Wahai Ibnu Mard! Hadis ini pantas ditulis dengan tinta emas

 

Dalam riwayat lain, Imam Shadiq (as) bersabda kepada Abdullah bin Talhah:

“Apakah engkau menziarahi makam Imam Husain (as)?” Abdullah menjawab: “Ya.” Imam bertanya: “Setiap minggu?” Abdullah menjawab: “Tidak.” Imam bertanya lagi: “Setiap bulan?” Abdullah menjawab: “Tidak.” Imam bersabda:

“Betapa jarangnya engkau menziarahinya! Ziarah Imam Husain (as) pahalanya setara dengan satu haji dan satu umrah, sedangkan ziarah Amirul Mukminin (as) pahalanya setara dengan dua haji dan dua umrah.”

 

Syaikh Thusi dalam kitab “Amali” meriwayatkan dengan sanadnya dari «Muhammad bin Muslim», dari Imam Ja‘far Shadiq (as):

“Allah tidak menciptakan makhluk yang lebih banyak dari malaikat. Setiap hari, tujuh puluh ribu malaikat turun. Pertama, mereka pergi ke Baitul Ma‘mur dan mengelilinginya. Kemudian mereka turun dan mengelilingi Ka’bah. Setelah itu, mereka menuju makam Nabi Muhammad ﷺ dan memberikan salam kepadanya. Kemudian mereka datang ke makam Amirul Mukminin (as) dan memberikan salam. Selanjutnya, mereka pergi ke makam Husain (as) dan memberikan salam, kemudian kembali ke langit. Demikianlah mereka terus-menerus melaksanakan ini hingga hari kiamat.”

Sumber:
Diambil dari buku “Tarikh al-Maqrad al-‘Alawi al-Mutahhar”.

Adab Ziarah kepada Amirul Mukminin Ali (as)
Adab Ziarah kepada Amirul Mukminin Ali (as)

Jangan Takut! Aku Akan Menjagamu

Di tengah perintah mengerikan untuk membantai penduduk Najaf oleh Sultan Murad dari Kesultanan Utsmaniyah, seorang lelaki bernama Mulla Haji Muhammad melarikan diri dari kota demi menyelamatkan nyawanya. Namun, sebuah mimpi yang benar dan pertemuan dengan Amirul Mukminin (as) dalam alam tidur mengubah nasibnya dan seluruh penduduk kota.

Kisah ini merupakan sebuah riwayat tentang karamah yang nyata dan perlindungan yang diperoleh dengan berpaling kepada hadirat suci Ali, bahkan di salah satu momen tersulit dalam sejarah Najaf.

 

Dalam kitab “Dar as-Salam fi ma yata‘allaq bi ar-Ru’ya wa al-Manam” disebutkan:

“Ketika Sultan Murad (Murad IV, Sultan Utsmaniyah) menyerbu Irak untuk menaklukkan Baghdad, selama penyerangan ini beliau mengeluarkan perintah untuk membantai penduduk Najaf al-Ashraf. Seorang lelaki bernama Mulla Haji Muhammad, seorang qari, bersama kelompoknya, karena takut dibunuh, melarikan diri dari kota Najaf.”

Ketika mereka tiba di wilayah Khurnaq (sebuah daerah dekat kota Najaf di Irak), mereka beristirahat di sana. Malam harinya, sang qari bermimpi bahwa ia berada di ruang suci haram Ali, di mana Amirul Mukminin Ali (as) keluar dari makam suci, duduk di atas kursi, memberikan nasehat kepada orang-orang, dan menanyakan keadaan mereka.

Mulla Haji Muhammad menceritakan: Beliau menanyakan keadaan setiap orang, “Si Fulan di mana? Si Fulan di mana?” hingga sampai pada namaku. Mereka memberitahu bahwa aku telah meninggalkan kota Najaf. Kemudian beliau datang kepadaku dan bertanya: “Ke mana engkau hendak pergi?”

Aku menjawab: “Tuan, Engkau tahu bahwa Sultan Utsmaniyah telah memerintahkan pembantaian, maka menjaga nyawa adalah wajib, itulah sebabnya aku meninggalkan kota.”

Beliau bersabda: “Jangan takut! Aku akan menjagamu.” Lalu Beliau meraih tanganku dan berkata: “Kembalilah ke Najaf.”

Aku terbangun dan menceritakan mimpiku kepada teman-temanku. Mereka berkata: “Itu hanya mimpi, jangan terlalu mempercayainya.”

Tiba-tiba, terdengar suara dari arah gurun yang memanggil namaku dan nama teman-temanku. Aku keluar dan bertanya: “Apakah kalian mencari aku?” Mereka menjawab: “Kami mencari Mulla Haji Muhammad dan teman-temannya.” Aku berkata: “Aku Mulla Haji Muhammad.”

Di antara kelompok yang mengikuti kami ada seorang bernama Mulla Mirza Beg Savuji yang bertanya: “Ke mana kalian hendak pergi?” Aku menceritakan apa yang terjadi padanya. Dia berkata: “Amirul Mukminin (as) akan melindungimu.” Aku sangat terharu dan menangis. Dia bertanya mengapa aku menangis, lalu aku menceritakan mimpiku kepadanya.

Kemudian aku kembali bersama dia ke Najaf al-Ashraf. Keesokan paginya, terdengar kabar bahwa perintah pembantaian penduduk Najaf telah dibatalkan.

Sumber:
Dar as-Salam fi ma yata‘allaq bi ar-Ru’ya wa al-Manam, Jilid 2, hlm. 70.

 

Seorang Nenek Salehah yang Mendapat Kesembuhan melalui Tawassul dan Harapan

Ini adalah sebuah riwayat yang terdokumentasi mengenai salah satukaramah Amirul Mukminin Ali (as) pada tahun 1272 H. Kisah ini menceritakan keadaan seorang nenek salehah bernama Maryam, yang selama dua tahun kehilangan kemampuan untuk bergerak akibat penyakit parah.

 

Allamah Majlisi dalam membahas mukjizat Amirul Mukminin Ali (as) menulis:

“Berita mengenai karamah beliau telah banyak diriwayatkan, bahkan para penyair menuliskannya dalam bentuk syair, dan beberapa karamahnya menjadi terkenal, seperti kisah Rad al-Shams (mengembalikan matahari). Namun salah satu karamah ini terjadi pada tahun 1272 H.

Aku mendengar dari sumber-sumber terpercaya bahwa seorang nenek bernama Maryam tinggal di Ghari[1], yang dikenal karena ibadah dan takwa beliau. Ia jatuh sakit parah, dan penyakitnya berlangsung begitu lama hingga ia tidak dapat berjalan, selama kurang lebih dua tahun. Keadaan penyakitnya sampai terkenal di seluruh kota Ghari.”

Ketika bulan Rajab tiba, nenek tersebut berdoa di hadapan Allah selama sembilan malam pada bulan yang mulia ini, memohon pertolongan dari Pemimpin kami, Amirul Mukminin Ali (as), dan mengadukan keadaan penyakitnya kepada beliau.

Dalam tidurnya, ia bermimpi didatangi oleh tiga wanita, salah satunya memiliki wajah bercahaya dan bersih seperti bulan purnama pada malam keempat belas. Wanita-wanita itu berkata kepadanya: “Jangan takut dan jangan bersedih, karena sakitmu akan sembuh pada malam kedua belas bulan suci ini.”

Ketika terbangun, ia sangat gembira dan menceritakan mimpi benarannya kepada orang-orang di sekitarnya. Ia menantikan malam kedua belas bulan Rajab, tetapi pada malam itu tidak terjadi apa-apa.

Kemudian ia menantikan malam kedua belas bulan Sya‘ban, namun sekali lagi, tidak ada yang terjadi.

Hingga pada malam kesembilan bulan suci Ramadhan, ia kembali bermimpi didatangi oleh ketiga wanita yang sama, yang memberikan kabar gembira kepadanya. Mereka berkata:

“Ketika malam kedua belas bulan ini tiba, pergilah ke Haram Amirul Mukminin Ali (as) dan bawalah ketiga wanita ini bersamamu.”

(Nama ketiga wanita tersebut telah diberitahukan kepada nenek itu, dan hingga penulisan buku ini, mereka masih hidup.)

Setelah terbangun, ia menceritakan mimpinya dan merasa sangat gembira serta penuh harapan. Ketika malam itu tiba, ia meminta agar tubuhnya dibersihkan dan dipakaikan pakaian suci, lalu memberitahukan hal ini kepada ketiga wanita tersebut.

Karena nenek itu tidak mampu berjalan sendiri, ia dibawa bersama ketiga wanita ke Haram Amirul Mukminin Ali (as).

Ketika kira-kira sepertiga malam telah berlalu, salah seorang wanita meminta izin dan pergi, meninggalkannya bersama dua wanita lainnya. Semua orang yang berada di Haram telah meninggalkan tempat itu, pintu ditutup, dan hanya ketiga wanita itu yang tetap berada di serambi suci bersama nenek tersebut.

Saat menjelang sahur, kedua wanita yang menemaninya hendak bersantap sahur. Mereka menempatkan nenek itu di dekat jendela makam menghadap kiblat, kemudian pergi ke serambi lain dan menutup pintu.

 

Ketika mereka kembali, mereka tidak menemukan nenek itu di tempat semula. Mereka menjadi cemas dan mencarinya ke sana kemari, hingga akhirnya menemukan nenek itu sedang berjalan dengan sehat dan sempurna!

Mereka bertanya kepada nenek itu apa yang telah terjadi.

Ia berkata: “Ketika kalian pergi, wanita-wanita yang kuceritakan dalam mimpi datang, mengangkatku, dan membawaku masuk ke dalam Haram. Aku tidak tahu bagaimana aku masuk dan dari mana aku masuk!

Ketika aku mendekati makam suci, terdengar suara dari makam yang berkata: ‘Gerakkan wanita salehah ini dan putar dia tiga kali.’ Mereka pun memutarkanku tiga kali mengelilingi makam.

Kemudian terdengar suara lain yang berkata: ‘Bawalah wanita salehah ini keluar dari pintu Rahmat.’ Mereka membawaku keluar melalui sisi barat, di belakang para orang-orang yang sedang melaksanakan shalat dan di dekat pintu. Sebelumnya, pintu ini tidak dikenal dengan nama itu.

Sekarang aku tidak merasakan sakit atau kelemahan sedikit pun, dan aku sepenuhnya sehat dan kuat.”

Mawlana Muhammad Tahir[2] (yang pada saat itu menjadi pengurus Haram) dan banyak orang saleh yang hadir di Haram malam itu berkata:

“Di awal malam, nenek itu dibawa ke Haram dalam keadaan tidak mampu berjalan. Namun ketika nenek itu keluar dari Haram, ia sudah sehat dan dapat berjalan dengan sempurna.”

 

Catatan Kaki:
[1] Kota Najaf juga disebut Ghari, dan karena itu penduduk Najaf disebut Ghrawi.
[2] Beliau adalah bendahara Haram Imam Ali pada tahun 1072 H dan dianggap sebagai salah satu ulama terkemuka pada masanya. Kesaksiannya juga digunakan untuk mengesahkan ijtihad Mirza Imaduddin Muhammad Hakim Abi al-Khair bin Abdullah Bafqi pada tahun 1071 H.

Sheikh Yusuf Hasri, penerjemah, dalam bukunya “Nashwat as-Salafah” menata mukjizat ini, yang telah disebutkan oleh Allamah Majlisi dalam syair lebih dari seratus bait. Penulis “Nashwat as-Salafah” juga menyinggung hal ini dalam biografi Hasri.

Sumber:
Bihar al-Anwar, Jilid 97, hal. 153; Al-Yatīmah al-Gharawiyah, hal. 482.

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *