Most searched:

Akhlak

Akhlak Imam Ali as

Yang paling menonjol dari akhlak Amirul Mukminin (as)

Sifat-sifat akhlak Amirul Mukminin (as) begitu agung dan luas, sehingga mustahil untuk menggambarkannya secara utuh. Sekalipun banyak kitab ditulis tentang keluhuran akhlaknya, tetap saja tidak akan mampu menunaikan hak pembahasannya secara sempurna.

Sebagai menantu Rasulullah (saw), beliau dihiasi dengan kelembutan, amanah, kerendahan hati, dan ketawadukan—yang semua itu hanyalah setetes dari samudra kepribadian beliau yang tak bertepi. Pada bagian ini, akan dipaparkan sebagian dari sifat-sifat tersebut yang paling menonjol.

 

  1. Menantu Rasulullah (saw)
    Amirul Mukminin (as) adalah menantu Nabi termulia, penutup para rasul, Muhammad al-Musthafa (saw). Pernikahan beliau dengan Sayyidah Fatimah (salamullahi ‘alaiha) terjadi atas kehendak Allah di langit.

Dalam sebuah riwayat dari Khabbab bin al-Aratt disebutkan bahwa Allah mewahyukan kepada Jibril untuk menikahkan “cahaya dengan cahaya”. Allah menjadi wali, Jibril sebagai khatib, Mikail sebagai penyeru, Israfil sebagai pengundang, dan para malaikat langit serta bumi sebagai saksi. Kemudian Allah memerintahkan pohon Thuba untuk menebarkan permata-permatanya, dan para bidadari diperintahkan untuk mengumpulkannya.[1]

  1. Peristiwa Hadis Sadd al-Abwab (penutupan pintu-pintu)
    Salah satu keutamaan khusus Amirul Mukminin (as) adalah bahwa pintu rumah beliau tetap terbuka menuju Masjid Nabawi, sementara pintu-pintu lain ditutup.

Rasulullah (saw) bersabda dalam khutbahnya:
“Semua pintu yang mengarah ke masjid hendaklah ditutup, kecuali pintu rumah Ali (as).”

Ketika sebagian orang mempertanyakan hal itu, Nabi bersabda:
“Demi Allah, bukan aku yang menutup atau membuka, melainkan itu adalah perintah Allah dan aku hanya menaati-Nya.”[2]

  1. Memandang wajah Amirul Mukminin (as)
    Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa ia berkata:
    “Aku mendengar Rasulullah (saw) bersabda:
    ‘Memandang wajah Ali (as) adalah ibadah.’”[3]

 

  1. Kecintaan kepada Amirul Mukminin (as)
    Cinta kepada beliau adalah tanda iman, dan memusuhinya adalah tanda kemunafikan.

Rasulullah (saw) bersabda:
“Wahai Ali, mencintaimu adalah bagian dari iman dan takwa, dan memusuhimu adalah bagian dari kekufuran dan kemunafikan.”[4]

Diriwayatkan pula dari Ummu Salamah bahwa Nabi bersabda:
“Seorang munafik tidak akan mencintaimu dan seorang mukmin tidak akan membencimu.”[5]

 

  1. Mengutamakan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri
    Amirul Mukminin (as) tidak menghalangi orang lain menikmati kenikmatan dunia, meskipun beliau sendiri menjauhinya. Beliau selalu mendahulukan orang lain atas dirinya.

Imam Baqir (as) bersabda:
“Ali bin Abi Thalib (as) memberi orang lain roti gandum dan daging, sementara beliau sendiri pulang ke rumah dan memakan roti jelai dengan minyak.”

Dalam salah satu ungkapan beliau, Amirul Mukminin (as) bersabda:

“Aku melatih jiwaku dengan takwa agar ia selamat pada hari ketakutan besar (hari kiamat) dan tetap teguh di tempat-tempat yang genting.
Seandainya aku mau, aku bisa memperoleh madu murni, gandum terbaik, dan pakaian sutra. Namun jauh sekali, hawa nafsuku mengalahkanku dan keserakahan menuntunku memilih makanan lezat, sementara mungkin di Hijaz atau Yamamah ada orang yang tidak memiliki sepotong roti dan tidak pernah merasakan kenyang.
Apakah pantas aku tidur dalam keadaan kenyang sementara di sekitarku ada perut-perut lapar dan hati yang terbakar?”jangan sampai engkau menghabiskan malam dalam keadaan kenyang,
sementara di sekelilingmu ada hati-hati yang menghela napas karena lapar.

Apakah pantas aku ridha dipanggil Amirul Mukminin, sementara aku tidak turut merasakan kesulitan hidup mereka, atau tidak menjadi teladan dalam pahitnya kehidupan bagi mereka?”

 

Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin (as) pergi ke pasar penjual kain. Beliau bertemu seorang laki-laki yang kuat, lalu bersabda:
“Wahai fulan, apakah engkau memiliki dua baju seharga lima dirham?”

Laki-laki itu berdiri dan berkata: “Ya, wahai Amirul Mukminin (as).”
Ketika ia mengenali beliau, Amirul Mukminin (as) pun meninggalkan tempat itu, lalu berdiri di hadapan seorang pemuda dan bersabda:

“Apakah engkau memiliki dua baju seharga lima dirham?”

Pemuda itu menjawab: “Ya, aku punya dua baju; yang satu lebih mahal dari yang lain: satu tiga dirham dan satu dua dirham.”

Amirul Mukminin (as) bersabda:
“Ambillah yang tiga dirham itu untukmu.”

Qanbar berkata: “Wahai Amirul Mukminin (as), engkaulah yang lebih pantas memakainya, karena engkau naik mimbar dan berkhutbah kepada manusia.”

Beliau menjawab:
“Wahai Qanbar, engkau masih muda, memiliki harapan dan semangat masa muda. Aku memohon kepada Tuhanku agar menganugerahkan kepadaku pakaian yang lebih baik dari apa yang engkau kenakan.”[6]

 

  1. Menjaga amanah harta kaum Muslimin
    Amirul Mukminin (as) senantiasa menjaga harta kaum Muslimin dengan penuh kehati-hatian dan tidak pernah mengambilnya untuk kepentingan pribadi.

Diriwayatkan dari Harun bin ‘Antarah, dari ayahnya:
“Aku mendatangi Amirul Mukminin (as) di Khawarnaq, sementara beliau mengenakan pakaian wol yang sangat usang dan tidak mampu melindunginya dari dingin. Aku berkata: ‘Wahai Amirul Mukminin (as), Allah telah menetapkan bagian dari harta ini untukmu dan keluargamu, mengapa engkau memperlakukan dirimu seperti ini?’

Beliau menjawab:
‘Demi Allah, aku tidak mengambil sedikit pun dari harta kalian untuk diriku. Pakaian wol ini adalah yang kupakai ketika keluar dari rumah atau kota.’”

Beliau juga bersabda:
“Aku datang ke kota kalian dengan pakaian seperti ini, dan inilah seluruh milikku. Ketika aku pergi dari kota kalian, aku tidak akan membawa sesuatu lebih dari apa yang kubawa saat datang. Jika aku melakukannya, ketahuilah bahwa aku telah berkhianat kepada kalian.”[7]

Para sejarawan juga meriwayatkan:
“Pada masa kekhalifahannya, Amirul Mukminin (as) bahkan tidak memiliki tiga dirham untuk membeli pakaian atau memenuhi kebutuhannya. Namun beliau masuk ke baitul mal, membagikan seluruh isinya kepada rakyat, lalu berdiri untuk salat seraya berkata:
‘Segala puji bagi Allah yang mengeluarkanku sebagaimana Dia memasukkanku (tanpa mengambil sesuatu pun).’”[8]

 

  1. Membalas keburukan dengan kebaikan
    Kebesaran kesabaran dan kelapangan hati Amirul Mukminin (as) tampak jelas ketika Mu‘awiyah menguasai air Sungai Eufrat dalam peperangan dan mengira dirinya telah menang.

Ketika Amirul Mukminin (as) datang bersama pasukannya dan mendapati sungai itu dikuasai oleh pasukan Mu‘awiyah, beliau meminta agar mereka diizinkan mengambil air.

Mereka menjawab:
“Demi Allah, kami tidak akan memberi setetes pun air hingga kalian mati kehausan, sebagaimana Ibn ‘Affan mati.”

Ketika Amirul Mukminin (as) melihat hal itu, beliau memerintahkan pasukannya untuk merebut sungai tersebut. Pasukan beliau berhasil menguasainya, dan pasukan Mu‘awiyah pun kehausan.

Para sahabat berkata:
“Wahai Amirul Mukminin (as), cegahlah mereka dari air sebagaimana mereka melakukannya kepada kita.”

Beliau bersabda:
“Tidak, demi Allah, aku tidak akan membalas perbuatan mereka. Bukakan sebagian jalan bagi mereka menuju air, karena ketajaman pedang tidak membutuhkan cara seperti ini.”[9]

 

  1. Kerendahan hati dan ketawadukan
    Kerendahan hati di hadapan kaum fakir, miskin, dan lemah merupakan salah satu ciri paling menonjol dari akhlak Amirul Mukminin (as).

Pintu kasih sayang dan kebaikan beliau selalu terbuka bagi mereka. Dalam hal ini, beliau meneladani saudaranya dan sepupunya, Rasulullah (saw).

Bagi kaum mukminin, beliau laksana seorang ayah, dan bagi kaum fakir, beliau seperti saudara yang penuh kasih.

 

Catatan kaki
[1] Manaqib Al Abi Thalib, Ibn Syahrasyub: jilid 3, hlm. 124.
[2] Kanz al-‘Ummal, Muttaqi Hindi: jilid 11, hlm. 598.
[3] Amali, Syaikh Thusi: hlm. 455.
[4] Manaqib Al Abi Thalib, Ibn Syahrasyub: jilid 3, hlm. 9.
[5] Sumber sebelumnya.
[6] al-Gharat, Ibrahim Tsaqafi: jilid 1, hlm. 106.
[7] Hilyat al-Abrar, Bahrani: jilid 2, hlm. 246.
[8] Bihar al-Anwar, Allamah Majlisi: jilid 40, hlm. 325.
[9] Sumber sebelumnya.

 

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *