Most searched:

Sejarah Pembangunan Makam Imam ALi as

Sejarah Pembangunan Bangunan Ketiga Makam Suci Ali (as)

Bangunan ketiga Makam Suci Amirul Mukminin (as) dibangun oleh penguasa Kufa, Umar bin Yahya Alawi, pada tahun 338 H, pada masa kekhalifahan Bani Abbas, Mut‘i’ li-llah (334–363 H).

Umar bin Yahya Alawi mendirikan sebuah Haram baru dengan kubah yang tinggi dan menonjol. Beliau juga memiliki jasa besar lainnya, yaitu mengembalikan Hajar al-Aswad dari tangan Qaramithah, yang merupakan pengikut sekte Ismailiyah, dan menempatkannya kembali di posisi aslinya di Ka‘bah al-Mukarramah.

 

Pengembalian Hajar al-Aswad dan Pembangunan Baru Haram

Sayid Ja‘far Bahr al-‘Ulum menulis:

“Pembangunan bangunan ini dilakukan oleh Sayid Abu al-‘Ali Umar, seorang tokoh agung, yang Allah kembalikan Hajar al-Aswad kepadanya setelah sekte Ismailiyah pada tahun 317 H menyerbu Makkah, membawa Hajar al-Aswad ke Kufa, dan menggantungnya pada tiang ketujuh Masjid.

Cerita ini panjang. Sayid agung tersebut mengembalikan batu itu ke tempat aslinya pada tahun 339 H, dan batu itu berada di antara mereka selama 22 tahun.”

Tokoh terhormat ini mendirikan kubah untuk leluhurnya, Amirul Mukminin Ali (as), dengan biaya pribadinya. Beliau berasal dari keturunan Husain Dhi al-Dim‘ah, dan silsilahnya adalah sebagai berikut:

Abu al-‘Ali Umar bin Yahya, penguasa Kufa, putra Husain Naqib Tahir, putra Abu ‘Atiqah Ahmad, seorang penyair dan muhaddits, putra Abu al-‘Ali Umar bin Abu al-Husain Yahya putra Husain Dhi al-Dim‘ah, salah seorang sahabat Imam Kazim (as) yang gugur syahid pada tahun 250 H. Kepala beliau diletakkan dalam keranjang anyaman dan dibawa kepada Musta‘in bin Abi ‘Abdullah, seorang zahid, dan Husain Dhi al-Dim‘ah, yang dididik oleh Imam Shadiq (as) serta diajarkan ilmu dan pengetahuan.

 

Keterangan Syekh Muhammad Husain Harz al-Din tentang Naqib al-Tālibīn, Sayyid Umar Alawi

Syekh Muhammad Husain Harz al-Din berkata:

“Allah menghiasi beliau dengan dua keistimewaan utama: pertama, mendirikan kubah untuk leluhurnya yang mulia, Amirul Mukminin Ali (as), menggunakan harta pribadinya; kedua, mengembalikan Hajar al-Aswad ke tempat asalnya.

 

Pada tahun 339 H, Sayyid Abu al-‘Ali Umar bin Yahya Alawi bertindak sebagai penengah antara Khalifah Mut‘i’ li-llah dan sekte Ismailiyah, sehingga Hajar al-Aswad dikembalikan. Batu suci itu awalnya dibawa ke Kufa dan digantung di tiang ketujuh Masjid, sebelum akhirnya dipindahkan ke Baitullah.

Peristiwa ini menegaskan riwayat dari Amirul Mukminin Ali (as) yang menyebutkan bahwa Hajar al-Aswad akan dicuri dan digantung pada tiang ketujuh.”

Sumber
Diambil dari buku “Tārīkh al-Maqrad al-‘Alawī al-Muṭahhar”.

 

Proses Pembangunan Bangunan Kedua Makam Suci Ali (as)

 

Sejarah Pembangunan Bangunan Kedua Makam Suci Amirul Mukminin (as)

Setelah sekitar seratus tahun tersembunyi, Makam Suci Amirul Mukminin Ali (as) diungkap kembali oleh Imam Shadiq (as). Sejak saat itu, beberapa bangunan telah didirikan di atas lokasi suci ini pada periode yang berbeda.

Bangunan kedua makam suci didirikan atas perintah Gubernur Mosul, Amir Abu al-Hija’ Abdullah bin Hamdan al-Hamdani, pada dekade pertama abad ke-4 H, di masa kekhalifahan Muqtadir bi-llah al-Abbasi (295–317 H).

Dr. Salah Fartusi memperkirakan pembangunan ini terjadi pada tahun 311 H, dan menulis:

“Tidak ada seorang peneliti pun yang berhasil menemukan tanggal pasti pembangunan bangunan ini, namun menurut pendapat saya, perintah pembangunannya dikeluarkan pada tahun 311 H. Hal ini karena Abu al-Hija’ diangkat untuk melaksanakan haji atas nama Khalifah pada tahun yang sama.

Kemungkinan dalam perjalanan menuju Kufa—sebagaimana umumnya dilakukan oleh para peziarah dari Irak—beliau singgah untuk menziarahi makam suci Amirul Mukminin (as), memerintahkan pembangunan sebuah bangunan, dan kemudian melanjutkan perjalanan haji.”

 

Kubah Empat Sisi

Ibnu Hawqal (wafat 380 H) menulis:

Abu al-Hija’ Abdullah bin Hamdan memasyhurkan lokasi ini dan membangun pagar yang kokoh di sekitarnya. Di atas makam, beliau mendirikan sebuah kubah besar dan tinggi dengan empat sisi, lengkap dengan beberapa pintu. Kubah itu ditutup dengan tirai-tirai mewah, dan lantainya dilapisi dengan permadani terbaik.

Di tempat ini, banyak keturunan beliau dan para tokoh keluarga Ahl al-Bayt dimakamkan di luar kubah tersebut, sementara tanah di sekitar pagar besar diperuntukkan sebagai area pemakaman keluarga Ahl al-Bayt.”

Pagar ini merupakan tembok pertama yang mengelilingi rumah-rumah di kota baru yang terbentuk di sekitar makam suci Amirul Mukminin Ali (as), sebagaimana gelang yang melingkari pergelangan tangan.

Dari kajian teks-teks sejarah, terlihat bahwa pemakaman dilakukan di dalam kota dan di dekat tembok-tembok tersebut.

Al-Idrisi (wafat 559 H) menulis:

“Di jarak enam kilometer dari Kufa, terlihat sebuah kubah tinggi dan megah yang memiliki empat sisi. Kubah ini memiliki pintu di setiap sisinya, semuanya tertutup dan ditutupi dengan tirai-tirai indah dan mewah. Lantainya dilapisi permadani berkualitas tinggi.

Dikatakan bahwa di dalam kubah ini terletak makam Ali bin Abi Talib (as), dan di sekeliling kubah merupakan area pemakaman keluarga keturunan Abi Talib. Kubah ini dibangun oleh Abu al-Hija’ Abdullah bin Hamdan pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, sebelumnya makam tersebut tersembunyi sejak masa Bani Umayyah.”

Ibnu Wardi (wafat 852 atau 861 H) menulis tentang Kufa:

“Di Kufa terdapat sebuah kubah besar yang dikatakan sebagai tempat makam Ali bin Abi Talib (as), dan di sekeliling kubah merupakan area pemakaman keluarga keturunan Ali. Kubah ini dibangun atas perintah Abu al-Abbas Abdullah bin Hamdan pada masa Kekhalifahan Abbasiyah.”

Syaikh Ja’far Mahbubah, mengutip dari naskah tangan Syaikh Ali Al-Kashif al-Ghita’ berjudul Samir Hadhir wa Anis Musafir, menulis:

“Keluarga Al-Hamdan memindahkan jenazah mereka dari Syam, Aleppo, Diyarbakir, Mosul, Fars, dan Irak ke Najaf, serta membawa hadiah-hadiah berharga mereka ke makam Amirul Mukminin Ali (as). Hadiah-hadiah tersebut meliputi lampu-lampu dari emas murni dan perak, pedang yang dihiasi permata, serta benda-benda berharga dari raja, pria, wanita, putri, dan anak-anak mereka, yang hingga masa penulisan karya ini masih tersimpan di Baitul Mal Alawi di Najaf.”

Sumber
Diambil dari buku Tārīkh al-Maqbarah al-‘Alawiyyah al-Muṭahharah.

Sejarah Terbangunnya makam Imam Ali as
Sejarah Terbangunnya makam Imam Ali as

Menanggapi Klaim Pembangunan Kubah Makam Ali (as) oleh Harun al-Rashid

 

Beberapa sumber lama menyebut bahwa Harun al-Rashid dari Dinasti Abbasiyah adalah orang pertama yang membangun suatu bangunan dengan kubah dari tanah liat merah di makam suci Amirul Mukminin Ali (as). Namun, sejauh mana kebenaran klaim ini masih diperdebatkan.

Beberapa catatan sejarah lain menceritakan bahwa Harun al-Rashid pernah berziarah ke makam Amirul Mukminin (as), dan ziarah ini dikatakan terjadi ketika lokasi makam masih tersembunyi dan tidak dikenal oleh umum.

Dalam bukunya Farhat al-Ghurā, Syed ‘Abdul Karim bin Tawus menulis:

“Ibnu Ṭuhāl meriwayatkan bahwa Harun al-Rashid membangun sebuah bangunan di atas makam, terbuat dari bata putih, yang ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan makam sekarang. Ketika kami membuka makam yang mulia, terlihat bahwa makam itu sebelumnya terbuat dari tanah dan kapur. Harun memerintahkan agar sebuah kubah dibangun di atasnya, kemudian dibuat kubah dari tanah liat merah, dan di atasnya dipasang kubah hijau, yang hingga kini tersimpan di gudang.”

Beberapa penulis mengambil laporan ini dari Ibnu Ṭawus dan, tanpa melakukan verifikasi atau analisis lebih lanjut, langsung menerima narasi tersebut sebagai fakta yang pasti.

 

Di antaranya, Ḥasan Dailamī, seorang ulama abad ke-9 Hijriyah, menulis:

“Hārūn memerintahkan agar sebuah kubah dengan empat pintu dibangun di atasnya. Bangunan ini pun didirikan dan tetap bertahan hingga masa pemerintahan ‘Aḍud al-Dawlah.”

Berikut alasan-alasan yang menolak klaim bahwa Hārūn al-Rashīd membangun kubah untuk makam mulia Amirul Mukminīn (ʿAlī a.s.):

 

Poin pertama, riwayat ini tidak memiliki sanad dan disampaikan secara mursal, sehingga rantai perawinya tidak jelas. Selain itu, selama lebih dari lima ratus tahun setelah peristiwa terkenal berburu pada tahun 170 atau 175 H, yaitu peristiwa yang dikatakan Harun menemukan makam suci Amirul Mukminīn (ʿAlī a.s.), tidak ada satu pun sumber yang menyebutkan bangunan semacam itu hingga masa Sayyid Ibn Ṭāwūs (wafat 693 H).

Cukup merujuk pada sejarah penting seperti Tārīkh Yaʿqūbī (wafat 292 H), Tārīkh Ṭabarī (wafat 310 H), Tārīkh Masʿūdī (wafat 346 H) dan sejarah Ibn ʿAsīr (wafat 639 H).

Jika Harun benar-benar melakukan hal tersebut, para sejarawan ini pasti akan mencatatnya. Bahkan, peristiwa berburu itu sendiri dengan detail yang dikisahkan pun tidak muncul dalam sumber-sumber tersebut. Hal ini jelas menunjukkan kelemahan riwayat tersebut dan menjadi bukti ketidakbenarannya.

Penjelasan Peristiwa Perburuan Harun ar-Rasyid Menurut Riwayat Syaikh Mufid

Syaikh Mufid (wafat tahun 413 Hijriah) dalam kitab Al-Irsyad menuturkan kisah masuknya Harun al-Abbasi ke wilayah Najaf al-Asyraf serta penemuan makam suci Amirul Mukminin (as). Namun, beliau tidak memberikan keterangan apa pun mengenai pembangunan bangunan di atasnya.

Syaikh Mufid hanya meriwayatkan kisah perburuan yang terkenal tersebut sebagai berikut:

Muhammad bin Zakariya berkata bahwa ia mendengar dari “Ubaidullah bin Muhammad bin Aisyah” yang mengatakan: Abdullah bin Khazim telah menceritakan kepadaku sebagai berikut:

“Suatu hari, kami keluar bersama Harun ar-Rasyid dari Kufah untuk berburu. Kami sampai di wilayah Gharayain dan Tsawiyyah.

Kami melihat seekor rusa, lalu kami melepaskan burung-burung pemburu dan anjing-anjing pemburu ke arahnya. Mereka mengejarnya beberapa saat, hingga rusa itu menuju sebuah gundukan tanah dan berdiri di atasnya. Burung-burung dan anjing-anjing pemburu itu mendekat, tetapi kemudian kembali.

Harun merasa takjub melihat kejadian tersebut.

Kemudian rusa-rusa itu turun dari gundukan tersebut, dan burung-burung serta anjing-anjing pemburu kembali mengejar mereka. Namun, rusa-rusa itu kembali berlindung di gundukan yang sama, sehingga burung-burung dan anjing-anjing itu pun kembali mundur. Peristiwa ini terulang sebanyak tiga kali.

Harun berkata: ‘Pergilah dengan cepat dan bawalah kepadaku siapa saja yang kalian temui.’

Lalu seorang lelaki tua dari kabilah Bani Asad dibawa menghadapnya. Harun bertanya kepadanya: ‘Katakan kepadaku, apakah gundukan ini?’

Orang tua itu menjawab: ‘Jika engkau memberiku jaminan keamanan, maka akan aku sampaikan kebenarannya.’”

Harun berkata: “Demi Allah, aku tidak akan menyakitimu.”

Orang tua itu berkata: “Ayahku meriwayatkan kepadaku dari para leluhurnya bahwa di tempat ini terdapat makam Ali bin Abi Thalib (as). Allah telah menjadikannya sebagai tanah haram (tempat perlindungan), sehingga siapa pun yang berlindung di dalamnya akan memperoleh keamanan.”

Mendengar hal itu, Harun turun dari kudanya, lalu meminta air. Ia berwudu dan menunaikan salat di samping gundukan tersebut. Setelah itu, ia menjatuhkan dirinya ke tanah dan menangis. Kemudian kami pun kembali.”

Kamaluddin Muhammad bin Musa ad-Damiri, salah seorang ulama terkemuka dari Mesir (wafat tahun 808 Hijriah), menyatakan sebagai berikut:

“Ibnu Khallikan juga menuliskan bahwa ar-Rasyid pergi berburu. Ia melepaskan burung-burung pemburu dan hewan-hewan buruannya untuk mengejar mangsa. Namun, mangsa itu menuju ke arah sebuah kubur, dan burung-burung pemburu tersebut berhenti di tempat itu serta tidak melanjutkan ke depan. Hal ini menimbulkan keheranan pada diri ar-Rasyid.”

Kemudian seorang lelaki datang kepadanya dan berkata: “Jika aku menunjukkan kepadamu tempat makam anak Pamanmu, Ali bin Abi Thalib (as), apa balasan yang akan engkau berikan kepadaku?”

Ar-Rasyid menjawab: “Aku akan memberikan kepadamu segala penghormatan dan ganjaran yang layak bagimu.”

Lelaki itu berkata: “Inilah makamnya.”

Ar-Rasyid bertanya: “Bagaimana engkau mengetahuinya?”

Ia menjawab: “Aku biasa menemani ayahku untuk menziarahi makamnya. Ayahku mengatakan kepadaku bahwa Imam Ja‘far ash-Shadiq (as) pernah menziarahinya bersama dirinya; Imam Ja‘far ash-Shadiq (as) bersama ayahnya, Imam Muhammad al-Baqir (as); Imam Muhammad al-Baqir (as) bersama ayahnya, Imam Zainal Abidin (as); dan Imam Zainal Abidin (as) bersama ayahnya, Imam Husain (as) juga menziarahi makam tersebut. Imam Husain (as) adalah orang yang paling mengetahui lokasi makam itu.”

Kemudian ar-Rasyid memerintahkan agar tempat tersebut diberi pembatas (dijadikan area berpagar). Inilah peletakan dasar pertama bagi makam tersebut, yang kemudian berkembang pada masa Bani Buwaih.

Bantahan terhadap Klaim ad-Damiri melalui Riwayat Shafwan al-Jammal

Perlu ditegaskan bahwa Imam Ja‘far ash-Shadiq (as) adalah orang pertama yang meletakkan dasar bagi makam mulia Amirul Mukminin (as).

Riwayat Shafwan al-Jammal

Shafwan al-Jammal berkata:

“Imam ash-Shadiq (as) berdiri, kemudian beliau meletakkan tangan mulianya ke tanah dan mengambil segenggam tanah. Beliau menciumnya, lalu bergerak menuju lokasi makam yang sekarang.

Kemudian beliau mengumpulkan tanah dengan tangan mulianya, menggenggamnya, menciumnya, dan menarik napas dalam-dalam, hingga aku mengira beliau telah wafat. Ketika beliau sadar kembali, beliau bersabda: ‘Di sinilah tempat ziarah (makam) Amirul Mukminin (as).’ Lalu beliau membuat suatu tanda (garis penandaan)…”

Catatan:
Ungkapan “tsumma khattha takhtithan” «ثُمَّ خَط تخطیطاً»  yang berarti “kemudian beliau membuat suatu penandaan (garis)” dalam riwayat Shafwan al-Jammal, menjadi bantahan terhadap pendapat ad-Damiri yang mengklaim bahwa Harun ar-Rasyid adalah orang pertama yang membangun di atas makam suci tersebut.

Selain itu, dalam riwayat ad-Damiri tidak terdapat penjelasan apa pun mengenai pembangunan oleh Harun secara rinci sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Thawus.

 

Tidak Lazimnya Pembangunan Kubah pada Masa Hidup Harun ar-Rasyid al-Abbasi

Poin kedua, fenomena pembangunan kubah di atas makam pada dua abad pertama Hijriah belum dikenal di dunia Islam. Kubah pertama yang dibangun di atas sebuah makam didirikan di Irak pada tahun 248 Hijriah, di atas makam khalifah Abbasiyah, al-Muntasir bin al-Mutawakkil. Kubah tersebut dikenal dengan nama “Qubbat ash-Shulaybiyyah” dan hingga kini masih berdiri di Samarra.

Khairuddin az-Zirikli dalam biografi al-Muntasir al-Abbasi menuliskan:

“Ia adalah orang pertama dari Bani Abbas yang menjadi khalifah setelah ayahnya. Masa pemerintahannya singkat, dan disebutkan bahwa ia wafat karena diracun di Samarra. Lama kekhalifahannya hanya enam bulan lebih beberapa hari.

Ia juga merupakan khalifah pertama dari Bani Abbas yang makamnya diketahui secara jelas. Sebab, sebelumnya mereka tidak memberi perhatian terhadap makam orang-orang yang telah meninggal. Namun, ibunya menghendaki agar makamnya ditampakkan.”

Dr. Su‘ad Mahir juga menyatakan dalam hal ini:

“Ibu al-Muntasir, yang berasal dari Yunani, berupaya membangun makamnya secara terpisah dari istana tempat tinggal. Makam tersebut kemudian dikenal dengan nama Qubbat ash-Shulaybiyyah.”

‘Atha Haditsi dan Hanaa ‘Abd al-Khaliq dalam hal ini menyatakan:

“Kubah tertua yang diketahui hingga saat ini untuk sebuah makam adalah Kubah Shulaybiyyah di Samarra, yang diyakini sebagai tempat pemakaman Khalifah al-Muntasir (tahun 246 Hijriah), serta dua khalifah lainnya, yaitu al-Mu‘tazz dan al-Muqtadir.”

Dr. ‘Isa Salman dan para peneliti lainnya menyatakan mengenai Kubah Shulaybiyyah:

“Tempat ini memiliki kedudukan yang sangat penting, tidak hanya di antara situs-situs keagamaan di Irak, tetapi juga di antara situs-situs Islam di dunia. Hal ini disebabkan karena Kubah Shulaybiyyah merupakan makam tertua yang masih tersisa dan dapat disaksikan hingga saat ini.”

Ja‘far Khayyath juga memberikan penjelasan yang lebih rinci dalam hal ini:

“Apabila kita menelaah informasi yang ada mengenai pemakaman para khalifah di Samarra, kita akan dapati bahwa yang pertama di antara mereka, yaitu al-Mu‘tasim, dimakamkan di Jausaq al-Khaqani; al-Watsiq dimakamkan di al-Haruni; dan ibu al-Mutawakkil dimakamkan di Masjid Ja‘fariyyah—yakni Masjid Abu Dulaf.

Adapun al-Mutawakkil sendiri dimakamkan di Istana Ja‘fari. Namun, putra khalifah, al-Muntasir, merupakan khalifah Abbasiyah pertama yang makamnya ditandai secara terbuka. Hal ini karena ibunya yang berasal dari Yunani meminta izin kepada para pejabat untuk membangun sebuah kubah khusus di atas makamnya, dan permintaan tersebut dikabulkan.

Makam ini terletak di dekat Qa‘r ash-Shawami‘. Selain itu, diketahui bahwa al-Mu‘tazz dan al-Muhtadi juga kemudian dimakamkan di dalam kubah yang sama.

Creswell menyebutkan bahwa seorang ilmuwan bernama Herzfeld, berdasarkan bukti-bukti yang kuat, mengemukakan bahwa Kubah Shulaybiyyah kemungkinan besar adalah kubah tempat dimakamkannya tiga khalifah Abbasiyah tersebut.

Pada bulan Dzulhijjah tahun 1329 Hijriah, dilakukan penggalian di bawah lantai kubah ini, dan ditemukan tiga makam Islam di sana. Penemuan tiga makam ini menegaskan bahwa Kubah Shulaybiyyah memang merupakan kubah yang dibangun oleh ibu al-Muntasir setelah terbunuhnya putranya pada bulan Rabi‘ul Awwal tahun 248 Hijriah di istananya. Berdasarkan hal ini, kubah tersebut tidak hanya dianggap sebagai kubah tertua dalam Islam, tetapi juga merupakan kubah pertama dari jenisnya.”

Dr. Shalah Fartusi menyatakan:

“Tidak dapat diharapkan bahwa pada masa tersebut dalam sejarah Islam terdapat bangunan seperti ruangan atau kubah di atas makam suci, bahkan juga pada periode-periode setelahnya. Hal ini karena pada masa itu, pembangunan kubah atau bangunan besar di atas makam kaum Muslimin belum menjadi suatu kebiasaan.

Seandainya hal tersebut merupakan tradisi, tentu pada masa kini kita akan dapat menyaksikan banyak kubah dan bangunan di atas makam para khalifah Umayyah dan Abbasiyah.

Demikian pula, sangat mungkin akan dibangun sebuah kubah besar di atas makam Abdullah bin Abbas, yang merupakan simbol Bani Abbas dan kebanggaan mereka. Pada kenyataannya, makam pertama yang dibangun kubah di atasnya adalah makam al-Muntasir Billah bin al-Mutawakkil, yang pembangunannya kembali kepada tahun 248 Hijriah.”

 

Peristiwa-peristiwa Setelah Insiden Perusakan Makam Suci Amirul Mukminin (as)

Poin ketiga, setelah al-Mutawakkil al-Abbasi menghancurkan makam suci Amirul Mukminin (as), batu-batu disusun secara simbolis di sekitar lokasi makam tersebut.

Tempat ini, yang berfungsi sebagai penanda yang mengingatkan pada keberadaan makam, berada di tengah tanah yang datar dan tanpa bangunan, serta belum dimanfaatkan sebagai kawasan permukiman oleh penduduk sekitarnya.

Riwayat tentang ziarah sebagian kaum Syiah ke makam suci Amirul Mukminin (as) sekitar tahun 263 Hijriah menjadi penegasan atas hal ini.

Artinya, peristiwa tersebut terjadi kira-kira dua puluh tahun sebelum pembangunan bangunan oleh ad-Da‘i al-Hasani, yang diriwayatkan oleh Ibnu Thawus melalui sanadnya dari Muhammad bin Ali bin Dahim asy-Syaibani:

“Ketika aku masih seorang anak kecil, aku bersama ayahku, Ali bin Dahim yang dijuluki Rahim, serta pamanku, Husain bin Dahim, berangkat secara sembunyi-sembunyi bersama sekelompok orang untuk menziarahi makam Amirul Mukminin (as).

Ketika kami sampai di makam tersebut, pada waktu itu ia hanya dikelilingi oleh beberapa batu sederhana, tanpa adanya bangunan atau struktur apa pun di atasnya. Jalannya pun tidak lebih dari tanah yang rata.

Saat kami sedang melaksanakan salat dan ziarah, tiba-tiba seekor singa besar datang menuju kami. Ketika ia telah mendekat sejauh satu tombak, sebagian dari kami berkata: ‘Menjauhlah dari makam agar kita dapat melihat apa yang diinginkannya.’ Maka kami pun menjauh.

Singa itu mendekati makam, lalu mengusapnya dengan tangannya. Salah seorang dari kami yang melihat kejadian itu kembali untuk memberi tahu kami agar rasa takut kami hilang.

Kami semua kemudian mendekati makam untuk memastikan, dan kami melihat bahwa singa tersebut mengusap-usapkan tangannya di atas makam, sementara tampak bekas luka pada tangannya. Ia melakukan hal itu beberapa saat, kemudian menjauh dan pergi. Setelah kami membaca Al-Qur’an, melaksanakan salat, dan berziarah, kami pun kembali.”

Dengan memperhatikan kisah ini, menjadi jelas bahwa pada masa peristiwa tersebut tidak terdapat bangunan apa pun di Najaf.

Hal ini merupakan bukti yang sangat penting dan selaras dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu bahwa sejarah terbentuknya kota Najaf al-Asyraf bermula pada tahun 283 Hijriah, dan pembangunan pertama atas makam suci Amirul Mukminin (as) dilakukan oleh Sayyid Muhammad bin Zaid ad-Da‘i al-Hasani.

 

Bukti-bukti yang Kuat tentang Permusuhan Harun ar-Rasyid terhadap Ahlulbait (alaihimus salam)

Poin keempat, apabila Harun al-Abbasi membangun suatu bangunan di atas makam suci Amirul Mukminin (as), hal itu bertentangan dengan logika. Sebab, tindakan tersebut tidak selaras dengan apa yang dilaporkan oleh para sejarawan mengenai permusuhannya terhadap Ahlulbait (alaihimus salam), serta tindakan pembunuhan dan pengejarannya terhadap kaum Alawi dan para pengikut Syiah.

Di antara tindakan kriminalnya adalah penghancuran makam Imam Husain (as) serta upayanya untuk mencegah orang-orang melakukan ziarah kepada beliau.

Kisah Penebangan Pohon Sidrah di Area Haram Imam Husain (as)

Sayyid Karaki menyatakan:

“Apa yang diinginkan oleh Bani Umayyah tidak berhasil mereka lakukan, meskipun telah dibangun sebuah masjid di atasnya dan bangunan itu tetap ada setelah berakhirnya masa Bani Umayyah. Demikian pula pada masa Bani Abbas, kecuali pada masa Harun ar-Rasyid yang merobohkan makam suci tersebut, menebang pohon sidrah yang ada di sana, serta merusak lokasi makam itu.”

Syaikh Thusi juga meriwayatkan melalui sanadnya dari Yahya bin Mughirah ar-Razi:

“Aku berada di sisi Jarir bin ‘Abdul Hamid, ketika seorang lelaki dari Irak datang kepadanya. Jarir menanyakan kepadanya tentang berbagai kabar. Lelaki itu berkata: ‘Harun ar-Rasyid telah merobohkan makam Imam Husain (as) dan memerintahkan agar pohon sidrah yang berada di sana ditebang.’

Jarir mengangkat kedua tangannya seraya berkata: “Allahu Akbar!” Kemudian ia menambahkan bahwa telah diriwayatkan dari Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa alih) bahwa Allah melaknat orang yang menebang pohon sidrah (sebanyak tiga kali).

Selama ini kami belum mengetahui makna yang sebenarnya dari hadis tersebut; karena tujuan dari penebangan pohon itu adalah untuk mengubah tanda lokasi syahadah Imam Husain (as), sehingga orang-orang tidak dapat lagi mendatangi makam sucinya.”

Pemenjaraan dan Syahadah Imam Musa al-Kazhim (as) di Baghdad

Syaikh Shaduq menyatakan:

“Kemudian Imam diserahkan kepada Sindi bin Syahak. Ia menahan Imam di dalam penjara dan memberikan tekanan kepadanya. Setelah itu, Harun ar-Rasyid mengirim racun yang diletakkan dalam kurma dan memerintahkan agar diberikan kepada Imam. Imam pun dipaksa untuk memakannya, sehingga dengan demikian beliau mencapai kesyahidan—semoga salam Allah tercurah atasnya.”

Riwayat Syaikh Thabarsi tentang Cara Syahadah Imam al-Kazhim (as)

Syaikh Thabarsi meriwayatkan:

“Fadhl bin Yahya memperlakukan Imam dengan baik dan menghormatinya. Ketika kabar ini sampai kepada ar-Rasyid yang berada di Raqqah, ia memerintahkan pembunuhan Imam. Namun perintah tersebut tidak dilaksanakan, sehingga ar-Rasyid menjadi marah. Ia kemudian memerintahkan agar Imam diserahkan kepada Abbas bin Muhammad, dan Fadhl pun dicambuk sebanyak seratus kali. Setelah itu, Musa bin Ja‘far (as) diserahkan kepada Sindi bin Syahak.

Yahya bin Khalid mengetahui hal tersebut, lalu ia menemui ar-Rasyid dan berkata: ‘Aku menjamin akan melaksanakan apa yang engkau inginkan.’ Kemudian ia pergi ke Baghdad, memanggil Sindi, dan melaksanakan perintah itu. Racun dimasukkan ke dalam makanan Imam—dikatakan bahwa racun itu dimasukkan ke dalam kurma. Imam memakannya, lalu jatuh sakit selama tiga hari, dan pada hari ketiga beliau mencapai kesyahidan.”

Dengan memperhatikan bukti-bukti sejarah serta kajian terhadap sumber-sumber klasik, menjadi jelas bahwa Harun al-Abbasi tidak memiliki peran dalam menyingkap makam suci Amirul Mukminin (as) maupun dalam membangun bangunan di atasnya.

Makam suci Amirul Mukminin (as) pada masa pemerintahan Bani Umayyah berada dalam keadaan tersembunyi. Tokoh yang menyingkapnya kepada masyarakat umum adalah Imam Ja‘far ash-Shadiq (as).

Adapun bangunan pertama yang didirikan di atas makam mulia tersebut dibangun atas perintah Sayyid Muhammad bin Zaid ad-Da‘i al-Hasani. Dalam hal ini juga terdapat riwayat yang bersifat gaib dari Imam Ja‘far ash-Shadiq (as), yang memiliki kedudukan lebih kuat dibandingkan bukti-bukti lainnya dan tidak diragukan lagi kebenarannya.

Sumber
Diambil dari kitab Tarikh al-Marqad al-‘Alawi al-Muthahhar.

 

Riwayat Pembangunan Bangunan Pertama Makam Suci ‘Alawi

Sejak Imam Ja‘far ash-Shadiq (as) menyingkap makam suci Amirul Mukminin (as), sepanjang berabad-abad telah dilakukan berbagai pembangunan dan banyak renovasi pada haram yang mulia ini.

Dalam perjalanan tersebut, para raja, sultan, amir, dan banyak tokoh terkemuka telah memainkan peranan penting dalam memakmurkan, memperindah, dan menjaga kehormatan makam yang bercahaya ini, dengan mengorbankan harta yang besar serta usaha yang sungguh-sungguh. Motivasi mereka adalah untuk meraih pahala ilahi dan memperoleh syafaat dari “Pemisah antara Surga dan Neraka”, yaitu Amirul Mukminin (as).

Sayyid ‘Abdul Karim bin Thawus dalam hal ini mengatakan:

“Apabila kita hendak menyebutkan satu per satu nama semua orang yang telah menziarahi makam ini, atau yang berperan dalam pembangunan dan pemakmurannya serta dengan itu mendekatkan diri kepada Allah—baik dari kalangan raja, tokoh besar, menteri, sastrawan, hakim, fuqaha, ulama, maupun para ahli hadis—maka pembicaraan akan menjadi sangat panjang.”

Sejarah Pembangunan Makam Imam Ali as
Bangunan Pertama Makam Imam Ali

Bangunan Pertama Makam Suci ‘Alawi

Kubah pertama yang menonjol yang dibangun di atas makam suci Amirul Mukminin (as) didirikan oleh penguasa Tabaristan, Muhammad bin Zaid ad-Da‘i al-Hasani, pada tahun 283 Hijriah.

Pada masa kekhalifahan al-Mu‘tadhid Billah al-Abbasi, ia membangun haram suci tersebut dengan perhatian yang besar, serta mendirikan sebuah pagar di sekelilingnya yang memiliki tujuh puluh lengkungan (iwan), agar para peziarah dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik.

Sebagian sejarawan, secara keliru, menganggap pagar tersebut sebagai tembok pertama kota Najaf. Padahal, bangunan itu pada hakikatnya merupakan dinding yang mengelilingi pelataran haram.

Sebelumnya, Imam Ja‘far ash-Shadiq (as) telah mengabarkan bahwa seorang lelaki, sebelum wafatnya, akan membangun sebuah pagar dengan tujuh puluh lengkungan untuk makam suci ini. Nubuat tersebut terwujud pada diri Muhammad bin Zaid.

Selain pembangunan penting ini, penguasa tersebut juga mengirimkan banyak harta dari Tabaristan untuk memakmurkan dan membangun kembali tempat-tempat suci di Najaf dan Karbala.

Sumber-sumber sejarah yang terpercaya menegaskan bahwa Muhammad bin Zaid adalah orang pertama yang membangun sebuah kubah yang menonjol di atas haram suci Amirul Mukminin (as).

Riwayat-riwayat tentang “Muhammad bin Zaid ad-Da‘i al-Hasani”

‘Abdurrahman Ibnu al-Jauzi meriwayatkan dari Abu al-Ghana’im Ibnu Narasi:

“Imam ash-Shadiq (as) dan Imam al-Baqir (as) telah berziarah ke lokasi makam Amirul Mukminin (as). Pada waktu itu belum ada makam yang tampak, melainkan hanya berupa tanah yang rata, hingga datanglah Muhammad bin Zaid ad-Da‘i yang kemudian menampakkan makam tersebut.”

Dari riwayat ini dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan “menampakkan” adalah pembangunan bangunan di atas makam oleh Sayyid Muhammad bin Zaid al-Hasani, sebagaimana juga ditunjukkan oleh teks-teks sebelumnya.

Telah disebutkan pula bahwa Imam Ja‘far ash-Shadiq (as) telah menyingkap makam tersebut dan membangun semacam pelataran di atasnya, yaitu pada tahun berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah (132 Hijriah).

Abu Ishaq ash-Shabi (wafat 384 Hijriah) juga mengisyaratkan hal yang sama. Ia berkata tentang ad-Da‘i al-Hasani:

“Ia adalah orang pertama yang membangun bangunan di atas makam Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan Imam Husain (alaihimassalam) di wilayah Ghari dan Hair, serta mengeluarkan biaya sebesar dua puluh ribu dinar hingga kedua tempat ziarah itu berdiri.”

Ibnu Isfandiyar meriwayatkan:

“Hingga masa ad-Da‘i Muhammad bin Zaid, tempat-tempat ziarah mulia Amirul Mukminin (as), Imam Husain (as), serta para imam dan tokoh besar Syiah lainnya berada dalam keadaan rusak dan hancur.

Ketika Muhammad bin Zaid menguasai Tabaristan, sementara khalifah Baghdad (al-Muntasir) juga berkuasa, ia condong kepada mazhab Syiah dan sangat memuliakan keluarga Abi Thalib (alaihimus salam). Meskipun ia sendiri berasal dari keturunan Abbasiyah dan termasuk keluarga as-Saffah, ia tidak pernah berani membunuh keturunan Nabi (shallallahu ‘alaihi wa alih).

Muhammad bin Zaid berupaya membangun kembali tempat-tempat ziarah suci dan di setiap lokasi yang diduga terdapat makam mulia, ia mendirikan bangunan.

Ia juga setiap tahun mengirimkan tiga puluh ribu dirham merah untuk tempat-tempat ziarah suci Imam Husain (as), Amirul Mukminin (as), Imam Hasan (as), serta tokoh-tokoh besar lainnya. Dan ketika al-Mutawakkil menghancurkan tempat-tempat ziarah para imam (alaihimus salam), orang pertama yang memerintahkan pembangunan kembali tempat-tempat tersebut adalah Muhammad bin Zaid.”

Sayyid Muhammad bin Abi Thalib al-Husaini al-Ha’iri al-Karaki menyatakan:

“Setelah al-Mutawakkil, putranya al-Muntasir naik menjadi khalifah. Ia bersikap baik terhadap keluarga Abi Thalib, membagikan harta di antara mereka, dan pada masa pemerintahannya makam-makam suci kembali ditampakkan.

Kemudian bangkit dua da‘i, yaitu Hasan dan Muhammad, putra-putra Zaid bin Hasan. Muhammad memerintahkan agar haram Amirul Mukminin (as) dan haram Imam Husain (as) dibangun kembali serta didirikan bangunan di atasnya.

Setelah itu, kedua haram suci tersebut semakin berkembang dan berbagai bangunan lainnya pun ditambahkan kepadanya.”

Sayyid ‘Abdul Karim Ibnu Thawus menulis tentang ad-Da‘i al-Hasani:

“Ia adalah orang yang membangun haram suci Gharawi (Najaf) pada masa kekhalifahan al-Mu‘tadhid. Kemudian ia terbunuh dalam peperangan melawan pasukan pemerintah dan dimakamkan di Jurjan (Gorgan). Hal ini disebutkan dalam kitab Musyajjarah.”

Dalam teks lain, arkeolog Prancis Louis Massignon menyatakan:

“Sekitar tahun 280 Hijriah / 902 Masehi, da‘i Zaydi dari Dailam, Zaid bin Muhammad (270–287 H), membangun sebuah kubah sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadap kedudukan Amirul Mukminin (as) yang dimakamkan di sana. Kemudian Abu al-Hayja’ al-Hamdani (pada tahun 317 H) menambah pembangunan dan pemakmuran bangunan tersebut. Pada masa kekuasaan Bani Buwaih, kubah ini menjadi seperti pusat bagi para peziarah.”

Peran Dukungan al-Mu‘tadhid al-Abbasi terhadap Pengelola Haram Makam Suci Amirul Mukminin (as)

Al-Mu‘tadhid al-Abbasi naik menjadi khalifah pada tahun 279 Hijriah, setelah wafatnya al-Mu‘tamid. Karena sebuah mimpi yang ia lihat, ia tidak mengganggu para peziarah makam suci Amirul Mukminin (as) dan bahkan memuliakan keluarga Abu Thalib.

Ath-Thabari meriwayatkan rincian kisah ini dalam peristiwa tahun 282 Hijriah sebagai berikut:

“Pada tahun tersebut, Muhammad bin Zaid al-‘Alawi dari Tabaristan mengirimkan tiga puluh dua ribu dinar kepada Muhammad bin Ward al-‘Aththar, agar ia membagikannya kepada kerabatnya di Baghdad, Kufah, Makkah, dan Madinah.

Namun, peristiwa ini dilaporkan, dan Muhammad bin Ward dibawa ke kediaman Badr untuk diinterogasi. Ia berkata: ‘Setiap tahun harta seperti ini dikirimkan kepadaku, dan aku membagikannya sesuai perintah pengirim kepada kerabatnya.’

Badr kemudian menyampaikan hal itu kepada al-Mu‘tadhid dan memberitahukan bahwa orang tersebut beserta hartanya berada di tangannya, serta meminta pendapat khalifah mengenai hal itu.

Al-Mu‘tadhid menjawab dengan mengutip ucapan Abu ‘Abdullah al-Hasani dan berkata: ‘Wahai Badr, apakah engkau masih ingat mimpi yang pernah aku ceritakan kepadamu?’ Badr tidak mengingatnya.

Al-Mu‘tadhid berkata: ‘Tidakkah engkau ingat bahwa aku pernah mengatakan kepadamu bahwa “an-Nashir” melihatku dalam mimpi dan berkata: “Ketahuilah bahwa urusan ini (kekhalifahan) akan sampai kepadamu, maka perhatikanlah bagaimana engkau akan memperlakukan keluarga Ali bin Abi Thalib.”’

Kemudian ia melanjutkan: ‘Dalam mimpiku, aku melihat diriku keluar dari Baghdad menuju Nahrawan bersama pasukanku. Orang-orang memandangku dan pasukanku dengan penuh kekaguman. Di tengah perjalanan, aku melewati seorang lelaki yang berdiri di atas sebuah gundukan dan sedang melaksanakan salat, tanpa memperhatikan diriku maupun pasukanku sama sekali.

Aku merasa heran atas sikap acuhnya. Aku pun mendekat dan berdiri di hadapannya. Ketika ia selesai dari salatnya, ia berkata kepadaku: “Mendekatlah.” Aku pun mendekat.

Ia bertanya: “Apakah engkau mengenalku?” Aku menjawab: “Tidak.”

Ia berkata: “Aku adalah Ali bin Abi Thalib. Ambillah cangkul ini dan pukullah tanah dengan itu.”

Aku mengambil cangkul yang ada di hadapannya dan memukulkan beberapa kali ke tanah.

Kemudian ia berkata: “Sebanyak pukulan yang engkau lakukan, sebanyak itu pula anak-anakmu akan memegang kekhalifahan. Maka berpesanlah kepada mereka agar berbuat baik kepada anak-anak keturunanku.”

Badr berkata: ‘Ya, sekarang aku mengingatnya.’

Kemudian al-Mu‘tadhid memerintahkan agar harta tersebut dan Muhammad bin Ward dibebaskan. Ia juga menulis kepadanya agar meminta kepada majikannya di Tabaristan untuk mengirimkan harta itu secara terbuka, dan agar Muhammad bin Ward membagikannya secara terang-terangan. Ia juga memerintahkan agar Muhammad didukung dalam tugas tersebut.”

Qadhi at-Tanukhi (wafat 384 Hijriah) juga meriwayatkan melalui sanadnya dari Muhammad bin Yahya bin Abi ‘Abad al-Hasani:

“Al-Mu‘tadhid, ketika masih dipenjara oleh ayahnya, melihat sebuah mimpi. Dalam mimpinya, ia melihat seorang lelaki tua duduk di tepi Sungai Tigris. Ia mengulurkan tangannya ke arah air, lalu seluruh air berkumpul di tangannya hingga Sungai Tigris menjadi kering. Kemudian ia melepaskannya kembali, sehingga sungai itu kembali mengalir. Aku bertanya tentangnya, lalu dikatakan kepadaku: ‘Dia adalah Ali bin Abi Thalib.’ Aku pun mendatanginya dan mengucapkan salam kepadanya, dan ia menjawab…”

Proses Terbentuk dan Berkembangnya Kota Najaf

Sejarah pembangunan yang dilakukan oleh ad-Da‘i al-Hasani pada tahun 283 Hijriah / 896 Masehi, pada hakikatnya merupakan awal terbentuknya kota Najaf al-Asyraf sebagai sebuah pusat perkotaan. Sebelum masa tersebut, kawasan ini merupakan daerah yang tidak berpenghuni.

Sejak saat itu, dimulailah pelayanan terhadap haram suci Amirul Mukminin (as), termasuk pengelolaan dan pemeliharaan tempat suci tersebut. Kaum Syiah mulai menetap secara permanen di sekitar makam suci Amirul Mukminin (as) dan menjadikannya sebagai tempat pemakaman.

Seiring berjalannya waktu, pembangunan dan perluasan kota ini semakin meningkat, hingga akhirnya Najaf al-Asyraf berkembang menjadi sebuah kota Islam yang besar serta pusat pemikiran dan kebudayaan.

Kota ini kemudian dikenal sebagai pusat marja‘iyyah tertinggi Syiah dan sebagai salah satu pusat utama hawzah ilmiah di dunia Islam.

 

Sumber:
Diambil dari kitab Tarikh al-Marqad al-‘Alawi al-Muthahhar.

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *