Kesyahidan Amirul Mukminin (as) di Kufah
Beliau syahid pada malam tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriah, pada usia 63 tahun, akibat tebasan pedang yang dilayangkan oleh Abdurrahman bin Muljam al-Muradi ke kepalanya.
Syaikh al-Mufid menulis:
“Kesyahidan Amirul Mukminin (as) terjadi sebelum terbit fajar hari Jumat, pada malam tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriah.
Ibnu Muljam telah bersembunyi di Masjid Kufah. Imam datang ke masjid pada malam tanggal 19 Ramadhan untuk membangunkan orang-orang agar menunaikan salat Subuh. Ia berada di antara orang-orang yang berpura-pura tidur, dan Imam melewatinya.
Ibnu Muljam yang berpura-pura tidur tiba-tiba bangkit dan memukul kepala Imam dengan pedang beracun.
Imam bertahan dalam keadaan terluka selama dua hari, hingga akhirnya pada awal malam tanggal 21 Ramadhan.
Amirul Mukminin (as) terluka oleh pedang beracun pada malam tanggal 19 Ramadhan, dan setelah tiga hari menahan rasa sakit, beliau syahid pada malam tanggal 21 Ramadhan dan kembali kepada Tuhannya. Beliau telah mengetahui sebelumnya bahwa akhir hidupnya adalah kesyahidan dan berkali-kali mengabarkannya kepada para sahabatnya.
Wasiat Amirul Mukminin (as) untuk Dimakamkan di Najaf
Pemimpin orang-orang bertakwa sebelum syahid telah berwasiat agar jasadnya dimakamkan di tanah Najaf—tempat yang sering beliau puji dan sebut sebagai Wadi as-Salam, yaitu tempat beristirahatnya ruh-ruh orang beriman dan sebaik-baik lokasi bagi makam kaum mukmin.
Dalam riwayat disebutkan bahwa makam suci Amirul Mukminin (as) berada di tempat yang sebelumnya telah menjadi tempat peristirahatan para nabi besar Allah, seperti Nabi Adam (as), Nabi Nuh (as), Nabi Hud (as), dan Nabi Shalih (as). Dalam teks-teks ziarah juga disebutkan hakikat ini, dan beliau digambarkan sebagai “pohon kenabian dan pohon subur imamah.”
Mengenai tata cara pemakaman beliau, juga terdapat sejumlah riwayat.
Berdasarkan penjelasan Imam al-Baqir (as), Rasulullah ﷺ bersama para malaikat yang dekat kepada Allah turut serta dalam proses pemakaman Amirul Mukminin (as), dan beliau dimakamkan di samping ayahnya, Nabi Nuh (as).
Hal ini menunjukkan kedudukan yang sangat tinggi dan derajat ilahi Amirul Mukminin (as) di antara para wali Allah.
Menurut berbagai riwayat, tempat pemakaman Amirul Mukminin (as) berada di wilayah “Ghari” (Najaf saat ini). dan disebutkan bahwa beliau dimakamkan di dekat makam para nabi Allah seperti Nuh, Hud, dan Shalih.
Setelah beliau terkena tebasan, Imam Hasan (as) meminta izin untuk membunuh Ibnu Muljam, namun Imam bersabda:
“Biarkan dia tetap hidup. Jika aku syahid, maka balaslah (qisas) dia. Jika aku tetap hidup, maka aku sendiri yang akan memutuskan. Setelah aku wafat, makamkanlah aku di tanah ini, di samping saudara-saudaraku Hud dan Shalih.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Amirul Mukminin (as) sebelum syahid berwasiat kepada kedua putranya, Imam Hasan dan Imam Husain (alaihimassalam), agar memandikan jasadnya secara sembunyi-sembunyi pada malam hari, memberinya hanut, dan memakamkannya di liang kubur yang telah dipersiapkan.
Dalam prosesi pemakaman tersebut, hadir Imam Hasan, Imam Husain (alaihimassalam), Muhammad bin Hanafiyyah, dan Abdullah bin Ja‘far.”
Juga diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad (shalallahu alaihi wa aalihi wasalam) sebelumnya telah mengabarkan tempat pemakaman Amirul Mukminin (as).