Most searched:

Lapisan Emas Kubah dan Menara Makam Imam Ali

Pelapisan Emas Ulang oleh Sekretariat Haram Suci Alawi

Pelapisan Emas Ulang oleh Sekretariat Haram Suci Alawi

Pada awal dekade 1980-an, rezim Ba’ath menghilangkan pita kubah, menurunkan mahkota emas, serta mencabut simbol-simbol dan lempengan emas yang di atasnya terukir syair-syair tentang Amirul Mukminin Ali (alaihis salam). Tindakan ini dilakukan dengan motif sektarian dan rasis, karena tulisan-tulisan tersebut berbahasa Persia dan Turki.

Prasasti-prasasti asli kemudian digantikan dengan lempengan polos mengilap, yang justru menimbulkan kerusakan estetika dan mengurangi keindahan tampilan iwan emas—yang sebelumnya merupakan salah satu unsur arsitektur paling indah di haram suci tersebut.

Mahkota emas asli pun hilang, dan setelah waktu yang lama digantikan dengan mahkota lain yang bertuliskan lafaz “Allah”, sementara bagian pita kubah tetap kosong dan tanpa hiasan.

Setelah terjadinya Intifada Sya‘baniyah pada Maret 1991, rezim Ba’ath yang runtuh membombardir kota suci Najaf dengan roket dan artileri. Kubah suci, khususnya dari sisi utara (arah Bab ath-Thusi), mengalami kerusakan parah. Demikian pula iwan emas dan gerbang emas rusak akibat tembakan dan serpihan peluru.

Kubah Emas Makam Imam Ali
Kerusakan Kubah Emas Makam Imam Ali

Kesucian haram pun dilanggar oleh pasukan rezim, dan setelah penumpasan pemberontakan, kerusakan tersebut diperbaiki secara tergesa-gesa dan tanpa ketelitian.

Setelah jatuhnya rezim Ba’ath pada tahun 2003, otoritas keagamaan di Najaf mengambil alih pengawasan atas tempat-tempat suci. Dewan pengelola haram mengeluarkan keputusan:

“Wajib mengembalikan semua yang telah dihilangkan, dan menghapus segala sesuatu yang dipasang pada masa rezim sebelumnya.”

Berdasarkan keputusan ini, para ahli restorasi dari Iran mulai memperbaiki artefak dan prasasti yang rusak atau dihilangkan pada masa rezim Ba’ath, yang tersimpan di salah satu gudang haram.

Lempengan emas berukir dengan enamel biru untuk pita kubah direstorasi kembali, dan proyek ini selesai pada 13 Rajab 1430 H (6 Juli 2009).

Prasasti iwan emas juga direstorasi dan diwarnai ulang, lalu dipasang kembali pada tempatnya sejak tahun 2013.

Perlu dicatat bahwa pada tahun 1433 H / 2012 M, sekretariat haram juga melakukan perawatan dan renovasi mahkota menara utara dan selatan.

Dalam rangka melanjutkan upaya pelestarian warisan budaya material dan non-material haram suci, serta dengan pengawasan langsung Ayatullah Agung Sayyid Ali al-Sistani, proyek pelapisan emas ulang dimulai pada pagi hari Kamis, 10 Rabi‘ ats-Tsani 1434 H (21 Februari 2013).

Pentingnya proyek ini terletak pada:

  • Perbaikan retakan pada dinding luar kubah
  • Restorasi lempengan emas dekoratif yang rusak akibat cuaca dan konflik militer
  • Pelestarian warisan arsitektur dan sejarah haram

Ditekankan pula bahwa seluruh lempengan emas asli harus dijaga, dirawat, dilapisi ulang, dan dikembalikan ke tempat semula demi menjaga nilai sejarahnya.

Tahap pertama proyek dipercayakan kepada tim teknik dari Haram Abbas (alaihis salam), yang menangani pelapisan ulang silinder kubah.

  • Jumlah lempengan emas: 2525 lembar
  • Tersusun dalam 18 baris
  • Ukuran tiap lembar: 18 × 24 cm
  • Total emas: sekitar 45 kg
  • Selesai pada tahun 2014

Tahap kedua diserahkan kepada tim teknik Yayasan Kautsar Iran, bekerja sama dengan tim teknis haram Alawi.

Pada tahun 2014:

  • Dipasang perancah besi di sekitar kubah
  • Seluruh lempengan emas dilepas

Pada Desember 2015:

  • Dibuka dua bengkel untuk pelapisan ulang emas

Peresmian tahap kedua dilakukan pada Ahad, 13 Rabi‘ ats-Tsani 1437 H (24 Januari 2016), dengan kehadiran tokoh agama, budaya, ilmiah, dan masyarakat.

Rincian pelapisan emas kubah:

  • Bagian atas kubah:
    • 9217 lempengan emas
    • Tersusun dalam 76 baris melingkar
  • Bagian silinder (bawah pita):
    • 2525 lempengan
  • Total keseluruhan:
    • 11.742 lempengan emas
  • Jumlah emas pada bagian atas:
    • Sekitar 131 kg

Mengingat nilai historis dan simbolis mahkota asli yang hilang, dibuatlah replika mahkota berdasarkan arsip foto lama di Iran.

Dalam proses pembuatannya, seluruh detail—baik ukuran maupun bentuk—direkonstruksi dengan sangat teliti, di bawah supervisi Dr. Hadi al-Ansari.

Kubah Emas Makam Imam Ali
Lapisan Kubah Emas Makam Imam Ali

Mahkota ini dibuat di Yayasan Kautsar, Teheran, di bawah pengawasan para insinyur dan pakar arkeologi, dari paduan tembaga. Kemudian, di bengkel Haram Suci Najaf, mahkota tersebut dilapisi dengan sekitar satu setengah kilogram emas murni.

Perlu dicatat bahwa tinggi keseluruhan mahkota, termasuk ornamen bunga di puncaknya, mencapai 473,5 sentimeter.

Pada sore hari Rabu, 7 Rabi‘ul Awwal 1438 H (7 Desember 2016 M), diselenggarakan sebuah upacara megah untuk menyambut kedatangan kafilah mahkota emas saat memasuki Haram Suci Haidari. Acara ini dihadiri oleh para ulama, pemimpin kabilah, para pelayan haram, dan para peziarah. Mahkota tersebut kemudian ditempatkan pada posisinya di atas kubah Sayyid al-Aushiya’ (alaihis salam).

Pada tanggal 17 Rabi‘ul Awwal 1438 H (17 Desember 2016 M), terjadi sebuah peristiwa bersejarah penting, yaitu peresmian kubah makam Amirul Mukminin (as)setelah proses pelapisan emas ulang, yang bertepatan dengan hari kelahiran Rasulullah Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam).

Upacara peresmian tersebut dihadiri oleh banyak tokoh agama, sosial, budaya, dan pemerintahan, dengan kehadiran tokoh-tokoh terkemuka seperti marja‘ besar Syaikh Muhammad Ishaq al-Fayyadh, Ketua Diwan Wakaf Syiah Sayyid ‘Ala’uddin al-Mousawi, serta Sekretaris Haram Alawi Sayyid Nizar Habl al-Matin, bersama para pengurus dan perwakilan tempat-tempat suci lainnya.

Acara ini juga dihadiri oleh ribuan pecinta Amirul Mukminin (as)yang memenuhi serambi dan halaman haram. Setelah kain putih penutup kubah disingkap dan kubah suci tampak dengan balutan emas barunya, mata para hadirin pun dipenuhi cahaya dan kekaguman.

Kubah Emas Makam Imam Ali
Peresmian Kubah Emas Makam Imam Ali

Tentang penanggalan puitis (tarikh syi‘ri) untuk pelapisan emas ulang kubah suci (tahun 1438 H), sejumlah penyair kreatif dan inovatif telah menggubah syair, di antaranya penyair Najaf, Ustaz Muhammad Ali az-Zuhairi.

صَدحَ الحقُّ بصوتِ الشرفِ   ***   وزهى اللؤلؤ بينَ الصَدَفِ

فهنا شلالُ نورٍ دافقٌ        ***    وهنا المجدُ بأعلى الزُلَفِ

وهُنا تاجُ الهدى مؤتلقاً      ***    وبألطافِ المعالي يحتفي

وقبةُ قطبُ رحى الكون الذي   ***   بعلي المرتضى سرٌّ خفي

هي شمسُ الله في أرض الغري  ***    بشعاعٍ دائمٍ لن يختفي

جدَّدوا القبةَ تبراً صافياً      ***     وهيَ للأرواح أسمى هدَفِ

وبتاريخٍ (أجدهُ قد زَهتْ *** قبةُ الكرارِ فوقَ النجفِ)

Kebenaran berseru dengan suara kemuliaan,
dan mutiara pun berkilau indah di dalam cangkangnya.

Di sini mengalir pancaran cahaya yang deras,
dan di sini pula kemuliaan berada pada derajat tertinggi.

Di sini pula mahkota petunjuk bersinar gemilang,
dan dipenuhi dengan kelembutan kemuliaan yang agung.

Dan kubah ini adalah poros perputaran alam semesta,
yang pada diri Ali al-Murtadha tersimpan rahasia tersembunyi.

Ia adalah matahari Allah di bumi al-Ghari (Najaf),
dengan cahaya abadi yang tak akan pernah padam.

Mereka memperbarui kubah dengan emas yang murni,
dan ia menjadi tujuan tertinggi bagi ruh-ruh.

Dan dengan penanggalan (puitis) aku tetapkan:
“Telah bersinar megah kubah Sang Penakluk di atas Najaf.”

Kebenaran dengan suara kemuliaan mengumandangkan hakikat, dan mutiara pun mulai bersinar dari dalam cangkangnya.

Di sini mengalir dan memancar air terjun cahaya, dan di sini kemuliaan mencapai puncak tertingginya.

Di sini mahkota petunjuk mulai bersinar, dan dengan limpahan anugerah alam malakut mencapai ketinggian.

Kubah ini menjadi poros alam semesta yang meliputi seluruh jagat, yang di dalamnya tersimpan rahasia bernama Ali al-Murtadha.

Ia adalah matahari Allah di bumi al-Ghari, yang cahayanya abadi, terus-menerus, dan tak pernah padam.

Kubah itu diperbarui kembali, kubah yang menghidupkan ruh-ruh dan menjadi kiblat bagi semesta.

Dan dalam sejarah dicatat dan ditetapkan bahwa kubah Haidar al-Karrar ditegakkan di puncak Najaf.

Penyair Haram Suci Alawi, Ustaz Ibrahim al-Ka‘bi, juga mencatat tahun pelapisan emas dalam sebuah syair, yang pembukaannya berbunyi: …

مضى عهد المحبّةِ والتصابي       ***      وهذا الشيب يمحو من شبابي

Telah berlalu masa cinta dan masa muda yang penuh keceriaan,
dan kini uban ini menghapus sisa-sisa masa mudaku.

Masa cinta dan masa muda telah berlalu, dan kini uban masa tua telah menghapus dan melenyapkan masa muda itu.

Kemudian ia melanjutkan:

وهذا التبرُ ينطق كلَّ يومٍ        ***       بتفضيلِ الوصيِّ على الرقابِ

أقولُ مبيِّناً لمؤرخيهِ        ***          (بأنَّ التبرَ قولُ أبي تُراب)

Dan emas ini setiap hari seakan berbicara,
tentang keutamaan sang wasi (penerus Nabi) atas seluruh manusia.

Aku berkata untuk menjelaskan penanggalannya:
“Sesungguhnya emas ini adalah ungkapan Abu Turab (Ali).”

Demikian pula, penyair Karbala Ustaz Ali as-Saffar juga menggubah sebuah syair tentang penanggalan pelapisan emas haram, sebagai berikut:

يا قُبَّةً فيكِ رَوحُ الرُّوحِ يَنسَكِبُ       ***   حَيثُ الوجودُ على وَهْمِ الفَنا يَثِبُ

Wahai kubah, di dalam dirimu ruh dari segala ruh mengalir,
di mana keberadaan melampaui bayang kefanaan.

Kemudian ia melanjutkan:

قدْ جَدَّدَ العَزمُ والإخلاصُ عَسجَدَها     ***   فَطأْطأَتْ عِندها الأعيانُ والرُّتَبُ

للدَّهرِ أرِّخْ (عليٌّ يا أبا حسنٍ        ***   بمولدِ المصطفى قَدْ جُدِّدَ الذّهبُ)

Tekad dan keikhlasan telah memperbarui emasnya,
hingga para tokoh dan kedudukan pun tunduk di hadapannya.

Dan untuk zaman ini aku tetapkan penanggalannya:
“Wahai Ali, wahai Abu Hasan, pada hari kelahiran al-Musthafa, emas ini telah diperbarui.”

Catatan Kaki

[1] Tārīkh an-Najaf al-Ashraf, jilid 1, hlm. 404.
[2] Al-Yatīmah al-Gharawiyyah wa at-Tuhfah an-Najafiyyah, hlm. 407.
[3] Dīwān al-Hā’irī.
[4] Dalīl al-‘Atabah al-‘Alawiyyah al-Muqaddasah, hlm. 133.
[5] Mādī an-Najaf wa Hādiruhā, jilid 1, hlm. 66.
[6] Ibid.
[7] Lihat: Ṭarīq an-Nūr: Qiṣṣat al-Ḥāj Muḥammad Rashād Mirza ma‘a al-‘Atabāt al-Muqaddasah, hlm. 21.
[8] Dhikrayāt al-Aḥibbah, hlm. 104.
[9] Dalīl al-‘Atabah al-‘Alawiyyah al-Muqaddasah, hlm. 134.

Sumber

  • Tārīkh an-Najaf al-Ashraf, karya Muhammad Husain Harz ad-Din. Mathba‘ah Negāresh, Qom, 1427 H.
  • Al-Yatīmah al-Gharawiyyah wa at-Tuhfah an-Najafiyyah, karya Husain al-Barāqi. Mathba‘ah Syarī‘at, Qom, 1428 H.
  • Dīwān al-Hā’irī, karya Sayyid Nasrullah al-Ha’irī al-Musawi. Mathba‘ah al-Gharī, Najaf, 1954.
  • Dalīl al-‘Atabah al-‘Alawiyyah al-Muqaddasah, Bagian Urusan Intelektual dan Budaya / Haram Suci Alawi. Dār ar-Rāfidain, Beirut, 2011.
  • Mādī an-Najaf wa Hādiruhā, karya Ja‘far Mahbubah. Mathba‘ah al-Adab, Najaf al-Ashraf, cetakan kedua, 1958 M.
  • Ṭarīq an-Nūr: Qiṣṣat al-Ḥāj Muḥammad Rashād Mirza ma‘a al-‘Atabāt al-Muqaddasah, karya Abdul Halim Hatim Mirza, Dār an-Nūr.
  • Dhikrayāt al-Aḥibbah, karya Abdul Ghaffar al-Ansari. Mathba‘ah Dār al-Kafīl, Karbala al-Muqaddasah, 1436 H.

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *