Najaf dikenal luas karena kekayaan ilmiahnya, khususnya melalui keberadaan berbagai perpustakaan dan khazanah kitab yang berisi manuskrip-manuskrip langka serta karya-karya bernilai tinggi. Perpustakaan-perpustakaan ini dapat diakses oleh para ulama, sastrawan, dan kalangan intelektual.
Di antara perpustakaan tersebut, Perpustakaan Raudhah Haidariyah memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Keberadaan koleksi-koleksi ini mencerminkan pentingnya Najaf sebagai pusat ilmu dan peradaban di dunia Islam.
Selain itu, perkembangan pasar buku dan aktivitas intelektual di Najaf mendorong berdirinya berbagai percetakan dan penerbitan pada awal abad ke-14 Hijriah. Majalah Arab pertama di Irak, yang bernama al-‘Ilm, diterbitkan pada tahun 1328 Hijriah di bawah pimpinan ‘Allamah Muhammad ‘Ali Hibat ad-Din asy-Syahristani.
Najaf sepanjang sejarah senantiasa menjadi pusat penyebaran ilmu dan pemikiran Islam serta merupakan tempat lahirnya otoritas keagamaan (marja‘iyyah) Syiah.
Kota ini, selama hampir satu milenium, memikul tanggung jawab dalam membimbing umat secara religius dan intelektual. Hingga kini, Najaf tetap menjadi tujuan para pelajar dan peneliti dari berbagai penjuru dunia. Setiap tahun, puluhan ulama dan mujtahid lahir dari kota ini, yang kemudian menyebarkan budaya serta ajaran Ahlulbait (عليهم السلام) ke seluruh penjuru dunia.