Banyak riwayat dari Ahlul Bait (as) serta berita-berita muktabar dari berbagai sumber yang secara jelas menegaskan bahwa makam Amirul Mukminin (as) berada di Najaf al-Ashraf.
Pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh sebagian pihak yang menentang dalam beberapa teks, tidak memiliki nilai ilmiah yang kuat, karena umumnya berakar pada ketidaktahuan atau bahkan sikap permusuhan terhadap Amirul Mukminin (as).
Namun demikian, beberapa syubhat yang diajukan oleh sebagian sejarawan dan ulama tetap perlu dikaji dan dijawab agar kebenaran menjadi jelas.
Syubhat yang Diajukan oleh Sebagian Sejarawan
Al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan:
“Sebagian orang berpendapat bahwa makam yang ada di Kufah bukanlah makam Amirul Mukminin (as), melainkan milik seseorang bernama al-Mughirah bin Syu‘bah. Ia menukil bahwa Abu Ja‘far al-Hadhrami berkata: jika kaum Syiah mengetahui hal ini, mereka akan melempari makam tersebut dengan batu, karena makam itu milik al-Mughirah bin Syu‘bah.”
Ibnu Taimiyah mengklaim:
“Amirul Mukminin (as) dimakamkan di istana pemerintahan Kufah, sedangkan makam di Najaf adalah milik al-Mughirah bin Syu‘bah. Selama lebih dari tiga ratus tahun, tidak ada seorang pun yang mendatangi makam Amirul Mukminin (as) di Najaf.”
Ibnu Katsir menyatakan:
“Setelah kesyahidan Amirul Mukminin (as), putranya Hasan (as) menyalatkannya, dan untuk mencegah serangan kaum Khawarij, jenazah beliau dimakamkan di istana pemerintahan Kufah. Mereka yang mengklaim bahwa makam beliau berada di Najaf atau di tempat lain, berbicara tanpa dasar ilmu, dan kemungkinan yang dimaksud adalah makam al-Mughirah bin Syu‘bah, bukan Amirul Mukminin (as).”
Sibt Ibnu al-Jawzi meriwayatkan:
“Abu Nu‘aim al-Isfahani mengatakan bahwa makam yang diziarahi di Najaf adalah makam al-Mughirah bin Syu‘bah, dan jika para peziarah mengetahuinya, mereka akan melemparinya dengan batu.”
Jawaban atas Syubhat yang Diajukan
Jawaban terhadap syubhat yang diajukan oleh para penentang seperti al-Khatib al-Baghdadi, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Katsir dapat diringkas sebagai berikut:
- Syubhat tentang Perbedaan Riwayat
Klaim-klaim mereka mengenai lokasi pemakaman Amirul Mukminin (as) sebenarnya muncul karena pelaksanaan wasiat beliau oleh Ahlul Bait dan para pengikutnya untuk menyembunyikan makam dari musuh.
Beliau dimakamkan pada malam hari, dan lokasi makam disembunyikan dari kaum Khawarij dan musuh-musuh dari Bani Umayyah, agar jasad suci beliau tidak dirusak atau dinodai.
Sayyid Ali bin Ṭawus berkata:
“Makam Amirul Mukminin (as) disembunyikan oleh anak-anak dan para pengikutnya dari pihak yang memusuhinya. Jika para musuh tidak mengetahui lokasinya, maka hal itu benar adanya; karena penyembunyian tersebut dilakukan oleh para pengikut dan penerusnya. Maka bagaimana mungkin orang lain dapat mengetahuinya?”
- Syubhat tentang Tempat Tinggal Amirul Mukminin (as) di Kufah
Ketika Amirul Mukminin (as) memasuki Kufah, beliau tinggal di rumah Ja‘dah bin Hubairah al-Makhzumi, keponakannya dari pihak saudara perempuan (putra Ummu Hani). Rumah ini terletak di dekat Masjid Jami‘ Kufah, di sudut barat daya, dan jaraknya sangat dekat dengan masjid.
Beliau menolak tinggal di istana pemerintahan Kufah yang berada dekat masjid, dan menyebutnya sebagai “Qasr Khabbal” (istana kebinasaan dan kesesatan). Beliau juga menolak tinggal di istana ‘Amr bin Harits yang berada di sisi timur masjid.
Menurut riwayat Nasr bin Muzahim al-Minqarī dari ‘Abdurrahman bin ‘Ubaid bin Abi Kanud dan lainnya, ketika Amirul Mukminin (as) ditanya:
“Apakah engkau akan tinggal di istana pemerintahan Kufah?”
Beliau menjawab:
“Tidak, aku tidak akan tinggal di istana. Aku akan tinggal di Rahbah.”
Kemudian beliau menuju Rahbah, memasuki Masjid Agung, dan menunaikan dua rakaat salat.
“Al-Minqari meriwayatkan dari Asbagh bin Nubatah:
‘Ketika Amirul Mukminin (as) memasuki Kufah, beliau ditanya: apakah engkau akan tinggal di salah satu dari dua istana pemerintahan Kufah? Beliau menjawab: istana khayalan dan kebatilan tidak akan menampungku; aku akan tinggal di rumah Ja‘dah bin Hubairah al-Makhzumi.’”
Dengan demikian, Amirul Mukminin (as) sepanjang hidupnya menghindari tinggal di istana pemerintahan Kufah dan menyebutnya sebagai “Qasr Khabbal”. Maka bagaimana mungkin setelah wafatnya beliau dimakamkan di istana tersebut? Pemakaman di istana justru akan memudahkan musuh untuk mengetahui dan merusak makam beliau.
- Syubhat tentang Makam al-Mughirah bin Syu‘bah
Sebagian pihak mengklaim bahwa makam yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin (as) di Najaf sebenarnya adalah makam al-Mughirah bin Syu‘bah. Klaim ini tidak memiliki dasar yang kuat, karena sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa al-Mughirah bin Tsaqafi dimakamkan di pemakaman kabilah Tsaqif yang terletak di wilayah Thuwiyyah di Kufah, bukan di wilayah Ghari (Najaf).
Letak geografis kedua wilayah tersebut (Thuwiyyah dan Najaf) jelas berbeda dan tidak dapat disamakan.
Tampaknya al-Khatib al-Baghdadi telah keliru dalam membedakan antara Thuwiyyah dan Ghari, karena dalam riwayat lain ia sendiri menegaskan bahwa al-Mughirah dimakamkan di Thuwiyyah.
Pendapat Abu Nu‘aim al-Isfahani juga tidak tepat, karena makam al-Mughirah bin Syu‘bah berada di Thuwiyyah Kufah, bukan di Ghari Najaf. Bahkan, sebagian sumber menyebutkan bahwa ia wafat di wilayah Syam (Suriah).
Sumber
Diambil dari buku “Tārīkh al-Maqrad al-‘Alawī al-Muṭahhar”.