Kitab al-Ghadir disusun dan dihimpun dalam 11 jilid. Penulisan kitab ini memakan waktu lebih dari 40 tahun. Abd al-Husayn Amini untuk menyusun karya ini telah menelaah lebih dari 40.000 kitab, serta meninjau lebih dari 100.000 judul buku dari berbagai penjuru dunia. Selain itu, ia melakukan perjalanan penelitian ke lebih dari 12 kota di lebih dari 3 negara.
Jilid Pertama
Jilid pertama al-Ghadir secara khusus membahas pokok peristiwa Ghadir dan hadis Ghadir. Peristiwa Ghadir dipaparkan di awal dengan berbagai bentuk periwayatan sebagaimana terdapat dalam sumber-sumber yang berbeda.
Selanjutnya, para perawi hadis tersebut dari kalangan sahabat dan tabi‘in, serta para muhaddits besar, diperkenalkan secara rinci dengan penyebutan sanad dan sumbernya. Bagian lain dikhususkan untuk para penulis yang telah menyusun karya tentang Ghadir.
Kemudian dijelaskan pula perjalanan historis argumentasi dan istidlal dengan peristiwa Ghadir oleh Ali bin Abi Thalib (as). Ayat-ayat terkait Ghadir, yaitu:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ…
(QS: Al-Ma’idah ayat 3)
Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu…”
serta:
بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ…
(QS: Al-Ma’idah ayat 67)
Artinya: “Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu…”
beserta pandangan para mufasir mengenai ayat-ayat tersebut, juga dibahas secara rinci.
Selanjutnya, pembahasan tentang Idul Ghadir dan berbagai sumber yang berkaitan dengannya disertai dengan kajian sanad turut disajikan. Kandungan hadis Ghadir juga dianalisis secara mendalam, khususnya mengenai makna kata “wali”. Penelusuran ini dilakukan dalam berbagai literatur, disertai kritik dan evaluasi terhadap pandangan-pandangan yang ada.
Bagian ini sangat panjang dan luas, serta di dalamnya tersaji berbagai informasi menarik mengenai pandangan-pandangan tentang Ghadir dari beragam sumber.
Jilid Kedua
Jilid kedua al-Ghadir diawali dengan pembahasan tentang kedudukan syair dan para penyair dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Tujuan utamanya adalah untuk mengkaji para penyair yang menggubah puisi tentang peristiwa Ghadir. Dengan demikian, sejak bagian ini, kitab al-Ghadir secara khusus memusatkan perhatian pada syair serta biografi para penyair yang menulis tentang Ghadir.
Pembahasan ini disusun secara kronologis, dari abad ke abad. Untuk setiap penyair, dikemukakan biografi, riwayat hidup, kedudukan mereka dalam tradisi Syiah, serta syair-syair mereka mengenai Ghadir beserta penjelasannya.
Dalam jilid kedua, pembahasan berlanjut hingga para penyair abad ketiga Hijriah. Jika diperhatikan keluasan materi dalam satu jilid ini, serta banyaknya informasi yang disajikan tentang para penyair tersebut—dan sejauh mana data-data itu berperan dalam menjelaskan sejarah perkembangan Syiah—maka akan tampak jelas betapa pentingnya kitab al-Ghadir.
Sebagai contoh, mengenai penyair al-Kumayt ibn Zayd dibahas dalam halaman 265 hingga 308, dan mengenai penyair al-Sayyid al-Himyari dibahas sekitar 100 halaman, dari halaman 309 hingga 409. Di dalamnya juga dikemukakan berbagai riwayat tentang mereka yang sebagian besar berkaitan dengan sejarah Syiah.
Jilid Ketiga
Pada jilid ini dibahas para penyair yang tersisa dari abad ketiga serta sejumlah penyair abad keempat yang menggubah syair tentang Ghadir. Nama-nama penyair yang kurang dikenal, beserta informasi yang sangat berharga mengenai mereka—yang masing-masing berasal dari berbagai wilayah dunia Islam serta dari beragam kabilah dan keluarga—dipaparkan dalam biografi-biografi tersebut. Data ini sangat bermanfaat dalam menjelaskan sejarah perkembangan Syiah.
Jilid Keempat
Dalam jilid keempat dibahas sisa penyair abad keempat dan dilanjutkan dengan penyair abad kelima. Kedua abad ini dapat disebut sebagai “abad Syiah”. Banyaknya syair tentang Ghadir pada abad ketiga, keempat, dan kelima menunjukkan secara jelas meluasnya mazhab ini pada masa tersebut.
Jilid Kelima dan Keenam
Pada jilid kelima al-Ghadir, dibahas para penyair Syiah abad keenam dan ketujuh, sedangkan pada jilid keenam dibahas para penyair abad kedelapan. Namun, secara khusus mulai dari halaman 120 jilid keenam, dimuat pembahasan panjang dengan judul Nawadir al-Athar fi ‘Ilm ‘Umar. Dalam bagian ini, dikaji sekitar 100 kasus ijtihad khalifah kedua yang dilakukan berhadapan dengan nash Al-Qur’an atau hadis Nabi (saw).
Pembahasan ini berlanjut hingga halaman 460. Sumber yang digunakan dalam bagian ini sepenuhnya berasal dari literatur Ahlusunnah. Penulis mengemukakan pandangan historis Syiah dalam mengkritik dan menolak pandangan pihak lain dengan metode yang sepenuhnya baru.
Kajian ini, lebih dari sekadar pembahasan hadis, merupakan pendekatan metodologis yang menunjukkan perbedaan cara berpikir antara Syiah dan pihak-pihak yang berseberangan dalam memahami fikih dan hadis. Gaya pembahasannya hampir serupa dengan metode yang digunakan dalam kitab al-Ijtihad wa al-Nass karya Abd al-Husayn Sharaf al-Din, dan secara historis merupakan kelanjutan dari tradisi penulisan bantahan (rad) yang memiliki peran penting dalam memperkenalkan sejarah Syiah dari perspektif tersebut.
Setelah pembahasan tersebut selesai, kajian dilanjutkan kembali dengan pembahasan para penyair abad kedelapan.
Jilid Ketujuh
Jilid ketujuh al-Ghadir dikhususkan untuk para penyair abad kesembilan Hijriah. Abd al-Husayn Amini dalam beberapa kesempatan, ketika dalam suatu syair terdapat isyarat kepada sebuah hadis atau peristiwa sejarah, turut membahas sumber-sumbernya.
Dalam hal ini, sesuai dengan tradisi yang lazim dalam literatur bantahan (rad), ia menggunakan sumber-sumber dari pihak lawan untuk memperkuat argumentasinya terhadap mereka. Ketika ia membahas syair-syair Rajab al-Bursi, ia juga mengemukakan pembahasan mengenai konsep ghuluw (berlebih-lebihan dalam keyakinan) (jilid 7, hlm. 91).
Dalam bagian tersebut, setelah menjelaskan konsep ghuluw, ia juga mengkaji fenomena ghuluw terkait Abu Bakr dalam sumber-sumber hadis dan sejarah Ahlusunnah, dengan memaparkan banyak contoh yang luas dan mendalam. Pembahasan ini—yang pada hakikatnya merupakan kajian tentang sejarah Abu Bakr serta pemaparan pandangan Syiah dalam hal ini—dimulai dari halaman 97 hingga halaman 444.
Pada bagian ini, pembaca dapat mengenal secara menyeluruh berbagai pandangan historis Syiah mengenai persoalan kekhalifahan setelah Rasulullah (saw). Bahkan dapat dikatakan bahwa pokok utama jilid ketujuh berfokus pada tema ini, sebagaimana dalam jilid keenam sebagian besar pembahasan berkaitan dengan sejarah khalifah kedua serta pandangan dan kritik Syiah terhadapnya.
Selanjutnya, dari halaman 445 hingga akhir jilid (halaman 550), dibahas tentang kepribadian Abu Talib, syair-syairnya, serta pandangan-pandangan yang berkembang tentang dirinya beserta kritik terhadapnya.
Jilid Kedelapan
Pada jilid kedelapan al-Ghadir, pembahasan mengenai Abu Talib dilanjutkan hingga halaman 45. Setelah itu, dibahas persoalan ghuluw (berlebih-lebihan) dalam penetapan keutamaan bagi para khalifah. Dengan metode yang sama, Abd al-Husayn Amini mengkaji riwayat-riwayat yang terdapat dalam sumber Ahlusunnah terkait keutamaan Abu Bakr, dan secara khusus Uthman ibn Affan.
Dalam jilid ini, penulis juga mengemukakan sejarah masa pemerintahan Utsman, termasuk berbagai kebijakan dan tindakannya yang menimbulkan keberatan dari sebagian pihak, serta peristiwa perlakuannya terhadap Abu Dharr al-Ghifari, dengan merujuk pada sumber-sumber Ahlusunnah. Pembahasan ini berlanjut hingga halaman 433.
Setelah itu, dibahas biografi Abu Dzar dan perjalanan hidupnya sebagai salah satu tokoh terkemuka di kalangan Syiah awal, berdasarkan berbagai sumber yang luas. Dalam bagian ini, dikemukakan pula pandangan-pandangan Abu Dzar mengenai persoalan ekonomi, termasuk pembahasan secara rinci terhadap anggapan yang berkembang pada masa itu—terutama di Mesir—bahwa ia menganut paham sosialisme.
Pembahasan mengenai Abu Dzar berlanjut hingga akhir jilid ini, yaitu sampai halaman 534.
Jilid Kesembilan
Jilid kesembilan al-Ghadir melanjutkan pembahasan mengenai Uthman ibn Affan, khususnya terkait berbagai penyimpangan dalam pelaksanaan urusan keagamaan dan persoalan fikih. Jilid ini tetap berfokus pada pembahasan khalifah ketiga, kemudian diakhiri dengan pemaparan sejumlah riwayat keutamaan yang luar biasa yang dinisbatkan kepada tiga khalifah.
Jilid Kesepuluh
Jilid kesepuluh kembali dikhususkan pada sejarah Muawiyah ibn Abi Sufyan. Dalam pembahasan tersebut, diuraikan sejarah hidupnya, berbagai penyimpangannya dari syariat, serta riwayat-riwayat yang dibuat-buat mengenai keutamaannya.
Pentingnya pembahasan ini menjadi jelas ketika memperhatikan banyaknya riwayat historis tentang perilaku Mu‘awiyah terhadap para penentangnya, serta upaya yang ia lakukan dalam menanamkan dan mengokohkan pandangan-pandangannya dalam sejarah keagamaan masyarakat.
Jilid Kesebelas
Pembahasan mengenai keutamaan dan sejarah Muawiyah ibn Abi Sufyan berlanjut dalam jilid kesebelas al-Ghadir. Selain itu, dalam jilid ini juga dibahas biografi para penyair Ghadir dari abad kesepuluh dan kesebelas Hijriah.
Dalam jilid ini, perhatian juga diberikan pada perkembangan sastra Syiah pada abad kesebelas, termasuk kajian tentang sastra Syiah Imamiyah di wilayah selatan Irak dan Iran, serta para penyair Arab Syiah dari keluarga-keluarga seperti Bani Musya‘sya‘iyah, Jazairi, dan lainnya.
Uraian ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kitab al-Ghadir bukan sekadar kelanjutan dari tradisi polemik (munazharah) Syiah dalam pembahasan imamah, melainkan juga merupakan karya yang mencakup sejarah Islam, sejarah Syiah dalam Islam, sejarah sastra Syiah, serta berbagai pembahasan luas—meskipun tidak selalu tersusun secara sistematis—tentang peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh Syiah, dan karya-karya mereka.
Dikutip dari Khum Khaneh; edisi khusus Haramain Suci ‘Alawi.