Abdul Hussein Amini, dikenal sebagai Allamah Amini, adalah penulis mahakarya “Al-Ghadir”, seorang ahli hukum, ahli hadits, teolog, sejarawan, ahli manuskrip dan salah satu ulama Syiah besar abad ke-14.
Ayah beliau Mirza Ahmad adalah seorang ulama terkenal dari Tabriz yang lahir pada tahun 1287 H di desa Sardha di wilayah Tabriz.
Beliau datang ke kota tersebut pada tahun 1304 untuk melanjutkan studinya dan setelah mempelajari ilmu dasar, beliau mengikuti pelajaran almarhum Hajj Mirza Asadullah dan mencapai tingkat keilmuan yang dikonfirmasi kualifikasinya oleh Ayatollah Mirza Ali Agha Shirazi dan Hajj Mirza Ali Iravani.
Secara umum, pengetahuan dan akhlak mulia yang dimiliki membuatnya menjadi pribadi yang dikenal secara luas. Hal ini cukup bagi Allamah Amini untuk mulai mempelajari ilmu pengetahuan dari ayahnya.
Allamah Amini mempelajari sastra Persia dan Arab, logika, fiqih, Ushul dan ilmu umum hauzah lainnya dari ayahnya. Selain ilmu-ilmu tersebut, beliau juga mempelajari berbagai buku tentang hadits dan akidah dari ayahnya.
Kakeknya dikenal sebagai Amin As-Syar’a dari daerah Azerbaijan, lahir pada tahun 1275 H. Tokoh besar itu sangat suka mengumpulkan riwayat-riwayat Imam suci dan ia memiliki keahlian mumpuni dalam bahasa Turki dan Persia sehinga memiliki beberapa syair dalam kedua bahasa tersebut.
Oleh karena itu, keluarga Abdul Hussein dikenal sebagai Amini karena ketenaran kakeknya dan beliau sendiri, seperti kakeknya akan menjadi Amin As-Syar’a dan akan menjaga kedudukan Islam Muhammadi dan Alawi yang murni.
Tidak diragukan lagi, tidak ada satu pun karya beliau yang dapat menandingi mahakarya monumentalnya kitab “Al-Ghadir”. Allamah Amini menghabiskan hampir setengah abad hidupnya untuk menulis ensiklopedia komprehensif ini yang membuktikan legitimasi Amirul Mukminin, Ali As dan beliau telah menghadapi berbagai kesulitan besar dalam mewujudkan hal ini.
Allamah Amini melakukan perjalanan ke Iran, India, Suriah dan Turki untuk meneliti sumber-sumber peristiwa Ghadir demi melawan para pendistorsi sejarah. Dengan pena dan semangat berapi-api, namun logis dan objektif, ia menyingkap tabir dan mengungkap kebenaran dari sudut-sudut gelap sejarah.
Selama ini tidak seorang pun mampu menulis satu halaman pun penolakan atau kritik yang signifikan terhadap Al-Ghadir. Ini merupakan indikasi kekuatan dan penguasaan Allamah Amini dalam menulis buku ini.
Dr. Sah Al-Sawi, seorang penulis dan penyair Mesir, mengatakan: “Kita dapat menganggap buku Al-Ghadir sebagai jembatan yang dibangun Allamah antara dunia Syiah dan Sunni. Tentu saja, ini tidak dicapai dengan mudah.”
Upaya tanpa henti menyebabkan penulis mahakarya Al-Ghadir menjadi lemah secara fisik dan jatuh sakit. Penyakitnya semakin memburuk dan mencegahnya untuk beraktivitas. Penyakit dan perawatan di rumah sakit berlangsung selama sekitar 2 tahun dan perawatan di luar negeri tidak membuahkan hasil.
Hingga akhirnya, beliau menghembuskan napas terakhirnya pada hari Jumat, 3 Juli 1970. Keesokan paginya, jenazah beliau dimakamkan di Teheran dengan kerumunan besar para pecinta Ahlulbait dan beberapa hari kemudian, jenazahnya dipindahkan ke Najaf dan di tanah suci itu beliau dimakamkan di perpustakaan umum yang beliau dirikan sendiri, sesuai dengan wasiatnya.