Kitab al-Ghadir bukanlah sebuah karya polemik tradisional dengan Ahlusunnah; bukan pula kitab yang, seperti banyak karya sebelumnya, berusaha meyakinkan Ahlusunnah agar meninggalkan mazhab mereka dan menjadi Syiah.
Abd al-Husayn Amini tidak memulai kitab al-Ghadir dengan pembahasan tentang Ghadir, ataupun tentang Syiah dan Ahlusunnah, maupun peristiwa Saqifah Bani Sa‘idah. Sebaliknya, ia memulai kitabnya dengan sejarah. Ia membahas ilmu sejarah, menekankan kemuliaan dan pentingnya ilmu tersebut.
Pemahaman yang dibangun dalam pengantar kitab ini secara keseluruhan dapat dirumuskan bahwa ia memandang sejarah sebagai seorang hakim. Ia menyatakan bahwa selama kita belum mengajukan perkara ke pengadilan sejarah, seolah-olah kita hanya berbicara sepihak di hadapan hakim, tanpa adanya pihak yang benar-benar menilai dan memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Tidak ada penilaian objektif mengenai sejauh mana keseluruhan argumen kita memiliki validitas atau tidak.
Ia, bahkan ketika mengangkat persoalan Ghadir, berusaha meninjaunya dari sudut pandang penilaian sejarah. Ia tidak sedang mencari pertentangan antara Syiah dan Sunni. Di tengah gejolak Perang Dunia Kedua, ketika umat Islam menghadapi berbagai ancaman, apakah tepat pada masa itu seseorang justru menulis bantahan baru terhadap Ahlusunnah? Apakah saat itu merupakan waktu yang tepat untuk menyingkap dan memperbesar perbedaan antara Syiah dan Sunni?
Apa yang Dilakukan Allamah Amini?
Tampaknya perlu adanya perubahan dalam cara pandang kita terhadap apa yang terjadi dalam kitab al-Ghadir. Salah satu hal penting adalah bahwa Abd al-Husayn Amini berulang kali, di berbagai bagian al-Ghadir, mengutip pernyataan-pernyataan dari karya para ulama Ahlusunnah. Ia kemudian mengkritik sebagian kalangan mereka—bukan seluruhnya, melainkan kelompok-kelompok ekstrem—karena sikap mereka yang memicu perpecahan.
Sebagai contoh, ia mengutip dari kitab al-Shi‘ah wa al-Sunnah karya Muhammad Rashid Rida, yang ditulis dari sudut pandang Salafi yang cenderung menonjolkan perbedaan antara Syiah dan Sunni. Jika kita menelaah kondisi zaman tersebut, akan tampak jelas bahwa sebagian ulama pada masa itu—khususnya di kalangan yang dekat dengan Wahabisme (meskipun Muhammad Rashid Rida sendiri bukan seorang Wahabi, namun memiliki kedekatan pemikiran)—tidak segan-segan memperuncing perbedaan dan memperbesar konflik antara kedua kelompok.
Hal ini disebabkan karena cara pandang mereka yang sangat sempit dan tertutup, serta kecenderungan untuk menampilkan diri sebagai satu-satunya pembela Islam, sementara pihak lain digambarkan sebagai kelompok yang menyimpang dan jauh dari kebenaran. Dalam konteks ini, Abd al-Husayn Amini secara tegas mengkritik kelompok tersebut, bahkan secara khusus mengkritik Muhammad Rashid Rida. Menariknya, metode kritik yang ia gunakan memiliki karakteristik tersendiri.
Dapat dilihat bahwa terdapat dua poin utama dalam kritik Allamah terhadap kalangan Salafi ekstrem seperti Muhammad Rashid Rida:
Pertama, kritik yang bersifat substansial (isi).
Ia menyatakan:
“Sungguh mengherankan seorang ulama yang memiliki pengikut dan menganggap dirinya sebagai tokoh terkemuka, mengapa ia berbicara seperti orang awam? Anda tidak sedang berbicara tentang suatu kaum atau suku yang telah punah sehingga bebas mengatakan apa saja tentang mereka. Syiah adalah kelompok yang masih hidup, dan Anda dapat menyaksikan langsung kehidupan mereka. Apakah pantas untuk sekadar mengutip dari kitab-kitab berabad-abad yang lalu tanpa melakukan verifikasi, tanpa meneliti apakah benar Syiah sebagaimana yang Anda gambarkan itu sesuai dengan kenyataan atau tidak?”
Dengan ungkapan lain, kritik utama yang diarahkan oleh Abd al-Husayn Amini kepada kelompok tersebut adalah bahwa mereka memiliki pendekatan yang bersifat jahil terhadap Syiah. Mereka tidak berupaya mempelajari Syiah secara langsung sebelum berbicara tentangnya, melainkan hanya menilai berdasarkan informasi yang bersifat umum, tidak ilmiah, dan sekadar berdasarkan kabar yang beredar. Kritik ini merupakan salah satu poin yang berulang kali disampaikan Allamah Amini terhadap kalangan Salafi ekstrem.
Kritik kedua yang ia kemukakan adalah bahwa kelompok tersebut tidak memahami kondisi umat Islam pada masanya. Umat Islam pada saat itu berada dalam situasi yang sangat membutuhkan persatuan, namun justru mereka mendorong ke arah perpecahan dan disintegrasi. Inilah salah satu kritik paling mendasar yang diajukan Allamah Amini terhadap kalangan Salafi ekstrem.
Dengan demikian, tampak bahwa salah satu tujuan utama yang ingin dicapai Abd al-Husayn Amini dalam kitab al-Ghadir adalah menghadapi arus-arus budaya yang mengancam masyarakat Islam. Di antara sarana utama yang ia tempuh dalam upaya tersebut adalah menekankan pentingnya persatuan di antara kaum Muslimin.
Menghilangkan Kesalahpahaman
Salah satu hal yang banyak diupayakan oleh Abd al-Husayn Amini sepanjang kitab al-Ghadir adalah menghilangkan berbagai kesalahpahaman yang bersifat awam.
Di antara kesalahpahaman yang ia soroti adalah sebagai berikut:
Misalnya, tuduhan bahwa kaum Syiah setelah selesai salat mengucapkan tiga kali “Khān al-Amīn” (Jibril telah berkhianat), dengan alasan bahwa Jibril seharusnya membawa kenabian kepada Amirul Mukminin tetapi malah menyampaikannya kepada Nabi Islam. Pertanyaannya, kapan dan di mana dalam sejarah pernah tercatat seorang Syiah melakukan hal seperti ini?
Atau riwayat yang dinukil oleh Allamah Amini dari Abdullah al-Qasimi, yang juga mengutip secara keliru dari Shakib Arslan, bahwa orang-orang Iran tidak menyukai angka 10. Alasannya, karena orang Iran dan Syiah tidak menyukai al-‘Asharah al-Mubashsharah, sehingga mereka bermasalah dengan angka 10 dan ketika ingin menyebut angka tersebut, mereka mengatakan 1+9!
Apabila seseorang—misalnya yang hidup di Andalusia pada masa lalu atau di wilayah selatan Aljazair pada masa kini—yang sepanjang hidupnya tidak pernah berinteraksi dengan seorang Syiah atau orang Iran, kemudian membaca satu ungkapan seperti “Khān al-Amīn” tersebut, bukankah darahnya akan mendidih dan ia akan bereaksi dengan kemarahan yang meluap?
Inilah contoh bagaimana kesalahpahaman yang tidak berdasar dapat memicu emosi dan memperdalam jurang perpecahan, sesuatu yang justru berusaha diluruskan dan dihilangkan oleh Allamah Amini dalam karya al-Ghadir bukankah hal itu akan menimbulkan rasa jijik dan penolakan, bahwa bagaimana mungkin mereka disebut Muslim jika memiliki keyakinan seperti itu? Lalu bagaimana jika kemudian dijelaskan kepadanya bahwa hal tersebut tidak benar dan tidak pernah terjadi?
Tujuan Allamah Amini dalam al-Ghadir
Kitab al-Ghadir bukanlah sebuah karya polemik tradisional dengan Ahlusunnah; bukan pula kitab yang bertujuan untuk meyakinkan mereka agar meninggalkan mazhabnya dan berpindah menjadi Syiah.
Sesungguhnya, misi utama al-Ghadir ada dua hal:
Mengatur hubungan antara Syiah dan Ahlusunnah.
Mendefinisikan konsep umat yang satu (ummatan wahidah), serta bagaimana mungkin—di tengah berbagai perbedaan—kita tetap menekankan titik-titik persamaan. Dalam hal ini, Ghadir dipandang sebagai salah satu titik temu tersebut.
Selain itu, kitab ini juga bertujuan untuk menghilangkan kesalahpahaman yang ada dalam pemahaman Ahlusunnah terhadap Syiah, serta menawarkan suatu rumusan pendekatan yang jelas.
Abd al-Husayn Amini hendak menegaskan bahwa keberhasilan dalam mencapai kesatuan umat Islam hanya mungkin terwujud apabila hubungan antar kelompok, definisi yang kita miliki tentang satu sama lain, serta pemahaman antara Syiah dan Sunni dibangun secara realistis—bukan berdasarkan mitos, cerita-cerita yang tidak berdasar, atau konstruksi imajinatif.
Dalam kerangka inilah ia menyusun sebelas jilid al-Ghadir, dengan upaya yang terus-menerus untuk menghilangkan kesalahpahaman tersebut.
Pendekatan Allamah Amini adalah menata hubungan antara “diri” dan “yang lain”—antara Syiah dan Ahlusunnah—berdasarkan realitas dengan pendekatan yang objektif dan realistis. Ia berusaha mengurangi penilaian-penilaian awam dan menggantinya dengan pendekatan ilmiah atau akademik.
Untuk mencapai hal tersebut, terdapat dua hal pokok yang berulang kali ditekankan dalam al-Ghadir:
Peningkatan pengetahuan umat Islam, di mana para ulama—baik dari kalangan Syiah maupun Ahlusunnah—harus menyampaikan informasi yang akurat, terverifikasi, dan bebas dari berlebihan yang bersifat awam kepada para pengikutnya.
Penanaman sikap realistis di tengah masyarakat, sehingga mereka terbiasa memahami realitas apa adanya, bukan melalui cerita-cerita yang bersifat mitologis atau berlebihan.
Dengan demikian, al-Ghadir bukan sekadar karya ilmiah, tetapi juga sebuah proyek intelektual untuk membangun pemahaman yang lebih jernih dan hubungan yang lebih sehat di antara sesama Muslim.