Most searched:

Jibril

Turunnya Jibril dalam Peristiwa Ghadir dan Penegasan Allah

Kisah beberapa kali turunnya Jibril dalam peristiwa Ghadir dan penegasan Allah

Banyak kitab sejarah telah meriwayatkan peristiwa “Ghadir”, di mana Nabi Islam yang mulia, Muhammad al-Mustafa (saw), atas perintah Allah, dalam haji yang dikenal sebagai Haji Wada‘, mengangkat Amirul Mukminin (as) sebagai pengganti dan imam setelah beliau, serta menyempurnakan hujjah atas umat.

Dalam sejumlah besar kitab sejarah, peristiwa “Ghadir” diriwayatkan dan ditegaskan, dan tujuan terpenting dari peristiwa ini adalah penetapan dan pengangkatan Amirul Mukminin (as) atas perintah Allah Yang Mahatinggi sebagai pengganti yang sah dan benar dari Rasulullah (saw).

Peristiwa Ghadir dikenal luas di kalangan kaum Muslimin, namun kami menyampaikannya sebagaimana yang diriwayatkan dari Ahlulbait (alaihim salam), di antaranya dari lisan Imam Muhammad bin Ali al-Baqir (as), yang meriwayatkan peristiwa “Ghadir” sebagai berikut:

“Jibril (as) turun kepada Nabi (saw) dan berkata kepada beliau:

‘Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah (swt) menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: Aku tidak pernah mencabut ruh seorang nabi atau rasul dari para nabi dan rasul-Ku, kecuali setelah Aku menyempurnakan agama-Ku dan menuntaskan hujjah. Dan pada dirimu masih tersisa dua kewajiban yang harus engkau sampaikan kepada kaummu: kewajiban haji dan kewajiban wilayah serta kekhalifahan setelahmu; karena bumi-Ku tidak pernah kosong dari hujjah, dan tidak akan pernah kosong.’”

“Sesungguhnya Allah swt memerintahkan kepadamu agar engkau menyampaikan hukum-hukum haji kepada kaummu, dan agar engkau menunaikan haji serta setiap orang dari kota-kota, daerah sekitar, dan penduduk pedalaman yang memiliki kemampuan turut menunaikan haji bersamamu; dan ajarkan kepada mereka tata cara haji, sebagaimana engkau telah mengajarkan kepada mereka shalat, zakat, dan puasa, serta telah menjelaskan hal itu kepada mereka. Maka ajarkan pula kepada mereka hukum-hukum haji.”

Imam al-Baqir (as) melanjutkan:

“Maka penyeru Rasulullah (saw) menyerukan di tengah masyarakat bahwa: ‘Ketahuilah, Rasulullah bermaksud menunaikan haji untuk mengajarkan kepada kalian manasik haji, sebagaimana beliau telah mengajarkan kepada kalian hukum-hukum agama lainnya dan menjelaskan hal tersebut kepada kalian, sebagaimana sebelumnya beliau telah menjelaskan hukum-hukum lainnya.’”

Maka Rasulullah (saw) dan masyarakat keluar dari kota, dan mereka memperhatikan beliau untuk melihat apa yang beliau lakukan agar mereka melakukan hal yang sama. Kemudian beliau menunaikan haji bersama mereka, yang jumlah penduduk Madinah, daerah sekitar, dan penduduk pedalaman mencapai tujuh puluh ribu orang atau lebih.

Imam al-Baqir (as) bersabda:

“Ketika Rasulullah (saw) berhenti di Arafah, Jibril datang kepada beliau dari sisi Allah Ta‘ala dan berkata:

‘Wahai Muhammad, Allah menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: Sesungguhnya umurmu telah berlalu dan masa (kehidupan)mu telah berakhir, dan Aku akan membawamu kepada sesuatu yang tidak dapat dihindari. Maka ambillah perjanjianmu, umumkan wasiatmu, dan serahkan apa yang ada padamu berupa ilmu serta warisan ilmu para nabi sebelummu, berupa senjata, tabut, dan segala sesuatu yang termasuk tanda-tanda mereka yang ada padamu, kepada pengganti dan wasi setelahmu, yang merupakan hujjah-Ku yang sempurna atas manusia, yaitu Ali bin Abi Thalib (as).’”

“Jadikanlah dia sebagai tanda bagi manusia, dan perbaruilah perjanjian, ikrar, dan baiat terhadapnya, serta ingatkan mereka akan perjanjian dan ikatan yang telah Aku ambil dari mereka, bahwa mereka harus menerima wilayah wali-Ku dan mengetahui bahwa pemimpin mereka dan pemimpin setiap laki-laki dan perempuan mukmin adalah ‘Ali bin Abi Thalib’; karena Aku tidak pernah mencabut ruh seorang nabi pun, kecuali setelah Aku menyempurnakan agama-Ku dan hujjah-Ku, serta menyempurnakan nikmat-Ku dengan wilayah para wali-Ku dan permusuhan terhadap musuh-musuh-Ku.

Dan inilah kesempurnaan tauhid, agama, dan penyempurnaan nikmat-Ku atas makhluk-Ku, yang terwujud melalui mengikuti dan menaati wali-Ku; karena Aku tidak pernah membiarkan bumi tanpa wali dan penjaga, agar ia menjadi hujjah-Ku atas makhluk-Ku. Oleh karena itu, pada hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian dan telah mencukupkan nikmat-Ku atas kalian serta meridhai Islam sebagai agama bagi kalian.”[1]

“Wilayah-Ku dan kepemimpinan bagi setiap laki-laki dan perempuan mukmin, setelah ini berada pada Ali (as), yang merupakan hamba dan wasi nabi-Ku, serta penggantiku setelahnya dan hujjah-Ku yang sempurna atas makhluk-Ku. Ketaatan kepada dirinya adalah ketaatan kepada Muhammad (saw), nabi-Ku, dan ketaatan kepada dirinya dan kepada Muhammad (saw) adalah ketaatan kepada-Ku. Maka barang siapa menaati dirinya, sungguh ia telah menaati-Ku, dan barang siapa menentangnya, sungguh ia telah mendurhakai-Ku.”

“Aku menjadikannya sebagai tanda antara Aku dan makhluk-Ku. Barang siapa mengenalnya, maka ia adalah seorang mukmin, dan siapa yang mengingkarinya, maka ia adalah seorang kafir.

Barang siapa menyekutukan dalam baiat kepadanya, maka ia adalah seorang musyrik; dan siapa yang datang menemui-Ku dengan menerima wilayah Ali, ia akan masuk surga, dan siapa yang datang menemui-Ku dengan memusuhi Ali, ia akan masuk neraka.

Maka wahai Muhammad (saw), angkatlah ‘Ali untuk wilayah dan ambillah baiat dari manusia untuknya, serta ingatkan mereka akan perjanjian dan ikatan-Ku yang telah Aku ambil dari mereka, karena Aku akan membawamu kepada-Ku.”

Beliau dalam lanjutan penuturan peristiwa Ghadir bersabda:

“Adapun Rasulullah (saw) merasa khawatir terhadap kaumnya, terutama dari kalangan munafik dan para penyebar perpecahan, bahwa mereka akan berpencar dan kembali kepada masa jahiliah; karena Nabi (saw) mengetahui sejauh mana permusuhan mereka terhadap Ali (as) dan kedengkian yang mereka simpan terhadapnya.

Oleh karena itu, beliau meminta kepada Jibril (as) agar memohon kepada Tuhan untuk memberikan jaminan keselamatan bagi Ali (as) dari masyarakat, dan beliau menunggu hingga Jibril menyampaikan jawaban dari sisi Tuhan. Karena itu, beliau menunda penyampaian wilayah ‘Ali (as) kepada masyarakat, hingga mereka sampai di Masjid Khif. Di sana, Jibril kembali turun kepada beliau dan meminta beliau untuk melaksanakan perintah tersebut serta mengangkat Ali (as) sebagai tanda bagi manusia agar mereka mendapat petunjuk melaluinya. Namun, ia belum menyampaikan jaminan keamanan bagi Ali (as) dari sisi Allah Swt, hingga mereka sampai di daerah Kura‘ al-Ghamim di antara Mekah dan Madinah.”

“Di sini, Jibril kembali datang kepada beliau dan memerintahkannya untuk melaksanakan apa yang telah dibawanya dari sisi Allah mengenai Ali (as), namun ia tidak membawa jaminan keamanan bagi beliau.”

Imam al-Baqir (as) melanjutkan:

“Maka beliau kembali berkata kepada Jibril:
‘Aku khawatir kaumku akan mendustakanku dan tidak menerima ucapanku mengenai Ali (as).’

Kemudian beliau melanjutkan perjalanan hingga sampai di Ghadir Khum, yang terletak tiga mil dari Juhfah, sebuah desa besar di jalur menuju Mekah. Ketika lima jam dari siang telah berlalu, Jibril datang kembali dengan penegasan, serta kabar jaminan keamanan dari Allah, dan berkata:
‘Wahai Muhammad, Allah swt menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu mengenai Ali; dan jika engkau tidak melakukannya, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya, dan Allah akan melindungimu dari manusia.’”[2]

Imam (as) bersabda:

“Kaum Muslimin yang berada di bagian depan kafilah telah mendekati Juhfah, maka Rasulullah (saw) memerintahkan agar mereka yang telah maju dikembalikan ke tempat itu dan menunggu hingga yang di belakang menyusul, agar Rasulullah (saw) dapat mengangkat Ali (as) sebagai tanda atas wilayah, serta menyampaikan kepada mereka apa yang telah diturunkan Allah Ta‘ala mengenai Ali (as). Kini Jibril telah memberitahukan kepada beliau bahwa Allah swt telah menjamin keselamatan beliau dari gangguan manusia.

Maka Rasulullah (saw) setelah datangnya jaminan keamanan, memerintahkan agar seorang penyeru menyerukan di tengah manusia: ‘الصلاة جامعة’ (shalat berjamaah), dan agar mereka yang telah maju kembali, serta mereka yang datang ditahan di tempat itu. Kemudian beliau membelokkan jalur ke arah ‘Masjid Ghadir’, sebagaimana Jibril atas perintah Allah swt telah memerintahkannya untuk melakukan hal tersebut.

Di sana terdapat beberapa pohon, lalu Rasulullah (saw) memerintahkan agar bagian bawahnya dibersihkan dan disusun batu-batu sebagai sesuatu yang menyerupai mimbar agar beliau dapat terlihat oleh masyarakat. Ketika manusia telah berkumpul di tempat itu, Rasulullah (saw) berdiri di atas batu-batu tersebut dan menyampaikan khutbah yang dikenal sebagai khutbah ‘Hari Ghadir’. Setelah memuji dan menyanjung Allah Ta‘ala, beliau bersabda mengenai perkara penrus:

‘Wahai manusia! Ini adalah Ali (as), saudaraku, wasi-ku, penjaga ilmuku, dan penggantiku atas umatku, serta penafsir Kitab Allah عزوجل dan penyeru kepadanya serta pelaksana apa yang diridhai oleh-Nya.

Ia memerangi musuh-musuh Allah, mendukung ketaatan kepada-Nya, dan mencegah dari kemaksiatan terhadap-Nya. Ia adalah penerus Rasulullah, Amirul Mukminin, dan seorang imam yang memberi petunjuk. Atas perintah Allah, ia akan memerangi para pelanggar janji, orang-orang zalim, dan orang-orang yang keluar dari kebenaran (nakitsin, qasithin, dan mariqin).

Aku berkata atas perintah Allah bahwa ucapan ini tidak akan berubah, dan aku berkata atas perintah Tuhanku: Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya; laknatilah siapa yang mengingkarinya dan murkailah siapa yang menolak haknya.

Ya Allah, Engkau telah menurunkan kepadaku bahwa kepemimpinan dan imamah umat setelahku adalah bagi Ali, yang merupakan wali-Mu, setelah aku menjelaskan hal ini kepada manusia dan mengangkatnya pada kedudukan tersebut, agar dengan hal itu Engkau menyempurnakan agama hamba-hamba-Mu dan menyempurnakan nikmat-Mu atas mereka serta meridhai Islam sebagai agama bagi mereka; dan Engkau berfirman:

«وَ مَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَ هُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخاسِرِينَ»
“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.”[3]

Ya Allah, aku menjadikan-Mu sebagai saksi bahwa aku telah menyampaikan risalah-Mu kepada manusia.’”[4]

Catatan Kaki:

  1. Surah Al-Ma’idah ayat 3: «الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَ رَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلامَ دِيناً».
  2. Surah Al-Ma’idah ayat 67: «يا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ وَ اللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ».
  3. Surah Ali ‘Imran ayat 85.
  4. ‘Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 37, halaman 201–219.

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *