Pada bagian ketiga artikel ini, telah dijelaskan mengenai syubhat kaum munafik mengenai keterkaitan Ghadir dengan perintah ilahi. Pada bagian ini dibahas mengenai usulan kaum munafik untuk mengganti Ali As dengan orang lain:
Keempat: Usulan Untuk Mengganti Ali As Dengan Orang Lain
Usai khutbah Ghadir dan baiat umum kepada Amirul Mukminin As, metode keempat yang diadopsi kaum munafik untuk menimbulkan keraguan dan menjadikannya sebagai doktrin baru adalah masalah substitusi Ali As dengan orang lain.
Mereka pertama kali mengangkat masalah ini hanya di kalangan mereka sendiri dengan ucapan-ucapan berikut
“Seandainya saja beliau (Rasul Saw) mengangkat Imam lain selain Ali dan menggantinya dengan orang lain”
“Hati kami tidak akan sanggup menghadapi kepemimpinan Ali untuk taat kepadanya. Marilah kita meminta Rasul Saw untuk menggantinya dengan orang lain”
“Seandainya beliau tidak mengangkat Ali sebagai Imam dan mengangkat kami sebagai Imam, atau sekarang setelah beliau mengangkatnya sebagai Imam, kemudian menggantinya dan memilih kami sebagai gantinya.”
Kemudian mereka datang kepada Rasul Saw dan dengan sombong menyampaikan seluruh permintaan ini kepada beliau. Juru bicara mereka kala itu adalah Mu’adz bin Jabal salah satu yang menyetujui peristiwa Saqifah.
Yang mengherankan adalah mereka menyebut nama Abu Bakar dan Umar sebagai orang yang akan menggantikan Ali As! Dengan demikian tabir asal mula konspirasi pun terangkat.
Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, orang-orang baru saja memeluk Islam dan mereka tidak puas jika kenabian berada di tanganmu dan imamah berada di tangan sepupumu. Akan lebih baik jika engkau menyerahkannya kepada orang lain selain dia”
Nabi Muhammad Saw bersabda: “Aku tidak melakukan ini atas kehendakku sendiri dan aku tidak punya pilihan lain. Allah lah yang telah memberikanku perintah dan mewajibkannya kepadaku.”
Allah Swt menjawab mereka dengan ayat 15 Surah Yunus dan menurunkannya kepada Rasul Saw:
وَ اِذا تُتْلى عَلَيْهِمْ آياتِنا بَيِّناتٍ قالَ الَّذينَ لا يَرْجُونَ لِقائَنا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هذا اَوْ بَدِّلْهُ قُلْ ما يَكُونُ لى اَنْ اُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقاءِ نَفْسى اِنْ اَتَّبِعُ اِلاّ ما يُوحى اِلَىَّ اِنّى اَخافُ اِنْ عَصَيْتُ رَبّى عَذابَ يَوْمٍ عَظيمٍ
“Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami secara jelas, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (di akhirat) berkata, “Datangkanlah kitab selain Al-Qur’an ini atau gantilah!” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidaklah pantas bagiku menggantinya atas kemauanku sendiri. Aku tidak mengikuti, kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang dahsyat jika mendurhakai Tuhanku.”
Oleh karena itu, Rasul Saw mengumumkan kepada mereka bahwa beliau tidak berhak melakukan perubahan, karena pada dasarnya beliau tidak melakukan hal tersebut atas inisiatif diri sendiri, melainkan beliau mengikuti wahyu yang diturunkan dan beliau takut akan hukuman ilahi atas pelanggaran sekecil apa pun terhadap pengukuhan wilayah Ali As.
Salah satu cara yang dipikirkan oleh kaum munafik, yang dipimpin oleh lima sahabat Saqifah, untuk melakukan konspirasi usai khutbah Ghadir adalah dengan mengusulkan pembatalan wilayah Ali As dan memilih orang lain sebagai penggantinya yang seandainya diterima oleh Rasul Saw apapun yang diumumkan pada peristiwa Ghadir bisa dibatalkan.
Pada mulanya mereka menyebarkan desas-desus bahwa mereka berharap seandaainya Rasul Saw menunjuk orang lain selain Ali sebagai khalifah atau menyebarkan rumor bahwa setelah masalah itu selesai, Rasul Saw akan menunjuk orang lain sebagai penggantinya!
Mereka secara bertahap mengubah nada bicara mereka dan berkata: “Seandainya beliau akan menunjuk kami sebagai Imam sebagai pengganti Ali”
Pada tahap selanjutnya, mereka mulai membuka lebar-lebar tujuan mereka dan berkata: “Jika dia (Rasul Saw) telah menunjuk Abu Bakar dan Umar sebagai pengganti Ali, kami akan mengikuti mereka.”
Baca lebih lanjut di bagian Kelima