Most searched:

Muhammad bin Hanafiyah

Muhammad bin Hanafiyah Putra Ali Pelindung Hasan Dan Husain

Dalam Perang Jamal, Amirul Mukminin Ali As memberikan panji perang kepada putranya, Muhammad bin Hanafiyah, dan berkata: “Jika gunung-gunung bergetar, tetaplah teguh. Kuatkan tekadmu, serahkan pikiranmu kepada Allah, teguhkan kakimu layaknya pasak di tanah dan perhatikanlah ujung terjauh medan perang, abaikan pemandangan yang menakutkan dan ketahuilah bahwa kemenangan adalah janji Allah Yang Maha Kuasa.” (Nahjul Balaghah, Khutbah 11)

 

* * * * * * * * * *

 

Ibnu Abil Hadid berkata dalam syarah Nahjul Balaghah: Dalam Perang Jamal, Amirul Mukminin Ali As memberikan panji perang kepada putranya Muhammad al-Hanafiyyah dan barisan menjadi tertib dan bersatu, lalu beliau berkata kepadanya: Ambillah. Ia sedikit ragu dan berkata: Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau melihat langit seolah-olah berupa tetesan hujan? Maka Amirul Mukminin As memukul dada Muhammad dan berkata: “Engkau serupa dengan ibumu.” Kemudian beliau mengambil bendera dengan tangannya yang mulia dan mengibarkannya dan berkata (dengan penuh kebanggaan): “Hantamlah dengan tombak layaknya ayahmu menghantamnya, agar engkau dipuji. Jika apinya tidak dinyalakan dengan pedang dan tombak yang lurus dan kuat, maka tidak ada gunanya berperang.”

Kemudian ia menyerang dan orang-orang yang di belakangnya ikut menyerang dan ia menghancurkan pasukan Basrah. Dikatakan kepada Muhammad: Mengapa ayahmu menempatkanmu dalam bahaya dalam perang, tetapi tidak melakukan hal yang sama dengan Hasan dan Husain? Muhammad menjawab: Mereka adalah mata beliau dan aku adalah tangan kanannya dan beliau melindungi matanya dengan tanganku. Amirul Mukminin As mengutus Muhammad ke tempat-tempat berbahaya perang dan mencegah Hasan dan Husain pergi; beliau berkata dalam perang Shiffin: Jagalah kedua pemuda ini untukku; aku khawatir jika mereka terbunuh, garis keturunan Nabi Saw akan terputus. (Bihar al-Anwar. Jilid 42, Hal.98)

 

* * * * * * * * * *

 

Mundzir ats-Tsauri berkata: Aku mendengar Muhammad bin Hanafiyah menceritakan peristiwa Perang Jamal dan berkata: Ketika kedua pasukan berbaris saling berhadapan, Amirul Mukminin Ali As menyerahkan bendera kepadaku; tetapi ketika beliau melihat pasukan saling mendekat, aku sedikit mundur dan menjadi takut, beliau segera mengambil bendera dariku dan maju berperang dengannya. Pada hari itu, aku mengalahkan seorang pria dari Basrah; ketika aku sepenuhnya berhasil, dia berkata: “Aku berada di atas agama Abu Thalib.” (at-Thabaqat al-Kubro, Jilid 5, Hal. 68

 

* * * * * * * * * *

 

Ibnu Abbas berkata: Pada suatu hari Perang Shiffin, Imam Ali As memanggil Muhammad bin Hanafiyah dan berkata kepadanya: Serang sayap pasukan musuh! Muhammad menyerang bersama para sahabatnya dan mengalahkan sayap Muawiyah dan kembali dalam keadaan terluka. Muhammad berkata kepada Imam Ali As: “Aku haus!” Amirul Mukminin As memberinya seteguk air dan memercikkan sedikit air di antara baju zirah dan kulit Muhammad. Aku bisa melihat darah yang menggumpal keluar dari celah baju zirahnya. Setelah memberi Muhammad bin Hanafiyahh waktu istirahat selama satu jam, Imam Ali As berkata kepadanya: Sekarang serang sayap pasukan musuh! Dia menyerang sayap pasukan musuh bersama para sahabatnya dan mengalahkannya dan kembali dalam keadaan terluka sambil berkata: “Air, air!” Imam Ali As berdiri dan melakukan tindakan yang sama seperti sebelumnya.

Kemudian beliau berkata kepadanya: Bangun dan serang jantung pasukan musuh! Muhammad menyerang jantung pasukan Muawiyah dan mengalahkan mereka, lalu kembali dalam keadaan terluka parah dan menangis. Imam Ali As bangkit dan mencium Muhammad di antara kedua matanya, lalu berkata kepadanya: Ayahmu menjadi tebusan bagimu! Demi Allah, engkau telah membuatku bahagia. Mengapa engkau menangis, karena sukacita atau karena takut dan cemas? Muhammad berkata: Mengapa aku tidak boleh menangis, ketika engkau telah menempatkanku dalam bahaya kematian tiga kali dan Allah telah menyelamatkanku?

Setiap kali aku kembali kepadamu, engkau tidak memberiku waktu istirahat, tetapi engkau juga tidak memberi perintah kepada kedua saudaraku, Hasan dan Hussein As. Imam Ali As mencium kepala Muhammad bin Hanafiyah dan berkata kepadanya: “Wahai putraku tersayang! Engkau adalah putraku, tetapi mereka adalah putra-putra Nabi Allah. Tidakkah seharusnya aku menjaga mereka?” Muhammad menjawab: “Tentu saja wahai ayahku, semoga Allah mengorbankanku untukmu dan untuk mereka!” (Bihar al-Anwar, Jilid 45, Hal. 348

 

* * * * * * * * * *

 

 

Usai kesyahidan Imam Mujtaba As, Aisyah menolak menguburkan jenazahnya yang suci di samping Nabi Saw… Maka Muhammad bin Hanafiyah berkata kepada Aisyah: “Wahai Aisyah, engkau menunggang keledai suatu hari dan unta di hari berikutnya, tetapi engkau tidak dapat mengendalikan dirimu dan engkau tidak memiliki kendali atas tanah. Perilaku ini berasal dari permusuhanmu dengan Bani Hasyim.” Aisyah menjawabnya: “Wahai putra Hanafiyah, ini adalah anak-anak Fatimah yang berbicara, bicara apa kau?!” Imam Husain As menjawab Aisyah: “Bagaimana mungkin engkau menjauhkan Muhammad dari anak-anak Fatimah?” Meskipun ia berasal dari tiga Fatimah: Fatimah binti Imran (istri Abdul Mutthalib dan ibu dari Abdullah dan Abu Thalib), Fatimah binti Asad (istri Abu Thalib dan ibu dari Amirul Mukminin As), dan Fatimah binti Zaidah (istri Hasyim dan ibu dari Abdul Mutthalib). (Ushul al-Kafi, Jilid 1, Hal. 303)

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *