Most searched:

ولادت نور در خانۀ خدا

Kelahiran Cahaya di Rumah Allah

Pada tanggal 13 Rajab tahun ke-30 Tahun Gajah, terjadi peristiwa luar biasa yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia dan tidak pernah terulang setelahnya: seorang bayi lahir di dalam Ka'bah dan diberi nama Ali (a.s.), Amirul Mukminin.

Kelahiran Cahaya di Rumah Allah

Pada 13 Rajab tahun ke-30 ‘Am al-Fil atau Tahun Gajah, terjadi sebuah peristiwa luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia dan tidak pernah terulang setelahnya: seorang bayi lahir di dalam Ka’bah. Bayi itu diberi nama Ali As, Amirul Mukminin.

Kelahiran Amirul Mukminin As di Rumah Allah merupakan sebuah keutamaan yang kebenarannya diakui oleh para ahli hadis Syiah dan banyak ulama Ahlusunah. Mereka memandang peristiwa tersebut sebagai keutamaan yang tiada bandingannya.

Peran Orang Tua Amirul Mukminin As dalam Kehidupan Nabi Muhammad Saw

Ayah Amirul Mukminin As yang mulia adalah Sayyid al-Batha, Abu Thalib As. Ibunya adalah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf, istri Abu Thalib As.

Fatimah binti Asad Sa bukan hanya ibu Amirul Mukminin As. Setelah Abdul Muthalib As wafat, ketika Rasulullah Saw berusia enam atau delapan tahun dan berada dalam asuhan Abu Thalib As, Fatimah binti Asad memperlakukan Rasulullah seperti anaknya sendiri. Ia selalu mendahulukan Rasulullah Saw daripada anak-anaknya dan setiap hari menyaksikan tanda-tanda kenabian pada diri Rasulullah. Rasulullah Saw pun memanggilnya “ibu”.

Setelah wafatnya Sayidah Khadijah al-Kubra Sa, Rasulullah Saw juga mempercayakan Fatimah Zahra Sa kepada Fatimah binti Asad Sa. Ia menjadi sosok ibu bagi Fatimah Zahra dan dengan sepenuh hati merawat perempuan yang terjaga kehormatannya di dua alam itu dalam pangkuannya yang mulia hingga akhir hayatnya.

Fatimah binti Asad Sa wafat di Madinah pada tahun keempat Hijriah dan dimakamkan di Baqi. Ketika Amirul Mukminin As menyampaikan kabar wafat ibunya kepada Rasulullah Saw, Rasulullah bersabda:

“Ia adalah ibuku.”

Rasulullah Saw kemudian memberikan serban dan pakaiannya agar digunakan untuk mengafani Fatimah binti Asad Sa. Rasulullah sendiri menyalatkan jenazahnya dan mengucapkan empat puluh kali takbir. Beliau bersabda:

“Karena empat puluh barisan malaikat telah menyalatkan jenazahnya, aku mengucapkan empat puluh takbir.”

Setelah itu, Rasulullah Saw berbaring di dalam makamnya, melakukan talqin ketika pemakaman, dan mendoakannya.

Cahaya Amirul Mukminin As dalam Sulbi Para Leluhur

Riwayat mengenai kelahiran Amirul Mukminin As juga menunjukkan kokohnya keimanan Fatimah binti Asad Sa, ibunda Imam Ali As.

Cahaya yang berasal dari Arasy Allah berpindah dari satu nabi dan washi kepada nabi dan washi berikutnya hingga sampai kepada Abdul Muthalib As. Setelah itu, cahaya tersebut terbagi menjadi dua.

Sebagian cahaya berada di dahi mulia Abdullah As, ayah Rasulullah Saw. Cahaya itu kemudian berpindah ke dahi Aminah Sa dan selanjutnya ke wajah mulia Khatam al-Anbiya Saw.

Separuh cahaya lainnya berada di dahi mulia Abu Thalib As.

Anak-Anak Abu Thalib

Allah menganugerahkan sejumlah anak kepada Abu Thalib As: Aqil, Thalib, Ja’far, Fakhitah atau Ummu Hani, Jumanah, dan Ali Amirul Mukminin As.

Ketika Allah menganugerahkan Amirul Mukminin As kepada Abu Thalib As dan Fatimah binti Asad Sa, cahaya tersebut memancar dari wajah Fatimah binti Asad Sa.

Tempat Kelahiran Amirul Mukminin As

Tempat kelahiran Amirul Mukminin As adalah tempat yang paling mulia, yaitu Tanah Haram. Tempat paling mulia di Tanah Haram adalah masjid, dan tempat paling mulia di antara masjid-masjid adalah Masjid Kufah. Tidak ada seorang bayi pun selain Amirul Mukminin As yang lahir di tempat tersebut. Kelahiran itu juga terjadi pada penghulu hari, yaitu hari Jumat, pada bulan haram dan di Baitul Haram.

Amirul Mukminin As tidak membuka matanya selama tiga hari hingga dibawa ke hadapan Rasulullah Saw. Saat itulah Ali As membuka matanya. Rasulullah Saw bersabda:

“Ia mengkhususkan pandangannya kepadaku dan aku mengkhususkannya dengan ilmuku.”

Rasulullah Saw kemudian menggendong Ali As dan membawanya ke rumah Abu Thalib As.

Ramalan tentang Kelahiran Amirul Mukminin As

Jabir bin Abdullah berkata:

“Ada seorang rahib bernama Mutsram bin Ru’aib yang telah beribadah selama 190 tahun, tetapi tidak pernah meminta suatu kebutuhan pun kepada Allah. Suatu hari ia memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya salah seorang wali-Nya.”

Allah Yang Mahatinggi mengutus Abu Thalib As kepadanya. Setelah mengetahui siapa Abu Thalib, rahib itu menyampaikan kabar gembira:

“Wahai Abu Thalib, Allah akan menganugerahkan kepadamu seorang putra yang merupakan wali Allah. Nama mulianya adalah Ali. Ketika engkau bertemu dengannya, sampaikan salamku kepadanya dan katakan bahwa Mutsram sang rahib mengakui keesaan Allah dan bersaksi atas wilayatmu, wahai Amirul Mukminin As.”

Buah-Buahan Surga

Ketika hendak pulang, Abu Thalib As memakan kurma, anggur, dan delima dari surga, kemudian kembali ke rumah Fatimah.

Fatimah binti Asad Sa, istri Abu Thalib As, juga memakan kurma yang diberikan Rasulullah Saw kepadanya. Ia memberikannya pula kepada Abu Thalib As, dan Abu Thalib pun memakannya.

Rasulullah Saw sebelumnya bersabda:

“Kurma ini akan dimakan oleh orang yang mengakui tauhid dan kenabianku.”

Setelah ayah dan ibu Amirul Mukminin As memakan buah-buahan surga tersebut, keberadaan Maula al-Muwahhidin, Ali bin Abi Thalib As, pun mulai terbentuk. Ketika Fatimah binti Asad Sa mengandung sosok mulia itu, kecantikan dan cahaya pada dirinya semakin bertambah.

Peristiwa Sebelum Kelahiran Amirul Mukminin As

Ketika Amirul Mukminin As berada dalam kandungan Fatimah binti Asad Sa, terjadi gempa di Makkah. Kaum Quraisy membawa berhala-berhala mereka ke Gunung Abu Qubais, tetapi gempa semakin kuat dan berhala-berhala itu tersungkur dengan wajah menghadap tanah.

Mereka kemudian meminta perlindungan kepada Abu Thalib As. Abu Thalib naik ke atas gunung dan berkata:

“Wahai manusia! Malam ini telah terjadi sebuah peristiwa penting. Allah telah menciptakan seorang makhluk. Jika kalian tidak menaatinya, tidak mengakui wilayatnya, dan tidak bersaksi atas imamahnya, gempa ini tidak akan berhenti. Maka akuilah ketaatan, wilayat, dan imamahnya.”

Kemudian Abu Thalib As mengangkat kedua tangannya yang mulia sambil menangis dan berdoa:

“Wahai Tuhan dan Junjunganku, aku memohon kepada-Mu demi hakikat Muhammad yang terpuji, hakikat Ali yang luhur, dan hakikat Fatimah yang bercahaya dan gemilang, agar dengan rahmat dan kasih sayang-Mu Engkau melimpahkan anugerah kepada negeri Tihamah.”

Orang-orang yang hadir mengucapkan amin. Setelah doa itu selesai, gempa pun berhenti.

Pada masa jahiliah, setiap kali mengalami kesulitan, orang-orang Arab membaca doa tersebut dan kesulitan mereka pun teratasi.

Panggilan kepada Fatimah binti Asad Sa untuk Menuju Ka’bah

Pada malam Jumat, tanggal 13 Rajab, istri Abu Thalib As yang mulia merasakan sakit menjelang persalinan. Namun, setelah melafalkan sebuah nama khusus, ia kembali merasa tenang.

Ketika Abu Thalib As hendak memanggil sejumlah perempuan Quraisy untuk membantu Fatimah binti Asad Sa, terdengar suara dari salah satu sudut rumah:

“Wahai Abu Thalib, bersabarlah, karena tangan yang najis tidak boleh menyentuh wali Allah.”

Pada pagi hari, Fatimah binti Asad Sa mendengar sebuah seruan:

“Wahai Fatimah, datanglah ke rumah Kami.”

Abu Thalib As dan Rasulullah Saw kemudian membawanya ke Masjidil Haram.

Abbas bin Abdul Muthalib bersama sejumlah orang yang sedang duduk di masjid menyaksikan Fatimah Sa memasuki Masjidil Haram. Ia berdiri di hadapan Ka’bah, menengadah ke langit, dan berkata:

“Ya Allah, aku beriman kepada-Mu, kepada para nabi, dan kepada kitab-kitab yang datang dari sisi-Mu. Aku membenarkan perkataan kakekku Ibrahim al-Khalil, yang telah membangun rumah ini.”

Fatimah binti Asad Sa melanjutkan:

“Aku memohon kepada-Mu demi hak orang yang membangun rumah ini dan demi hak anak yang berada dalam kandunganku. Demi hak keduanya, aku meminta kepada-Mu agar Engkau memudahkan kelahiran ini bagiku. Anak ini berbicara kepadaku dan menjalin keakraban denganku melalui ucapannya. Aku yakin bahwa ia adalah salah satu ayat dan tanda-Mu.”

Terbelahnya Dinding Ka’bah

Tiba-tiba, orang-orang yang berada di Masjidil Haram melihat dinding di belakang sisi tempat pintu Ka’bah berada terbelah. Fatimah binti Asad Sa kemudian masuk ke dalamnya.

Mereka berusaha membuka kunci pintu Ka’bah, tetapi tidak berhasil. Mereka pun menyadari bahwa ada hikmah Allah di balik peristiwa tersebut.

Fatimah binti Asad Sa berkata:

“Ketika aku memasuki Ka’bah, aku melihat Hawa, Sarah, Asiyah, ibu Musa bin Imran, dan Maryam ibu Isa datang. Mereka memberi salam kepadaku dengan berkata, ‘Assalamu ‘alaiki ya waliyatallah — salam atasmu, wahai wali Allah,’ lalu mereka duduk di hadapanku.”

Apa yang dilakukan para perempuan tersebut pada saat kelahiran Khatam al-Anbiya Saw juga dilakukan ketika Ali bin Abi Thalib As lahir. Fatimah binti Asad Sa sendiri pernah hadir ketika Rasulullah Saw dilahirkan dan kemudian menceritakan peristiwa itu kepada Abu Thalib As.

Abu Thalib As sebelumnya pernah berkata kepadanya:

“Bersabarlah selama tiga puluh tahun hingga Allah menganugerahkan kepadamu seorang anak yang serupa dengan Khatam al-Anbiya Saw, kecuali dalam kenabian. Ia akan menjadi washi dan wazirnya.”

Hari Kelahiran Amirul Mukminin As

Pada hari Jumat, Ali bin Abi Thalib As terbit laksana matahari di atas batu merah di sudut kanan Ka’bah.

Ketika sosok yang seluruh keberadaannya dipenuhi kemurahan itu menginjakkan kaki di dunia, berhala-berhala yang berada di dalam Ka’bah tersungkur dengan wajah menghadap tanah dan seluruh langit pun menjadi bercahaya.

Setan berteriak:

“Celakalah berhala-berhala dan para penyembah berhala karena anak ini!”

Tiga Hari di Dalam Ka’bah

Setelah tiga hari menjadi tamu Allah, Fatimah binti Asad Sa menggendong putranya yang penuh berkah dan mulia, lalu bersiap keluar dari Ka’bah.

Saat itu terdengar suara gaib:

“Wahai Fatimah, berilah nama bayi ini Ali, karena Aku adalah Allah Yang Mahatinggi. Aku mengambil namanya dari nama-Ku sendiri. Aku telah mendidiknya, menyerahkan urusan-Ku kepadanya, dan memberinya pengetahuan tentang rahasia-rahasia mendalam ilmu-Ku.”

Suara itu melanjutkan:

“Ia lahir di rumah-Ku. Dialah orang pertama yang akan mengumandangkan azan dari atas rumah-Ku, menghancurkan berhala-berhala, dan menjatuhkannya dari atas Ka’bah hingga tersungkur dengan wajah menghadap tanah. Berbahagialah orang yang mencintainya, menaatinya, dan menolongnya. Celakalah orang yang membencinya, tidak menaatinya, menghinakannya, dan mengingkari haknya.”

Selama tiga hari tersebut, kelahiran bayi yang penuh berkah dan istimewa ini menjadi pembicaraan di setiap pertemuan.

Terlebih lagi, kunci pintu Ka’bah tidak dapat dibuka, dinding Ka’bah terbelah pada siang hari, dan peristiwa tersebut disaksikan oleh orang-orang kafir. Semua itu menjadikan kelahiran tersebut sebagai pembicaraan umum.

Ali As dalam Pelukan Rasulullah Saw

Pada pagi hari keempat, di hadapan orang-orang yang telah menunggu, tiba-tiba dinding Ka’bah kembali terbelah di tempat sebelumnya. Celah itu cukup lebar untuk dilalui Fatimah binti Asad Sa bersama putranya yang tercinta.

Semua orang menyaksikan peristiwa itu. Sebelum seorang pun sempat bertanya, Fatimah binti Asad Sa menceritakan sejumlah peristiwa yang terjadi di dalam Ka’bah, keagungan bayi tersebut, makanan-makanan dari surga, dan bahwa melalui seruan dari langit bayi itu diberi nama Ali As.

Abu Thalib As dan Rasulullah Saw datang mendekat, sementara Fatimah binti Asad Sa membawa bayi itu kepada mereka.

Rasulullah Saw kemudian menggendong Ali As, menciumnya, dan meletakkan tangannya pada tangan Ali As.

Setelah itu, Ali As meminta izin kepada Rasulullah Saw untuk membaca kitab-kitab langit. Setelah mendapat izin, Ali As berdeham lalu membaca apa yang terdapat dalam suhuf Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa As.

Kemudian mereka kembali ke rumah Abu Thalib As, sementara Ali As berada dalam pelukan Rasulullah Saw.

Pada hari ketiga setelah kelahiran Ali As, atau hari ketiga setelah keluar dari Ka’bah—dan menurut sebagian riwayat pada tanggal 10 Dzulhijjah—Abu Thalib As mengadakan jamuan besar dan berkata:

“Datanglah untuk menghadiri walimah Ali bin Abi Thalib. Sebelum itu, thawaflah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, kemudian sampaikan salam kepada putraku Ali As.”

Masa Kecil Amirul Mukminin As

Amirul Mukminin As menceritakan masa kecilnya dan kebersamaannya dengan Rasulullah Saw:

“Ketika aku masih kecil, Rasulullah Saw mendudukkanku di pangkuannya dan mendekapkanku ke dadanya. Beliau mengunyah makanan lalu meletakkannya di mulutku, dan membuat jiwaku menghirup keharuman dirinya. Beliau tidak pernah menemukan kebohongan dalam ucapanku ataupun kesalahan dan kebodohan dalam perbuatanku.”

Ali As melanjutkan:

“Sejak Rasulullah Saw masih dalam masa menyusu, Allah menyertainya dengan para malaikat yang paling agung agar siang dan malam membimbingnya menuju jalan kemuliaan dan kebaikan di dunia. Aku pun mengikuti Rasulullah Saw sebagaimana seorang anak yang masih menyusu menaati ibunya dan meneladani perbuatannya. Setiap tahun Rasulullah pergi ke Gunung Hira, dan ketika itu tidak seorang pun melihatnya selain aku.”

Sumber

Disarikan dari buku Taqwim-e Syiah karya Bandani.

Bagian-bagian akhir khotbah 234 Nahjul Balaghah, edisi Faizul Islam, hlm. 802.

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *