Ia mengingatkan pengkhianatan Thalhah dan Zubair serta permusuhan lama Aisyah yang menjadi awal munculnya fitnah tersebut. Beliau juga memperlihatkan keadilannya dalam memperlakukan musuh-musuhnya, sekaligus memperkuat tekad untuk melakukan perbaikan terhadap umat.
Kecaman terhadap Penduduk Basrah
Perang Jamal berakhir dengan kemenangan Amirul Mukminin As. Setelah itu, beliau tinggal di Basrah selama beberapa waktu untuk menata keadaan kota dan mengurus berbagai persoalan masyarakat.
Setelah Perang Jamal, Amirul Mukminin Ali As menyampaikan khutbah di Basrah. Beliau bersabda: “Kalian adalah pasukan perempuan itu (Aisyah) dan para pengikut binatang berkaki empat itu (unta).
Ketika unta itu bersuara, kalian menyambutnya. Namun, ketika urat kakinya dipotong dan ia tersungkur, kalian melarikan diri.
Akhlak kalian rendah dan hina, janji-janji kalian dipenuhi pertentangan dan perpecahan, agama kalian disertai kemunafikan dan kepura-puraan, sedangkan air minum kalian asin dan tidak menyenangkan.
Siapa pun yang tinggal di tengah kalian akan menerima hukuman atas dosanya, sedangkan orang yang meninggalkan kalian akan memperoleh rahmat Tuhannya.
Seolah-olah aku melihat masjid kalian seperti bagian dada dan haluan sebuah kapal yang tenggelam. Allah telah menurunkan azab dari atas dan bawahnya, sehingga siapa pun yang berada di dalamnya akan tenggelam.” (1)
Kecaman terhadap Para Pelanggar Baiat dalam Perang Jamal
Dalam sebuah pernyataan, Amirul Mukminin As mengecam pengkhianatan dan pelanggaran baiat yang dilakukan para pengikut Perang Jamal. Beliau juga mengkritik keras keterlibatan Aisyah bersama mereka serta menjelaskan bahwa akar berbagai persoalan masyarakat Islam adalah ketidaktaatan terhadap perintah-perintah Ilahi.
Amirul Mukminin As bersabda: “Para pengikut Perang Jamal sebelumnya telah berbaiat kepadaku. Namun, mereka melanggar baiat tersebut dan keluar dari tanah suci Allah serta kawasan suci Rasulullah Saw menuju Basrah.
Padahal, mereka tidak memiliki imam atau pemimpin, dan tidak pula mempunyai wilayah peperangan maupun tempat perlindungan yang dapat menghimpun mereka. Mereka juga membawa Aisyah, istri Nabi terakhir, bersama mereka karena ia tidak senang dengan baiat kepadaku.
Padahal, Rasulullah telah memberitahukan kepadanya bahwa kepergiannya untuk menentangku merupakan tindakan pembangkangan dan pelanggaran.
Hal ini berkaitan dengan firman Allah Yang Mahamulia: ‘Wahai istri-istri Nabi! Barang siapa di antara kalian melakukan perbuatan keji yang nyata, niscaya azab baginya akan dilipatgandakan dua kali lipat.’ Tidak seorang pun di antara istri-istri Nabi yang melakukan dosa seperti itu kecuali dirinya, sebab dosanya merupakan dosa yang besar.
Pertama, ia telah menentang perintah Allah, ketika Allah Yang Mahamulia berfirman: ‘Dan hendaklah kalian tetap berada di rumah-rumah kalian dan janganlah berhias serta bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah dahulu.’
Sebab, tindakan menampakkan diri di hadapan umum yang dilakukannya bahkan lebih besar daripada kepergiannya itu sendiri.
Selain itu, Thalhah dan Zubair bergerak menuju pelaksanaan haji. Namun, demi Allah, mereka tidak bermaksud menunaikan haji maupun umrah.
Termasuk dalam persoalan ini adalah perjalanan Aisyah dari Makkah menuju Basrah dan berkobarnya peperangan yang menyebabkan Thalhah, Zubair, serta dua puluh lima ribu orang Muslim terbunuh.
Kalian mengetahui bahwa Allah Yang Mahamulia berfirman: ‘Dan barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahanam dan ia kekal di dalamnya.’
Ketika Allah memberikan kemenangan kepada kami atas mereka, aku mengatakan kepada kalian—karena mereka tidak memiliki wilayah peperangan atau tempat perlindungan untuk berkumpul, dan tidak pula mempunyai seorang imam yang dapat merawat orang-orang mereka yang terluka lalu mengembalikan mereka untuk kembali berperang melawan kalian:
‘Aku menghalalkan bagi kalian hewan-hewan tunggangan dan senjata mereka, tetapi aku mengharamkan bagi kalian perempuan, anak-anak, dan keluarga mereka.’
Kemudian aku berkata: ‘Siapakah di antara kalian yang akan mengambil Aisyah, istri Nabi, sebagai bagian dari harta rampasannya?’
Mereka menjawab: ‘Demi Allah, engkau telah berkata benar dan mencapai kebenaran dalam jawabanmu, sedangkan kami telah melakukan kesalahan. Hujah berada di pihakmu.’” (2)
Permusuhan Lama Aisyah
Akar utama peperangan ini dan gerakan Aisyah melawan Amirul Mukminin As adalah kebencian lama yang disembunyikannya di dalam hati terhadap beliau. Kebencian tersebut mendorongnya menuju peperangan yang mengakibatkan ribuan orang terbunuh.
Amirul Mukminin As menjelaskan mengenai alasan Aisyah memulai fitnah tersebut: “Adapun perempuan itu (Aisyah), cara berpikir kewanitaannya telah menguasai dirinya dan kebencian berkobar di dalam dadanya bagaikan tungku pandai besi.
Seandainya ia diminta melakukan terhadap orang lain apa yang telah dilakukannya terhadapku, ia tidak akan pernah melakukannya. Meskipun demikian, kehormatannya tetap terjaga dan perhitungannya berada di tangan Allah.” (3)
Umar bin Aban, salah seorang sahabat Imam Shadiq As, dalam sebuah riwayat dari Amirul Mukminin Ali As, menyingkap sebab permusuhan mendalam yang akhirnya menyebabkan terjadinya peperangan.
Umar bin Aban meriwayatkan bahwa ketika Amirul Mukminin Ali As memperoleh kemenangan atas penduduk Basrah dalam Perang Jamal, sekelompok orang datang menghadap beliau dan bertanya:
“Wahai Amirul Mukminin! Apa yang menyebabkan Aisyah menyusun barisan untuk menghadapi Anda dan begitu jauh dalam menentang serta memusuhi Anda?
Padahal, ia adalah seorang perempuan yang tidak diwajibkan berperang, tidak dibebani kewajiban jihad, tidak diperbolehkan keluar dari rumahnya dan menampakkan diri di hadapan kaum laki-laki, serta pada dasarnya tidak termasuk orang-orang yang berada dalam wilayah kekuasaan dan tanggung jawab Anda dalam keadaan apa pun.”
Beliau bersabda: “Aku akan menjelaskan kepada kalian berbagai alasan yang membuatnya menyimpan kebencian terhadapku.
Dalam seluruh persoalan tersebut, aku tidak pernah melakukan kesalahan terhadap dirinya. Namun, ia menjadikan hal-hal itu sebagai alasan untuk memusuhiku.”
Alasan Pertama
Rasulullah Saw lebih mengutamakan diriku daripada ayahnya dan dalam berbagai kesempatan menempatkanku lebih tinggi daripadanya dalam hal kebaikan dan keutamaan.
Aisyah selalu mengingat hal tersebut dan memperhatikan sikap Rasulullah Saw. Karena itulah, ia mengikuti pandangan dan sikap ayahnya.
Alasan Kedua
Ketika Rasulullah menjalin ikatan persaudaraan di antara para sahabatnya, beliau mempersaudarakan ayah Aisyah dengan Umar bin Khattab. Namun, beliau memilihku sebagai saudara beliau sendiri. Hal ini sangat berat bagi Aisyah sehingga ia merasa iri kepadaku karena ikatan persaudaraan tersebut.
Alasan Ketiga
Allah Yang Mahatinggi mewahyukan kepada Rasul-Nya Saw agar menutup pintu-pintu rumah para sahabat yang terbuka menuju masjid dan hanya membiarkan pintu rumahku tetap terbuka.
Ketika Nabi terakhir menutup pintu rumah ayah Aisyah dan rumah orang-orang lainnya, tetapi membiarkan pintu rumahku tetap terbuka menuju masjid, sebagian kerabat beliau membicarakan persoalan itu.
Rasulullah Saw kemudian bersabda: “Bukan aku yang menutup pintu-pintu kalian dan membuka pintu rumah Ali. Akan tetapi, Allah Yang Mahamulia yang menutup pintu-pintu kalian dan membuka pintu rumahnya.”
Peristiwa tersebut sangat berat bagi Abu Bakar dan membuatnya marah. Ia kemudian mengucapkan sesuatu mengenai keluarganya yang didengar oleh putrinya. Aisyah pun menyimpan perkataan tersebut di dalam hatinya sebagai alasan untuk memusuhiku.
Alasan Keempat
Pada hari Perang Khaibar, Rasulullah Saw menyerahkan panji kepada ayah Aisyah dan memerintahkannya agar tidak kembali sebelum memperoleh kemenangan dan menaklukkan benteng atau terbunuh. Namun, ia tidak bertahan lama dan kembali dalam keadaan kalah.
Keesokan harinya, Nabi menyerahkan panji kepada Umar bin Khattab dan memberikan perintah yang sama seperti yang telah diberikan kepada sahabat sebelumnya. Namun, ia juga mengalami kekalahan dan tidak mampu bertahan.
Peristiwa tersebut membuat Rasulullah Saw bersedih. Karena itu, beliau bersabda secara terbuka di hadapan masyarakat: “Besok aku akan menyerahkan panji kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya juga mencintainya. Ia adalah seorang laki-laki yang berulang kali menyerang musuh dan tidak pernah melarikan diri. Ia tidak akan kembali hingga Allah memberikan kemenangan melalui tangannya.”
Kemudian Rasulullah menyerahkan panji kepadaku. Aku tetap bertahan hingga Allah menganugerahkan kemenangan melalui tanganku. Peristiwa tersebut membuat ayah Aisyah sedih dan kecewa. Ia pun menyimpan persoalan itu di dalam hatinya.
Aisyah kemudian mewarisi kebencian ayahnya terhadapku dan menyimpan kebencian yang sama, padahal aku sama sekali tidak melakukan kesalahan terhadap dirinya dalam peristiwa tersebut.
Alasan Kelima
Rasulullah Saw mengutus ayah Aisyah dengan membawa Surah Bara’ah dan memerintahkannya untuk mengumumkan pembatalan perjanjian dengan kaum musyrikin serta menyampaikan ayat-ayat tersebut kepada mereka.
Ia pun berangkat. Namun, sebelum menempuh perjalanan yang jauh, Allah Yang Mahatinggi mewahyukan kepada Nabi-Nya agar memanggilnya kembali, mengambil ayat-ayat tersebut darinya, dan menyerahkannya kepadaku.
Nabi terakhir, atas perintah Allah Yang Mahamulia, memanggilnya kembali dan menyerahkan ayat-ayat tersebut kepadaku.
Dalam wahyu Ilahi disebutkan: “Tidak seorang pun boleh melaksanakan tugas ini atas namamu kecuali seorang laki-laki yang merupakan bagian dari dirimu sendiri.” Aku adalah bagian dari Rasulullah dan Rasulullah adalah bagian dariku.
Karena itu, ia kembali menyimpan persoalan ini di dalam hatinya terhadapku, dan putrinya, Aisyah, juga mengikuti pandangannya tersebut.
Alasan Keenam
Aisyah tidak menyukai Khadijah binti Khuwailid Sa dan menyimpan kecemburuan terhadapnya sebagaimana yang biasa terjadi di antara para perempuan yang menjadi istri dari suami yang sama. Ia mengetahui kedudukan Khadijah di sisi Rasulullah Saw, dan hal tersebut terasa berat baginya.
Kebenciannya terhadap Khadijah kemudian meluas kepada putrinya, Fatimah Sa. Karena itulah, Aisyah menyimpan kebencian terhadapku, Fatimah, dan Khadijah. Perilaku seperti ini dikenal dalam hubungan antara perempuan-perempuan yang menjadi istri dari suami yang sama.
Alasan Ketujuh
Suatu hari, sebelum diberlakukannya hijab atau tabir pemisah antara istri-istri Nabi terakhir dan orang-orang lain, aku datang menemui Rasulullah Saw. Ketika itu, Aisyah sedang berada di dekat Rasulullah.
Saat Nabi melihatku, beliau menyambutku dan bersabda: “Dekatlah kepadaku, wahai Ali.”
Beliau terus memintaku mendekat hingga akhirnya mendudukkanku di antara beliau dan Aisyah. Hal tersebut terasa berat bagi Aisyah.
Ia berpaling kepadaku dan berkata dengan ucapan yang menunjukkan ketajaman dan ketergesaan perempuan: “Wahai Ali! Apakah engkau tidak menemukan tempat duduk lain selain tempatku?”
Rasulullah Saw menegurnya dan bersabda: “Apakah engkau berbicara seperti itu kepada Ali?! Demi Allah, ia adalah orang pertama yang beriman kepadaku dan membenarkanku. Ia adalah orang pertama yang akan menemuiku di tepi telaga pada Hari Kiamat. Di antara seluruh manusia, dialah yang paling berhak atas janji dan ikatan yang dimilikinya denganku.
Tidak seorang pun memusuhinya kecuali Allah akan menghempaskannya dengan wajah tersungkur ke tanah dan menjatuhkannya ke dalam api neraka.”
Setelah perkataan tersebut, kemarahan dan kebencian Aisyah terhadapku semakin bertambah.
Alasan Kedelapan
Ketika tuduhan terhadap Aisyah muncul, peristiwa tersebut sangat membebani Rasulullah Saw. Beliau kemudian meminta pendapatku mengenai persoalan itu.
Aku berkata: “Wahai Rasulullah! Tanyakanlah kepada pelayan perempuannya, Barirah, mengenai Aisyah dan carilah keterangan darinya tentang keadaan yang sebenarnya.
Jika engkau menemukan sesuatu yang memberatkannya, tinggalkanlah dia. Masih banyak perempuan lainnya.”
Rasulullah Saw kemudian menugaskanku untuk bertanya kepada Barirah mengenai persoalan tersebut dan mencari tahu keadaan Aisyah yang sebenarnya. Aku pun melaksanakan perintah itu.
Sejak saat itu, Aisyah juga menyimpan persoalan tersebut di dalam hatinya sebagai alasan untuk memusuhiku. Demi Allah, aku sama sekali tidak menginginkan keburukan baginya. Sebaliknya, dalam peristiwa itu aku hanya berusaha memberikan nasihat yang baik demi Allah dan Rasul-Nya Saw.
Masih ada pula berbagai persoalan lain yang serupa. Jika kalian menghendaki, tanyakanlah sendiri kepadanya apa yang dilihatnya pada diriku dan kesalahan apa yang ditemukannya padaku hingga akhirnya ia keluar dari baiat kepadaku bersama para pelanggar janji.
Mereka adalah orang-orang yang telah membunuh para sahabat dan pengikutku serta bersatu di tengah kaum Muslimin untuk memusuhiku. Permusuhan tersebut lahir dari kesombongan, pertentangan, dan kebencian, tanpa adanya alasan yang masuk akal maupun dasar keagamaan bagi tindakan tersebut. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.”
Kelompok tersebut kemudian berkata: “Demi Allah, segala sesuatu memang sebagaimana yang telah engkau sampaikan, wahai Amirul Mukminin! Engkau telah menghilangkan kesedihan dan keraguan dari hati kami. Kami bersaksi bahwa engkau lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya Saw daripada orang-orang yang memusuhimu.” (4)
Sumber:
-
Nahj al-Balaghah, Khutbah 13.
-
Mustadrak al-Wasa’il, jilid 11, halaman 59.
-
Nahj al-Balaghah, Khutbah 155.
-
Al-Jamal, halaman 409.