Most searched:

Apresiasi Para Peserta Ajang Seni Mahdawi atas Upaya Astana Suci Alawi

Para seniman peserta ajang “Seni Mahdawi” menyatakan kebahagiaan mereka atas kehadiran di sisi makam Amirul Mukminin (as).

Sejumlah seniman internasional yang berpartisipasi dalam ajang “Seni Mahdawi” mengungkapkan rasa bahagia dan bangga atas keikutsertaan mereka dalam festival seni ini. Mereka menegaskan bahwa ajang tersebut mengemban pesan penting yang harus dimanfaatkan untuk melayani masyarakat serta mempersiapkannya, khususnya dalam kaitannya dengan karakteristik penantian Shahibul ‘Ashr (aj), yang dianggap sebagai peristiwa terpenting di dunia saat ini.

Mereka juga menegaskan bahwa ajang “Seni Mahdawi” sarat dengan energi positif, terutama ketika dengan tangan mereka sendiri, di sisi makam Amirul Mukminin (as), mereka menggambarkan manifestasi kemunculan yang diberkahi.

Seniman Mohsen Gharib dari Bahrain mengatakan: “Atas nama diri saya dan para seniman lain yang berpartisipasi dalam pertemuan dan ajang seni yang bersifat samawi ini, saya menyampaikan terima kasih kepada Astana Suci Alawi dan Lembaga QAF atas penyelenggaraan program ini.”

Ia menambahkan: “Sepanjang hidup saya, saya telah mengikuti sekitar tujuh puluh ajang, namun program ini saya anggap sebagai yang terpenting dari segi keistimewaan dan energi positif yang kami peroleh dari tempat suci ini, dari makam Amirul Mukminin (as); sebuah tempat yang sangat bernilai bagi kami.
Kami para seniman yang melangkah di jalan dan pemikiran Ahlulbait (as) berharap dapat menjalankan tanggung jawab kami sebagaimana mestinya.”

Seniman seni rupa asal Tiongkok, Haji Nuruddin Mingu dari Tiongkok, mengatakan: “Saya seorang kaligrafer dari Tiongkok dan untuk pertama kalinya memperoleh kesempatan untuk berziarah ke tempat suci ini dan Najaf Asyraf, haram suci Alawi.
Saya menyaksikan seni Islam yang agung melalui tangan para seniman kreatif Irak dan sangat berbahagia atas kehadiran serta partisipasi dalam festival dan ajang penting ini, karena program ini mencakup seni-seni Islam di samping kaligrafi dan tazhib.”

Seniman Tiongkok tersebut mempersembahkan sebuah karya seni bertuliskan “Bismillahirrahmanirrahim” dan menghadiahkannya kepada Astana Suci Alawi.

Selain itu, Masoud Najabati, seniman Republik Islam Iran, menyatakan: “Kami memperoleh kesempatan berada di sisi Amirul Mukminin (as) dan ini merupakan keberuntungan bagi kami.
Kami memandang festival ini sebagai ajang yang bernilai dari segi karya seni, lukisan, konten, serta keberagaman seni yang ditampilkan, dan kami berharap ini menjadi gerbang bagi proyek-proyek seni di masa mendatang.
Amirul Mukminin (as) adalah teladan tertinggi kefasihan dan balaghah serta memiliki kedudukan bahasa yang sangat luhur.
Kami berharap festival ini benar-benar mampu merefleksikan seni penantian; seni yang bergerak menuju pembangunan modernitas.
Kami juga akan membahas bagaimana memproduksi modernitas dan cara memanfaatkannya untuk melayani agama, mazhab, dan masyarakat, karena seni adalah sarana untuk menyampaikan pesan yang benar, berbeda dengan Barat yang terkadang memanfaatkan seni dengan cara dan metode yang negatif.”

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *