Most searched:

Keutamaan dan Fdhilah Imam Ali as

Keutamaan dan Fadhoil Imam Ali as

Ibadah Amirul Mukminin (as) dan Rasa Takut kepada Allah

Dalam menggambarkan ibadah Amirul Mukminin (as), cukuplah dikatakan bahwa ia merupakan inqitha’ ila Allah, yaitu keterlepasan total menuju Allah. Ketika beliau menghadap Tuhannya, beliau memutuskan diri dari dunia dan segala isinya, serta memusatkan seluruh keberadaannya hanya kepada Zat Yang Maha Tinggi.

Dalam pembahasan ini, akan disampaikan sebuah riwayat yang menakjubkan tentang ibadah tersembunyi Amirul Mukminin Ali (as) dan keadaan spiritual yang menyelimutinya, sehingga tampak hakikat hubungan beliau dengan Sang Pencipta—sebuah hubungan yang merupakan bentuk tertinggi antara hamba dan Tuhannya.

“Ibadah” Amirul Mukminin (as), sebagaimana sifat-sifat beliau yang lain, memiliki kekhususan tersendiri. Inqitha’ ila Allah, yakni memutuskan diri dari segala sesuatu dan sepenuhnya menghadap kepada Allah Yang Mahamulia, merupakan salah satu ciri utama yang membuat beliau dikenal luas.

Setelah Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa alih), dunia tidak mengenal seorang pun yang menghimpun keutamaan dan akhlak mulia sebagaimana yang terdapat pada diri Amirul Mukminin (as). Beliau telah melampaui generasi terdahulu dan membuat generasi sesudahnya tak mampu menandingi. Keutamaan-keutamaannya tidak terhitung, dan sifat-sifatnya tak berbatas.

 

Keadaan Luar Biasa Amirul Mukminin (as) Saat Berdoa dan Bermunajat

‘Urwah bin Zubair menukil sebuah hadis dari Abu Darda dan berkata:

“Aku pernah melihat Ali bin Abi Thalib (as) di Shuwayhathat an-Najjar (1). Beliau menjauh dari orang-orang di sekitarnya, menghilang dari pandangan para sahabatnya, lalu menyendiri di balik pohon-pohon kurma.

Tiba-tiba aku mengira telah kehilangan jejak beliau dan terpisah darinya. Aku berkata dalam hati: barangkali beliau telah kembali ke rumahnya. Namun, pada saat itu aku mendengar suara yang penuh kesedihan dan rintihan yang menyayat hati, sedang bermunajat:

‘Wahai Tuhanku, betapa banyak dosa yang Engkau lihat dariku, namun Engkau tidak menyegerakan hukuman-Mu atasnya. Betapa banyak kesalahan yang telah aku lakukan, tetapi Engkau tidak menampakkannya karena kemurahan dan kebaikan-Mu.

Wahai Tuhanku, jika umurku telah panjang dalam kemaksiatan kepada-Mu dan dosa-dosaku telah memberatkan catatan amalanku, maka aku tidak memiliki harapan selain ampunan-Mu, dan tidak menginginkan selain keridaan-Mu.’”

Ia melanjutkan:

“Suara itu sangat menarik perhatianku, maka aku mengikutinya hingga aku melihat bahwa itu adalah Amirul Mukminin Ali (as). Aku menyembunyikan diri darinya dan perlahan mengikutinya.

Aku melihat beliau pada gelapnya tengah malam, menunaikan beberapa rakaat salat, lalu tenggelam dalam doa, tangisan, dan rintihan.

Di antara munajatnya kepada Allah, beliau berkata:

‘Ya Allah, ketika aku mengingat ampunan dan kelapangan-Mu, kesalahan-kesalahanku terasa kecil di mataku. Namun ketika aku mengingat kerasnya azab-Mu, musibah itu terasa sangat besar bagiku.’

Kemudian beliau berkata:

‘Aduhai! Jika dalam catatan amalanku terdapat dosa yang telah aku lupakan, tetapi Engkau menghitungnya dan berfirman: “Tangkaplah dia!” Maka celakalah aku. Tiada kerabat yang mampu menyelamatkan, tiada kabilah yang dapat memberi manfaat, dan ketika panggilan itu datang, tidak ada seorang pun yang dapat menolongku.

Aduhai dari api yang membakar isi perut dan hati,
aduhai dari api yang telah disiapkan untuk menyiksa,
aduhai dari rintihan dan pergulatan dalam nyala api.’”

Ia berkata:

“Kemudian beliau menangis sedemikian rupa hingga aku tidak lagi melihat adanya gerakan atau kesadaran darinya. Aku berkata dalam hati: barangkali beliau tertidur karena kelelahan berjaga malam. Aku pun berniat membangunkannya untuk salat Subuh.

Ketika aku mendekat dan melihat beliau seperti sebatang kayu kering, aku mengguncangnya, namun tidak bergerak. Aku mencoba mengangkatnya, tetapi tidak mampu.

Aku berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un, demi Allah, Ali bin Abi Thalib (as) telah wafat. Aku segera bergegas menuju rumah beliau untuk menyampaikan kabar itu kepada keluarganya.

Aku bertemu dengan Fatimah (salamullahi ‘alaiha). Beliau bertanya: ‘Wahai Abu Darda, ada apa?’ Aku pun mengabarkan kepadanya.

Beliau berkata: ‘Demi Allah, itu adalah keadaan fana (kehilangan kesadaran) yang menimpa beliau karena rasa takut kepada Allah.’ Kemudian beliau membawa air dan memercikkannya ke wajah Amirul Mukminin hingga beliau sadar.

Beliau memandangku, sementara aku menangis. Beliau bertanya: ‘Mengapa engkau menangis, wahai Abu Darda?’

Aku menjawab: ‘Karena aku melihat apa yang engkau lakukan terhadap dirimu.’

Beliau bersabda: ‘Wahai Abu Darda, bagaimana keadaanmu jika engkau melihatku ketika aku dipanggil untuk perhitungan, sementara para pelaku kejahatan disiksa, dan aku berdiri di hadapan Allah Yang Maha Perkasa? Para sahabat telah meninggalkanku, dan penduduk dunia menjauh dariku. Pada saat itu, engkau lebih pantas untuk mengasihaniku di hadapan Dzat yang tidak ada sesuatu pun tersembunyi dari-Nya.’

Abu Darda berkata: ‘Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun dari sahabat Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa alih) dalam keadaan seperti ini.’”

Keutamaan Imam Ali as Sang Wali Allah SWT
Keutamaan Imam Ali as Sang Wali Allah SWT

Hakikat Tertinggi Ibadah kepada Allah oleh Amirul Mukminin (as): Ibadah karena Syukur

Sesungguhnya Allah Yang Mahamulia telah memenuhi ruh Amirul Mukminin (as), sehingga ibadah beliau merupakan manifestasi cinta dan kerinduan kepada-Nya. Beliau tidak menyembah Allah karena takut akan azab-Nya, dan tidak pula karena mengharapkan surga.

Sebagaimana Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa alih), beliau telah mencapai derajat tertinggi dalam hubungan dengan Allah Yang Mahatinggi.

Amirul Mukminin (as) menjelaskan hakikat hubungan beliau dengan Allah sebagai berikut:

“Wahai Tuhanku, aku tidak menyembah-Mu karena takut terhadap hukuman-Mu atau karena mengharap pahala-Mu, tetapi aku menyembah-Mu karena aku mendapati-Mu layak untuk disembah.” (3)

Tidak diragukan, bentuk ibadah seperti ini lebih agung daripada sekadar keyakinan, dan lebih mulia daripada iman itu sendiri.

 

Jenis-jenis Ibadah dalam Ucapan Amirul Mukminin (as)

Amirul Mukminin (as) menjelaskan berbagai jenis ibadah sebagai berikut:

“Sesungguhnya sebagian manusia beribadah kepada Allah karena dorongan keinginan (imbalan), maka itu adalah ibadah para pedagang. Sebagian lainnya beribadah karena rasa takut, maka itu adalah ibadah para hamba sahaya. Dan sebagian lagi beribadah kepada Allah karena rasa syukur, maka itulah ibadah orang-orang merdeka.” (4)

Ibadah Amirul Mukminin (as) termasuk dalam golongan yang terakhir, yaitu ibadah yang lahir dari pemahaman akan kelayakan dan keagungan Zat yang disembah. Hal ini sudah cukup untuk menggambarkan kedudukan beliau. Jika tidak, maka pembahasan tentang keutamaan Amirul Mukminin (as), sebagaimana sabda Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa alih), tidak akan pernah dapat dihitung:

“Seandainya seluruh pepohonan menjadi pena, seluruh lautan menjadi tinta, bangsa jin menjadi para penghitung, dan manusia menjadi para penulis, niscaya mereka tidak akan mampu menghitung keutamaan Ali bin Abi Thalib (as).” (5)

Akhlak Amirul Mukminin (as) merupakan pancaran dari akhlak Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa alih). Beliau dibesarkan di rumah Nabi, hidup dalam naungan pendidikan dan akhlak mulia beliau, serta tumbuh dan berkembang di atas nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh Rasulullah.

Selama bertahun-tahun, Nabi (shallallahu ‘alaihi wa alih) mendidik Amirul Mukminin (as) dengan khutbah-khutbah dan adab yang tinggi, hingga akhlak beliau mencapai derajat yang sangat agung. Keutamaan-keutamaan itu terus berkembang, semakin kuat dan kokoh, hingga melahirkan pribadi yang sepanjang zaman tidak akan ada tandingannya.

Catatan Kaki

[1] Asy-Syauhath: sejenis pohon yang kayunya digunakan untuk membuat busur.

[2] Al-Amali, Syaikh Shaduq: Muassasah al-Bi‘tsah, Pusat Percetakan dan Penerbitan, cetakan pertama, 1417 H, hlm. 137.

[3] Bihar al-Anwar, ‘Allamah al-Majlisi: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, Beirut – Lebanon, cetakan ketiga yang telah dikoreksi, 1403 H / 1983 M, jilid 41, hlm. 14.

[4] Nahj al-Balaghah, khutbah-khutbah Amirul Mukminin (as): Dar al-Ma‘rifah li ath-Thiba‘ah wa an-Nasyr, Beirut – Lebanon, jilid 4, hlm. 53.

[5] Manaqib Amirul Mukminin (as), Muhammad bin Sulaiman al-Kufi: Majma‘ Ihya’ ats-Tsaqafah al-Islamiyyah, cetakan pertama, Muharram 1412 H, Iran – Qom, jilid 1, hlm. 557.

Zuhud dan Kesederhanaan Amirul Mukminin (as)

Para sejarawan dan perawi telah menukil berbagai gambaran indah dan menakjubkan tentang kezuhudan dan ketakwaan Amirul Mukminin (as) dalam gaya hidup, makanan, dan pakaiannya. Dalam pembahasan ini hanya akan disampaikan sebagian kecil darinya.

Amirul Mukminin (as) bukan hanya lautan luas dalam kezuhudan dan ketakwaan, tetapi juga tidak tertandingi dalam hal tersebut.

Ketakwaan Imam Ali as
Ketakwaan Imam Ali as

Berpaling dari Kenikmatan Dunia; Sebab Kesederhanaan Pakaian Amirul Mukminin (as)

Amirul Mukminin (as), meskipun sangat memperhatikan kebersihan pakaian, tidak memperhatikan kemewahan bahannya. Beliau mengenakan pakaian yang paling kasar dan tidak memiliki pakaian lain selain yang beliau kenakan.

Semua ini disebabkan oleh sikap berpaling beliau dari kenikmatan dunia, kezuhudan dan ketakwaannya, serta sebagai bentuk empati terhadap kaum fakir.

Banyak riwayat yang menyebutkan hal ini, di antaranya:

Beliau tampil di tengah masyarakat dengan pakaian yang bertambal. Ketika sebagian orang mencela dan menyindir, beliau bersabda:
“Hati menjadi tunduk dan khusyuk dengan pakaian seperti ini, dan ketika seorang mukmin melihatku mengenakannya, ia akan meneladani jalanku.” (1)

Abu Ishaq as-Sabi‘i meriwayatkan:
“Aku berada di atas pundak ayahku ketika Amirul Mukminin (as) sedang berkhutbah dan beliau mengipasi dirinya dengan lengan bajunya. Aku berkata kepada ayahku: ‘Apakah Amirul Mukminin merasa panas?’ Ayahku menjawab: ‘Bukan karena panas atau dingin, tetapi karena pakaiannya baru dicuci dan masih basah, sementara beliau tidak memiliki pakaian lain. Maka beliau mengipasinya agar cepat kering.’” (2)

Ali bin Aqmar meriwayatkan:
“Aku melihat Amirul Mukminin (as) menjual pedangnya di pasar seraya berkata: ‘Siapa yang mau membeli pedang ini dariku? Demi Dzat yang menumbuhkan biji dari tanah, dengan pedang ini aku telah berulang kali menyingkirkan bahaya dari Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa alih). Seandainya aku memiliki pakaian lain, niscaya aku tidak akan menjualnya.’” (3)

 

Makanan dan Pola Hidup Sederhana Amirul Mukminin (as); Bagaimana Hidangan Seorang yang Telah “Menceraikan” Dunia?

Amirul Mukminin (as) menjauhi makanan yang beraneka ragam dan mencukupkan diri dengan makanan sederhana seperti roti dan garam. Dalam keadaan tertentu, beliau menambahkan sedikit susu atau cuka.

Pada masa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa alih), karena lapar yang sangat, beliau bahkan mengikat batu di perutnya.

Beliau jarang mengonsumsi daging dan bersabda:
“Janganlah kalian menjadikan perut kalian sebagai kuburan bagi hewan-hewan.” (4)

Beliau juga bersabda:
“Barang siapa memenuhi perutnya dengan (sesuatu yang berlebihan), ia akan jauh dari rahmat Allah.” (5)

Suwaid bin Ghaflah menggambarkan salah satu sisi kezuhudan Amirul Mukminin (as) sebagai berikut:

“Aku menemui Ali bin Abi Thalib, Amirul Mukminin (as), dalam keadaan beliau duduk, sementara di tangannya terdapat semangkuk susu yang sudah asam, hingga baunya pun tercium olehku. Di tangan lainnya terdapat sepotong roti yang masih terlihat kulit gandumnya.

Beliau memecah-mecahkan roti itu dengan tangannya, dan ketika merasa lelah, beliau menghancurkannya dengan lututnya, lalu mencampurkannya ke dalam susu tersebut.”

Kemudian beliau bersabda: “Mendekatlah dan makanlah bersama kami.” Aku berkata: “Aku sedang berpuasa.”

Beliau bersabda: “Aku mendengar Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa alih) bersabda: ‘Barang siapa yang puasanya menahannya dari makanan yang ia sukai, maka menjadi kewajiban bagi Allah untuk memberinya makanan dari hidangan surga dan memberinya minuman darinya.’”

Aku pun menoleh kepada pelayan perempuan beliau, Fidhdhah, yang berdiri di dekatnya, dan berkata: “Celaka engkau, wahai Fidhdhah! Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah? Mengapa engkau tidak memisahkan makanan untuk beliau?”

Fidhdhah menjawab: “Beliau sendiri yang memerintahkan kami agar tidak memisahkan makanan untuknya.”

Maka Amirul Mukminin (as) bertanya: “Apa yang engkau katakan kepadanya?” Aku pun menjelaskan dan berkata: “Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagi seseorang yang makanannya tidak pernah dipisahkan dan selama tiga hari berturut-turut tidak pernah kenyang dengan roti gandum, hingga Allah mengambil ruhnya.”

Jelaslah bahwa Amirul Mukminin (as), hingga saat kesyahidan beliau—yang merupakan takdir yang tak terelakkan—tidak pernah menikmati makanan yang mewah. Bahkan pada hari terakhir kehidupannya, di bulan suci Ramadan, beliau berbuka dengan roti dan garam, serta memerintahkan agar semangkuk susu yang dibawa oleh putrinya, Ummu Kultsum, untuk disingkirkan.

Pada saat itu, beliau memanggil anak-anak yatim dan memberikan madu kepada mereka, hingga sebagian orang yang hadir berkata: “Seandainya kami juga termasuk anak yatim.” (6)

Amirul Mukminin (as) adalah sosok yang telah “menceraikan” dunia. Meskipun harta yang banyak dari berbagai wilayah negeri Islam—kecuali wilayah Syam—datang kepadanya sebagai jizyah, beliau membagikan seluruhnya kepada kaum fakir dan orang-orang yang membutuhkan. (7)

Catatan Kaki

[1] Mathalib as-Su’ul fi Manaqib Al ar-Rasul, Muhammad bin Thalhah asy-Syafi‘i: hlm. 184.

[2] Al-Gharat, Ibrahim ats-Tsaqafi al-Kufi: jilid 1, hlm. 99.

[3] Dzakhair al-‘Uqba, Muhammad ath-Thabari: hlm. 18.

[4] Yanabi‘ al-Mawaddah, al-Qunduzi: jilid 1, hlm. 452.

[5] Bihar al-Anwar, ‘Allamah al-Majlisi: jilid 16, hlm. 227.

[6] Kasyf al-Ghummah, al-Irbili: hlm. 24.

[7] Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid: jilid 1, hlm. 26.

Pintu Keilmuaan Nabi saw dan Allah SWT
Pintu Keilmuaan Nabi saw dan Allah SWT

Keberanian Luar Biasa Amirul Mukminin (as)

Banyak riwayat yang menuturkan keberanian dan kepahlawanan Amirul Mukminin (as). Namun, beliau sendiri menegaskan bahwa keberanian yang tampak pada dirinya merupakan cahaya dari cahaya-cahaya Ilahi.

Riwayat-riwayat yang menunjukkan keberanian Amirul Mukminin (as), meskipun masing-masing tidak selalu diriwayatkan secara mutawatir dari sisi lafaz, semuanya menunjuk pada satu hakikat yang sama, yaitu gambaran agung tentang pribadi beliau.

Tidak seorang pun mampu menandingi beliau dalam keberanian. Peperangan-peperangan serta sikap teguh beliau, baik pada masa hidup Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa alih) maupun setelah wafat beliau, menjadi bukti nyata. Dan bagaimana mungkin beliau tidak menjadi sosok yang pemberani, sedangkan beliau sendiri adalah guru dalam seni perang dan strategi tempur.[1]

Keberanian Amirul Mukminin (as) bagaikan matahari yang bersinar terang di siang hari. Salah satu bukti keberanian beliau bahkan di luar medan perang adalah sikapnya pada malam hijrah Nabi (shallallahu ‘alaihi wa alih), ketika beliau tidur di tempat tidur Rasulullah dan menghadapi Abu Jahl.[2]

Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa alih) berpesan kepadanya:

“Wahai Ali, kedudukanmu bagiku seperti pendengaran, penglihatan, dan kepala bagi tubuh, serta seperti ruh bagi jiwa, sebagaimana air dingin bagi orang yang sangat kehausan.”

Beliau melanjutkan:

“Wahai Aba al-Hasan, ketika engkau tidur di tempatku, selimutilah dirimu dengan selimutku. Jika orang-orang kafir datang kepadamu dan berhadapan denganmu, semoga Allah menyertakan pertolongan-Nya bersamamu agar engkau mampu menghadapi mereka.”

Sementara itu, orang-orang Quraisy telah menajamkan pedang mereka. Abu Jahl berkata kepada mereka:

“Jangan beri Muhammad kesempatan. Lemparilah dia dengan batu saat ia tidur tanpa menyadarinya, lalu bunuhlah dia.”

Pada malam itu, mereka melempari dengan batu-batu besar. Namun Amirul Mukminin (as) menyingkap wajahnya dan berkata: “Siapa kalian?”

Mereka pun mengenalinya bahwa itu adalah Ali (as).

Abu Jahl berkata kepada mereka:
“Tidakkah kalian melihat bahwa Muhammad telah lolos dari kita dan menyelamatkan dirinya, sementara kita disibukkan dengan Ali? Maka janganlah kalian menyibukkan diri dengan Ali agar Muhammad tidak selamat.”

Amirul Mukminin (as) menjawab:

“Wahai Abu Jahl, apakah engkau mengatakan ini kepadaku? Allah telah menganugerahkan kepadaku akal yang jika dibagikan kepada seluruh orang bodoh dan gila di dunia, mereka akan menjadi berakal. Ia juga memberiku kekuatan yang jika dibagikan kepada seluruh orang lemah, mereka akan menjadi kuat. Dan keberanian yang jika dibagikan kepada seluruh orang pengecut, mereka akan menjadi pemberani. Serta kesabaran yang jika dibagikan kepada seluruh orang yang sempit pikiran, mereka akan menjadi sabar.

Seandainya Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa alih) tidak memerintahkanku untuk tidak melakukan apa pun hingga aku bertemu dengannya, niscaya aku akan menunjukkan kepada kalian kedudukan kalian dan membinasakan kalian.”

Beliau melanjutkan:

“Celaka engkau, wahai Abu Jahl! Ketika Rasulullah pergi, langit, bumi, lautan, dan gunung-gunung meminta izin untuk membinasakan kalian, namun beliau menolak dengan penuh kasih sayang, agar dari keturunan kalian lahir orang-orang beriman. Jika tidak demikian, niscaya Tuhanmu telah membinasakanmu. Allah Maha Kaya, sedangkan kalian membutuhkan-Nya. Dia tidak memerintahkan kalian kecuali setelah memberi kemampuan, dan tidak meninggalkan alasan bagi kalian.”

Disebutkan bahwa Abu al-Bukhtari bin Hisyam marah dan mengangkat pedang ke arah Amirul Mukminin (as), namun ia melihat seakan-akan gunung-gunung runtuh menimpanya, bumi terbelah hendak menelannya, ombak lautan datang menenggelamkannya, dan langit seolah jatuh ke arahnya. Pedangnya pun terjatuh dan ia hampir pingsan.

Dalam riwayat lain, Syaqiq bin Salamah berkata:

“Aku berjalan bersama Umar bin Khattab, lalu aku mendengar ia berbisik. Aku bertanya: ‘Apa yang terjadi, wahai Umar?’ Ia berkata: ‘Tidakkah engkau melihat singa yang mengaum itu, pahlawan kelahiran medan perang, yang menyerbu para pembangkang dan perusak dengan dua pedang dan panjinya?’”

Syaqiq berkata:

“Aku melihat, ternyata dia adalah Ali bin Abi Thalib (as). Aku berkata: ‘Itu adalah Ali.’ Umar berkata: ‘Mendekatlah, akan aku ceritakan kepadamu tentang keberaniannya.’

Pada hari Uhud, kami berbaiat kepada Rasulullah untuk tidak melarikan diri. Tiba-tiba pasukan musuh menyerang kami dalam kelompok-kelompok besar, masing-masing terdiri dari seratus orang atau lebih. Aku melihat Ali seperti seekor singa di tengah debu peperangan. Ia mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya ke arah kami.”

Ia melanjutkan:

“Serangan datang lagi, dan di tangannya ada pedang lebar yang seakan-akan meneteskan kematian. Ali berkata: ‘Kalian telah berbaiat, tetapi kalian mengkhianatinya. Demi Allah, kalian lebih pantas untuk dibunuh daripada mereka yang aku bunuh.’

Aku melihat matanya bersinar seperti dua lampu yang bercahaya, seakan dua bejana penuh darah.”

Ia berkata:

“Aku masih merasakan ketakutan itu hingga sekarang, dan rasa takut itu belum hilang dari hatiku.”

Amirul Mukminin (as) juga menjelaskan tentang kekuatan Ilahi dalam sebuah surat kepada Sahl bin Hunaif:

“Demi Allah, aku tidak mencabut pintu Khaibar dan melemparkannya sejauh empat puluh hasta dengan kekuatan jasmani atau tenaga fisik, melainkan dengan kekuatan malakuti dan jiwa yang diterangi oleh cahaya Tuhanku. Aku terhadap Ahmad adalah pancaran dari cahaya. Demi Allah, jika seluruh bangsa Arab bersatu untuk memerangiku, aku tidak akan berpaling dari mereka.” [3]

 

Catatan Kaki

[1] Minhaj al-Bara‘ah, jilid 17, hlm. 362.

[2] Bihar al-Anwar, ‘Allamah al-Majlisi, jilid 20, hlm. 53.

[3] Al-Amali, Syaikh Shaduq, hlm. 605.

 

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *