Most searched:

Syahadah Imam Ali

Peringatan 19 Ramadhan Kesyahidan Imam Ali as

Mengulas Detik-detik Terakhir Kehidupan Amirul Mukminin (alaihis salam)

Amirul Mukminin (alaihis salam) pada dini hari tanggal 19 bulan suci Ramadhan tahun 40 Hijriah, akibat konspirasi kaum Khawarij dan oleh tangan Ibnu Muljam al-Muradi, terluka di Masjid Kufah, kemudian pada malam 21 Ramadhan mencapai kesyahidan.

Sekelompok Khawarij setelah pelaksanaan ibadah haji berkumpul dan akhirnya tiga orang bersepakat untuk membunuh Amirul Mukminin (alaihis salam), Mu‘awiyah, dan ‘Amr bin ‘Ash. Ibnu Muljam berjanji untuk membunuh Amirul Mukminin (alaihis salam). Pada malam 19 Ramadhan, beliau menjadi tamu di rumah putrinya, Ummu Kultsum.

 

Keadaan Amirul Mukminin

Pada malam 19 Ramadhan, Amirul Mukminin (alaihis salam) berulang kali keluar rumah dan kembali masuk, memandang langit, serta dengan penuh kerendahan dan tangisan membaca Surah Yasin. Beliau berdoa:

“Allahumma barik li fil maut (Ya Allah, berkahilah kematian bagiku),”

dan juga mengucapkan:

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un,”

serta banyak mengulang dzikir:

“La hawla wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim,”

disertai shalawat dan istighfar.

Diriwayatkan oleh Ibnu Syahrasyub dan lainnya bahwa beliau sepanjang malam terjaga dan, berbeda dari kebiasaannya, tidak keluar untuk salat malam.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau memandang langit dan berkata:

“Demi Allah, aku tidak berdusta dan tidak didustakan. Inilah malam yang dijanjikan kepadaku untuk syahadah.” (1)

Syahadah Imam Ali
19 Ramadhan Syahadah Imam Ali

Permintaan Sang Putri

Diriwayatkan dari Ummu Kultsum, putri Amirul Mukminin:

“Ketika malam 19 Ramadhan tiba, ayahku datang ke rumah dan berdiri untuk salat. Aku menyiapkan hidangan berbuka berupa dua potong roti gandum, semangkuk susu, dan sedikit garam.

Ketika beliau selesai salat dan melihat hidangan itu, beliau menangis dan bersabda:

‘Wahai putriku, apakah engkau menyajikan dua lauk dalam satu hidangan untukku? Tidakkah engkau tahu bahwa aku mengikuti saudaraku dan sepupuku, Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa alih)? Wahai putriku, siapa yang makan dan berpakaian lebih baik di dunia, maka berdirinya di hadapan Allah pada hari kiamat akan lebih lama. Dalam yang halal ada perhitungan, dan dalam yang haram ada azab.’

Kemudian beliau mengingatkan tentang kezuhudan Rasulullah dan bersabda:

‘Demi Allah, aku tidak akan berbuka hingga salah satu dari dua makanan ini diangkat.’

Maka aku mengangkat semangkuk susu itu, dan beliau hanya memakan sedikit roti gandum dengan garam. Setelah itu beliau memuji Allah dan kembali berdiri untuk salat, terus-menerus dalam rukuk, sujud, dan bermunajat kepada-Nya.”

Kemudian Ummu Kultsum bertanya:

“Wahai ayah, mengapa engkau terjaga malam ini dan apa sebab kegelisahanmu?”

Beliau menjawab:

“Pagi ini aku akan syahid.”

Putrinya berkata:

“Perintahkanlah Ja‘dah agar pergi ke masjid dan menggantikanmu menjadi imam.”

Beliau menjawab:

“Tidak ada jalan lari dari ketentuan Allah,” lalu beliau bersiap menuju masjid.” (2)

 

Ratapan Burung-burung

Ketika fajar tiba, Ibnu Nabah, muazin beliau, keluar dan mengumandangkan azan. Amirul Mukminin (alaihis salam) pun bangkit menuju masjid.

Saat sampai di pintu rumah, beberapa burung datang menghampiri beliau, mengepakkan sayap dan bersuara keras, berbeda dari kebiasaan. Orang-orang hendak mengusirnya, namun beliau bersabda:

“Biarkan mereka, karena mereka akan menangis sekarang, dan setelahku akan meratap.”

Ummu Kultsum—atau dalam riwayat lain Imam Hasan (alaihis salam)—berkata:

“Wahai ayah, mengapa engkau beranggapan buruk (bertanda sial)?”

Beliau bersabda: “Aku tidak berprasangka buruk, tetapi hatiku memberi kesaksian bahwa aku akan dibunuh. Ini adalah kebenaran yang terucap dari lisanku.”

Kemudian beliau berwasiat kepada Ummu Kultsum mengenai burung-burung tersebut dan bersabda:
“Wahai putriku, janganlah engkau membiarkan mereka. Mereka tidak memiliki lisan dan tidak mampu berbicara. Apabila mereka lapar atau haus, berilah mereka makan dan minum. Jika tidak, biarkan mereka pergi dan mencari makan dari tumbuh-tumbuhan di bumi.”

Ketika beliau sampai di pintu rumah, kait pintu tersangkut pada ikat pinggangnya hingga terlepas. Beliau pun mengencangkannya kembali, lalu mengucapkan beberapa bait syair.

Sejarawan terkenal al-Mas‘udi menyebutkan bahwa pintu rumah beliau terbuat dari batang pohon kurma dan sulit untuk dibuka. Maka beliau mencabutnya dari tempatnya, menyingkirkannya, membuka jalan bagi dirinya, kemudian menutupnya kembali dengan kuat, dan mengucapkan syair berikut:

“Encangkanlah ikat pinggangmu untuk menghadapi kematian, karena kematian pasti akan menemuimu.
Janganlah engkau merasa gentar terhadap kematian ketika ia datang kepadamu.
Janganlah engkau tertipu oleh dunia, meskipun ia berpihak kepadamu.
Sebagaimana ia pernah membuatmu tertawa, demikian pula ia akan membuatmu menangis.”

Makna syair tersebut:
“Wahai Ali, bersiaplah menghadapi kematian, karena ia pasti akan menemuimu. Janganlah engkau berkeluh kesah saat kematian datang. Jangan tertipu oleh dunia, walaupun ia tampak berpihak kepadamu, karena sebagaimana ia membuatmu tertawa, ia juga akan membuatmu menangis.”

Kemudian beliau berdoa:
“Ya Allah, jadikanlah kematian itu sebagai keberkahan bagiku dan perjumpaan dengan-Mu sebagai kebahagiaan.”

Mendengar ucapan tersebut, Ummu Kultsum menangis sambil berseru: “Wahai ayahku, wahai penolongku!”

Imam Hasan (alaihis salam) keluar mengikuti ayahnya. Ketika sampai kepadanya, ia berkata: “Aku ingin bersamamu.”

Beliau bersabda:
“Aku bersumpah kepadamu dengan hak yang aku miliki atasmu, kembalilah.”

Maka Imam Hasan (alaihis salam) kembali ke rumah. Ia bersama Ummu Kultsum larut dalam kesedihan atas keadaan dan ucapan-ucapan yang mereka saksikan dari ayah mereka yang mulia.” (3)

Ratapan Angsa
Ratapan Angsa di hari 19 Ramdhan

Azan Terakhir Sang Imam

Amirul Mukminin (alaihis salam) memasuki masjid, sementara lampu-lampu di dalamnya dalam keadaan padam. Beliau menunaikan beberapa rakaat salat dalam kegelapan, kemudian sejenak menyibukkan diri dengan zikir dan doa.

Setelah itu, beliau naik ke atap masjid dan mengumandangkan azan. Ketika beliau melantunkan azan, tidak ada satu pun rumah di Kufah melainkan suara azannya sampai ke sana.

Kemudian beliau turun dari menara, seraya bershalawat, lalu melantunkan beberapa bait syair:

“Biarkanlah jalan bagi seorang mukmin yang berjihad di jalan Allah,
yang tidak menyembah selain Yang Maha Esa,
dan membangunkan manusia menuju masjid.” (4)

 

Membangunkan Ibnu Muljam

Kemudian beliau menuju pelataran masjid sambil menyerukan:
“Salat, salat!”

Beliau membangunkan orang-orang yang tertidur agar melaksanakan salat. Sementara itu, Ibnu Muljam yang terlaknat sepanjang malam tetap terjaga, memikirkan rencana besar yang hendak ia lakukan.

Ketika Amirul Mukminin (alaihis salam) membangunkan orang-orang, Ibnu Muljam juga berada di antara mereka dalam keadaan berbaring tengkurap, dengan pedang beracunnya tersembunyi di bawah pakaiannya.

Saat Amirul Mukminin (alaihis salam) sampai kepadanya, beliau bersabda:

“Bangunlah untuk salat, dan jangan tidur seperti ini, karena itu adalah tidurnya setan. Tidurlah di sisi kanan, karena itu adalah tidurnya orang-orang beriman; atau di sisi kiri, karena itu adalah tidurnya orang-orang bijak; atau telentang, karena itu adalah tidurnya para nabi.”

Kemudian beliau bersabda:

“Engkau berniat melakukan suatu perkara yang waktunya telah dekat, yang akibatnya langit akan runtuh, bumi akan terbelah, dan gunung-gunung akan hancur. Aku dapat memberitahumu apa yang engkau sembunyikan di bawah pakaianmu.”

Setelah itu, beliau berlalu darinya, menuju mihrab, dan berdiri untuk menunaikan salat. (5)

 

“Fuztu wa Rabbil Ka‘bah” (Aku Telah Beruntung, Demi Tuhan Ka‘bah)

Ibnu Muljam, meskipun telah mendengar bahwa Amirul Mukminin (alaihis salam) akan dibunuh oleh orang yang paling celaka dari umat ini, bahkan terkadang berkata kepada Qutham bahwa ia khawatir dirinya adalah orang tersebut dan tidak akan mencapai tujuannya, tetap saja pada malam itu hingga fajar memikirkan rencananya. Namun, pada akhirnya gelombang kesengsaraan dalam dirinya mengalahkan segala keraguan, dan ia pun bertekad untuk membunuh Amirul Mukminin (alaihis salam). Ia berdiri di dekat salah satu tiang di sekitar mihrab, sementara Wardan dan Syabib bersembunyi di sudut lain.

Ketika Amirul Mukminin (alaihis salam) mengangkat kepala dari sujud dalam rakaat pertama, Syabib terlebih dahulu menyerang dengan maksud membunuh beliau dan berteriak:

“Hukum hanyalah milik Allah, wahai Ali! Bukan milikmu dan bukan milik para pengikutmu!”

Ia mengayunkan pedangnya, namun tebasannya mengenai bagian atas dan meleset.

Setelah itu, Ibnu Muljam maju, mengucapkan kata-kata yang sama, lalu menebaskan pedangnya ke kepala Amirul Mukminin (alaihis salam). Tebasan itu tepat mengenai luka lama akibat pertempuran dengan ‘Amr bin ‘Abd Wudd, hingga kepala beliau terbelah.

Dalam keadaan tersebut, Amirul Mukminin (alaihis salam) berseru:

“Bismillah wa billah wa ‘ala millati Rasulillah, fuztu wa Rabbil Ka‘bah.”
“Dengan nama Allah, dengan pertolongan Allah, dan di atas agama Rasulullah—demi Tuhan Ka‘bah, aku telah beruntung.” (6)

 

Pengenalan Sang Pembunuh

Amirul Mukminin (alaihis salam) berseru:

“Anak perempuan Yahudi itu—Ibnu Muljam—telah membunuhku! Tangkap dia!”

Orang-orang di masjid, ketika mendengar suara beliau, segera menangkap orang terlaknat tersebut. Suasana menjadi gempar, dan keadaan manusia berubah menjadi penuh keguncangan.

Mereka bergegas menuju mihrab dan melihat Amirul Mukminin (alaihis salam) terbaring, sementara kepalanya telah terbelah. Beliau mengambil tanah dan menaburkannya ke luka beliau, seraya membaca ayat:

“Dari bumi Kami menciptakan kalian, ke dalamnya Kami mengembalikan kalian, dan darinya Kami akan mengeluarkan kalian kembali.” (7)

 

Terwujudnya Janji Allah dan Rasul-Nya

Orang-orang melihat darah dari kepala beliau mengalir ke janggut mulianya hingga mewarnainya. Dalam keadaan tersebut, Amirul Mukminin (alaihis salam) bersabda:

“Inilah yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya; kini telah menjadi kenyataan.” (8)

 

Seruan Jibril

Jibril berseru di antara langit dan bumi dengan suara yang dapat didengar oleh manusia:

“تهدّمت و اللّه اركان الهدى، و انطمست اعلام التقى، و انفصمت العروة الوثقى، قتل ابن عمّ المصطفى، قتل الوصىّ المجتبى، قتل علىّ المرتضى، قتله اشقى الاشقياء؛  Demi Allah, pilar-pilar petunjuk telah runtuh, tanda-tanda ketakwaan telah sirna, dan tali yang kokoh telah terputus. Putra paman al-Musthafa telah terbunuh, wasi pilihan telah terbunuh, Ali al-Murtadha telah terbunuh; ia dibunuh oleh orang yang paling celaka di antara yang celaka.” (9)

 

Peristiwa Setelah Terjadinya Serangan

Ketika Ummu Kultsum mendengar seruan Jibril tentang kesyahidan sang Imam, ia menampar wajahnya, merobek kerah bajunya, dan berteriak:

“Wahai ayahku! Wahai Ali! Wahai Muhammad!”

Hasan dan Husain (alaihimassalam) segera bergegas dari rumah menuju masjid. Mereka melihat orang-orang menangis dan meratap, seraya berkata:

“Wahai Imam kami! Wahai Amirul Mukminin! Demi Allah, telah gugur seorang imam yang ahli ibadah dan pejuang, yang tidak pernah bersujud kepada berhala, dan yang paling menyerupai Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa alih).”

Ketika Imam Hasan (alaihis salam) memasuki masjid, ia berteriak:

“Wahai ayahku! Wahai Ali!”
dan berkata: “Seandainya aku telah mati sebelum melihat hari ini.”

Saat ia mendekati mihrab, ia melihat ayahnya terbaring di sana, sementara para sahabat dan kaum Anshar berusaha mengangkat beliau agar memimpin salat, namun beliau tidak mampu.

Kemudian Amirul Mukminin (alaihis salam) menunjuk Imam Hasan (alaihis salam) untuk menggantikannya sebagai imam. Beliau sendiri melaksanakan salat dalam keadaan duduk, karena rasa sakit yang sangat, tubuhnya condong ke kiri dan ke kanan.

Setelah Imam Hasan (alaihis salam) menyelesaikan salat, ia memeluk kepala ayahnya dan berkata:

“Wahai ayahku, punggungku telah patah. Bagaimana aku dapat melihatmu dalam keadaan seperti ini?”

Amirul Mukminin (alaihis salam) membuka matanya dan bersabda:

“Wahai anakku, mulai hari ini ayahmu tidak lagi merasakan penderitaan. Kini kakekmu Muhammad al-Musthafa (shallallahu ‘alaihi wa alih), nenekmu Khadijah al-Kubra (salamullahi ‘alaiha), ibumu Fatimah (salamullahi ‘alaiha), dan para bidadari surga telah hadir menanti ayahmu. Maka bergembiralah dan hentikan tangismu, karena tangisanmu membuat para malaikat langit ikut menangis.”

Luka di kepala beliau kemudian dibalut dengan jubahnya, dan beliau dipindahkan dari mihrab ke tengah masjid.

Berita tentang luka Amirul Mukminin (alaihis salam) tersebar di seluruh Kufah. Laki-laki dan perempuan bergegas menuju masjid. Mereka melihat beliau dengan kepala berada di pangkuan Imam Hasan (alaihis salam). Meskipun luka telah dibalut, darah masih mengalir, dan wajah beliau tampak pucat.

Beliau memandang ke langit, sementara lisannya terus bertasbih dan bertahmid, seraya berdoa:

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebersamaan dengan para nabi dan para wasi, serta derajat tertinggi di surga tempat kembali.”

Ketika beliau pingsan, Imam Husain (alaihis salam) menangis. Tetesan air matanya jatuh ke wajah ayahnya hingga beliau kembali sadar. Beliau membuka mata dan bersabda:

“Wahai anakku, mengapa engkau menangis dan berduka? Engkau setelahku akan syahid karena racun kezaliman, dan saudaramu Husain akan syahid oleh pedang. Kalian berdua akan bergabung dengan kakek, ayah, dan ibu kalian.” (10)

 

Sumber:
Munthaha al-Amal fi Tawarikh an-Nabi wal Aal, jilid 1, hlm. 418–425.

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *