Kota Najaf al-Asyraf dikenal luas karena banyaknya masjid yang tersebar di dalamnya. Di kota ini terdapat sejumlah besar masjid yang memiliki latar belakang sejarah yang sangat tua.
Mengapa Najaf al-Asyraf Disebut sebagai Kota Masjid?
Najaf al-Asyraf dikenal karena banyaknya masjid yang berdiri di dalamnya. Di antara masjid-masjid yang ada di kota suci ini, manakah yang paling tua?
‘Abdulhadi Ibrahimi, anggota dewan pengelola Atabah Suci Alawi dan pakar bangunan bersejarah serta arkeologi di kompleks makam Amirul Mukminin (عليه السلام), menjelaskan:
Najaf al-Asyraf merupakan sebuah kota besar Islam dan pusat keagamaan. Masjid-masjid dan husainiyah tersebar di seluruh gang dan lorong di bagian kota tua Najaf. Tempat-tempat ibadah ini terkonsentrasi di empat kawasan utama kota tua, yaitu Mishraq, Barraq, ‘Amarah, dan Huwaysh.
Selain itu, terdapat alasan rasional lain terkait banyaknya masjid di Najaf, yaitu bahwa para marja‘ taklid dan ulama besar pada masa lalu tidak melaksanakan salat berjamaah di pelataran suci Amirul Mukminin (عليه السلام) atau di dalam area makam beliau. Hal ini karena mereka memandang bahwa tindakan tersebut dapat membatasi ruang bagi para peziarah.
Sebagai contoh, Syaikh Ja‘far Kasyif al-Ghita’ dalam kitabnya Kasyf al-Ghita’ menegaskan bahwa:
“Melaksanakan salat berjamaah di pelataran suci Amirul Mukminin (عليه السلام) merupakan bentuk perampasan hak para peziarah.”
Dengan demikian, para ulama dan marja‘ tersebut memiliki pandangan khusus dalam hal ini. Akibatnya, mereka mendirikan masjid-masjid khusus di berbagai kawasan Najaf, tempat mereka melaksanakan salat berjamaah. Selain itu, masjid-masjid tersebut juga berfungsi sebagai pusat pengajaran ilmu-ilmu keagamaan (hauzah).
Masjid-Masjid Tertua dan Terkenal di Najaf
Jika ingin meninjau masjid-masjid tertua dan paling terkenal di kawasan-kawasan utama kota tua Najaf, maka perhatian pertama tertuju pada kawasan tertua, yaitu Mishraq.
Masjid tertua di seluruh wilayah kota tua—khususnya di kawasan Mishraq, dengan pengecualian masjid-masjid yang terhubung langsung dengan pelataran suci Amirul Mukminin (عليه السلام), seperti Masjid ar-Ra’s, Masjid ‘Imran Syahin, dan Masjid al-Khadra’—adalah Masjid milik marja‘ besar Abu Ja‘far ath-Tusi. Beliau wafat pada tahun 460 Hijriah.
Masjid tertua kedua terletak di kawasan Barraq, yaitu Masjid Turayhi. Masjid ini dinisbatkan kepada marja‘ besar pada masanya, Syaikh Fakhr ad-Din at-Turayhi, yang wafat pada tahun 1085 Hijriah. Sebagian pendapat bahkan menisbatkan masjid ini kepada masa yang lebih awal, yaitu kepada al-Muhaqqiq al-Karaki (wafat 940 Hijriah).
Di kawasan ‘Amarah, terdapat dua masjid tua yang terkenal:
1. Masjid al-Jawahiri
Masjid ini didirikan oleh marja‘ besar Syaikh Muhammad Hasan, penulis kitab Jawahir al-Kalam, yang wafat pada tahun 1264 Hijriah.
2. Masjid Kasyif al-Ghita’
Masjid ini didirikan oleh marja‘ taklid Syaikh Musa Al Kasyif al-Ghita’, yang wafat pada tahun 1331 Hijriah. Beliau adalah putra dari marja‘ besar Syaikh Ja‘far Al Kasyif al-Ghita’.
Di ujung kawasan Huwaysh terdapat Masjid al-Hindi, yang dibangun pada masa ‘Allamah Syaikh Husain an-Najafi (wafat 1251 Hijriah). Pada masa yang lebih kemudian, marja‘ besar Sayyid Muhsin al-Hakim melakukan perluasan dan renovasi masjid ini.
Masjid lain yang terkenal adalah Masjid al-Ansari, yang juga dikenal sebagai “Masjid Turki”. Masjid ini didirikan oleh marja‘ besar Syaikh Murtadha al-Ansari, yang wafat pada tahun 1281 Hijriah.
Masjid-masjid tersebut merupakan yang paling penting dan tertua di kawasan kota tua Najaf. Sebagaimana terlihat, mayoritas masjid ini didirikan oleh para marja‘ dan ulama besar Syiah pada masanya, yang sekaligus menjadikannya sebagai pusat ibadah dan pengajaran keilmuan Islam.