Most searched:

Ghadir

Peran Ghadir Khum dalam Persatuan Umat

Pengelola Haram Suci ‘Alawi: Ghadir merupakan sumber persatuan umat dan pilar utama agama

Berkat upaya Haramain Suci ‘Alawi, diselenggarakan sebuah perayaan megah dalam rangka peringatan  Idul Ghadir Khum, yang dihadiri oleh sejumlah cendekiawan, ulama ilmu-ilmu agama, perwakilan rumah para marja‘ taklid, pengelola Haramain Suci ‘Alawi, para pejabat haram, anggota lembaga suci lainnya, serta tokoh-tokoh budaya dan keagamaan dari berbagai negara.

Sayyid Isa al-Kharsan dalam perayaan  Idul Ghadir menegaskan bahwa Ghadir merupakan sumber persatuan, bukan perpecahan. Ia berkata: “Ghadir bukan sekadar pengumuman kecintaan, melainkan penyampaian resmi wilayah atas perintah Allah.”

Acara spiritual ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari wilayah dan memperbarui baiat kepada Ali bin Abi Thalib (as), serta dalam kerangka Pekan Internasional Ghadir ke-14 dengan pelaksanaan berbagai program budaya, keagamaan, dan seni.

Peran Ghadir dalam Persatuan Umat

Perayaan  Idul Ghadir Khum di Haramain Suci ‘Alawi diisi dengan pidato Sayyid Isa al-Kharsan. Ia memulai sambutannya dengan membaca ayat tabligh:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ…

(QS: Al-Ma’idah ayat 67)

Artinya: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…”

Kemudian ia memuji Allah, bershalawat kepada Nabi penutup (saw) dan Amirul Mukminin (as), serta menyampaikan salam kepada Muhammad al-Mahdi (as).

Ia juga menyampaikan ucapan selamat atas Idul Ghadir, khususnya kepada Ayatollah al-Udzhma Ali al-Sistani, marja‘ keagamaan di Irak. Ia menegaskan bahwa peristiwa Ghadir bukan sekadar kejadian historis atau sosial, melainkan persoalan akidah dan syariat serta salah satu prinsip dasar mazhab Syiah. Ia berkata:

“Ghadir merupakan faktor persatuan umat, pengokoh agama, dan penjaga Islam, bukan penyebab perpecahan. Nabi Muhammad (saw) pada hari Ghadir, atas perintah Ilahi, secara tegas menyampaikan masalah imamah dengan sabdanya: ‘Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.’”

Keteguhan dalam Jalan Wilayah

Pengelola Haramain Suci ‘Alawi menambahkan bahwa Ghadir bukan sekadar penegasan kecintaan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as), melainkan pengumuman resmi wilayah Ilahi beliau atas umat Islam. Ia menyatakan:

“Wilayah sepanjang sejarah merupakan ujian Ilahi bagi manusia; sebagian memilih kebatilan dan sebagian lainnya berpegang pada kebenaran. Kaum Syiah hendaknya berbangga dalam mengikuti jalan ini.”

Ia juga menyebut nama Hujr ibn Adi, sahabat setia Amirul Mukminin (as), dan memuji keteguhannya dalam mempertahankan wilayah. Ia berkata:

“Hujr merupakan teladan nyata pengorbanan di jalan wilayah. Ia bertahan hingga akhir hayatnya agar prinsip dasar agama ini tidak dilupakan.”

Di akhir pidatonya, Sayyid Isa al-Kharsan menegaskan bahwa Ghadir dan persoalan imamah tidak boleh terkubur dalam lapisan sejarah, melainkan harus senantiasa dijaga dan diperkuat sebagai prinsip yang hidup dan terus mengalir dalam akidah, budaya, dan identitas umat Syiah.

Bumi Tidak Pernah Kosong dari Hujjah Ilahi

Dalam lanjutan rangkaian perayaan  Idul Ghadir Khum di Haramain Suci ‘Alawi, Sayyid Muhammad Husayn al-Amidi, salah seorang pemikir terkemuka dalam ilmu-ilmu agama, menyampaikan pidatonya.

Setelah menyampaikan salam dan shalawat kepada Nabi Islam (saw) dan Ahlulbait (as), ia menekankan sunnah-sunnah Ilahi dalam memberikan petunjuk kepada manusia, seraya menyatakan:

“Allah tidak pernah membiarkan bumi kosong dari hujjah, dan senantiasa memperkenalkan hujjah-Nya kepada manusia. Hal ini merupakan salah satu sunnah Ilahi yang pasti dan terus berlangsung sepanjang sejarah.”

Al-Amidi, dengan merujuk pada ayat dari ucapan Isa (as) yang memberikan kabar gembira tentang Nabi Islam, mengatakan:

“Sunnah Ilahi dalam memperkenalkan hujjah senantiasa berlanjut dan juga telah ditekankan melalui para nabi terdahulu.”

Ia menambahkan:

“Rasulullah (saw) juga berulang kali menjelaskan persoalan wilayah dan imamah Ali bin Abi Thalib (as). Di antaranya pada hari Ghadir dengan ungkapan yang terkenal: ‘Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya,’ serta pada kesempatan lain beliau bersabda: ‘Ali adalah diriku; Ali adalah jiwaku.’”

Ulama tersebut menegaskan:

“Penegasan-penegasan ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as) merupakan ketaatan kepada Rasulullah, dan pada akhirnya ketaatan kepada Allah Swt. Hujjah Ilahi adalah jalan terang menuju petunjuk, dan Ghadir merupakan peristiwa agung dalam pengumuman kebenaran ini.

 

Ghadir
Acara Ghadir Khum
Ghadir
Acara Ghadir Khum
Ghadir
Acara Ghadir Khum

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *