Dalam rangka merayakan Idul Ghadir dan sebagai bagian dari program pengibaran bendera Ghadir di lebih dari 150 lokasi di Irak dan dunia, Pengelola Makam Suci Alawi mengadakan upacara pengibaran bendera Idul Ghadir di provinsi Basrah dengan kerjasama dan koordinasi dari perwakilan Otoritas Keagamaan Tertinggi (Marja)dan Yayasan Qamar Bani Hashim.
Acara yang diberkahi ini dihadiri oleh Mustafa Mani, anggota Dewan Direksi Makam Suci Alawi, beserta delegasi yang menyertainya, Sayyid Asif Musawi, perwakilan Otoritas Keagamaan Tertinggi, para pejabat Yayasan Qamar Bani Hashim, sekelompok ulama, tetua suku dan tokoh masyarakat provinsi Basrah.
Mustafa Mani mengatakan dalam pidato pembukaan upacara tersebut: “Pada hari-hari ini, kenangan harum hari besar Allah, hari Idul Ghadir, sekali lagi hidup di antara kita; sebuah kesempatan yang mengingatkan kita akan kebenaran yang tetap hidup dalam hati nurani umat Islam sebagaimana itu adalah keinginan Nabi Muhammad Saw dan kebenaran itu adalah wilayah Amirul Mukminin As As; wilayah yang merupakan perpanjangan dari risalah kenabian, penjaga maknanya dan pengemban amanah tujuan luhurnya dalam membimbing umat manusia, menegakkan keadilan dan melindungi agama dari penyimpangan dan keraguan.”
Menekankan pentingnya perayaan Idul Ghadir untuk memperbarui makna wilayah, perjanjian dan kesetiaan kepada Pemimpin Umat Islam, Amirul Mukminin As, ia mengapresiasi upaya bersama perwakilan Otoritas Keagamaan Tertinggi, Yayasan Qamar Bani Hashim dan umat Islam dalam menyelenggarakan perayaan keagamaan ini di provinsi Basrah.
Bendera Ghadir yang dikibarkan di provinsi Basrah ini dianggap sebagai bendera Ghadir terbesar di antara bendera-bendera yang dikibarkan di provinsi-provinsi Irak. Bendera ini memiliki luas 100 meter persegi dan dipasang pada tiang bendera setinggi 27 meter.
Perlu dicatat bahwa Upacara Pengibaran Bendera Ghadir adalah salah satu program terpenting Pekan Ghadir dan upacara ini akan diadakan di 150 lokasi berbeda di Irak dan dunia, termasuk makam-makam suci Ahlulbait, tempat-tempat mulia lainnya, alun-alun dan pusat-pusat kota, untuk menunjukkan makna wilayah, kesetiaan kepada Amirul Mukminin As dan untuk memperingati peristiwa besar ini.