Most searched:

Makan

Ghadir; Hari Memberi Makan (Ith‘am Al-Ta‘am)

Memberi makan pada hari Ghadir merupakan salah satu tradisi kaum Syiah untuk memuliakan hari Ghadir dan memperbarui baiat kepada Amirul Mukminin Ali (as).

Di antara amalan hari Ghadir, memberi hidangan berbuka kepada seorang mukmin memiliki kedudukan yang tinggi. Berdasarkan riwayat-riwayat, dalam amalan ini terdapat keutamaan yang besar.

Pentingnya memberi makan pada hari ini sedemikian rupa sehingga Imam Shadiq (as) menyebut hari Ghadir sebagai hari “memberi makan (ith‘am al-ta‘am)”.[1]

Anjuran para Imam dalam memberi makan pada Ghadir

Berdasarkan sejumlah laporan, para Imam mendorong kaum Syiah untuk memberi makan pada hari Ghadir. Dalam sebuah hadis, dianjurkan untuk memberi makan pada hari Ghadir bersamaan dengan berpuasa, memberi hadiah, dan menjalin silaturahmi.[2]

Dalam sebuah riwayat dari Imam Ridha (as), para pengikut diminta untuk berpartisipasi dalam memberi makan pada hari Ghadir sesuai dengan kemampuan dan fasilitas yang mereka miliki.[3]

Berdasarkan riwayat yang dinukil dalam berbagai kitab seperti Misbah al-Mutahajjid karya Syaikh al-Tusi:
“Imam Ridha (as) pada malam Hari Raya Ghadir menahan para sahabat khususnya untuk berbuka di tempat beliau, dan beliau mengirimkan makanan beserta hadiah kepada keluarga mereka.”[4]

Pahala memberi makan pada Ghadir

Berdasarkan berbagai riwayat, memberi makan pada hari ini merupakan amal yang sangat utama dan sangat ditekankan, serta menjadi sebab agar tradisi ini tidak dilupakan.

Imam Ridha (as) mengenai keutamaan hari Ghadir bersabda:

«وَ مَنْ أَطْعَمَ مُؤْمِناً کَانَ کَمَنْ أَطْعَمَ جَمِیعَ الْأَنْبِیَاءِ وَ الصِّدِّیقِین»

“Barang siapa pada hari Ghadir memberi makan kepada seorang mukmin, maka ia seperti orang yang telah memberi makan kepada seluruh para nabi dan orang-orang yang benar.”[5]

Imam Shadiq (as) mengenai sunnah baik memberi makan dan pentingnya pada hari ini bersabda:

  • “Memberi makan kepada satu orang mukmin pada hari Raya Ghadir memiliki pahala seperti memberi makan kepada satu juta nabi dan orang-orang benar, yang di puncaknya adalah para imam maksum (as), serta satu juta syahid yang di puncaknya adalah Abbas (as) dan para syuhada Karbala, dan satu juta orang saleh di haram Allah.”[6]
  • “Memberi makan kepada satu orang pada hari Ghadir seperti memberi makan kepada seluruh para nabi dan orang-orang benar.”[7]

Amirul Mukminin (as) mengenai pahala besar memberi makan pada hari Ghadir bersabda:

«من افطر مؤمنا فى لیله فکأنما افطر فئاما…»

“Barang siapa memberi makan berbuka kepada seorang mukmin yang berpuasa pada hari Ghadir, maka seakan-akan ia telah memberi makan berbuka kepada sepuluh fi’ām…”

Seseorang bertanya: “Wahai Amirul Mukminin (as), apakah yang dimaksud dengan fi’ām?”
Beliau menjawab: “Seratus ribu nabi, orang-orang benar, dan syahid.”

Kemudian beliau melanjutkan:
“Maka bagaimana (besarnya) keutamaan orang yang menanggung sekelompok kaum mukminin dan mukminat?”

Dalam riwayat lain beliau bersabda:
“Barang siapa memberi pinjaman karena Allah pada hari Ghadir, Allah akan melipatgandakannya baginya. Dan pada hari Raya Ghadir, kenakanlah pakaian terbaik kalian, gunakanlah wewangian, berilah hadiah kepada anak-anak kalian, dan makanlah makanan terbaik kalian dalam setahun.”

Dalam riwayat-riwayat dianjurkan untuk memberi makan kepada orang-orang yang membutuhkan, kaum mukmin, saudara seagama, serta memberikan hidangan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa pada hari Ghadir. Anjuran berpuasa pada hari Ghadir di kalangan Syiah dikenal luas.[8][9][10][11][12]

Sumber:

  • Bihar al-Anwar, jilid 95, halaman 302.
  • al-Hilli, al-‘Adad al-Qawiyyah, 1408 H, halaman 169.
  • Syaikh al-Tusi, Misbah al-Mutahajjid, 1411 H, jilid 2, halaman 757.
  • Syaikh al-Tusi, Misbah al-Mutahajjid, 1411 H, jilid 2, halaman 758; Ibn Tawus, Iqbal al-A‘mal, 1409 H, jilid 1, halaman 461.
  • Iqbal al-A‘mal, jilid 1, halaman 465.
  • Bihar, jilid 6, halaman 303.
  • Mafatih al-Jinan, halaman 500.
  • Syaikh al-Tusi, Misbah al-Mutahajjid, 1411 H, jilid 2, halaman 757; al-Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jilid 94, halaman 117.
  • Ibn Tawus, Iqbal al-A‘mal, 1409 H, jilid 1, halaman 463.
  • Ibn Tawus, Iqbal al-A‘mal, 1409 H, jilid 1, halaman 475.
  • Syaikh al-Tusi, Misbah al-Mutahajjid, 1411 H, jilid 2, halaman 758.
  • al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, Beirut, jilid 8, halaman 284.

 

 

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *