Pada hari Mubahalah (persumpahan), Allah SWT meminta Nabi Terakhir untuk membawa “nafasnya” (jiwa) ke tempat pertemuan. Tetapi siapakah jiwa dan nafas Nabi? Siapakah yang telah menyatu dengan Rasulullah (saw), hamba pilihan Allah SWT ini, dalam semua unsur keberadaan dan setiap bagian dari keberadaannya?! Kepercayaan dan kebajikan yang hanya dimiliki oleh satu orang; dan jiwa tunggal itu tidak lain adalah Amirul Mukminin, Sayyid al-Wasiyyin, Imam Ali bin Abi Thalib (as).
Ayat 61 Surat Al-Imran dikenal sebagai ayat Mubahalah (persumpahan) dan merupakan bukti akan hari ketika Nabi Agung (saw) mengajak orang-orang Kristen Najran untuk melakukan Mubahalah. Peristiwa yang menunjukkan kebenaran seruan Rasul terakhir Allah dan kebaikan serta kedudukan tinggi beliau dan para sahabatnya, yaitu Amirul Mukminin (as), Sayyidah Fatimah (as) dan Hasanain (as). Hari ketika Islam Muhammad yang murni berdiri melawan segala bentuk kekafiran dan penyembahan berhala, dan keyakinan hati keluarga Nabi menjadi medan persaingan.
Deskripsi peristiwa
Pada tanggal 24 Dzulhijjah tahun 10 Hijriah, Nabi Muhammad SAW (saw) pada saat yang sama dengan berkirim surat kepada para pemimpin negara di dunia, menulis surat kepada Uskup Najran dan mengajak penduduk Najran untuk memeluk agama Islam. Sekelompok orang, yang mewakili umat Kristen Najran, pergi ke Madinah dan berdiskusi dan berdebat dengan Nabi Terakhir di Masjid Nabawi. Selain memperkenalkan diri, beliau juga memperkenalkan Nabi Isa (as) sebagai salah satu hamba Allah. Namun, mereka tidak menerimanya dan menganggap kelahiran Nabi Isa (as) tanpa ayah sebagai bukti keilahiannya. Setelah penolakan ini, Nabi, atas perintah Allah, mengundang mereka untuk melakukan “mubahalah”.
Undangan untuk melakukan pembelaan diri berdasarkan riwayat Imam Ali
Dalam riwayat peristiwa Mubahalah, Amirul Mukminin (as) berkata: “Ketika Allah mewahyukan ayat Mubahalah kepada Nabi (saw): “فَقُل تَعالَوا نَدعُ أبناءَنا و أبناءَکُم و نِساءَنا و نِساءَکُم و أنفُسَنا و أنفُسَکُم، Katakanlah kepada mereka: Mari kita panggil anak-anak kita dan anak-anak kalian, istri-istri kita dan istri-istri kalian, jiwa-jiwa kita dan jiwa-jiwa kalian.”Para penentang berkata dengan nada keras: “Wahai Abu al-Qasim! Engkau telah memperlakukan kami dengan adil; jadi kapan pertemuan kita?”
Rasulullah (saw) menjawab: “Insya Allah besok!”
Sementara itu, ketika melihat keputusan ini, orang-orang Yahudi berkata pada diri mereka sendiri: “Tidak ada tuhan selain Allah. Jika mereka binasa besok, kami tidak peduli mana yang akan dibinasakan Allah, orang-orang Kristen atau orang-orang Muslim!”
Kehadiran keluarga Nabi dalam Mubahalah
Amirul Mukminin (as) melanjutkan: “Setelah Nabi (saw) melaksanakan shalat subuh, beliau memegang tanganku dan menempatkanku di depannya. Kemudian beliau membawa Sayyidah Fatimah (as) dan menempatkannya di belakangnya, dan menempatkan Hassan dan Husain (as) di kedua sisinya, di sebelah kanan dan kiri. Dengan demikian, Nabi (saw) mengumpulkan mereka untuk hadir di tempat yang telah ditentukan untuk melakukan Mubahalah.”
Penyesalan musuh dan permintaan pengampunan
Melihat adegan ini, para penentang menyesal dan saling berdiskusi dan berkata, “Demi Allah! Dia benar-benar Rasul Allah (saw); jika dia melakukan Mubahalah dengan kita, pasti Allah akan mengabulkan kutukannya atas kita dan menghancurkan kita. Tidak ada cara untuk menyelamatkan diri kita, kecuali kita memintanya untuk membatalkan permintaan ini.”
Akhirnya, mereka mendatangi Nabi (saw) dan berkata: “Wahai Abu al-Qasim! Batalkan keputusanmu untuk melakukan Mubahalah.”
Pengampunan Nabi (saw) dan peringatan terakhir
Nabi (saw) menjawab permintaan mereka dengan berkata: “Aku melepaskan diri dari Mubahalah ini dengan kalian; tetapi demi Allah yang telah mengutusku dengan kebenaran, jika aku berdebat dengan kalian, Allah tidak akan meninggalkan seorang pun orang Kristen di muka bumi ini kecuali membinasakannya.” [1]
Argumen tentang keabsahan Maulana Al-Muttaqian menurut Imam Sadiq (as)
Peristiwa Mubahalah adalah salah satu adegan terpenting dalam sejarah Islam, di mana posisi khusus Ahlul Bayt terungkap dengan jelas. Amirul Mukminin (as) dengan merujuk pada peristiwa ini mengingatkan tentang keabsahan keluarga Nabi (saw).
Imam Sadiq (as) menceritakan dari para leluhurnya yang mulia: “Ketika Abu Bakar duduk di kursi khalifah dan orang-orang berjanji setia kepadanya dan menarik diri dari persahabatan dengan Amirul Mukminin (as), Imam yang saleh ini berdebat dengan Abu Bakar untuk membuktikan kebenarannya: “Aku bersumpah kepadamu demi Allah! Apakah Rasulullah (saw) pada hari Mubahalah dengan orang-orang Kristen membawa saya bersama keluarga dan anak-anak saya ke tempat Mubahalah, ataukah membawa Anda, keluarga, dan anak-anak Anda bersamanya?”
Abu Bakar menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan: “Dia muncul bersamamu untuk melakukan Mubahalah.” [2]
Kemuliaan Imam Ali pada hari Mubahalah
Dalam mengungkapkan kebaikan khususnya dalam percakapan dengan salah seorang muhadits, Amirul Mukminin (as) menyebutkan hari Mubahalah. Hari ketika Allah SWT dalam Al-Quran menyebut Imam dengan sebutan “Anfusna”, yang berarti jiwa Nabi Terakhir. Abu Abdullah, Makhul bin Abi Muslim, adalah seorang muhadits dan faqih dari kalangan Sunni dan mufti dari kalangan Damaskus pada abad kedua Hijriyah.
Makhul menjelaskan bahwa Amirul Mukminin (as) berkata: “Di antara para sahabat Nabi (saw), mereka yang memiliki ingatan yang baik, tahu bahwa tidak ada seorang pun di antara mereka yang memiliki suatu kemuliaan kecuali aku telah ikut serta dan lebih unggul dari yang mereka miliki; dan aku memiliki tujuh puluh kemuliaan yang tidak ada seorang pun di antara mereka yang ikut serta di dalamnya.”
Amirul Mukminin (as) kemudian berkata: “Orang-orang yang menjadi sahabat Nabi (saw) yang memiliki ingatan yang baik, mereka tahu bahwa dalam setiap kemuliaan dan keutamaan yang ada di antara mereka, aku telah menjadi rekan mereka dan bahkan aku lebih unggul dari mereka. Namun, di sisi lain, ada tujuh puluh kemuliaan khusus yang tidak ada seorang pun yang masuk di dalamnya.”
Makhul berkata, “Wahai Amirul Mukminin (as), beritahukan kepadaku keutamaan-keutamaan itu.”
Dalam menghitung kemuliaan dan keutamaan khususnya, Amirul Mukminin (as) menyebutkan kemuliaan yang ke-34 dan berkata: “Ketika orang-orang Kristen Najran mengklaim untuk bemubahalah dengan Nabi (saw), Allah menurunkan ayat ini: فَمَن حاجَّكَ فيهِ مِن بَعدِ ما جاءَكَ مِنَ العِلمِ فَقُل تَعالَوا نَدعُ أبناءَنا و أبناءَكُم و نِساءنا و نِساءَكُم و أنفُسَنا و أنفُسَكُم ثُمَّ نَبتَهِل فَنَجعَل لَعنَتَ اللهِ عَلَى الكاذِبينَ, Jadi, siapa pun yang berdebat denganmu tentang dia [Isa] setelah ilmu dan pengetahuan datang kepadamu, katakanlah: Mari kita panggil anak-anak kita dan anak-anakmu, dan istri-istri kita dan istri-istrimu, dan jiwa-jiwa kita dan jiwa-jiwa kalian; kemudian kita saling bermubahalah, lalu kita letakkan kutukan Allah atas para pembohong.”
Imam Ali kemudian berkata: “Dalam ayat ini, “diriku” adalah “dirinya Rasulullah (saw)”. Demikian pula, yang dimaksud dengan “istri-istri kami” adalah Sayyidah Fatimah Zahra (as) dan yang dimaksud dengan “anak-anak kami” adalah Imam Hasan dan Imam Husain (as).
Kemudian orang-orang Kristen menyesal dan memohon ampun kepada Rasulullah (saw), dan Rasulullah pun menyetujuinya. Demi Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa dan Al-Qur’an kepada Muhammad (saw), jika mereka bermubahalah dengan kami, mereka semua akan berubah menjadi monyet dan babi.” [3]
Sumber
[1] Bihar Al-Anwar , Jilid 21, Halaman 347
[2] Al-Khisal, halaman 548; Bihar al-Anwar, jilid 29, halaman 9
[3] Al-Khisal, Jilid 2, Halaman 576