Hudzaifah bin Yaman berkata: aku mendatangi Rasul Saw lalu beliau bersabda: kaum mukmin yang paling baik adalah Ali bin Abi Thalib As. (Syawahid at-Tanzil, Jilid 2, Hal. 348)
* * * * * * * * * * *
Hudzaifah bin Yaman berkata: Rasul Saw bersabda: Ali adalah manusia terbaik, barangsiapa tidak menerima ini maka ia telah kafir. (Itsbat al-Hudah, Jilid 3, Hal. 224)
* * * * * * * * * * *
Amirul Mukminin As bersabda: Bumi ini menjadi kecil dan sempit bagi tujuh orang. Penduduknya diberi rezeki oleh tujuh orang ini dan termasuk dalam pertolongan ilahi serta hujan rahmat ilahi turun untuk mereka. Di antara mereka adalah: Salman al-Farisi, Miqdad, Abu Dzar, Ammar dan Hudzaifah. Dan Amirul Mukminin As berkata: Aku adalah Imam dari tujuh orang ini dan merekalah yang melakukan solat jenazah untuk Fatimah az-Zahra As. (Bihar al-Anwar, Jilid 22, Hal. 351)
* * * * * * * * * * *
Hudzaifah bin Yaman berkata: Ketika Ja’far bin Abi Thalib kembali dari Habasyah kepada Rasul Saw, Rasul Saw sedang berada di Khaibar. Ja’far membawa hadiah berupa parfum mahal dan qathifah (kain atau selimut halus) untuk Nabi. Nabi berkata: “Aku akan memberikan qathifah ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya mencintainya.” Para sahabat Nabi menundukkan kepala dan menantikan dengan penuh harap siapa yang akan menerima kehormatan ini. Nabi berkata: “Di mana Ali As?” Ammar bin Yasir berdiri dan memanggil Ali As. Ketika Ali As datang, Nabi berkata kepadanya: “Wahai Ali! Ambillah qathifah ini.” Ali As mengambilnya dan menunggu sampai ia sampai di Madinah. Kemudian ia pergi ke pasar Baqi’, yang merupakan pasar Madinah, dan memerintahkan seorang tukang emas untuk memisahkan untaian emas dari qathifah tersebut.
Emas itu berjumlah seribu mithqal. Ali As membagikan semuanya kepada kaum miskin Muhajirin dan Ansar, lalu pulang ke rumah tanpa menyimpan sedikit pun emas untuk dirinya sendiri. Keesokan harinya, Rasul Saw bertemu Ali bersama sekelompok sahabatnya, termasuk Hudzaifah dan Ammar, lalu Rasul Saw berkata: “Wahai Ali! Kemarin engkau memperoleh seribu mithqal emas; hari ini, jamulah aku dan para sahabat ini untuk makan siang.” Pada saat itu, Ali As tidak memiliki kekayaan atau cadangan emas atau perak; tetapi karena kerendahan hati dan kemurahan hatinya, ia berkata: “Ya, wahai Rasulullah, silahkan engkau dan para sahabatmu.” Rasul Saw masuk ke rumah dan berkata kepada kami: “Masuklah.” Hudzaifah berkata: Ada lima orang di antara kami: aku, Ammar, Salman, Abu Dzar dan Miqdad. Kami masuk. Ali As pergi menemui Fatimah As untuk mencari makanan. Tiba-tiba, di tengah rumah, beliau melihat semangkuk besar sup, uap mengepul darinya dan banyak daging di atasnya dan baunya seperti kesturi. Ali As mengambilnya dan membawanya kepada Rasul Saw dan orang-orang yang hadir. Kami semua memakannya sampai kenyang, sementara makanan itu sama sekali tidak berkurang.
Kemudian Rasul Saw pergi kepada Fatimah As dan berkata: “Wahai Fatimah! Dari manakah makanan ini berasal untukmu?” Fatimah menjawab dan kami dapat mendengar mereka berkata: “Ini dari Allah; sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa pun yang Dia kehendaki tanpa batas.” Maka Rasul Saw kembali kepada kami dengan air mata di matanya dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang tidak membuatku melihat untuk putriku apa yang dilihat Zakaria untuk Maryam. Sebagaimana firman Allah tentang Maryam: “Setiap kali Zakaria memasuki tempat sucinya, ia mendapati Maryam sedang makan dan berkata: Wahai Maryam! Dari manakah ini berasal untukmu?” Ia menjawab: Ini dari Allah; Allah memberi rezeki kepada siapa pun yang Dia kehendaki tanpa batas.”
(al-Amali, Jilid 1, Hal. 614)
* * * * * * * * * * *
Hudzaifah bin Yaman meriwayatkan: Rasulullah Saw berdiri dan mencium di antara kedua mata Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib dan berkata: “Wahai Abul Hasan! Engkau adalah bagian dari diriku; ke mana pun aku turun, engkau pun akan berada di sana. Dan ada kedudukan bagimu di Surga dan itu adalah wasilah.” Maka diberkatilah engkau dan para pengikutmu setelahmu. (Miah Manqabah, Jilid 1, Hal. 86)
* * * * * * * * * * *
Pada tahun 36 Hijriah, Hudzaifah bin Yaman sakit parah di kota Kufah. Pada saat itu, ia mendapat kabar kekhalifahan Amirul Mukminin As. Hudzaifah, yang merupakan sahabat setia Rasul Saw dan pendukung Amirul Mukminin As membuat wasiat penting kepada putra-putranya dan para penduduk Kufah di hari-hari terakhir hidupnya, meminta mereka untuk segera membantu Amirul Mukminin As dan mendukungnya. (Waqai’ as-Sinin wa al-A’wam, Jilid 1, Hal. 90)