Usai peristiwa Karbala, ketika Imamah dianugerahkan kepadanya, Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad di majelis Yazid, dengan kata-kata bijak, menghentikan upaya Yazid untuk mempermalukan Ahlulbait dan menjelaskan posisi Ahlulbait, khususnya Amirul Mukminin As. Peristiwa historis ini menjaga pesan Ahlulbait tetap hidup dan memiliki dampak mendalam pada sejarah Islam.
Masa Imamah Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad bertepatan dengan salah satu periode tergelap dalam sejarah Islam, yaitu pemerintahan Abdul Malik bin Marwan. Imam Zainal Abidin, meskipun di tengah panasnya Karbala dan di bawah tekanan rezim Umayyah, melanjutkan misi hidayah dan melestarikan ajaran Ahlulbait As.
Imam Zainal Abidin Menerangkan Keutamaan Amirul Mukminin As di Majelis Yazid
Setelah peristiwa Karbalam, Imam Sajjad As di Majelis Yazid memperkenalkan diri dan keluarga Nabi Saw dalam khutbahnya dan menjelaskan kedudukan sejati Amirul Mukminin As kepada umat.
Imam Sajjad As memperkenalkan dirinya sebagai berikut dalam khutbah di Majelis Yazid di Suriah: “Aku adalah putra Ali Murtadha; putra orang yang memukul orang-orang sehingga mereka mengucapkan “La ilaha illallah”. Aku adalah putra orang yang berperang bersama Rasulullah Saw dengan dua pedang dan berperang dengan dua tombak; ia berhijrah dua kali dan berbaiat dua kali; ia bertempur di perang Badr dan perang Hunain dan tidak pernah mengingkari Tuhan bahkan sedetik pun.
Aku adalah putra orang yang saleh di antara orang-orang beriman, pewaris para nabi, penumbang orang-orang kafir, pemimpin kaum Muslimin, cahaya para pejuang, perhiasan para ahli ibdah, mahkota orang-orang yang sedih, orang yang paling sabar di antara orang-orang yang sabar dan pejuang terbaik, berasal dari keluarga Yasin dan keluarga Rasulullah Saw. Aku adalah putra orang yang dikuatkan oleh Jibril dan dibantu oleh Mikail.
Aku adalah putra dari seseorang yang membela kesucian kaum Muslimin, memerangi Mariqin, Naqitsin dan Qasithin, serta memerangi musuh-musuh keturunannya. Dia adalah orang Quraisy yang paling terhormat di muka bumi. Aku adalah putra dari seseorang yang menanggapi seruan Allah dan Rasulnya dari kalangan orang-orang beriman; ia adalah pelopor dalam Islam, penghancur orang-orang yang melanggar, penghancur kaum musyrik dan anak panah Allah melawan orang-orang munafik.
Ia adalah lisan kebijaksanaan bagi para ahli ibadah, penolong agama Allah, penjaga perjuangan Allah, taman kebijaksanaan ilahi dan pusat pengetahuannya. Ia lembut, murah hati, agung, berani, suci, berasal dari tanah Bat’ha, dicintai, inisitaif, memiliki misi besar, sabar, ahli puasa, sopan, pejuang, teguh pendirian dan pemecah belah kelompok jahat.
Ia adalah orang yang paling saleh, teguh, bertekad dan berani di antara semua orang; singa perkasa yang, setiap kali tombak saling berdekatan di medan perang dan kesulitan datang, ia menghancurkan musuh seperti batu penggiling dan menyebarkan mereka seperti jerami ditiup angin. Ia adalah singa Hijaz dan pemimpin Irak yang perkasa; seorang Makki, seorang Madani, orang yang terkait dengan Masjid Khayf dan Aqaba, seorang Badri, Uhudi, Syajari, seorang Muhajirin yang hebat; penguasa bangsa Arab dan singa medan perang.
Ia adalah pewaris dua kedudukan besar dan ayah dari dua cucu, Hasan dan Husain. Semua ini adalah ciri-ciri kakekku Ali bin Abi Thalib As.” [1]
Imam as-Sajjad Menjelaskan Wilayah Amirul Mukminin As
Dalam menjelaskan kedudukan pengorbanan Amirul Mukminin As, Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad merujuk pada pengorbanan beliau yang tak tertandingi pada malam hijrah Nabi Muhammad Saw.
Imam Sajjad As berkata: “Orang pertama yang menjual nyawanya demi Allah dan mempersembahkan nyawanya adalah Amirul Mukminin As. Ketika kaum musyrik menyerbu rumah Nabi Muhammad Saw untuk membunuhnya, mereka tidak menemukan Nabi di tempat tidur dan melihat Amirul Mukminin Saw bangkit dari tempat tidur Nabi Saw.” [2]
Imam Zainal Abidin Menziarahi Makam Amirul Mukminin As
Dalam riwayat, Imam Sajjad As ketika menziarahi makam Amirul Mukminin As, beliau menerangkan kedudukan dan perjuangan Amirul Mukminin As dengan kalimat-kalimat yang mendalam.
Jabir bin Yazid al-Ju’fi, seorang faqih, ahli tafsir, ahli hadis dan salah satu sahabat terkenal Imam Muhammad al-Baqir dan Imam Ja’far as-Sadiq As, meriwayatkan: “Imam Baqir As berkata: Ayahku, Imam Sajjad As pergi mengunjungi makam Amirul Mukminin As di suatu daerah dekat Kufah. Beliau berdiri di dekat makam Amirul Mukminin, menangis dan berkata:
«السلام علیک یا أمینَ الله فی أرضه و حجّتَه علی عباده؛ السلام علیک یا أمیرالمؤمنین؛ أشهد أنّک جاهدتَ فی الله حقّ جهاده…»» (Ziyarah Aminullah) [3]
Imam Zainal Abidin Memuji Ibadah Amirul Mukminin As
Untuk memperkuat semangat beribadah, Imam Sajjad As selalu mempelajari kitab ibadah Amirul Mukminin As dan terharu oleh keagungan ibadahnya.
Imam Muhammad al-Baqir As meriwayatkan dari ayahnya, Imam as-Sajjad As: “Wahai putraku! Bawakan aku sebuah kitab yang menjelaskan ibadah Ali bin Abi Thalib As.” Ketika aku membawanya, beliau membaca sebagian, lalu dengan kesedihan yang mendalam meletakkannya dan berkata: “Siapakah yang mampu beribadah seperti Ali bin Abi Thalib As?” [4]
Imam as-Sajjad Menyebutkan Keutamaan Amirul Mukminin As
Imam as-Sajjad As dalam menjelaskan konsep zakat, menyebutkan bahwa menyebarluaskan dan menerangkan keutamaan Amirul Mukminin As adalah zakat bagi kaum mukmin yang tak mampu.
Imam as-Sajjad As berkata: “Ayat “Berilah Zakat” (Al-Baqarah:177) wajib bagi setiap mukmin kepada saudara-saudara seimannya; oleh karena itu, jika ia tidak memiliki kemampuan untuk memberi Zakat, ia harus memberikan kontribusi dari kekuatan fisik dan mentalnya, serta secara terbuka mengungkapkan keutamaan Amirul Mukminin As dan keluarganya yang suci sebisa mungkin.” [5]
Orang yang Paling Mirip dengan Amirul Mukminin As
Imam as-Sadiq As berkata: “Di antara seluruh Ahlulbait As dalam hal zuhud dan ibadah, tidak ada seorang pun yang lebih mirip dengan Amirul Mukminin As selain Ali bin Husain As. Imam Sajjad As adalah yang paling mirip.” [6]
Sumber:
- Bihar al-Anwar, Jilid 45, Hal. 137
- al-Manaqib, Jilid 2, Hal. 64
- Kamil az-Ziyarat Hal. 92
- Kasyf al-Ghummah, Jilid 2, Hal. 85
- Bihar al-Anwar, Jilid 24, Hal. 381
- Bihar al-Anwar Jilid 46, Hal. 74