Saat-saat terakhir kehidupan Rasulullah Saw diwarnai kesedihan mendalam ketika memikirkan masa depan putri tercintanya. Riwayat ini mengisahkan percakapan penuh kasih antara seorang ayah dan putrinya mengenai penderitaan yang akan datang, sekaligus kabar gembira tentang pertemuan kembali di sisi Allah Swt.
Ketika saat-saat kesyahidan Rasulullah Saw semakin dekat, beliau menangis begitu hebat hingga janggut mulianya basah oleh air mata. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Mengapa engkau menangis?”
Beliau menjawab, “Aku menangisi keturunan dan anak-anakku serta kezaliman yang akan mereka alami setelah kepergianku akibat perbuatan orang-orang zalim dari kalangan umatku. Seakan-akan saat ini aku melihat putriku Fatimah As dizalimi setelah kepergianku. Ia berteriak meminta pertolongan, ‘Ya abatah!’ (Wahai Ayahku!), tetapi tak seorang pun dari umatku datang menolongnya.”
Ketika perkataan itu sampai kepada Sayyidah Fatimah As, beliau pun menangis. Rasulullah Saw bersabda, “Wahai putriku tercinta! Janganlah menangis.”
Sayyidah Fatimah Sa menjawab, “Wahai Ayahku! Aku menangis bukan karena kezaliman yang akan kualami setelah kepergianmu, melainkan karena kesedihan berpisah dan jauh darimu.”
Saat itulah Rasulullah Saw menyampaikan kabar gembira kepadanya, “Wahai putri Muhammad! Bergembiralah, karena engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku.” [1]
Mimpi tentang Pertemuan di Surga
Mimpi yang benar yang dialami Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa menyingkap sebuah kenyataan besar, yakni janji pertemuan kembali dengan ayahandanya, Rasulullah Saw. Mimpi itu mendorong beliau untuk mengungkapkan isi hatinya dan menyampaikan kepada suami setianya, Amirul Mukminin As, bagaimana perpisahan terakhirnya kelak akan berlangsung dalam kesunyian.
Imam Ja’far ash-Shadiq As bersabda, “Ketika Rasulullah Saw meninggalkan dunia ini, beliau tidak meninggalkan apa pun sebagai peninggalan selain Tsaqalain, yakni Itrah dan Ahlulbaitnya. Pada saat-saat terakhir kehidupannya, Rasulullah Saw berbisik kepada Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa, ‘Di antara keluargaku, engkaulah orang pertama yang akan menyusulku.’”
Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa menuturkan:“Beberapa hari setelah kepergian ayahandaku yang mulia, ketika aku berada di antara tidur dan terjaga, aku melihat ayahku dalam mimpi. Begitu melihatnya, aku tidak mampu menahan perasaanku dan berkata kepadanya, ‘Wahai Ayahku! Wahyu dan berita-berita dari langit telah terputus dari kita.’
Saat aku mengucapkan perkataan itu, tiba-tiba kulihat beberapa barisan malaikat datang menghampiriku, dengan dua malaikat berada di barisan paling depan. Mereka membawaku naik menuju langit.
Ketika kuangkat kepalaku, tampak di hadapanku istana-istana megah yang dikelilingi taman-taman dan sungai-sungai yang tak terhitung jumlahnya. Di belakang setiap istana terdapat istana lainnya, dan di balik setiap taman terbentang taman yang lain. Tiba-tiba kulihat sejumlah gadis keluar dari istana-istana itu dan berjalan menghampiriku.
Dengan penuh kegembiraan dan antusias, mereka saling menyampaikan kabar gembira. Mereka memandangku sambil tersenyum dan berkata, ‘Selamat datang kepada sosok yang untuknya surga diciptakan, dan kami pun diciptakan karena ayahnya, yakni Rasulullah!’
Sementara itu, para malaikat terus membawaku naik.
Mereka membawaku memasuki sebuah tempat yang di dalamnya terdapat begitu banyak istana. Pada setiap istana terdapat ruangan-ruangan yang belum pernah dilihat oleh mata manusia mana pun.
Di atas dipan-dipan yang ada di sana terbentang kain-kain sundus dan istabraq, yakni sutra-sutra yang sangat berharga. Berbagai selimut sutra berwarna-warni dan kain brokat yang indah juga terhampar di atas dipan-dipan tersebut. Tampak pula bejana-bejana dari emas dan perak serta hidangan yang dipenuhi aneka makanan dengan berbagai warna dan jenis.
Di surga itu mengalir sebuah sungai yang airnya lebih putih daripada susu dan aromanya lebih harum daripada minyak kasturi yang paling wangi.
Aku bertanya, ‘Milik siapakah tempat ini dan sungai apakah ini?’
Mereka menjawab, ‘Inilah Firdaus A’la, surga tertinggi yang tidak ada lagi surga di atasnya. Tempat ini milik ayahmu, Rasulullah Saw, bersama para nabi yang menyertainya dan orang-orang yang dicintai Allah.’
Aku bertanya lagi, ‘Lalu sungai apakah ini?’
Mereka menjawab, ‘Inilah Sungai Kautsar yang telah dijanjikan Allah kepada ayahmu yang mulia.’
Aku kembali bertanya, ‘Di manakah ayahku?’
Mereka menjawab, ‘Sebentar lagi beliau akan datang menemuimu.’
Pada saat itu, tampak di hadapanku istana-istana yang lebih putih dan lebih bercahaya dibandingkan istana-istana sebelumnya. Permadani-permadani di dalamnya juga jauh lebih indah daripada yang pernah kulihat.
Aku melihat permadani yang terhampar di atas sebuah dipan, dengan hamparan-hamparan lain yang lebih indah.
Akhirnya, aku tiba di sebuah dipan tempat ayahku, Rasulullah Saw, sedang duduk bersama sekelompok orang yang berada di hadapannya.
Begitu melihatku, ayahku langsung memelukku, mencium keningku di antara kedua mataku, lalu bersabda, ‘Selamat datang, wahai putriku!’
Kemudian beliau mempersilakanku duduk di sisinya dan berkata, ‘Wahai kekasihku! Apakah engkau melihat betapa banyak nikmat yang telah Allah sediakan untukmu dan betapa mulia serta indahnya tempat penuh kenikmatan yang akan engkau masuki?’
Setelah itu, beliau menunjukkan kepadaku istana-istana bercahaya yang dipenuhi berbagai perhiasan dan pakaian berwarna-warni.
Beliau melanjutkan, ‘Inilah tempat tinggalmu, suamimu, kedua putramu, dan orang-orang yang mencintai kalian. Bergembiralah, karena beberapa hari lagi engkau akan menyusulku.’
Setelah pertemuan itu, jantungku berdebar kencang dan seluruh diriku dipenuhi kerinduan yang tak terlukiskan. Dalam keadaan tergetar oleh keagungan peristiwa tersebut, aku pun terbangun dari tidurku.”
Wasiat-Wasiat Fatimah Sa
Pada saat-saat terakhir kehidupan Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa, beliau terlibat dalam percakapan yang bersifat malakuti dengan para malaikat. Rahasia perpisahan terakhirnya hanya beliau sampaikan kepada Amirul Mukminin As. Riwayat ini menggambarkan saat-saat ketika Sayyidah Fatimah dengan tenang menuju pertemuan dengan Tuhannya.
Imam Ja’far ash-Shadiq As meriwayatkan bahwa Amirul Mukminin As menuturkan:
“Ketika Fatimah As terbangun dari tidurnya, ia memanggilku. Aku mendekatinya dan bertanya, ‘Apa yang terjadi?’
Ia kemudian menceritakan mimpi yang dialaminya dan memintaku berjanji bahwa apabila ia meninggal dunia, aku tidak akan memberitahukan kepergiannya kepada siapa pun selain Ummu Salamah (istri Rasulullah), Ummu Aiman, Fiddhah, serta dari kalangan laki-laki hanya kedua putranya, Abdullah bin Abbas, Salman al-Farisi, Ammar bin Yasir, Miqdad, Abu Dzar, dan Hudzaifah.
Fatimah As berkata kepadaku, ‘Aku mengizinkanmu melihat jenazahku setelah aku meninggal dunia. Mandikanlah aku dengan bantuan para perempuan ini, kemudian makamkanlah aku pada malam hari. Jangan biarkan siapa pun mengetahui tempat pemakamanku.’
Ketika malam yang telah ditentukan itu tiba dan Allah Yang Maha Pengasih berkenan memuliakan Fatimah As dengan mengambil ruhnya, aku mendengar ia mengucapkan, ‘Wa’alaikumussalam!’
Kemudian ia berkata kepadaku, ‘Wahai putra pamanku! Ini adalah Jibril yang sedang mengucapkan salam kepadaku. Ia berkata, “Inilah kekasih dari Kekasih Allah dan buah hatinya. Allah menyampaikan salam kepadamu dan berfirman bahwa hari ini engkau akan memasuki Jannatul Ma’wa.” Setelah menyampaikan kabar gembira itu kepadaku, ia pun pergi.’
Amirul Mukminin As melanjutkan: ‘Untuk kedua kalinya, aku mendengar Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa mengucapkan, “Wa’alaikumussalam!”
Kemudian ia berkata, “Wahai putra pamanku! Ini adalah Mikail yang menyampaikan kabar gembira kepadaku sebagaimana Jibril sebelumnya.”
Untuk ketiga kalinya, Fatimah Sa mengucapkan, “Wa’alaikumussalam!”
Setelah itu, ia membuka kedua matanya lebar-lebar dan berkata kepadaku, “Wahai putra pamanku! Demi Allah, ini benar-benar nyata. Inilah Izrail yang telah membentangkan kedua sayapnya dari timur hingga barat. Ayahku dahulu telah menjelaskan kepadaku bagaimana sifat dan keadaannya.”
Kemudian kami mendengar Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa berkata, “Wa’alaikumussalam, wahai pencabut nyawa! Segeralah cabut ruhku agar tidak ada lagi penderitaan.”
Setelah itu, kami mendengarnya berkata, “Wahai Tuhanku! Aku datang menuju-Mu, bukan menuju api neraka!”
Kemudian beliau memejamkan kedua matanya dan meluruskan kedua tangan serta kakinya. Seakan-akan Fatimah tak pernah hidup sebelumnya.’” [2]
Catatan Kaki:
[1] Bihar al-Anwar, jilid 43, hlm. 157.
[2] Bihar al-Anwar, jilid 43, hlm. 207.