Khadijah al-Kubra; orang pertama yang menerima wilayah Amirul Mukminin (as)
Sayyidah Khadijah (salamullahi ‘alaiha) wafat pada bulan Ramadan tahun kesepuluh bi‘tsah, di luar Syi‘b Abi Thalib.
Khadijah (salamullahi ‘alaiha), istri mulia Nabi terakhir, wafat tiga tahun sebelum hijrah Nabi Islam ke Madinah, pada bulan Ramadan tahun kesepuluh bi‘tsah di kota Makkah, dan dimakamkan di daerah Hajun, Makkah. Sebagian sumber juga menyebutkan bahwa wafat beliau terjadi tiga hari setelah wafatnya Abu Thalib.
Siapakah wanita bersejarah ini?
Khadijah binti Khuwailid, dikenal sebagai Khadijah al-Kubra (salamullahi ‘alaiha) dan Ummul Mukminin, adalah istri pertama Rasulullah (saw) dan ibu dari Sayyidah Fatimah (salamullahi ‘alaiha). Ia menikah dengan Nabi sebelum bi‘tsah dan merupakan wanita pertama yang beriman kepadanya.
Khadijah (salamullahi ‘alaiha) menginfakkan seluruh hartanya di jalan penyebaran Islam. Rasulullah (saw) sebagai bentuk penghormatan kepadanya, selama masa hidup Khadijah tidak menikah lagi, dan setelah wafatnya pun selalu mengenangnya dengan penuh hormat dan kasih.
Sayyidah Khadijah dalam ucapan Amirul Mukminin (as)
Amirul Mukminin (as) setelah wafatnya Khadijah (salamullahi ‘alaiha) selalu mengingatnya dalam setiap kesempatan dan memuliakan namanya. Suatu hari beliau menyinggung kisah pembelaan Nabi terhadap Khadijah al-Kubra dan bersabda:
“Suatu hari Rasulullah berada di tengah istri-istrinya, lalu beliau menyebut Khadijah dan menangis karena kepergiannya. Aisyah berkata: ‘Apakah engkau menangisi seorang wanita tua berwajah kemerahan dari Bani Asad?’
Rasulullah bersabda: ‘Siapa yang dapat menggantikan Khadijah? Ketika kalian mendustakanku, ia membenarkanku. Ketika kalian kufur, ia beriman kepadaku. Dan ketika kalian tidak memiliki anak, ia memberiku keturunan.’
Aisyah berkata: ‘Sejak saat itu aku selalu mendekatkan diri kepada Rasulullah dengan menyebut kebaikan-kebaikan Khadijah.’” (1)
Kasih sayang kepada Amirul Mukminin
Ketika Rasulullah (saw) menikah dengan Khadijah (salamullahi ‘alaiha), ia sangat penyayang kepada Amirul Mukminin (as) yang saat itu masih kecil. Sayyidah Khadijah al-Kubra selalu menghiasinya, memberinya perhiasan, memakaikan pakaian, dan mengutusnya keluar bersama para pelayannya, dan para pembantunya menggendongnya.
Orang-orang berkata: “Ini adalah saudara Muhammad (saw), makhluk yang paling dicintai olehnya, dan penyejuk mata Khadijah; seseorang yang terkumpul dalam dirinya kebahagiaan.” Kebaikan Khadijah siang dan malam, pagi dan petang, terus mengalir ke rumah Abu Thalib.” (2)
Hadis Mi‘raj dan iman kepada wilayah
Dalam hadis Mi‘raj disebutkan bahwa Rasulullah (saw) diperintahkan untuk bertanya kepada para nabi terdahulu tentang dasar risalah mereka. Nabi (saw) bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab bahwa mereka diutus berdasarkan kesaksian tauhid, pengakuan terhadap kenabian Nabi Islam (saw), dan wilayah Amirul Mukminin (as).
Rasulullah (saw) menyampaikan hal ini kepada manusia, namun kaum Quraisy dan para pembesar mereka mendustakannya. Akan tetapi, orang-orang beriman membenarkannya, dan yang paling utama di antara mereka adalah Sayyidah Khadijah (salamullahi ‘alaiha). Hal ini menunjukkan bahwa Khadijah (salamullahi ‘alaiha) telah menerima wilayah Amirul Mukminin (as). (3)
Berbaiat kepada Amirul Mukminin (as)
Rasulullah (saw) bersabda:
“Khadijah beriman kepadaku pada saat manusia kufur terhadapku, dan ia membenarkanku ketika orang lain mendustakanku. Oleh karena itu, ia termasuk wanita mukmin yang meyakini wilayah Amirul Mukminin (as) dan berbaiat kepada Nabi atas wilayah Amirul Mukminin (as). (4)”
Hakikat ini, selain dari dalil-dalil lain, menunjukkan bahwa Rasulullah (saw) sejak awal bi‘tsah, baik dalam peristiwa baiat Dar maupun setelahnya, telah secara terang menyampaikan masalah wilayah Amirul Mukminin (as).
Tidak ada satu keadaan pun di mana Rasulullah (saw) berhenti, kecuali beliau juga mengingatkan tentang pentingnya wilayah beliau dan saudaranya Ali. Oleh karena itu, tidak ada keraguan bahwa Ummul Mukminin Khadijah (salamullahi ‘alaiha) termasuk orang yang berbaiat kepada Amirul Mukminin (as) dan mengakui imamah serta wilayah beliau. (5)
Penerimaan wilayah
Diriwayatkan dari Musa bin Ja‘far (as) bahwa beliau bersabda:
“Aku bertanya kepada ayahku, Imam Ja‘far Shadiq (as), tentang awal Islam, bagaimana Amirul Mukminin (as) dan Khadijah (salamullahi ‘alaiha) menerima Islam?”
Musa bin Ja‘far (as) menjawab:
“Wahai ‘Isa, apakah yang engkau inginkan adalah memperoleh hakikat ilmu dan awal kebenaran? Demi Allah, pertanyaanmu berasal dari pemahaman dan pengetahuan.
Ketika Sayyidah Khadijah (salamullahi ‘alaiha) masuk Islam, Rasulullah (saw) bersabda kepadanya: Wahai Khadijah, demi Tuhan Ka‘bah, engkau telah mendapat petunjuk, memilih jalan yang benar, dan beruntung.
Semoga Allah membimbingmu ke jalan yang lurus. Wahai Khadijah, letakkan tanganmu di tangan Ali (as) dan berbaiatlah kepadanya.”
Maka Khadijah berbaiat kepada Ali (as) sebagaimana Amirul Mukminin (as) berbaiat kepada Nabi penutup, dengan perbedaan bahwa jihad tidak diwajibkan atasnya.
Kemudian Rasulullah (saw) bersabda: Wahai Khadijah, ketahuilah bahwa Ali adalah pemimpinmu, pemimpin orang-orang beriman, dan imam setelahku.
Khadijah berkata: Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah berkata benar. Aku telah berbaiat kepadanya atas apa yang engkau katakan, dan aku menjadikan Allah dan engkau sebagai saksi atas perjanjian ini, dan Allah adalah sebaik-baik saksi dan Yang Maha Mengetahui.” (6)
Di sisi pembaringan Khadijah al-Kubra
Sayyidah Khadijah (salamullahi ‘alaiha) jatuh sakit tiga tahun sebelum hijrah.(7) Rasulullah (saw) menjenguknya saat sakit dan bersabda:
“Wahai Khadijah, apakah engkau mengetahui bahwa Allah juga menjadikanmu sebagai istriku di surga?”
Kemudian beliau menghiburnya, memberi kabar gembira tentang surga, dan menjelaskan derajat-derajat tinggi di dalamnya sebagai penghargaan atas jasa-jasanya.(8)
Tiga wasiat kepada Nabi penutup
Ketika sakit Sayyidah Khadijah (salamullahi ‘alaiha) semakin berat, ia berkata kepada Rasulullah:
“Wahai Rasulullah, aku memiliki beberapa wasiat; aku telah lalai dalam hakmu, maka maafkanlah aku.”
Rasulullah (saw) bersabda:
“Aku tidak pernah melihat kekurangan darimu, dan engkau telah berusaha sekuat tenaga. Engkau telah sangat lelah di rumahku dan telah menginfakkan hartamu di jalan Allah.”
Ia berkata:
“Wahai Rasulullah, wasiat keduaku adalah agar engkau menjaga anak perempuan ini,” dan ia menunjuk kepada Sayyidah Fatimah (salamullahi ‘alaiha).
“Karena setelahku ia akan menjadi yatim dan sendirian. Maka jangan sampai wanita Quraisy menyakitinya. Jangan sampai ada yang menampar wajahnya. Jangan sampai ada yang membentaknya. Jangan sampai ada yang memperlakukannya dengan kasar.”
“Adapun wasiat ketiga, aku malu untuk menyampaikannya kepadamu. Aku akan mengatakannya kepada Fatimah agar ia menyampaikannya kepadamu.”
Kemudian ia memanggil Sayyidah Fatimah (salamullahi ‘alaiha) dan berkata:
“Wahai cahaya mataku! Katakan kepada ayahmu, Rasulullah: ibuku berkata, aku takut terhadap kengerian kubur, maka aku memintamu untuk mengkafaniku dengan pakaian yang engkau kenakan saat turunnya wahyu.”
Maka Sayyidah Fatimah (salamullahi ‘alaiha) keluar dan menyampaikan hal itu kepada Rasulullah (saw). Rasulullah pun mengirimkan pakaian tersebut kepada Khadijah (salamullahi ‘alaiha), dan ia sangat bergembira.(9)
Kafan dari surga
Ketika Sayyidah Khadijah (salamullahi ‘alaiha) wafat, Rasulullah (saw) sendiri yang memandikan dan mengkafaninya. Tiba-tiba Jibril turun dengan membawa kain kafan dari surga dan berkata:
“Wahai Rasulullah, Allah menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: ia telah menginfakkan hartanya di jalan Kami, maka Kami lebih berhak untuk mengurus kafannya.” (10)
Kemudian Rasulullah (saw) memandikan Khadijah (salamullahi ‘alaiha), memberi wewangian, dan mengkafaninya dengan kain yang dibawa Jibril dari sisi Allah عزوجل.
Rasulullah sendiri turun ke dalam liang kubur, lalu meletakkan jasad Khadijah (salamullahi ‘alaiha), kemudian menyusun batu lahad pada tempatnya.
Beliau menangis untuknya, berdoa, dan memohonkan ampun baginya. Makam Khadijah berada di pemakaman Makkah di “Hajun”. (11)
Ratapan Amirul Mukminin (as) untuk Khadijah
أعيني جودا بارك الله فيكما
على هالكين لاترى لهما مثلا
على سيد البطحاء وابن رئيسها
وسيدة النسوان أول من صلى
مهذبة قد طيب الله خيمها
مباركة والله ساق لها الفضلا
مصابهما أدجى إلى الجو والهواء
فبت أقاسي منهم الهم والثكلا
Wahai kedua mataku! Curahkanlah air mata, semoga Allah memberkahi tangisan kalian
Atas dua sosok yang tiada bandingannya
Atas pemimpin tanah Batha dan putra pemimpinnya
Dan pemimpin para wanita, yang pertama kali salat
Wanita suci yang Allah telah menyucikan tempat tinggalnya
Yang diberkahi, dan Allah telah mengalirkan keutamaan kepadanya
Musibah mereka telah menggelapkan langit dan udara
Sehingga aku melewati malam dalam kesedihan dan duka yang mendalam
Atas wanita agung yang mendidik dirinya, yang bersih dalam jalan hidup dan akhlaknya, yang Allah telah menyucikan kemah, tempat tinggal, dan sekelilingnya.
Wanita penuh berkah yang Allah telah membimbingnya, karena pemikiran yang maju dan amal yang layak, menuju jalan utama keutamaan dan kemuliaan.(12)
Sumber
- Kasyf al-Ghummah, jilid 2, halaman 131; Bihar al-Anwar, jilid 16, halaman 18.
- Kanz al-Fawaid karya al-Karajaki, halaman 117
- Tharaf min al-Anba wa al-Manaqib: Sayyid bin Thawus, jilid 1, halaman 233
- Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 6, halaman 117
- Tharaf min al-Anba wa al-Manaqib: Sayyid bin Thawus, jilid 1, halaman 234
- Tharaf min al-Anba wa al-Manaqib, halaman 118
- Rayahin asy-Syari‘ah, jilid 2, halaman 77
- Bihar al-Anwar, jilid 19, halaman 20
- Syajarat Thuba, jilid 2, halaman 235; Pand Tarikh, jilid 2, halaman 22
- Syajarat Thuba, jilid 2, halaman 235; Pand Tarikh, jilid 2, halaman 22
- Bihar al-Anwar, jilid 9, halaman 14; juga halaman 21
- Bihar al-Anwar, jilid 35, halaman 143